
Ardi duduk di salah satu kursi yang ada di dalam ruang kelasnya. Ia meluruskan kakinya dan melipatkan tanganya di dada. Ia memicingkan matanya dengan mencantelkan hespri ditelinganya. Ia mendengar kan lagu MP3 dari benda tipis nan persegi tersebut. Kehadiran sahabatnya sama sekali tidak diketahuinya. Lirik lagu terkadang keluar dari mulutnya. Sekali-kali ia mengangguk-anggukkan kepalanya.
Doni dan Ari yang melihat Ardi saling mengangkat bahu. Seakan mereka sedang sama-sama bertanya dan mereka sama-sama tidak tahu. Seperti itulah sepertinya.
Doni melepaskan hespri yang ada ditelinganya. Ardi membuka matanya dan dilihatnya dua sahabatnya yang seperti melihat mahluk aneh. Namun bagi kedua sahabatnya itu, ia lah yang aneh. Ardi mengambil hespri tersebut dari tangan Doni dan kembali mencentelkannya di telinganya. Doni dan Ari seakan mengerti dengan sikap yang dilihatkan Ardi. Mereka memilih tidak menggangu dan sibuk bercerita berdua.
“Sudah.” tanya Ari.
“Sudah apa nya.” Doni tampak tidak terlalu mengerti dengan maksud sahabat nya tersebut.
“Lu tembak?”
Doni menundukkan kepalanya. Melihat respon sahabatnya Ari menepuk pundak sahabatnya tersebut. Sudah pasti ia tahu apa jawabannya tanpa harus mendesak sahabatnya mengatakan nya. Di tolak. Sudah pasti itu kesimpulannya. Ia menepuk pundak sahabat seakan ia menunjukkan bahwa ia memberikan dukungan dan semangat. Namun jawaban yang keluar dari mulut sahabatnya membuat ia menendang kaki sahabatnya itu.
“Belum gua bilang.” Jawab Doni.
“Jadi kemarin lu, gua tinggal berdua ngapain aja?” Tanyanya dengan emosi dan nada yang tinggi.
Membuat mata Ardi terbuka. Namun ia kembali memicingkan matanya.
“Diam aja.”
“Selama itu hanya diam?” Ari Tampak kesal.
“Iya, terus aku antar Sarah pulang karena Sarah gak bawa mobil. Waktu pergi, dia diantar supirnya.”
“Di dalam mobil?” Tanya Ari
“Diam.”
“Buset Lo.” Ari Tampak kesal dengan sikap sahabatnya tersebut.
Doni yang menyukai Sarah sejak awal kuliah, namun sang gadis lebih memilih mengejar-ngejar Ardi.
“Berisik, Ardi melepaskan hespri ditelinganya dan mematikan ponselnya dan memasukkan benda tipis tersebut ke saku celananya.
“Ada apa?” Tanya Ari.
“Pusing aku,” jawab Ardi.
“Pusing kenapa?”
“Aku telpon nyokap. Memberi tahu kan kalau Arum sudah di lamar. Nyokap bilang, kalau sebenarnya sewaktu ayah Arum masih hidup, ia sepakat dengan papa untuk menjodohkan anak-anak mereka. Yang buat kesal tu, kenapa nyokap baru kasi tahu sekarang. Kalau andainya nyokap ngasih tahu sebelum-sebelumnya. Udah jelas Arum menolak dilamar mas Habibi. Saat tahu bahwa Arum sudah di lamar, dengan santainya nyokap bilang ke gua kalau gua di jodohkan sama Aisyah. Mereka mau memberi tahu hal tersebut dengan ibunya Arum biar gak kecolongan 2 kali. Kalian bayangkan aku di jodohkan dengan anak umur 11 tahun. Aku protes. Dengan nyantai nyokap bilang. Masih mending anak umur 11 tahun dari pada yang masih dalam perut.” Ardi memijat pelipis keningnya.
Membuat dua sahabatnya tertawa.
“Nyokap lu benar tu.” Balas Doni. “Lu mau nekat juga mau sama Arum tu kemungkinan hanya 5 %. Nih dengar ya. Lu siap gak nikah dalam waktu kurang dari 3 Minggu. Terus, mas Habibi tu orang kaya. Udah pasti tuh cincin tunangannya harga ratusan juta. Kita ambil nih harga terendah 100 juta. Nah itu artinya, lu harus balikin 2 kali lipat jadi 200 juta. Hantaran 5 milyar jadi 10 milyar. Sangup gak.” Doni memberikan penjelasan panjang lebar.
Ardi memandang wajah sahabatnya itu kemudian ia berdiri dan pergi.
“Di, lu gak bakal nyesel tuh dapat bocah.” Teriak Doni.
Jadwal kuliahnya masih 45 menit lagi. Ardi duduk di kantin sambil menikmati capuccino cincaunya. Sebenarnya, ia sudah memantapkan hatinya untuk melepaskan Arumi. Namun saat ini ia malah dipusingkan dengan ucapan mamanya bahwa ia sudah di jodohkan dengan Aisyah. Kemudian Ardi tersenyum, saat mengingat gadis kecil tersebut berkata agar Ardi mau menunggunya. Gadis kecil tersebut mengatakan bahwa ia Juga menunggu Ardi. Apa benar gadis kecil tersebut jodoh nya?
__ADS_1
Ardi mengusap wajahnya dengan kasar, saat ia mengingat kalimat terakhir mamanya yang mengatakan "kamu harus ingat, kamu sudah di jodohkan sama Aisah". Tapi ngapain juga harus mikirin ini semua. Toh segalanya belum tahu seperti apa nanti nya. Pikirnya.
**********
Rasid masuk ke dalam ruangan Habibi setelah mendengarkan perintah masuk dari bosnya tersebut. Rasid duduk di depan Habibi.
“Pak.”
“Ada apa?”
“Pak Danil mengatakan bahwa Mr Androw sudah ada di Indonesia. Beliau meminta untuk meninjau pembangunan mallnya hari ini jam 10.”
Habibi menyimak apa yang di sampaikan Rasid. Dilihatnya jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. “Oke kan.”
“Baik pak.” Rasid kembali keruangannya.
Pria tersebut sudah berencana untuk mengajak calon istrinya makan siang. Ia sudah berencana akan kekampus istrinya disaat jam makan siang. Mengingat calon istri memiliki jam kosong dari jam 12 hingga jam 2 siang. Namun kedatangan Androw membuat ia frustasi. Ia sudah tahu kalau Androw akan datang ke Indonesia. Namun ia belum siap bila pria itu datang. Ia ingat bagaimana Androw berusaha mendekati calon istrinya. Bagaimana kalau pria bule tersebut tertarik dengan calon istrinya. Habibi tampak berfikir. Ia sudah memblokir Androw dan beberapa laki-laki yang tampak mendekati calon istrinya dari telpon dan media-media, sosial media milik Arum. Pria tersebut memandang ponselnya dan mengirim pesan wa untuk calon istrinya.
~calon suami
lagi apa sayang?
Namun rasanya ia tidak sabar menunggu jawaban calon istrinya. Ia langsung menelpon calon istrinya tersebut yang selalu dirindukannya. Di hari-hari menunggu hari pernikahannya. Pria tersebut merasa begitu sangat ingin selalu dekat dengan arumi. Ia akan selalu merindukan gadis tersebut walaupun baru beberapa menit berpisah. 3 Minggu bukanlah waktu yang singkat untuknya.
“Hallo Assalamualkum.”
Suara lembut yang selalu ingin didengarnya.
“Nungguin dosen.” Jawab si gadis tersebut. “Mas lagi apa?”
“Lagi kangen kangen sayang. kangen banget malah. Mas vc ya.” Arum tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Seakan calon suaminya melihatnya.
“Sayang, mas vc ya.”
Ia baru sadar bahwa ia sedang menelepon. Arum kemudian menjawab “iya,” dan sambungan telpon langsung terputus. Arum mengambil hespri di dalam tasnya dan ia menempelkan benda kecil putih tersebut ditelinganya. Tampak panggilan video call dari ponselnya. Dengan cepat Arumi langsung mengeserkan tanda hijau berbentuk kamera tersebut naik ke atas. Wajah ganteng calon suami langsung memenuhi layar ponsel tersebut. Ia melihat Habibi yang mengenakan jas abu-abu tua. Tampak wajah bahagia calon suaminya.
“Sayang.”
Arum tersenyum mendengar suara calon suaminya.
“Iya,” jawabnya.
“Maaf ya, mas gak jadi ke kampus adek jam makan siang.”
Gadis itu tersenyum. “Iya gak apa. Nanti Arum aja yang kekantor mas gitu pulang kuliah.”
Habibi melihat Arum yang ada di dalam kelas. Terdengar suara candaan dari teman-teman di kelasnya.
Cie....cie..... Yang lagi kasmaran.
Cie....cie.... Yang nungguin naik pelaminan.
Cie....cie..... Yang lagi kangenan.
__ADS_1
Terdengar suara para cewek yang menggangu Arumi.
Habibi melihat wajah calon istrinya memerah. Seseorang mengambil ponsel yang dipegang Arum. Mengarahkan ponsel tersebut kewajahnya. Terlihat wajah seorang gadis yang seumuran Arumi. Gadis tersebut melambangkan tangannya.
“Hallo Assalamu’alaikum.”
Arum terlihat kesal mihat tingkah teman bar-barnya.
Tampak wajah Habibi tersenyum dan menjawab “Wa’alaikumsalam.”
“Selamat ya mas Habibi. Kenapa kami gak di undang.” Terdengar suara protes dari gadis tersebut. Terlihat mereka yang duduk ramai-ramai di dalam kelas.
Arum Tampak frustasi dan ingin cepat mengambil ponsel tersebut dari tangan teman-temannya.
“Iya saya minta maaf.” Jawab Habibi. Berharap gadis tersebut puas dan memberikan ponsel tersebut ke tangan calon istrinya. “Bisa bicara sama Arumi sebentar,” tanyanya.
“Bisa dong. Tapi nanti hari H nya jangan lupa kami di undang. Mas Habibi tenang aja Arumi kami jagain.”
Habibi tampak tertawa mendengar ucapan gadis tersebut. “Terimakasih kasih ya.” Gadis tersebut memberikan ponsel tersebut ke Arumi.
Arum kembali mencolokkan hespri nya yang terlepas keponselnya. Ia pergi menjauh dari teman-temannya.
Habibi melihat gadis tersebut memajukan bibirnya. Ia tidak berbicara. Hanya menatap wajah cantik tersebut dengan tersenyum.
“Jadi teman-teman adek udah tahu kalau adek mau nikah?” Tanya pria tersebut.
“Heboh malah.” Gadis tersebut masih memajukan bibirnya.
“Sayang.”
“Iya mas.”
“Kalau lihat adek manyun gini. Mas tambah kangen.”
“Apaan sih.”
“Sayang, mas hari ini sedikit sibuk. Kalau udah selesai kuliah ke kantor ya. Ada yang mau mas bahas.”
Gadis tersebut mengangkat jempolnya dan menjawab siiip. “Mas dah ya. Dosen dah masuk.”
“Cium dulu pinta pria tersebut.”
“Jangan di sini Arum malu,” jawab gadis tersebut.
“Ya udah nanti di kantor,” sambil melambaikan tangannya dan mematikan layar ponsel tersebut.
********"
maaf ya reader. author baru up..
he.....he......
jangan marahin author ya harus memunculkan androw di saat menunggu hari pernikahan nya. tapi ya gitu deh. menjelang hari pernikahan pasti banyak cobaan dan godaan ya.
__ADS_1