Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 102


__ADS_3

“Mi apa kisah mereka mirip sama mami dan ayah Arum?” tanya Ardi.


“Mungkin,” balas Anita.


Habibi Tampak berfikir dan mengerutkan keningnya.


“Apa di antara mami dan ayah Arum ada rasa suka?”


“Kami saling sayang, saling merindukan, saling membutuhkan dan takut kehilangan. Namun rasa itu lebih mengarah ke rasa sayang dan cinta seorang sahabat. Dulu papi kamu suka cemburu juga sama ayah Arum.”


“Gitu ya mi.”


“Iya.”


“Bibi juga gak mau terlalu kejam sama Arum mi. Melarang dekat sama Ardi. Apa lagi Arum yang memang gak punya banyak teman.”


“Intinya kamu harus percaya dengan Arum. Arum itu masih terlalu muda dan polos.”


“Iya mi. Mi, menurut mami, kalau Arum udah kuliah. Apa bibi cari asisten lagi?”


“Menurut mami perlu. Kalau Arum kuliah, iya perlu fokus dengan kuliahnya.”


“Tapi bibi gak mau Arum berhenti mi.”


“Iya kamu gak usah berhentikan. Namun buat jadwal kerjanya tidak menggangu kuliahnya.”


“Iya juga ya mi. Mami punya calon gak?” tanya Habibi.


“Sepertinya gak. Apa ada yang kamu anggap pantas jadi asisten pribadi kamu?” Tanya Anita.


“Ada mi. Rasyid Aditya.”


“Siapa dia?”


“Salah satu karyawan di kantor Bibi mi. Dia belum sampai 1 tahun kerja di kantor Bibi. Umurnya juga baru 24 tahun. Lulusan Teknik Bangunan di Universitas Negeri Yogyakarta mi. Orang nya sangat bertanggung jawab, disiplin, rajin, cerdas dan jujur. Dia cumlaude mi. Dia juga pelatih pancak silat dan sudah sabuk hitam.”


“Bibi sudah selidiki keluarganya.”


“Iya dari keluarga sederhana. Keluarganya menetap di Yogyakarta mi.”


“Kalau kamu yakin dan sudah tahu tentang Rasid. Menurut mami, bagus itu. Gak perlu susah-susah untuk mencari yang lain.”


“Iya mi. Mi, bisa gak bantu Arum biar bisa lulus tes besok.”


Anita jadi tertawa mendengar permintaan anaknya. “Mana bisa. Pemeriksaannya langsung. Tidak bisa di manipulasi.”


“Kasihan mi, kalau Arum gak lulus. Dia udah nunggu satu tahun sampai nabung untuk biaya kuliahnya.”


“Kamu santai aja. Kalau nanti Arum gak lulus SPMB. Dia masih bisa ikut ujian mandiri. Kalau ujian mandiri, Mami bisa jamin Arum akan lulus.”

__ADS_1


“Gitu ya mi.”


“Iya.”


“Mi, Arum VC Bibi. Bibi angkat dulu ya mi. Langka ini mi, dia VC Bibi.” dengan senyum yang merekah di bibirnya.


“Iya. Angkat sana.”


Habibi mengangkat video call Arum sambil berjalan naik tangga ke kamarnya.


“Hallo Assalamu’alaikum.” Terlihat wajah Arum yang sedang telungkup di atas tempat tidur dengan mengangkat wajahnya.


“Wa’alaikumsalam.” Terlihat wajah ganteng Habibi memenuhi layar ponselnya.


“Mas lagi ngapain?”


“Lagi mikirin kamu dek.”


Arum Tampak tersenyum “mikir apa mas?”


“Mikirin kapan nikahin kamu dek.”


Senyum Arum Tampak semakin lebar.


“Udah pulang dek?”


“Ya Allah dek. Itu bibir jangan di monyong-monyongin. Mas gak tahan mau nyiumnya ini.”


Arum langsung memasukkan bibirnya ke dalam. “Mas mesum.”


“Dek, masih ingat gak. Waktu kita jemput ibuk ke kampung.”


“Kenapa mas,” tanya Arumi penasaran.


“Waktu itu mas ngerasa apes banget dek.”


“Kenapa?” Tanya Arum.


“Waktu kita singgah di kafe pinggir pantai. Mas udah gak tahan mua buang air kecil. Terus mas bangunin adek. Pas gitu bagun. Mas bilang mas gak tahan, eh malah respon adek, bilang mas mesum. Waktu udah sampai di kampung adek ketemu sama ibuk. Ibuk lihat mas. Malah dikirain udah hamilin anak gadisnya.”


Arum terlihat ngakak ketawa waktu ingat peristiwa tersebut.


“Udah pulang, lihat ruangnya dek?”


“Udah mas.”


“Kemana aja tadi?”


“Siap lihat ruangan kangsung pulang.”

__ADS_1


“Jadi vc mas. Karena kangen ya dek?”


Terlihat wajah Arum yang mulai memerah. “Mas, udah makan?”


“Udah dek. Tapi makan nasi.”


“Emangnya mas mau makan apa lagi?”


“Bibir adek. Buat nagih dek.”


“Mas....” Arum melebarkan matanya.


“He...he..... Itu kalau boleh dek.”


“Dosa mas.”


“Kalau gak mau dosa. Nikah yuk dek.” Kata Habibi tanpa kenal lelah merayu Arumi.


Arum terlihat kehabisan kata-kata dan perasaan yang sudah campur aduk.


“Udah makan dek?”


“Belum. Bentar lagi. Mas, udah ya. Lama-lama ngomong sama mas. Cetak dosa.”


Habibi tertawa. “Iya sayang. Istirahat ya.”


Bunga-bunga langsung bertaburan di hati Arum. “Iya mas.”


“Cium dulu dek.”


“Gak mau. Da... Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumsalam sayang. Emmuuuah.”


Arum mematikan layar ponselnya dengan senyum di bibirnya dan hati yang berbunga-bunga.


*******


maaf ya reader. baru up


singah juga di karya terbaru author ya reader.


takdir dan cinta nafisa. moga-moga reader suka. insyaallah cerita nya asik.


author lihat komentar nya udah 800 lebih


makasih ya reader. udah mau coret-coret kolom komentar nya.


semua komentar author baca. ya reader. walaupun belum sempat di like.

__ADS_1


__ADS_2