Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 25


__ADS_3

Pantas aja ibuk Anita mengingat aku. Ternyata siswa-siswa di sini seperti ikan kelaparan.


Arum memperhatikan kesekelilingnya.


Pesan sudah datang. Arum mulai menyantap baksonya, begitu juga Yuda, Rizal dan Tiar.


Bubur ayam yang di pesan Rizal di aduk-aduknya sampai rata.


“Kamu jorok amat sih makan buburnya.” Tampak Tiar tidak suka dengan sikap Rizal yang mengaduk bubur, sehingga tidak enak di pandang.


EH ini rasanya enak banget deh. Coba kamu cicip. Rasanya jadi menyatu dan menggit di lidah.” Sambil menyodorkan sendok ke mulut Tiar.


“Gak mau,” jorok balas Tiar.


“Kamu coba dulu. Ini enak sekali.” Kata Rizal dengan ekspresi tidak mau menyerah.


“Aku bilang gak mau.”


Arum dan Yuda hanya memandang perkelahian mereka berdua dengan terus menyantap makanan mereka. Yuda menyantap bakso dengan tatapan selalu tertuju pada Arumi.


Dia memakan bakso dengan tatapan penuh cinta.


“Kenapa bakso ini enak sekali,” guman Yuda yang membuat arum salah tingkah.


“Ini orang kenapa sih?” gumam Tiar.


“Hai ......hai. ...”


Terdengar suara memikul-mukul meja yang membuat Yuda tersadar dan nyawa yang melayang kembali ke tubuh pemiliknya.


“Eh iya Tiar,” balas Yuda.

__ADS_1


“Kamu ngapain?” kata Tiar. “Arum sampai kehilangan nafsu makan lihat mata kamu.”


“Astagfirullah maaf ya Rum,” jawab Yuda dengan wajah sepolos mungkin.


“Iya gak apa,” jawab Arum.


Tiar masih memandang Rizal yang makan dengan lahapnya.


“Kenapa kamu mau,” kata Rizal sambil menyodorkan sendok ke mulut Tiar,.


“Gak ah.”


“Cepat buku mulut kamu.” Perintah Rizal. “Kalau kamu gak makan, sendok ini gak akan berpaling dari muka kamu.”


Dengan secara kilat Tiar memakan bubur ayam yang di sodorkan Rizal.


“Enak kan?” tanya Rizal


Tiba-tiba arum ingat. Bagaimana mungkin dia bisa bertahan di tempat ini. Tampa ada uang di tangan. Sewaktu aku di jemput pak Diman. Aku tidak ada membawa uang. Arum menghirup nafas panjang dan kemudian dihempaskannya sepelan mungkin. Agar tak ada yang tau. Disaat mereka dengan asiknya bercanda. Seseorang dari meja di depan, menatap dengan sorotan mata yang sangat tajam.


“Aku mau kamar mandi dulu ya.” Arum berdiri dari kursi.


“Kamu mau ngapain ke kamar mandi?” tanya Yuda dengan wajah di buat sepolos mungkin.


“Tidur!” balas Arum. Orang mau ke kamar mandi kok di tanya.


“Tidur?” Yuda memasang wajah kebingungan. Sedangkan Tiar dan Rizal hanya menggeleng kan kepala melihat tingkah Yuda yang sangat konyol.


“Ah udah.”Arum pergi.


Yuda berdiri dari duduknya, “aku antar ya.”

__ADS_1


“Apa???? Gak usah aku bisa sendiri.” Kata Arum dengan sedikit frustasi.


“Yakin.”


“Iya yakin.” Arum langsung berlari kecil meninggalkan meja karena dia sudah kebelet mau buang air kecil.


Yuda kembali duduk


“Yuda, kamu ini.” Rizal mulai bersuara.


“Lo aku kenapa. Aku hanya ingin melindunginya.” Kata Yuda membela diri membenarkan kelakuan konyolnya.


Arum keluar dari kamar mandi.


Dia bertemu dengan Prima, pria yang berwajah dingin namun sangat tampan. Kalau postur tubuh jangan di tanya. Tipe idaman cewek-cewek. Arum berjalan melewati nya.


“Hai tunggu!” teriak Prima.


“Ada apa!” jawab Arum


“Kenapa kamu ada di sini.” Tanya Prima.


“Ternyata dia masih belum puas dengan jawaban ku.” Guman Arum dalam hati.


“Tadi aku udah jelaskan.” Jawab Arum.


“Aku masih belum puas.” Sela Yuda.


“Ya sudah terserah,” balas Arum.


“Kamu mau jadi bodyguard? Untuk melindungi diri sendiri aja gak bisa. Gimana kamu mau menyelamatkan diri orang.” Kata Yuda.

__ADS_1


“Kalau itu kamu gak usah pikirkan. Selama aku di sini. Aku tidak akan menyusakan kamu.” Jawab Arumi.


__ADS_2