Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 80


__ADS_3

“Di, bangun,” kata Arum pelan membangunkan Ardi.


“Hum....ya.”


“Udah jam 6 lewat 10 Di.”


Ardi berangsur duduk. Dia berjalan menuju Arumi dan kembali ngecek panas Arumi.


37,6 dah turun panasnya. Nanti jam 8 minum obat ya kecuali obat demam. Itu di minimum jam 10.


“Siiipp pak dokter.” Kata Arumi sambil tersenyum dengan sangat manisnya.


Ardi memegang kepala Arumi dan kemudian dielusnya.


“Dari semalam gak dengar suara kamu, ini baru dengar suara kamu. Untung semalam kamu telpon aku.”


“Iya Arum gak tau mau hubungi siapa, di sini cuma kamu satu-satunya sahabat Arum. Kalau sama orang yang di kantor, Arum belum ada yang terlalu akrab.”


“Iya aku tau. Kamu bukan jenis orang yang gampang percaya. Semalam kalau kamu gak hubungi aku dan sampai pagi dengan kondisi panas tinggi tanpa pertolongan. Bisa- bisa kamu kejang-kejang. Nanti aku siapkan P3K untuk kamu dan beberapa obat yang wajib ada.”


“Makasih ya.” Masih dengan senyum yang mengembang di bibirnya. “Kamu semalam tidur jam berapa?”


“Jam 2. Setelah selesai ngerjakan tugas. Aku numpang mandi di sini ya. Kalau pulang ke kos takut telat.”


“Iya.”


Ardi keluar mengambil baju dan sepatu di mobil.


“Rum, aku lupa bawa handuk.” Ardi anduk mandi, yang diingat malah anduk kecil untuk kompres.


“Pakai anduk Arum aja.”


“Gak panuan, dan kurapankan,” kata Ardi menggoda sambil tersenyum.


“Enak aja, bilang panuan.”


“Ya udah mana.”

__ADS_1


Arum memberikan handuknya.


“Sabun juga ya.” Kata Ardi dengan senyum-senyum malu.


“Pakai aja, Arum pakai sabun cair. Sampo juga ada. Tapi Arum gak ada sikat gigi baru.”


“Sikat gigi, aku bawa.” Sambil menunjukkan sikap gigi ditangannya. “Ya udah aku mandi dulu ya.”


Arum mengangguk.


Tak lama Ardi keluar dari kamar mandi sudah memakai baju lengkap dan handuk yang ada di lehernya. Ia mengusap-usap rambutnya dan mengambil parfum serta memakai deodorant an dia juga memakai crim wajah khusus pria.


“Rum, aku ada kuliah pagi ini. Kamu gak apa aku tinggalkan?”


“Gak apa. Panas Arum juga udah turun.” Jawab Arumi.


“Sebenarnya aku masuk jam 8. Makalah aku belum aku prin dan copy. Makanya jadi buru-buru. Oh ya itu thermometer aku tinggal. Biar nanti kamu bisa cek panas kamu.”


“Siiiip pak dokter.”


“Sejak kapan Arum gak nurut? Arum mau buat susu dulu.”


“Udah kamu duduk aja. Biar aku yang buat.” Sambil mengambil 2 buah gelas dan menuang susu milo ke gelas dan menyeduhnya. Ardi memberikan susu tersebut kepada Arumi.


“Aku kampus dulu ya. Tapi sarapan kamu gimana, atau aku cari sarapan kamu dulu?”


“Gak usah di. Nanti aku minta tolong sama teman-teman di kos aja.”


“Yakin?”


“Yakin. Udah nanti kamu telat.”


Ardi memakai sepatunya di depan pintu. “Jangan lupa obatnya di minum sesuai jam yang aku kasih tau tadi dan kalau lupa hubungi aku.”


“Iya.”


“Assalamu’alaikum, kata Ardi sambil pergi.

__ADS_1


“Wa’alaikumsalam.”


*****


Jam 6:50


Arum menghubungi Habibi, tak lama panggilan tersambung.


Habibi yang sedang sarapan pagi melihat Arum menghubunginya. Gadis itu tidak pernah menghubunginya. Dengan cepat Habibi mengangkat telpon tersebut.


“Hallo Assalamu’alaikum”


“Wa’alaikumsalam. Mas, Arum minta azin ya.”


“Izin, kenapa? Kamu sakit?”


“Iya mas, Arum demam. Tapi panasnya sudah turun.”


“Ya udah nanti saya di antar Rudi saja. Istirahat ya.”


“Iya mas, makasih ya. Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumsalam.”


Habibi menyelesaikan sarapannya dan menghubungi sasa.


“Hallo Assalamu’aaikum.”


“waalaikum salam, Sasa semua miting hari ini cancel.”


“Baik pak. Tapi kenapa ya pak?”


“Saya ada urusan penting dan tidak masuk kantor. Semua berkas dan laporan kirim saja lewat email.”


“Baik pak.”


Tanpa abah-abah. Telpon langsung terputus.

__ADS_1


__ADS_2