
Wajah sepasang suami istri itu begitu sangat dikenalnya. Kedua orang itu adalah mantan baginya, yang satu mantan pacar dan yang satu lagi mantan sahabat. Kedua penghianat itu sekarang ada duduk di depan.
May diam sambil sedikit menganggukan kepalanya
"Nama saya Hendra,'"ucap pria itu memperkenalkan dirinya dengan sangat sopan.
May sedikit memiringkan bibirnya tanpa menjawab ucapan pria tersebut.
"Senyum,"ucap Pipit yang menyenggol tangan putrinya.
May hanya diam tanpa memandang mamanya tersebut. Darahnya mendidih saat memandang pasangan suami istri tersebut. Rasa marah, rasa benci yang sudah di kuburnya dalam-dalam kini kembali kembali saat wajah-wajah penghianat itu ada di depannya. Tatapan matanya yang dingin dan ekspresi wajah yang kaku tertuju nyata memandang pria dan wanita yang berstatus suami istri tersebut.
Hendra yang duduk disebelah adiknya yang bernama Deni memandang ke arah tatapan May sarah. Dia tahu bahwa tatapan May Sarah saat ini tidak tertuju kepadanya. Dipandangnya adik dan juga saudara iparnya. dengan kening sedikit berkerut.
"Apa kamu mengenali adik saya?" tanya Hendra.
May sedikit mengangkat bibirnya sebelah kanan. Senyum sinisnya begitu jelas terlihat.
"Kami teman satu sekolah," ucap Riri yang senyum canggung.
Hendra tersenyum saat mendengar ucapan iparnya. "Ternyata kamu teman satu sekolah dengan adik saya," ucapnya.
May hanya diam tanpa menjawab.
"May Kenapa?" tanya Pipit.
"May menjaga sikap," ucap Wati.
Tujuan kami datang ke sini untuk melamar May sarah menjadi istri Hendra. ucap pria yang sudah cukup berumur dan sepertinya pria itu dibawa untuk menjadi penghubung kata antara pihak laki-laki dan perempuan.
Abdul tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Terimakan, maaf bila menyambutan yang kami buat begitu sangat sederhana. Kami sudah mengetahui tujuan nak Hendra datang kesini berserta keluarga. May, Terima nak?" " ucapnya memandang putrinya.
May tersenyum sinis memandang Denj yang duduk di sebelah pria yang akan melamarnya tersebut. "Saya tidak terima," ucapnya.
Wajah Abdul memerah saat mendengar ucapan putrinya.
"May sudah janji sama mama bakalan terima," ucap pipit yang sedikit mencubit tangan putrinya. Wajahnya yang tersenyum berubah dengan tatapan penuh kecewa.
"May sudah janji sama ibu akan Menirana lamaran ini," ucap Wati yang sedikit menggoyangkan tubuhnya.
"May, Kita akan bicarakan dulu di belakang," ucap Amad ayah kandungnya.
"Tidak perlu ya, May sudah putuskan bahwa May tidak mau memiliki hubungan keluarga dengan penghianat itu," ucapnya memandang pasangan suami istri tersebut.
__ADS_1
"May masalah kamu dengan kami tidak ada hubungan dengan abang saya," ucap Deni.
"May apa yang sudah terjadi itu sudah sangat lama. kamu tidak mungkin kan masih mempermasalahkan itu," ucap Riri.
"Bukan hanya hitungan tahun atau puluhan tahun bahkan, bahkan seumur hidup aku, aku akan tetap mempermasalahkan itu," ucapnya dengan tatapan dinginnya.
Hendra yang memang tidak mengerti apa-apa hanya diam tanpa mampu untuk berbicara.
"Apapun masalah kamu dengan Deni dan juga Riri, Ibu rasa bisa dibicarakan baik-baik. Kesalahpahaman ini pasti bisa diselesaikan. Segala sesuatu pasti ada solusinya," ucap Lina ibu Hendra.
"Walaupun nanti saya tidak menikah seumur hidup saya, bagi saya tidak masalah dan saya tidak akan pernah menyesal menolak Anda," ucapnya memandang Hendra
Wajah pria itu memerah saat mendengar ucapannya. Rasa malu, kecewa dan juga marah bercampur menjadi satu. Sekian lama menunggu dan hasil yang didapat nya hari ini begitu sangat membuatnya malu dan kecewa.
Tanpa tahu apa permasalahan yang terjadi di antara mereka, namun kenyataannya dia yang menjadi korban.
"Kami akan bicara dulu dengan May," ucap Pipit.
May mengangkat tangannya dan menggelengkan kepalanya. "Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan," ucapnya. Gadis itu berubah menjadi gadis yang berwajah dingin dan hilang wajah cerianya seperti dulu, setelah penghianatan yang sahabat dekatnya dan juga mantan kekasihnya lakukan.
"May," suara Abdul yang keras memanggil putrinya.
May hanya diam tanpa menghiraukan siapapun yang ada di sana.
"Iya May aku minta maaf, walau bagaimanapun kita dulu pernah jadi sahabat," ucap Riri.
"Terlambat kalian minta maaf sekarang, dulu dimana otak kalian. Dulu bukankah kalian bahagia memperlakukan aku tanpa punya perasaan," ucapnya memandang kedua orang tersebut.
"May hentikan," ucap Abdul.
"May sudah kita akan membahas ini lagi nanti ya. Kamu harus tenang dulu," ucap pipit yang berusaha menenangkan putrinya.
"Harus berapa kali May katakan, tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. May tidak akan menikah dengan orang itu," ucapnya memandang Hendra.
Suasana yang awalnya tenang kini menjadi ribut. Hendra hanya diam sambil menundukkan kepalanya.
Abdul hanya diam sambil mengepalkan tangannya. Dia tidak pernah menyangka putrinya akan bersikap seperti ini.
"Tidak apa bila May menolak saya," ucapnya.
"Kami akan pergi,"ucap Lina dan juga suaminya.
"May aku minta tolong Jangan libatkan abang saya dengan masa lalu," ucap Deni yang masih memohon kepadanya.
__ADS_1
May hanya tersenyum sinis memandang pria tersebut.
Hendra memaksakan senyumnya ketik memandang May Sarah. "Maafkan saya, saya tidak tahu apa-apa tentang masalah kalian," ucapnya
May hanya diam tanpa menjawabnya.
"Tapi apakah boleh saya berbicara sebentar dengan kamu," ucap Hendra.
"Silakan jawab May.
"Mungkin akan menjadi pertanyaan bagi kamu mengapa selama 3 tahun aku bertahan ingin melamar kamu dan ini kesempatan pertama dan terakhir yang kamu berikan untuk aku dan kesempatan terakhir ini aku sudah kamu nyatakan tidak diterima. Aku yakin kamu tidak pernah menginat aku, namun aku tidak pernah melupakan kamu. 4 tahun yang lalu kamu menolong seorang pria yang akan dirampok. Pria yang pada waktu itu pemakai mobil berwarna hitam. Kamu dengan sangat hebat nya melawan perampok yang berjumlah 3 orang itu, tanpa memikirkan keselamatan kamu. Setelah peristiwa itu, pria bodoh yang kamu selamatkan itu selalu mengharapkan kamu mau menerimanya menjadi suami," ucapnya.
May Memandang nya dan baru mengingat peristiwa tersebut.
"Terimakasih sudah menerima kunjungan kamu. Kami permisi," ucap Hendra yang berdiri dari duduknya dan bergegas untuk keluar dari rumah.
***
"Apa yang May lakukan," ucap Abdul dengan suara yang bergetar.
"May hanya ingin melakukan apa yang May mau," ucap.
"Main kamu tidak memikirkan perasaan kami selaku orangtua," ucap Pipit yang menagis memandangnya.
"May minta maaf papa, mama, ayah, ibu," ucapnya yang baru merasa bersalah dengan orang tuanya. May melihat raut wajah kecewa ke empat orang itu.
Dua mobil berhenti di halaman rumahnya
saat Hendra dan rombongannya akan masuk ke dalam mobil mereka.
Hendra berhenti dan membatalkan niatnya untuk masuk ke dalam mobil ketika melihat rombongan yang datang tersebut.
"Pa ada rombongan yang datang untuk lamar kak May," ucap Dimas yang baru masuk ke dalam saat dia mengantar rombongan Hendra keluar.
May begitu sangat terkejut saat mendengar ucapan Dimas.
Kali ini jantungnya berdegup dengan sangat hebat nya. Dia tidak tahu siapa yang datang namun entah mengapa hatinya merasa sangat senang.
***
Jangan lupa like komen dan votenya ya reader. Terimakasih atas dukungan nya.
😊😊🙏🙏
__ADS_1