
Anita yang selalu mengandeng tangan Arum kemana-mana, dan Arum Tampak sangat manja kepada Anita. Apa bila orang melihat mereka sekilas, sudah pasti orang akan mengira mereka ibu dan anak. Sama-sama memiliki tubuh tinggi semampai, langsing, kulit yang putih dan bersih. Mereka berdua berjalan keseluruhan bagian candi tua tersebut.
Jhoni hanya mengikuti dari belakang melihat kebahagiaan istrinya. Coba aja kalau Bibi ikut, pasti gak kesepian gini. Curahan hati Jhoni. Namun saat melihat ke arah belakang, Jhoni merasa jauh lebih beruntung dari pada pak Diman yang tidak pernah melepaskan hendicam di tangannya, merekam nyonya besarnya.
Arum sangat menikmati jalan-jalan pertamanya ini. Seumur-umur ini kali pertama ia merasakan jalan-jalan ke tempat objek wisata. Arumi hidup sangat kekurangan. Dia tidak pernah bermimpi untuk bisa berlibur. Asalkan dapat makan hari ke hari dan bisa bersekolah saja sudah membuat senyum lebar di wajah-wajah keluarga kecilnya.
Mereka berhenti di tempat kuliner. Di sana mereka mencoba berbagai macam kuliner yang memang menggugah selera. Pada umumnya adalah masakan khas Jogjakarta dan minuman es dawet ayu. Senyum selalu terukir di wajah kedua wanita ini. Anita yang sudah menyukai Arum sejak pertama kali melihat gadis ini. Setelah puas dengan berbagai macam kuliner yang disantapnya, mereka kembali melanjutkan perjalanan ke pantai Parangtritis. Pak Diman melajukan mobil menuju pantai Parangtritis. Karena lelah berjalan-jalan mereka tertidur di atas mobil. Hanya pak Diman yang fokus mengemudi. Setelah sampai di tempat tujuan pak Diman memarkirkan mobilnya di areal parkir.
“Maaf tuan. kita sudah sampai.” Panggil pak Diman membangunkan semuanya yang tertidur.
Jhoni terbangun melihat mereka sudah berada di areal parkir. Ia membangun istrinya yang berada di belakang.
“Sayang bangun, kita sudah sampai.” Kata Jhoni.
Anita terbangun dengan senyumnya dan dia membangun Arum yang tampak sangat terlelap. Mungkin selama di sekolah Arum kurang tidur terlihat dia sangat lelah, itu yang terlintas di benak kepala Anita.
“Rum bangun, kita sudah sampai.”
“Ibuk,” Arum melihat ke arah depan langsung bersemangat saat melihat bibir pantai.
“Ayok buk kita turun Arum sudah gak sabar.” sambil mengandeng tangan Anita. Anita berjalan di sebelahnya.
__ADS_1
“Ayuk kita ganti baju dulu.” Kata Anita.
“Arum gak bawak baju pantai buk. Arum pakai baju ini aja,” baju gamis yang modis dengan rok yang kembang, berwarna hijau tauska dan tambah renda-renda di bagian bawah roknya.
“Ibu sudah siapkan Ayuk, kita ke kamar ganti.”
Mereka mereka memakai baju yang hampir sama. Hanya berbeda di bagian lengannya. Mereka memakai celana kulot berwarna moka, dengan pita di bagian pinggang, dan lengkap dengan topi pantai dan kaca mata hitam. Arum langsung berhamburan ke arah ombak.
“Ibuk, ini perdana Arum ke panti.” terlihat senyum di wajahnya yang tidak pernah ada hilangnya. Anita tidak ada hentinya memberikan senyuman yang penuh kasih sayang kepada gadis yang ada di depannya. Setelah puas dengan bermain air, Arum duduk di atas pasir putih yang bersih. Ia melihat ada penjual yang membawa rujak.
“Buk Arum mau rujuk.”
“Ibuk juga.”
“Buk, air kelapa dan rujaknya saya yang bantu bawa ya.”kata pak Diman.
“Boleh pak Diman.”
Mereka berjalan menuju warung ikan bakar, mereka akan menghabiskan waktu di pantai sampai matahari terbenam. Mereka menikmati ikan bakarnya di tambah sambal kecap yang di tambah potongan cabe rawit, bawang merah dan tomat di tambah jeruk nipis. Terasa sangat nikmat. Sedang asyik-asikny makan, hp Anita berdering saat di lihat dari layar hp yang menyala, ternyata Habibi yang menelepon. Awalnya panggilan video call, tapi ditolak Anita. Ia menghubungi kembali dengan panggilan telepon biasa.
“Hallo mi, Assalamu’alaikum.”
__ADS_1
“Wa’alaikum salam sayang. Maaf di sini jaringan kurang bagus untuk VC. Makanya telpon biasa saja.” Jelas Anita berbohong kepada anaknya.
“Mami di mana? Sayang sekali. Padahal Bibi mau lihat mami honeymoon sama papi.”
“Ah mami gak honeymoon kok. Mami cuman jalan- jalan saja.”
“Kalau gak sibuk Bibi mau ikut.”
“Besok-besok aja kita ke sini lagi,” jawab Anita.
“Iya mi. Mami pulang jam berapa?”
“Malam nak. Mami mau ke pasar Malioboro Dulu.”
“Asik sekali mi. Ya udah nikmat ya mi.”
“Iya sayang. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam mi.”
*****
__ADS_1
Mereka bertiga duduk di tepi pantai sambil menikmati angin sepoi-sepoi dan melihat ombak yang semakin ketepi. Terlihat jelas matahari berlahan-lahan mulai tenggelam, warnanya kini sudah berubah menjadi kekuningan. pemandangan yang sangat indah yang sulit didapatkan.