
Abdul sangat terkejut saat mendengar ucapan dari Dimas.
Apa ada yang janji datang lagi ke sini, "ucap Ahmad.
Pipit menggelengkan kepalanya, tangannya mengusap matanya yang basah.
"Siapa yang datang ucap Abdul.
"Belum tahu Pa mereka tiga mobil," ucap Dimas ketika melihat 1 mobil lagi datang.
Abdul begitu sangat kesal saat mendengar ucapan putranya. "Itu orang salah salah alamat," ucapnya yang membuka peci putih yang menempel di kepalanya dan mengacak-aca rambutnya yang tidak panjang. Abdul yakin tidak akan ada yang datang melamar putrinya tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Abdul juga tahu putrinya bukanlah jenis gadis yang pandai berpacaran.
Suasana di dalam rumah itu begitu sangat ribut. Para tetangga dan juga keluarga sudah mulai bergosip satu sama lain.
May Sarah masih berdiri didekat Wati dan juga Pipit. May hanya diam sambil menundukkan kepalanya. Ia sudah tidak berani untuk memandang wajah dan juga menatap mata kedua wanita tersebut.
"Untung saja kami tidak ada yang punya penyakit jantung. sehingga tidak ada yang mati secara mendadak,"ucap Pipit memandang putrinya.
Hendra memegang dadanya yang terasa begitu sangat sakit dan juga pedih. Rasa malu, rasa marah dan rasa kecewa bercampur menjadi satu. Hendra baru menyadari bahwa ada orang lain yang ikut datang melamar gadis yang selama ini sudah sangat disukainya. Selama 3 tahun dia setia menunggu. Hari ini hatinya terasa begitu sangat pedih ketika ditolak dengan alasan yang sama sekali tidak dimengertinya. Sedikitpun gadis itu tidak memberikan kesempatan untuknya.
Matanya memandang pria yang bertubuh tinggi dengan memakai setelan baju kemeja yang rapi. Tiga Mobil yang dipakai rombongan itu, semuanya mobil mewah. Dari tampilan rombongan yang datang, Hendra sudah bisa menebak bahwa rombongan itu orang kaya
Lina mengusap air matanya ketika melihat putra sulungnya. "kalau tidak jodoh kita nggak bisa ngomong apa-apa nak," ucapnya sambil mengusap punggung putranya.
Hendra sedikit tersenyum memandang ibunya. "Aku cuman tumbal ma," ucapnya.
"Bila dia bukan jodoh kamu, selalu ada cara untuk membuat kamu tidak jadi dengannya," ucap Lina yang berusaha untuk menenangkan hati putranya.
"Mas, ucap Deni yang menegang bahunya.
Hendra menepis tangan adiknya.
"Sudah lah sayang, kita pulang ,"ucap Lina memegang tangan putranya.
__ADS_1
Hendra menganggukkan kepalanya dan masuk ke dalam mobilnya. Hendra bersama dengan rombongan keluarganya pergi meninggalkan rumah May sarah.
Abdul, Ahmad, ipit dan Wati berdiri di depan pintu. Mereka mengintip siapa yang datang. Bisa saja rombongan yang datang itu hanyalah orang yang salah alamat. Mereka memang tidak yakin bahwa putrinya akan ada yang melamar. Penolakan yang dilakukan putrinya membuatnya sangat kecewa. Bagaimana bila tidak ada lagi yang mau dengan putrinya? Bagaimana bila putrinya menjadi wanita tua yang tidak pernah menikah?
May Sarah masih berdiri ditempat yang sama. jantungnya berdegup dengan sangat hebat nya. Namun ada rasa takut saat ingin melihat siapa yang datang. Rasa berharap nya sangat besar namun rasa takutnya juga begitu sangat besar. May takut bila yang datang bukanlah orang yang diharapkannya.
May tidak ingin kecewa.
"Apa benar ini rumah May sarah," ucap seorang pria yang sekarang berada di ambang pintu.
May memegang dadanya saat mendengar suara pria itu. May mengangkat kepalanya dan memandang ke asal suara. Tatapannya terkunci ketika tatapan matanya bertemu dengan tatapan pria tampan bertubuh tinggi yang berdiri di ambang pintu rumahnya. May merasa jantungnya seakan mau lepas dari tempatnya. Melihat senyum pria itu membuat May kehilangan oksigen saat ini. Ia begitu sangat gugup.
Abdul yang berdiri di depan pintu bersama dengan orang tuanya yang lain begitu sangat bingung namun keempat orang yang berdiri dengan mulut yang terbuka itu tetap menganggukkan kepalanya.
Eka, Heri, dan Dafa, Muncul di belakang Imam. "Kak May," ucap Eka yang memanggilnya dengan tersenyum begitu sangat manis yang menjadi ciri khasnya.
May tersenyum memandang Eka. ",Eka," ucapnya.
Aunty May Sarah," ucap Daffa yang berlari memeluknya
"Daffa,
" ucap May sambil tersenyum saat anak laki-laki itu memeluknya dengan sangat erat.
"Aunty sangat cantik. Daffa datang ke sini untuk lama Aunty. Daffa harap aunty mau
terima lamaran Om Imam," ucapnya yang sedikit berbisik ditelinga May Sarah..
May tersenyum saat mendengar ucapan Daffa.
Daffa menarik tangannya untuk mendekat kearah omnya.
Imam berdiri di pintu tersenyum saat memandangnya. "Aku belum terlambatkan?" ucapnya memandang May sarah.
__ADS_1
May memajukan bibirnya, May sangat senang namun juga kesel melihat pria tersebut. "Kamu jahat," yang memukul dada Imam.
Imam hanya tersenyum saat gadis itu marah dengannya. "Maaf aku sibuk," ucapnya yang kemudian memeluk gadis yang saat ini menangis di atas dadanya. " Kamu belum terima orang itu kan?" ucapnya sambil tersenyum memandang May sarah.
May menggelengkan kepalanya.
"Alhamdulillah," ucap imam saat melihat Maya menggelengkan kepalanya.
"May melihat Dino, Elly, Intan, dan Ayu datang mendekatinya. "Bapak, Ibu," ucap May menyapa.
"Ini dandan cantik seperti boneka Barbie apa untuk nungging imam?" ucap Elly.
Dengan ragu May menganggukkan kepalanya.
"Pak apa kami boleh masuk" ucap imam yang masih berdiri di pintu tanpa dipersilahkan masuk oleh tuan rumah. Keluarga main yang ada di sana menganggukkan kepalanya.
para tetangga dan keluarga yang masih duduk tampak bingung saat melihat rombongan yang masuk.
"Itu Eka Pratiwi, designer terkenal," ucap tamu-tamu yang begitu sangat terkejut saat melihat Eka yang masuk ke dalam rumah bersama dengan suami dan anaknya. Eka duduk di atas lantai yang beralaskan karpet permadani. Sedangkan suaminya duduk memangku putranya. Melihat rombongan yang datang, mereka sudah bisa menebak bahwa yang datang bukan orang biasa.
Satu mobil datang, mobil yang berisi seserahan lamaran. Beberapa orang pelayan yang berada di dalam mobil tersebut turun dan memasukkan seserahan lamaran tersebut kedalam rumah.
Pipit, Wati, Abdul dan Ahmad sangat terkejut saat melihat begitu banyak seserahan yang dibawa oleh Imam dan kotak yang berisi yang berukuran cukup besar yang berisi pohon uang. Di luar kotak tersebut tertulis 500 juta.
May yang duduk di sebelah Pipit dan Wati terlihat begitu sangat terkejut saat melihat apa yang dibawa oleh calon suaminya.
Dadanya begitu sangat berdebar-debar. May memandang calon suaminya yang tersenyum memandang nya. Melihat senyum suaminya membuat jantung May semakin berdebar-debar.
"Assalamu'alaikum, Bapak ibu kami mohon maaf bila kedatangan kami kesini tanpa pemberitahuan terlebih dahulu," ucap pria yang bernama Robby. Pria yang dibawa imam untuk menjadi pembicaraan dari pihaknya. Pria yang berusia 40 tahun yang berstatus bawahnya.
Abdul hanya menganggukkan kepalanya saat mendengar ucapan pria tersebut. Ia belum mampu untuk berbicara sama sekali.
****
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan votenya ya reader. Terimakasih atas dukungannya.
😊😊🙏🙏