Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 241


__ADS_3

"Nanti kakak mau minta pamit dulu dengan anak kakak ya rum." ucapnya.


" sebentar lagi perawat akan datang ke sini nganterin anak Kakak," Jawab Arum.


Eka tersenyum dan kemudian Ia menganggukkan kepalanya. Ia berusaha untuk memperlihatkan kepada orang lain bahwa Ia tegar. Namun hatinya begitu sangat sedih saat harus meninggalkan putranya di Rumah sakit. Ia juga tidak tahu Kapan Ia bisa menjemput putranya nanti.


Eka duduk diatas tempat tidur dengan sangat berhati-hati. Perutnya masih terasa begitu perih. Namun rasa sedih di hatinya jauh lebih pedih dari luka saittan Cesar yang ada di perutnya.


" Arum ikatin rambut Kakak ya," Ucapnya yang kemudian duduk di samping Eka. Arum mulai mensisirkan rambut Eka yang terlihat kusut.


" Selama Kakak di sini kakak nggak pernah sisir rambut," ucap Eka.


" Iya Arum tahu nih rambutnya kusut banget," ucapnya yang kemudian mengikat rambut tersebut. Ia mengeluarkan jilbab dari dalam paper bag. Ia kemudian memasangkan jilbab itu ke kepala Eka. Ia sengaja membeli jilbab langsung agar tidak susah untuk memasangnya


Eka menangis saat Arum memberikan nya jilbab, Ia memeluk temannya itu. Ia tidak menyangka masih ada orang yang mau peduli kepadanya. Disaat Ia merasa hidup hanya sendiri namun ternyata masih ada orang yang mau berteman dengan nya, tanpa menghiraukan status yang saat ini dimiliki nya.


Arum tersenyum memandang Eka." Kakak tambah cantik," ucapnya memuji temannya itu.


" Makasih ya rum, Kakak akan memakainya selalu," ucapnya.


Dokter Rizky masuk ke dalam ruangannya Ia tersenyum memandang ke arah Eka.


" Sore ibu Arumi," Ucapnya ramah.


" Iya sore Dok,"


" Bagaimana Eka udah enakan belum," ucap Dokter Dokter ganteng yang masih muda tersebut. Ia meras sangat kasihan melihat pasien nya itu sejak awal datang.


Eka menganggukkan kepalanya sudah Dok. Hari ini saya juga sudah boleh pulang kan Dok?" ucapnya kepada Dokter Rizki.


" Iya boleh, bila kondisi nya sudah baik, saya akan periksa dulu," ucap Dokter muda tersebut.


Eka menganggukkan kepalanya Ia kemudian berbaring di atas tempat tidurnya.


" kondisi Eka sudah sangat baik," ucap dokter Rizki setelah memeriksa pasien nya, Ia membuka perbannya dan mengganti dengan perban yang baru.


" Ingat ya jangan stress dan juga usahakan untuk bergerak namun jangan angkat yang berat," ucap Dokter tersebut.


" Iya dok," ucap Eka.


" Agar lukanya cepat sembuh konsumsi ikan gabus," ucapnya.


Eka tersenyum dan menganggukkan kepalanya. " Iya Dok," ucapnya.


" Apa keluarga gak datang ke sini?" tanya Rizki yang cukup heran saat melihat wanita itu tidak pernah di kunjungi siapapun.


Eka menggelengkan kepalanya. " Saya gak punya keluarga Dok," Ucapnya dengan air mata yang menetes. Ia teringat perkataan terakhir kedua orang tuanya. " Jangan pernah mengaku kalau kamu anak kami, kami tidak memiliki anak yang hina seperti kamu. kamu sudah mencoreng nama keluarga kami. Dan bila nanti kami mati, kamu tidak perlu datang ke sini untuk melihat kami. Begitu juga bila kamu yang mati. Kami tidak akan melihat mu."


itu perkataan kedua orang tuanya sebelum Ia di seret Keluar dari dalam rumah. Begitu kecewa serta marahnya orang tuanya itu kepada nya.

__ADS_1


Setelah peristiwa itu Ia sudah kehilangan kontak dengan orang tua serta keluarganya yang lain. Mereka sengaja memblokir nomor nya dan bila Ia mencoba menghubungi mereka dengan no yang lain. mereka akan langsung mematikan sambungan telepon tersebut. Air matanya kembali menetes saat mengingat peristiwa itu.


melihat sikapnya itu Rizky seakan mulai mengerti apa yang terjadi sehingga Ia tidak melanjutkan lagi pertanyaannya. Ia hanya menganggukkan kepalanya saja.


" Setiap manusia sudah memiliki jalan hidupnya masing-masing, dan semua itu sudah diatur sebelum kita lahir. Dengan seperti ini kamu akan bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi untuk anakmu," ucap Dokter Rizki kemudian yang berusaha untuk menguatkan pasien nya.


Eka tersenyum dan kemudian menganggukkan kepalanya.


" Jadi bagaimana kalau kamu di rumah sendiri dengan kondisi yang masih seperti ini," ucap Dokter Rizky.


" Saya udah biasa kok sendiri waktu melahirkan juga saya sendiri, dan dekat rumah saya itu ada warung saya bisa belanja di sana.


Saya juga bisa pesan apa yang ingin saya beli," ucapnya kemudian.


Rizki diam saat mendengar ucapan wanita muda tersebut ia kemudian menganggukkan kepalanya. Ingin rasanya Ia memberikan tawaran bantuan. namun Ia tidak tahu Apakah pasiennya memiliki suami atau tidak.


" Jaga kesehatan yang terlalu stress, ucap Dokter Riski kembali.


Eka tersenyum dan menganggukkan kepalanya. " Iya Dok terima kasih," Ucapnya.


" Ibu Arumi pasiennya sudah boleh pulang Alhamdulillah kondisinya sangat baik," ucap Dokter Rizki.


Makasih Dokter Rizki ucap Arum.


Dokter tersebut pergi setelah pamit terlebih dahulu.


Perawat masuk ke dalam kamar rawat Eka. Perawat itu membawa bayinya. Bayi nya sudah tidak memakai baju serta bedong dari rumah sakit, bayi itu juga memakai selimut bayi bludu bertopi yang berwarna biru. Bayi tersebut sudah dalam kondisi bisa di bawa pulang.


Cukup lama Ia memeluk anaknya dan kemudian Ia memberikannya kepada perawat tersebut. Perawat itu mengambil bayi nya dan menggendong nya.


seorang perawat datang dengan membawa kursi roda.


Eka memandang kursi roda itu.


" Mari bu duduk kami akan antar sampai ke parkiran ucap perawat tersebut.


Eka diam dan kemudian mengikuti ucapan perawat itu dia duduk di atas kursi roda. salah satu perawat mengendong bayi nya.


Habibi masuk ke dalam ruangan itu sambil menggendong putrinya.


" Bagaimana sayang apa sudah boleh pulang?" tanya Habibi kepada istrinya.


" Sudah Mas," jawabnya.


Eka melihat Arum.' Arum apa udah nikah?" tanyanya kemudian saat melihat Habibi yang mengendong bayi tersebut.


Arum menganggukkan kepalanya. " Iya sekarang Arum udah nikah ini anak Arum," ucapnya menunjukkan bayi yang ada di tangan suaminya.


" Ya Allah rum maaf ya, kakak sibuk ceritain tentang diri kakak, sampai lupa nanya kabar Arum," Ucapnya yang merasa tidak enak hati

__ADS_1


Arum tersenyum memandang nya. " Iya kak gak apa. Arum minta maaf ya kak, soalnya Arum gak bisa nganterin kakak sampai ke rumah. Ini kak Mai sarah dan juga nanti ada Heri yang akan mengantarkan Kakak pulang ke rumah," ucap Arum. yang memang sudah Sejak pagi berada di rumah sakit miliknya itu.


Eka tersenyum kepadanya. " Gak apa-apa Rum. Makasih, makasih sekali ya," ucapnya Yang benar-benar merasa sangat bersyukur masih ada orang yang peduli kepadanya. Ia tidak pernah membayangkan bahwa Ia akan pulang ke rumahnya dengan diantarkan oleh orang lain seperti ini. Ia berpikir bahwa Ia akan pulang sendiri berjalan kaki, karena Ia memang tidak memiliki uang dan juga saldo gojek nya. sudah lebih satu bulan Ia berhenti bekerja. karena pemilik toko tersebut sudah tidak mau memakai nya untuk bekerja di toko baju tempat biasa ia bekerja. Ia juga tidak bisa mencari pekerjaan lain karena kondisi nya yang sedang hamil besar. Ia sudah berusaha untuk mencari pekerjaan, namun semua tempat menolaknya. pada akhirnya Ia mengambil upah cuci gosok di rumah nya. yang penghasilan nya cukup untuk biaya hariannya, dan membeli sedikit perlengkapan bayi nya. sudah 2 Minggu Ia tidak mengambil upah cuci gosok, karena kondisi nya yang sudah tidak mampu untuk bekerja banyak.


Arum kemudian pergi bersama dengan suaminya. sedangkan Eka di antar oleh perawat menuju parkiran mobil.


Eka melihat mobil hitam yang sudah menunggu nya.


Perawat itu membantu nya naik ke atas mobil tersebut. " Ini Bu bayinya," ucap perawat yang menggendong bayinya tersebut.


Eka mengambil bayinya itu dan kemudian Ia menciumnya setelah itu Ia kembalikan bayi tersebut kepada perawat tersebut.


Perawat itu tersenyum memandangnya "


"Bayinya langsung dibawa pulang Bu," ucap perawat itu.


Ia masih tidak mengerti apa maksud dari Ucap perawat tersebut. " Kenapa saya boleh bawa pulang bayi saya?


Saya belum bayar biaya di rumah sakit ini. Apa pihak rumah sakit ini memberi hutang," ucapnya yang begitu heran ketika Ia diperbolehkan membawa bayinya.


" Tidak Bu Hanya saja semua tagihan Ibu sudah dilunasi oleh ibu Arumi,"ucap perawat tersebut.


Eka seakan tidak percaya saat mendengar ucapan perawat tersebut.


" Semua tagihan rumah sakit sudah dibayar oleh Ibu Arum, Ibu," ucap Mai sarah memberitahunya.


" Arum yang lunasi?" tanyanya kepada May Sarah.


" Iya bu, sekarang ibu bisa langsung pulang," ucap Mey Sarah.


Eka menangis saat mendengar ucapan May Sarah tersebut. Ia menangis memeluk putranya, Ia tidak menyangka bahwa Ia bisa pulang bersama dengan putranya. Ini seperti mimpi baginya. Berulang kali Ia mencium putranya tersebut, Ia kemudian memeluk perawat tersebut dan mengucapkan terima kasih kepada para perawat yang sudah mengantarkannya bersama putranya ke parkiran tersebut.


Mey sarah duduk di sampingnya sedangkan Heri mengemudi mobil itu dengan kecepatan yang sangat sedang. Heri mengamati wajah Eka dari spion yang ada di depannya.


Ia tidak memberikan pertanyaan apa-apa.


Heri mengemudi mobil tersebut mengikuti instruksi dari Eka. Ia memberhenti kan mobil tersebut di depan rumah yang kecil. yang berada cukup jauh dari kawasan penduduk.


" Ibu Arumi berpesan bahwa Ibu pulang ke rumah hanya untuk mengambil barang saja dan Ibu akan kami bawa ke rumah yang sudah disediakan oleh Ibu Arumi ucap Mai sarah.


" Arum menyuruh saya tinggal di mana?" tanya Eka.


" Salah satu rumah yang dimiliki oleh perusahaan Pak Habibi. Saya akan membantu ibu membereskan barang-barang," Ucap May Sarah.


Eka hanya menuruti perintah yang disampaikan oleh Mai sarah tersebut.


***


jangan lupa like, komen dan votenya ya reader. terimakasih atas dukungan nya.

__ADS_1


😊😊🙏🙏


__ADS_2