Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 104


__ADS_3

Mereka mulai menyantap hidangan tersebut.


“Rum, ini restoran enak banget. Aku baru pertama masuk ke dalam restoran mewah gini.”


Arum senyum. “Mudah-mudahan kita lulus. Nanti kalau kita sudah kuliah. Aku bakalan sering-sering ngajak kamu makan di restoran.”


“Amin.” Senyum lebar melengkung di bibir Nina.


“Jadi kakak kamu sudah punya anak?”


“Sudah rum, anak nya 4 orang. Paling kecil umur 5 tahun.”


Arum mengangguk kepalanya. “Bentar ya.”


“Iya rum.”


Arum berjalan ke kasir. Ia minta bungkus 8 porsi dan kembali ke mejanya. Mereka bercerita ringan tentang diri masing-masing dan saling tukaran no hp. Setelah pesanan Arum datang mereka berjalan ke kasir Arum membayar tagihannya. Mata Nina melotot saat mendengar nominal struk pembayaran mereka. Dengan santai Arum mengeluarkan uang dari dompetnya.


“Neng, mobil nya yang mana?” Pelayanan restoran sudah berdiri memegang belanjaan Arum.


“Itu mas,” sambil menunjuk ke arah mobil tersebut.


Mereka berjalan ke arah mobil. Arum menekan remote mobilnya untuk membuka kunci mobil. Pelayanan tersebut meletakkan pesan Arum di bagasi.


*******


Arum memberhentikan mobilnya di perumahan tipe 36 yang sudah di renovasi. Rumah tersebut tampak lumayan besar. Sang pemilik sudah menghabiskan seluruh sisa tanah. Dengan pagar berwarna hitam.


“Arum. Makasih ya udah ngantar aku.”


“Iya.” Arum turun dari mobil dan memberikan kantong besar isi makanan. “Ini untuk teteh dan ponakan kamu.”


“Arum, ini untuk aku?” Nina seakan tidak percaya saat Arum menyodorkan makanan yang di pesannya tadi.


“Iya.”


“Arum makasih ya. Kamu baik sekali. Masuk dulu yuk. Biar aku bisa kenalkan dengan teteh.”


Tampak kakak Nina berdiri di teras saat melihat mobil terparkir di depan rumahnya.


“Boleh.” Balas Arum.

__ADS_1


Mereka berjalan menuju pagar rumah Nina, kakak membukakan pagar dengan cepat saat di lihat adiknya yang sudah pulang.


“Teh, kenalin. Ini teman nina.”


Tetehnya memberikan tanggannya untuk berjabat tangan dengan Arum


“Leni.”


“Arum.”


“Teh, maaf Arum gak bisa masuk. Tapi lain kali kesini Arum akan masuk. Arum buru-buru masih ada kerjaan.”


“Oh iya. Makasih ya rum.”


“Iya teh.”


“Arum makasih ya dah antar aku pulang.”


“Iya Nina. Arum permisi ya. Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumsalam.”


************


Habibi masuk keruangan yang di susul Sasa dari belakang sambil membawa map laporan di tangannya. Saat Habibi masuk ke dalam, dilihatnya Arum sedang tertidur. Habibi Tampak sangat berhati-hati agar tidak ada keributan.


“Ini pak laporannya.”


“Sasa, laporan dari keuangan dan juga laporan dari devisi peranca bangunan serta laporan pembangunan gedung. Tolong kamu antar ke sini.” Habibi berbicara dengan nada suara yang sangat kecil.


“Iya pak.”Sasa Keluar dari ruangan. “Pak bos takut berby nya bangun makanya ngomong seperti bisik-bisik.” Batin Sasa sambil berjalan menuju ruang


“Tok ...tok....”


“Masuk.”


“Hai Bi.”


Habibi langsung membesarkan matanya dan meletakkan jarinya di bibir. Agar tidak ribu.


Wahyudi melihat ke sekeliling ruangan. Nampaknya mengerti. Saat di lihatnya Arum yang tertidur di sofa.

__ADS_1


Ia berjalan ke arah Habibi dan duduk di kursi yg ada di depan Habibi.


“Ada apa?” Tanya Habibi.


“Kangen.” Jawab Wahyudi asal.


Habibi mengangkat bahunya menunjukkan bahwa dia merasa geli dengan ucapan Wahyudi.


“Lu, kalau gue yang bilang kangen. Respon lu, jelek amat.”


“Iya lah. Gue gak minat lu kangenin.”


“Tega lu Bi. Selaku sohib gue gak boleh kangen-kagenan sama lu.”


“Lu kangen gua atau Sasa?”


Wahyudi ketawa. “Ya Sasa lah. He....he.....”


“Sialan. Keluar lu. Meja Sasa di depan.”


“Iya tapi Sasa nya gak ada.”


“Lagi ke menejer keuangan. Sasa tu kerja. Awas lu ganggu.”


“Galak amat lu jadi bos.”


“Lu, ngapain ke sini. Balek sana ke rumah sakit.”


“Gua lagi gak praktek.”


“Pantas lu kelayapan.”


Suara Sasa dari pintu menghentikan perdebatan antara dua sahabat tersebut. Sasa membawa beberapa mab dan meletakkannya di meja Habibi. “Ini pak. Saya permisi.”


Habibi mengangguk kan kepala. “Sasa keluar dari ruangan Habibi.”


“Gua keluar dulu ya.”


“Eh yud, lu kalau mau jalani hubungan sama Sasa, putusin dulu pacar-pacar lu.”


Wahyudi tersenyum. “Oke bos.”

__ADS_1


*******


Habibi yang duduk di mejanya. Memeriksa laporan matanya selalu mengamati gadisnya yang tertidur di sofa. Para karyawan sudah pulang Arum masih nyenyak dengan tidurnya.


__ADS_2