
"Untung aja keluarga Hendra tidak jadi makan," ucap Wati yang tersenyum lega ketika mereka masih bisa menjamu tamunya, walaupun menu yang disediakannya sebenarnya bukan untuk keluarga Imam.
"Iya mbak, Alhamdulillah kita tidak malu," ucap Pipit ketika mereka selesai makan dan piring-piring yang kotor sudah di diangkat ke belakang.
Para tetangga masih ramai dan tidak ada yang mau beranjak dari rumah Abdul. Mereka lebih memilih untuk duduk-duduk di halaman depan. Momen seperti ini tidak mungkin mereka lewatkan begitu saja.
"Bapak, ibu apa acaranya bisa kita lanjutkan," ucap Robby ketika ruang tamu itu hanya di isi oleh pihak keluarga.
"iya pak silakan dilanjutkan," ucap Abdul dan juga Ahmad.
"Berhubungan lamaran kami sudah diterima dan sebelum kita masuk ke acara penentuan tanggal pernikahan, alangkah sebaiknya pak Imam memasangkan cincin terlebih dahulu di jari manis calon istrinya. Agar hubungan nya semakin kuat. Cincin ini merupakan simbol kepemilikan dan bukti pengikat satu sama lain ," ucap Robby.
May tersenyum malu saat memandang pria yang saat ini sudah berstatus calon suaminya. May merasakan Telapak tangannyq dingin, dada berdebar-debar, namun hatinya sangat senang.
"Maju nak," ucap Pipit yang tersenyum memandang putrinya.
May sedikit tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
May berjanan mendekati imam yang sudah berdiri di tempat yang di tentukan oleh pihak Abdul. May berjanan dengan menundukkan kepalanya dan menikmati debaran di dadanya. May berdiri di depan Imam.
Imam Tersenyum memandang calon istrinya yang hanya menundukkan kepalanya. Tangannya memegang kotak kecil yang berisi sepasang cincin.
"Sayang, lihat mas," ucapnya yang membuat jantung calon istrinya semakin berdegup dengan hebatnya.
Kalimat yang diucapkan calon suaminya membuat jantungnya serasa akan lepas. Rasa malu, cinta, senang bercampur menjadi satu. May menuruti ucapan calon suaminya. May mengangkat kepalanya dan menatap wajah calon suaminya.
Imam tersenyum memandang calon istrinya. dikeluarkannya cincin berlian yang sudah disiapkannya. Imam memegang tangan May sarah. "Mas gak tau cincin nya pas di jari kamu atau gak, soalnya mas pinjam jari Eka sewaktu membeli nya dan cincin ini sedikit longgar saat dipakai Eka," ucapnya.
"Longgar dikit atau sempit dikit gak apa-apa yang penting bisa masuk," ucap May memandang calon suaminya. May sudah tidak mampu menahan debaran di dadanya ketika Imam memegang tangannya.
"Cari kesempatan ini , sengaja pegang lama-lama," ucap tetangga May yang mengintip di ambang pintu.
Imam tersenyum saat mendengar sindiran dari luar. Ditatapnya wajah calon istrinya. "Ganggu aja itu orang," ucapnya yang sedikit berbisik di telinga calon istrinya.
May tersenyuman mendegar ucapnya.
Imam mengeluarkan cincin berlian dari dalam kotanya dan memasukkan cincin itu di jari manis calon istrinya. Di ciumnya punggung tangan calon istrinya dan juga jari manis May Sarah. "Alhamdulillah pas," ucapnya.
May hanya diam menatap wajah tampan calon suaminya. Selama ini May tidak pernah bermimpi akan memiliki calon suami setampan dan sesempurna ini. Pria yang berdiri di depan nya begitu sangat sempurna di matanya. Suara tepuk tangan dari luar rumah nya terdengar keras yang membuat wajahnya semakin memerah karena malu.
"Sayang pasangin cincin mas," ucap imam yang mengecilkan suaranya dan memandang calon istrinya.
May tersenyuman dan mengambil cincin yang disodorkan calon suaminya di depannya. May mencium punggung tangan iman Setelah memasukkan cincin itu di jari manis calon suaminya.
"Terimakasih ya sayang," ucap Imam yang hanya dijawab anggukan kepala oleh calon istrinya.
Setelah selesai pemasangan cincin, May kembali duduk di sebelah Pipit dan wati.
Pipit tersenyum memandang putrinya dan mencium kening putri nya. Begitu juga dengan Wati. yang berulang kali mencium kening putri nya.
__ADS_1
Imam yang duduk di tempat nya tidak ada henti-hentinya memandang wajah cantik istrinya.
"Bapak, ibu, saya yang mewakili keluarga pak imam meminta agar tanggal pernikahan dilaksanakan 1 bulan setelah ini, "ucap Robby.
"Kalau satu bulan dari sekarang itu waktunya terlalu cepat kami disini akan kesulitan mempersiapkannya," Abdul.
"Untuk mempersiapkan pernikahan, kami dari pihak Pak Imam langsung yang akan menyiapkan nya dan keluarganya bapak hanya sekedar bantu-bantu saja," ucap Robby.
"Kalau memang sudah seperti itu yang diinginkan oleh keluarga Pak Imam kami terima," ucapan Abdul.
setelah melakukan perundingan tanggal Mereka kemudian saling bercerita ringan mengenai hal-hal tentang keluarganya masing-masing untuk pendekatan lebih jauh.
***
"Mas pulang ya," ucap Imam yang memandang May sarah ketika dia dan rombongannya akan meninggalkan rumah Maisarah.
"Apa langsung pulang atau nginep di hotel dulu?" tanya May sarah.
"Kalau langsung pulang, kasihan Eka," ucap Imam yang memandang adiknya yang masih dikerumuni oleh ibu-ibu.
"Nginap di mana?" tanya May.
"Di hotel lah," ucap Imam.
"Sudah dapat hotelnya?" tanya May.
"Belum ini masih mau memutar-mutar," ucapin.
"Mas sudah jauh-jauh datang ke sini nggak mungkinlah buru-buru pulang," ucap Imam.
"Nanti mas kasih tahu ya, nginep di hotel mana?" ucap Mey yang memandang nya.
"Iya, nanti coba cek ponsel kamu. Itu sudah banyak panggilan masuk dari mas yang nggak diangkat," ucap Imam yang sebenarnya sejak sore sudah menghubungi May sarah.
May diam dan membesarkan matanya saat mendengar ucapan Imam. "Sejak sore May enggak ada megang ponsel. May sibuk di makeup," ucapnya
"Segitunya mau jumpa calon suami," ucap Imam.
"May cuma menurut ibu dan mama," ucapnya membela diri.
Imam tersenyum saat memandangnya. "Tapi kamu Beneran sangat cantik," ucapnya
Wajah May memerah saat mendengar," ucapan calon suaminya tersebut.
"Mas berangkat dulu ya," ucap imam yang mengusap kepala calon istrinya.
"Mas hati-hati," ucap May.
Imam mengangkat tangannya dan meminta agar calon istrinya itu menyalaminya.
__ADS_1
May memandangnya dan kemudian mengambil tangan pria itu dan meletakkan punggung tangan calon suaminya di keningnya.
***
Habibi masuk ke dalam ruangan istrinya dan melihat istrinya yang sedang duduk di mejanya. "assalamu'alaikum," ucapnya.
"Waalaikum salam," ucap Arum yang tersenyum memandang suaminya.
"Sudah siap?" tanya Habibi yang datang menjemput istrinya.
"Sudah Arum simpan folder file nya dulu," ucapnya.
Habibi duduk di depan istrinya dan memandang wajah cantik istrinya yang sedang sibuk dengan layar monitor komputer di depannya.
Arum memandang suaminya. "Jangan mikir yang aneh-aneh," ucapnya saat memandang tatapan mata suaminya memandangnya.
Habibi tertawa saat mendengar ucapan istrinya. "Mas itu nikah sama adek bukan hitungan bulan atau setahun 2 tahun. Tapi sudah lebih dari 7 tahun. Hanya saja wajah Adek masih sangat imut-imut," ucapnya yang memandang wajah istrinya.
Arum mengangkat kepalanya dan tersenyum memandang suaminya. "Mas yang nikahin Arum kecepatan. Makanya sekarang wajah arum masih muda," ucapnya yang kembali memandang layar monitor komputernya.
Habibi tertawa saat mendengar ucapan istrinya. "Karena Mas nggak niat cari istri muda," ucapnya.
Arum memandang suaminya tersebut.
"Kalau Mas punya istri tua, mas bakalan punya keinginan untuk cari istri muda tapi kalau sudah punya istri muda buat apa lagi cari yang mudah ucapnya.
"Tukang gombal," ucap Arum yang mencubit hidung suaminya.
"Gombalin istri pahala, gombalin cewek lain dosa," ucap Habibi.
"Arum hanya tersenyum saat mendengar ucapan suaminya.
Habibie hanya diam sambil memandang istrinya.
"Mas Kak Eka ke Solo sama Mas Imam sama keluarganya juga," ucapnya.
"Ada fashion show?" ucap Habibi.
"Bukan, ternyata Mas Imam itu suka sama Kak May dan mereka sudah dekat waktu Aisah menikah. Mas Imam langsung berangkat ke Solo ketika tahu Kak May yang mau dilamar," ucap Arum menjelaskan.
Habibi terkejut saat mendengar ucapan istrinya. "Yang benar? ucapnya.
"Iya," jawab Arum.
"Mas baru tau," ucapnya.
Arum juga baru tau semalam kalau mas imam dekat sama kak May. dan hari ini langsung ke solo," ucapnya.
Habibi hanya diam dengan mulut yang sedikit terbuka saat mendengar ucapan istrinya.
__ADS_1
***
Jangan lupa like komen dan votenya ya reader. Terimakasih atas dukungannya. 😊😊🙏🙏