Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 127


__ADS_3

Arum diam. Jantungnya yang sudah berdetak dengan hebanya. Saat ini ia butuh waktu untuk keluar ruangan tersebut dan menghirup udara.


“Gimana sayang?”


Arum mencoba untuk mengatur nafasnya. Ia menutup matanya cukup lama. Kemudian dia membuka matanya. Di tatapnya wajah pria tersebut. “Iya mas, Arum terima mas.”


“Apa sayang?” Habibi berpindah dari tempat duduk nya. Kini ia bersimpuh di depan Arum sambil memegang jari yang panjang dan lentik tersebut.


“Iya mas, Arum terima.”


“Yes!!!!!!!” Suara keras tersebut memenuhi seisi ruangannya. Beruntung ruangan tersebut kedap suara sehingga tidak terdengar sampai ke luar.


“Mas, jangan teriak Arum malu.”


Habibi menatap wajah gadis yang dicintainya. Ia mencium tangan gadis tersebut tak henti-hentinya. “Terimakasih sayang. Adek udah mau Nerima mas.”


“Iya mas. Tapi. Apa mas bisa sabar menghadapi sikap Arum? Arum takut gak bisa jadi istri yang baik untuk mas.”


Habibi menatap wajah gadis tersebut di sangat lembut dan penuh kehangatan. Terlihat betapa ia mencintai gadis yang saat ini di tatapnya dengan sangat tulus. Tatapan matanya terlihat bahwa ia sangat mencintai dan menyayangi Arumi.


“Terimakasih sayang, sudah mau nerima mas untuk jadi imam kamu dan terima kasih sudah mau menjadi ibu dari anak-anak kita. Mas adalah imam kamu sayang. Mas yang akan membimbing kamu . Mas akan berusaha untuk jadi imam yang baik untuk kamu. Mas janji.”


“Makasih mas. Untuk cinta dan sayangnya.”


Habibi memeluk tubuh gadis tersebut. Arum melingkarkan tangannya dipinggang Habibi. Ia sangat nyaman saat mencium aroma parfum pria tersebut. Merasakan hangatnya tubuh pria yang mendekap tubuhnya. Membuat ia merasa sangat nyaman. Setelah ia menikah nanti. Ia akan memeluk tubuh ini setiap hari. Arum memejamkan matanya dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang pria tersebut. Detak jantung mereka seakan menjadi musik yang indah saat ini. Diangkat nya wajah Arumi dengan menjepitkan jarinya di dagu Arumi.


I” love you sayang.”


“I love you to.”


Habibi mengecup kening Arum dkemudian ia mencium bibir mungil yang selalu di rindu kannya. Ciuman yang begitu lembut. Cubitan di pinggangnya menghentikan ciuman tersebut.


“Kenapa cubit mas sih dek?”


“Mas udah Janji semalam gak cium-ciuma Arum.”


“Ya Allah dek, lagi bahagia gini. Masih ingat-ingat nya chat semalam. Mas udah lupa. Yang bagian itu dah mas hapus.”


“Mas bohong.”


“Dikit lagi aja dek.” Masih terus memeluk tubuh gadis tersebut yang sudah memasang wajah cemberut dan bibir yang panjang ke depan.


“Ya dek dikit aja. Mas masih kangen. Masak adek tega dengan calon suami.”


Arum membuka lebar matanya. Melihat mata gadis itu sudah terbuka lebar akhirnya pria tersebut harus memilih aman.


“Mas bakalan kasi tahu mami melamar adek secara resmi.”


“Iya mas. Mas, buka Dulu pintunya.”


“Ya udah, mas buka pintu bentar ya.”


Arum mengangguk kan kepalanya.


Namun saat Habibi akan berjalan meninggalkannya, ia memegang tangan tersebut dengan sangat lembut. Habibi melihatnya.


“Ada apa sayang.”


Namun gadis tersebut hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Seakan ia enggan untuk melepaskan genggaman tangan tersebut. Habibi mencium punggung tangan yang tampak putih dan bersih itu. Diciumnya kening gadis tersebut.


“Mas buka pintu ya.”


Arum menganggukkan kepalanya.


Setelah ia membuka pintu. Arum duduk di sofa. Membuka laptopnya. Ia sedang mengerjakan tugas kuliahnya. Habibi mendekati sofa tersebut dan mengintip ke layar laptop yang sedang menyala.


“Buat apa?”

__ADS_1


“Tugas. Arum ada kerjaan gak mas?”


“Gak ada. Tapi kalau buatin mas kopi boleh.”


“Ya udah, Arum buat dulu.”


Arum pergi ke pantry dan meninggalkan layar laptop yang masih menyala. Saat ia keluar dari ruangan tersebut ia melihat Sasa.


“Arum.”


“Iya mbak.”


“Udah selesai?”


“Sudah mbak. Arum buat kopi dulu ya.”


“Iya Rum.”


Sasa memandang punggung Arum yang menghilang saat masuk ke dalam lift. Tapi pak Habibi mana mungkin berani ngapa-ngapain Arum mengusir pikiran kotor yang ada di kepala nya.


Arum kembali dengan membawa secangkir kopi ditangannya. Setelah mendapatkan berbagai pertanya dari para CS rekan kerjanya dulu. Pujian tak ada henti-hentinya merek lontarkan. Mereka memuji bahwa gadis tersebut sangat sempurna dengan mendapkan nilai 98. Arum jadi ketawa mendengar nilai yang sempurna tersebut.


Ia masuk ke dalam ruangan dan melihat Rasid sudah ada di dalam ruangan tersebut. Arum meletakkan kopi di atas meja dan kembali ke sofa dmmelanjutkan tugasnya.


Setelah selesai dengan urusannya Rasid kembali ke ruang kerjanya. Ia menyapa Arum dan kemudian pergi meninggalkan ruangan tersebut.


“Dek, nanti pulang jam berapa?”


“Jam 3 mas.”


“Mami bilang, hari Sabtu mami ke rumah kamu.”


Mata Arum bulat sempurna.


“Ngapain mas?”


“Lamar adek untuk jadi istri mas.”


“Emangnya adek kirain, mas gak deg-degan?”


Arum memajukan bibirnya. “Kalau udah nikah, Arum masih jadi asisten pribadi mas gak?”


“Gak. Jadi milik pribadi.”


Arum senyum mendengar jawaban calon suaminya. Ia memang gak bisa konsentrasi mengerjakan tugasnya.


“Dek, nanti mas jemput di kampus.”


“Kenapa di jemput. Arum bawa mobil sendiri.”


“Nanti mobil adek, anggota mas yang bawa.”


“Kenapa jemput Arum?”


“Beli baju untuk acara lamaran dek.”


“Lamarannya pakai baju biasa aja.”


“Gak mungkin lah dek. Orang mami datang pakai rombongan dan lengkap dengan antaranya.”


“O gitu ya mas.”


“Iya sayang. Dek, sini dong ngomong nya.” Habibi meminta Arum agar duduk didepannya.


Arum berpindah dari sofa ke meja Habibi dan berhadapan dengan pria tersebut.


“Kita mau beli baju apa mas? Arum gak pandai beli baju.”

__ADS_1


“Nanti orang butik bisa kok ngasih baju yang cocok untuk acara Kita, nanti kita sekalian beli cincin.”


“Kenapa beli cincin. Ini kan sudah ada.” Sambil menunjuk kan cincin di jari manisnya.


“Ya beda sayang. Cincin tunangan, yang di buat sepasang. Untuk adek sama mas.”


“Ini cincin apa namanya?” Menunjukkan cincin di jari nya.


“Itu cincin berlian. Mas sengaja tempa untuk adek. Tanda mas cinta adek.”


“Berlian?”


“Iya.”


“Mahal ya mas?”


“Gak juga.”


“Berapa? Biar Arum tau jaga cincinnya.”


“Cuman 100 JT.”


Mata Arum langsung melebar. Pantas banyak yang melirik cincin ditangan nya. Teman-temannya di kampus pada sibuk bilang itu berlian. Ternyata benar ini cincin berlian. Sambil memandang cincin di jarinya.


“OOO.”


Habibi memandang wajah cantik tersebut. Gadis ini memang pintar. Tapi ternyata dia begitu polos dan gak seperti gadis lain. Yang tahu apa yang mereka butuhkan.


“Mas, dah jam 10. Arum kampus ya.”


“Mau mas antar.”


“Gak usah mas.”


“Iya hati-hati ya.”


Arum menganggukkan Kepala nya.


“Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumsalam.”


*********


Setelah mendapkan telpon dari Habibi, Anita telah mengatur hari untuk melamar Arum. Ia mengatur jadwal untuk hari Sabtu akan langsung ke rumah Arum dengan membawa berbagai macam antraran dan penentuan tanggal ahkad nikah. Ia meminta Lasmi untuk menyiapkan semua kebutuhan di hari Sabtu besok. Berbagai macam antaran harus sudah selesai sebelum hari Sabtu. Anita juga mengabari Jhoni. Prihal lamaran yang akan di selenggarakan putranya.


************


Arum duduk di sebelah Naura. Naura memandang wajah Arum.


“Kenapa? Arum hari ini beda.”


“Masak sih Ra. Beda gimana?”


“Seperti sedang senang.”


Arum senyum. Obrolan mereka terhenti saat dosen masuk ke dalam ruangan tersebut. Setelah selesai kuliah, notifikasi wa arum berbunyi dan dibukanya. Ternyata dari Habibi. Yang berisi bahwa pria tersebut sudah berada di kampus.


“Ara, Aku pulang duluan ya. Maaf gak bisa antar kamu.”


“Iya gak apa Ara naik busway aja.”


Mereka berjalan ke luar kelas. Arum melihat Habibi yang berdiri di depan kelasnya.


“Mas?”


Habibi senyum. “Habis dari ruangan mami. Mami minta adek keruangannya.”

__ADS_1


*******


makasih ya dukungan nya.


__ADS_2