Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 97


__ADS_3

Arumi yang sudah mulai sibuk untuk daftar ke Universitas Negeri yang ada di Jakarta. Ia sudah belajar jauh-jauh hari sebelumnya. Membeli beberapa buku untuk lulus tes masuk perguruan tinggi negeri. Arum dengan penuh konsentrasi membahas soal-soal di dalam buku tersebut.


Dering suara ponsel, membuat Arum menghentikan kegiatannya. Ia mengambil ponselnya yang di atas nankas putih di samping tempat tidur.


Ardi memanggil. Arumi menekan icon hijau diponselnya.


Halo Assalamu’alaikum.


Wa’alaikumsalam.


“Tumben nelfon.” Kata Arumi.


“Aku VC aja ya.” Balas Ardi.


“Eh jangan, rempong aku kalau kamu VC. Meski cari jilbab dulu.


Ardi jadi ketawa. “Kamu apa kabar? Maaf ya aku sibuk. Jadi jarang menghubungi kamu.”


“Iya aku tahu.”


“Rum, apa kamu sudah lihat pendaftaran SPMB?”


“Udah Di. Aku sudah coba login tapi silvernya sibuk. Masih belum bisa masuk.”


“Ya namanya juga yang masuk ramai. Biasanya tengah malam gak susah masuknya. Kirim aku biodata lengkap kamu, sekalian KTP dan foto ya. Nanti aku coba daftarkan.”


“Emangnya kamu gak tidur?” tanya Arumi.


“Aku bergadang, banyak tugas.”


“Ya udah nanti aku kirim ya Di.”


“Iya cepat ya. Ibu apa kabar?” tanya Ardi.


“Baik Di.”


“Si genit udah tidur belum.”


Arum langsung ketawa. “Ya udah lah. Anak SD tu tidur jam 10.”


Cukup lama mereka mengobrol.


“Rum, kirim ya sekarang.”


“Iya di.”


“Kamu tidur ya. Dah malam.”


“Oke pak dokter.”


“Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumsalam” telpon pun terputus.


Ardi lebih memilih menelpon Arumi dari pada melakukan panggilan video call, karena di nilai kurang sopan.


Arum menutup buku-bukunya dan meletakkannya di rak buk kemudian tidur.


*********


Arum yang berada di ruang Habibi, tampak sedang binggung. Memandang ke arah Habibi. Habibi tampak sibuk dengan komputernya.


“Ada apa dek?”


“Mas, kalau Arum kuliah, mas bakalan cari asisten pribadi lagi?” tanya Arum


“Bagusnya gimana dek?” Habibi balik nanya


Arum memajukan bibirnya. Ia seperti akan mengeluarkan pendapatnya. Namun ragu.


“Maunya mas gimana?”


“Mau nya mas, ya cari asisten yang baru. Cewek yang cantik, putih, tinggi, seksi dan tangguh.”


Mata Arum langsung melebar dan bulat sempurna saat mendengar ucapan Habibi. Tiba-tiba saja, ia merasa dadanya sesak dan panas.


“Kenapa diam dek?”

__ADS_1


Arum diam sejenak. Mau larang namun dia bukan siapa-siapa. Walaupun Habibi menyatakan cinta padanya namun dia menolak dengan alasan ingin kuliah. Sekarang kesempatan untuk kuliah sudah ada. Dia malah menjadi dilema. Arum memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa melarang Habibi mencari asisten pribadi yang perempuan.


“Mas.”


“Iya.”


“Sepertinya Arum bisa kok, pagi-pagi jemput mas, terus sore juga jemput mas. Kalau jam kosong, Arum ke kantor.” tampak Arum mengatakannya dengan malu-malu dan wajahnya tampak merona.


Habibi yang mendengar apa yang di sampaikan Arumi tampak begitu bahagia. “Kenapa gak boleh mas cari asisten cewek yang cantik.” Dengan nada mengoda.


Arum kembali diam. Ia hanya menundukkan kepalanya. Ia seakan tidak tahu harus berkata apa.


“Mas.”


“Iya apa dek?”


“Beneran mau cari yang cewek?”


“Ya kalau bisa.”


Rasanya saat ini Arum mau nangis. Rasanya benar-benar gak bisa membayangkan kalau itu terjadi.


“Ya itu kalau kamu bolehkan.” Kata Habibi lagi.


“Arum gak mau mas cari asisten yang cewek.”


Habibi tampak senang mendengar apa yang di sampaikan Arumi.


“Mas lihat kondisi dulu. Kalau beneran butuh baru mas cari. Mas sudah nyaman dengan kamu sayang.”


Arum tersenyum. Dering dari hp Arum membuat Arum mengalihkan perhatiannya pada benda kecil tersebut. Ardi memanggil.


“Mas, bentar ya. Arum mau angkat telepon.”


“Iya.”


Arum melangkah ke luar dan mengangkat telpon tersebut.


“Hallo Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumsalam Rum.”


“Udah aku daftar. Aku juga udah bayar langsung ke bank untuk no pin nya. Kartu ujiannya sudah aku cetak.”


“Kamu serius Di?”


“Iya seriuslah. Gimana, apa aku nanti ke rumah kamu, pulang dari kampus?” tanya Ardi.


“Ya Allah, aku jadi ngerepotin kamu.”


“Gak apa.”


“Bolehlah kamu ke rumah. Tapi jam 6 ya.”


“Oke sippp. Jangan lupa belajar ya.” Kata Ardi.


“Iya udah pasti. Do’ain aku lulus. Ntar kamu aku traktir.”


“Udah jelas aku bakal do’ain.”


“Dah ya. Aku masih di kantor.”


“Oke.”


“Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumsalam.”


Saat Arum di luar ruangan mengangkat telpon. Arum melihat dokter Wahyudi yang sibuk ngobrol dengan Sasa. Kemudian Arum kembali masuk ke dalam.


“Sudah siap nelponnya?”


“Sudah mas. Mas nyuruh dokter wahyudi datang?” tanya Arum.


“Gak ah. Ngapain nyuruh dia datang. Kenapa?”


“Ada di depan. Sama mbak Sasa.”

__ADS_1


“Oh.” Habibi langsung ke luar. Dilihatnya Wahyudi yang sibuk ngobrol dengan Sasa.


“Hem....”


Wahyudi langsung menoleh ke arah Habibi.


“Ngapain lu ke sini?” tanya Habibi dingin.


“Mau ketemu sama lu lah.”


“Loh, ruang gue tu di situ.”


“Ya, di sini lagi istirahat.” Balas wahyudi.


Sasa tampak menundukkan kepalanya.


“Sayang, abang ke ruangan bos kamu dulu ya.” Kata Wahyudi seolah berbisik tapi cukup keras.


Habibi yang mendengar Wahyudi bilang sayang kesekretariatnya. Jelas aja buat matanya melebar. Seakan tidak percaya. Sasa tampak mengangguk. Saat mereka masuk ke dalam ruangan Arum permisi ke luar. Wahyudi duduk di sofa.


“Bi, om Roni masuk rumah sakit.”


Habibi menganggukkan kepalanya.


“Gue dengar, om Candra dan Arman sudah tertangkap ya?” tanya Wahyudi lagi.


“Iya. Om Arman tertangkap di Palembang sedangkan om Candra tertangkap di Pekanbaru. Dikirain mereka intel yang aku kirim gak bakalan sampai ke sana. Om arman punya saudara di Palembang dan dia membuka bengkel di sana. Om Candra adeknya ada di Pekanbaru. Dia buka coffe shop di Pekanbaru.” Jelas Habibi.


“Udah ada lu jenguk ke penjara.” Kata Wahyudi.


“Gak. Malas gue. Sekian lama dia nipu bokap gue. Kalau kue gak teliti. Sampai sekarang tu orang masih menggerogoti uang perusahaan. Gue juga mau bilang ke mami, kalau om Roni jangan sampai di rawat di rumah sakit lu.”


“Kenapa?” tanya Wahyudi heran.


“Mami di sana, bisa aja tu orang dendam dan berencana membunuh mami.”


“Kalau dengan tindakan yang di lakukannya dengan om, ya bisa aja dia berbuat gitu sama tante.” Kata Wahyudi.


“Kalau lu ada informasi apa pun hubungi gue ya.” Kata Habibi.


“Ada reuni sekolah. Lu ikutkan?” kata Habibi.


“Kapan?”


“10 hari lagi.”


“Lu ikut ya?” tanya Wahyudi.


“Gue tanya Arum dulu. Udah jam pulang.”


“Lu ngusir gua ya.” Kata Wahyudi.


“Hanya mengingatkan.”


*********


Habibi mengantarkan Arumi pulang. “Tadi siapa yang nelpon?”


“Ardi.”


“Ada apa?”


“Itu, Arum daftar untuk SPMB gak bisa login, terus dia yang daftarkan.”


“Sudah bisa.”


“Sudah.”


******


maaf Fin author ya reader. yg mungkin sering lelet update.


tolong dukung author terus ya reader.


tinggalkan jejak, like komen dan vole author ya. biar author lebih semangat ini.


komen , like, dan vole reader. penyemangat author. 😘😘😘😘

__ADS_1


maaf gak bisa balas satu persatu. tapi semua author baca kok.


__ADS_2