
Sesampainya di Monas tak jauh dari parkiran mobil ada penyewaan sepeda tandem. Anita menyewa 2 sepeda tandem dengan 2 pendayung. Anita dengan Jhoni, dan mau gak mau bahkan harus mau Arum sama Habibi. Sambil mendayung sepeda, Habibi selalu ngajak Arum ngobrol tapi Arum selalu menjawab hanya “gak.” Arum memperhatikan Anita dan Jhoni yang selalu berhenti setiap kali jumpa dengan pedagang. Terkadang Anita membeli dagangan tersebut tapi lebih sering terlihat tidak membeli apa pun. Tapi memberikan uang kepada para pedagang kaki lima yang mereka temui.
“Arum,” sapa Habibi.
“Iya mas.” Jawab Arum.
Habibi mengeluarkan uang dari dalam baju jaket yang dipakainya dan memberikan ke Arumi.
“Untuk apa mas,” tanya Arum.
“Kamu berikan ke pedagang-pedagang kecil di sini. Kalau kurang nanti mas tambah.” Kata Habibi. Uang yang di tangan Arum lembaran 50 ribuan dengan nominal 5 juta.
“Iya mas.” Jawab Arum.
Kemudian Habibi memutar sepedanya memilih berlawanan arah dengan papi dan mami.
“Satu orang pedagang diberi berapa mas?”
“Kamu beri aja 4 atau 5 lembar. 6 lembar juga gak apa.” Jawab Habibi.
Tapi di sini pedagangnya banyak sekali mas. Kalau diberi 300 ribu satu orang takutnya gak kebagian semua mas. Kalau kurang mas tambah? Tanya Arumi.
“Ya udah kalau gitu kamu beri aja 250 ribu setiap pedagang.”
“Iya mas.” Jawab Arumi. “Apa setiap kali car free day, mas dan ibu selalu ngelakuin seperti ini?”
“Iya.” Jawab Habibi ringkas.
“Car free day keluarga mas, seperti ini. Selain berolahraga juga berbagi,” Arumi benar-benar kagum melihat keluarga mereka.
__ADS_1
Habibi berhenti di pedagang penjual siomay. Arum memberikan uang lembaran 50 ribu lima lembar. Pedagang itu binggung saat Arum memberikan uang. Tanpa bisa banyak bertanya Arum pun pergi. Pedagang tersebut tak henti-hentinya, mengucapkan terima kasih. Mereka selalu berhenti di setiap ada pedagang, dan mereka baru mengakhiri bagi-bagi uangnya setelah jumpa dengan Anita dan Jhoni. Itu artinya, seluruh pedagang sudah rata dapat pembagian uang. Setelah itu mereka kembali ke parkiran dan mencari sarapan pagi dan kemudian mereka kembali pulang.
*******
Arum sudah duduk di meja makan bersama Anita, Jhoni dan Habibi. Mereka makan siang bersama.
“Arum nanti kita shopping ya.” Kata Anita.
“Iya buk.” Jawab Arumi.
“Papi di rumah aja mi.” Kata Jhoni.
“Kenapa papi gak ikut?” tanya Anita.
“Papi gak tahan mami cuekin. Kalau sudah sama Arumi, Mami sudah merasa seperti dunia milik berdua dan melupakan papi.” Curhat Jhoni. Jhoni ingat waktu di jogja, ia membuntuti istrinya dari belakang dan jadi tukang foto.
“he.....he.. Kalau papi gak ikut gak apa-apa.” Jawab Anita sambil tertawa.
“Gak.”
“Bibi bakalan jadi supir pribadi mami, dan nenteg semua belanja mami.” Rayu Habibi kepada mainya.
“Gak. Mami bawa supir pak Diman.”
Habibi tampak kecewa, padahal dia sudah ingin seharian bakalan sama Arumi. Walaupun cuma ikutin kemana pun dia pergi tapi Habibi sudah senang.
Anita pergi berdua dengan Arumi. Anita mengajak Arum pergi mall, ke butik langganan Anita, ke toko sepatu, dan tempat lainnya. Jujur aja mata Arum sampai meloto saat melihat harga-harga tas dan sepatu di toko ini. Anita membeli untuk dia dan juga untuk Arumi. Kemudian mereka makan di restoran mall. Setelah puas berbelanja dan kemudian ke salon langganan Anita. Salon ini merupakan salah satu salon terkenal dan terbesar di Jakarta. Kebanyakan yang datang ke salon tersebut istri-istri anggota dewan, pejabat, istri-istri para pengusaha dan artis. Salon ini lengkap dengan pijat refleksinya serta mandi sauna. Salon ini memang salon khusus perempuan. Anita masuk ke dalam salon dengan mengandeng tangan Arumi. Mereka berjalan seperti ibu dan anak terlihat sangat kompak.
“Selama sore ibuk dokter.” Pemilik salon langsung datang menyambut Anita saat melihat Anita masuk ke dalam.
__ADS_1
“Selamat sore juga jeng Mirna. Wah ternyata hari ini rame ya.” Balas Anita.
“Iya Alhamdulillah buk dokter. Buk dokter mau massage, kemudian sauna?”
“Iya seperti biasa.” Anita langsung memotong pembicaraan mirna
“Aduh cantik sekali. Ini calon menantu buk dokter?”
“Iya Insyaallah.” Jawab Anita dengan santainya.
“Nama kamu siapa cantik?”
“Arumi tante.”
“Duh manisnya.” Kata Mirna lagi.
Kemudian mereka masuk ke ruang massage, Arumi sangat menikmati saat tubuhnya di pijit- pijat. Terasa sangat enak. Setelah selesai pijat mereka berendam di dalam bathroom yang besar yang sudah di masukkan rempah-rempah.
Setelah puas memanjakan diri, mereka baru pulang jam 8 malam. Karena kemacetan Jakarta, Anita dan Arum baru sampai jam 9 lewat. Setelah sampai di rumah, Anita memisahkan barang belanjaan milik dirinya dan milik Arum. Barang yang milik Arum sama banyaknya dengan Anita bahkan lebih banyak. Arum sudah menolak berapa kali saat Anita menawarinya baju-baju, tas, sepatu. Tapi Anita tetap ngotot memilihkan yang cocok dan pas untuk Arum. Barang-barang yang di rekomendasikan butik untuk Arum semuanya langsung di ambil Anita. Semuanya di beli Anita. Arum jadi gak enak sendiri.
“Ibuk Arum langsung pulang ya.” Kata Arum.
“Kamu tidur di sini aja. Kamu udah capekkan. Besok juga pagi-pagi Arum udah ke sini lagi. Lagian ini sudah malam. Baju, tas sepatu semua sudah kita beli. Jadi Arum gak usah pulang. Bisa langsung berangkat dari sini.” Kata Anita.
Arum yang baru mencoba mengendarai motor. Juga sedikit takut pulang malam.
“Nginap di sini aja rum. Ini udah malam.” Kata Habibi penuh semangat.
Akhirnya Arum kembali tidur di kamar yang sangat mewah dan besar tersebut dengan ada Habibi di sebelah kamarnya.
__ADS_1
😂😂😂