
Jam 11.00 Habibi baru datang ke rumah sakit istrinya. Habibi masuk ke ruangan istrinya. Pria itu tersenyum melihat Rangga dan Vira yang duduk di sofa.
"Pipi," ucap Vira yang berlari dan memeluk kakinya.
Habibie mencium putrinya dan menggendong putrinya tersebut. "Mimi mana?" tanyanya.
"Itu di dalam kamar," ucap Vira.
"Ngapain?" tanya Habibi.
"Mimi tadi bilang ngantuk nungguin pipi lama datang jadi Mimi tidur," ucapnya.
Habibi menganggukkan kepalanya saat mendengar ucapan putrinya.
"Pipi kenapa lama datangnya?" ocak Vira saat Habibi meletakkannya di atas sofa.
"Pipi rapat, tadi rapat Papi tertunda selama Satu setengah jam dan akhirnya pipi baru bisa berangkat ke kantor karena Mimi tidur dan sekarang pipi datang, Mimi tidur lagi," ucap Habibi memandang putrinya.
Vira menganggukkan kepalanya. "Mimi tidur- tidur terus," ucapnya.
"Iya nggak apa-apa Biar adek Vira jadi," ucap Habibi.
"Jadi kalau mau ada adek bayi selain harus banyak makan juga banyak tidur ya Pi," ucap Vira yang menganalisis informasi dari pipinya.
"Iya," jawab Habibi yang mencium pipi putrinya.
Habibi memandang Rangga yang duduk di sofa. Anak kecil itu sejak tadi memandangnya.
"Rangga sudah siap?" tanya Habibi yang mencium pipi bulat anak laki-laki yang kata orang mirip dengannya.
"Sudah pipi,x ucap Rangga yang mencium punggung tangannya.
"Tunggu sebentar ya, Pipi mau bangunkan Mimi," ucap Habibi.
"Ya Pi," jawab Rangga.
Habibi masuk ke dalam kamar yang berada di ruangan tersebut. Ia memandang istrinya yang tertidur sangat lelap. Ingin rasanya ia meminta istrinya untuk mengecek sekali lagi mengingat ada kesalahan saat dia melakukannya. Namun Habibi membatalkan niatnya mengingat istrinya menangis saat melihat hasil tes kemarin.
Habibi meletkan tangannya di atas perut istrinya yang rata, sambil mengusap perut istrinya tersebut. Seakan sudah ada manusia yang hidup di dalam perut istrinya.
"Sayang bangun," ucap Habibi memegang pipi istrinya sambil mengusap pipi Istrinya dengan sangat lembut.
Arum membuka matanya saat merasakan tangan suaminya mengusap-ngusap pipinya.
"Mas sudah datang?
Kenapa datangnya lama kali, Arum sampai ngantuk nungguin nya," ucapnya yang menutup mulutnya saat menguap.
__ADS_1
"Mas tinggalkan tadi tidur, sekarang mas datang juga tidur," ucap Habibi saat Istrinya memeluknya.
"Itu karena arum bangunnya kepagian," ucap istrinya yang berkilah.
"Mau berangkat sekarang?" tanyanya memandang istrinya.
"Anak-anak mana?" tanya Arum.
"Ada di depan nungguin," jawab Habibi.
Arum menganggukkan kepalanya. "Arum pakai jilbab dulu," ucapnya.
"Mas tunggu di depan," Habibi.
"Ada apa," ucap Habibi saat istrinya menarik tangannya dan memintanya untuk duduk di sebelah istrinya.
"Gak ada, Arum cuma mau peluk mas aja," ucap Arum yang tersenyum malu mengucapkan keinginannya. Hidungnya yang kecil di tempelkan nya di dada suaminya.
"Jangan lama-lama ini udah jam 11," ucap Habibi.
"Iya nggak lama cuman sebentar," ucap Arum yang semakin memeluk suaminya dengan erat dan mencium aroma tubuh suaminya. "Arum gak tau, Kenap sekarang suka cium bau baju Mas," ucapnya.
"Iya anaknya genit dan manja," ucap Habibi yang membuat istrinya mengangkat kepalanya dan memandang wajah suaminya.
"Masih belum dapat?" tanyanya.
"Ibu Dokter masa nggak bisa bedain sih mana yang hamil, sama yang nggak hamil," ucap Habibi.
Arum itu terlalu banyak berharap Mas, jadi kadang walaupun gak hamil tapi perasaannya seperti orang hamil," ucapnya yang sudah memajukan bibirnya
"Coba cek sekali lagi," ucap Habibi.
"Nggak mau," jawab Arum.
"Kenapa?* tanyanya.
"Kemarin sudah tahu hasilnya," ucapnya.
"Kemarin itu mas yang salah," ucap Habibi.
"Mas jangan bohongin Arum," ucapnya.
"Ya udah kalau nggak mau," ucap Habibi yang kemudian mengalah.
Arum hanya diam menikmati aroma wangi tubuh suaminya.
"Sekali aja, nanti Mas beliin makanan yang enak, cincin berlian, tas brand, mobil baru," ucapnya yang merayu istrinya.
__ADS_1
Arum tersenyum lebar saat mendengar ucapan suaminya. "Mas nggak nipu Arum?" ucapnya.
"Nggak," jawab Habibi.
"Kalau nggak hamil gimana?" tanyanya.
"Tetap dibeliin," jawabnya.
"Yang dibeliin semuanya, apa cuman satu pilihan aja?" tanya Arum.
"Kalau satu gimana?" tanya Habibi.
"Arum gak mau cek," Ucapnya.
"Semua yang disebut tadi," ucap Habibi yang tersenyum memandang istrinya.
"Mas beneran beliin ya," ucapnya.
"Iya sayang," ucap Habibi.
"Arum mau," ucapnya.
"Sejak kapan jadi materialis,"Ucapnya.
Arum tersenyum memandang suaminya.
"Dilihat dari detak jantung Arum hamil, tapi Arum nggak yakin," ucapnya.
Habib m sangat senang saat mendengar ucapan istrinya.
"Kita periksa," ucapnya
"Tapi mau pergi daftarin Vira dan Rangga," ucap Arum.
"Besok aja kita ke dokter spesialis dulu," ucap Habibi.
Arum menganggukkan kepalanya.
"Pipi kenapa lama kali," ucap Vira yang sudah memajukan bibirnya saat melihat Habibi dan Arum keluar dari kamar.
"Sekolahnya udah tutup besok aja ke sekolah," ucap Habibi.
"Ya udahlah nggak apa-apa," ucap Vira yang kemudian menonton film kartun bersama dengan Rangga. Kedua anak itu begitu menonton film kartun di tv lcd yang berukuran cukup besar di ruangan tersebut.
***
Jangan lupa like komen dan votenya ya reader.
__ADS_1
Terimakasih atas dukungan nya. 😊😊🙏🙏