Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 335


__ADS_3

"Assalamu'alaikum," ucap Ara yang membuka pintu ruangannya.


Arum tersenyum memandang sahabnya. "Waalaikum salam," jawabnya.


"Penting amat sih," ucap Ara ketika ia sudah masuk ke ruang Arum dan duduk di kursi di depannya.


"Iya penting banget," ucap Arum yang sudah tidak sabar ingin bercerita dengan sahabnya.


Ara memandang Vira dan Rangga yang sudah tertidur di atas sofa. "Di bawa?" tanyanya.


"Iya tadi Arum rencana mau daftarin Rangga dan Vira ke sekolah tapi nggak jadi," ucapnya.


"Kenapa?" tanya Ara.


"Mas Habibi minta Arum ngecek," ucapnya.


Ara mengerutkan keningnya dan memandang sahabatnya. "Tapi udah dicek?"


Arum menganggukkan kepalanya. "Hasil cek yang kemarin salah ,"ucapnya sambil tersenyum. "Ara lihat ini," ucap Arum yang memamerkan foto hasil USG nya.


Mata Ara terbuka lebar saat melihat foto hasil USG yang di ambil nya dari tangan sahabnya. "Kembar?" ucapnya.


Arum tersenyum dan mengusap perutnya. "Iya kembar," jawabnya.


"Ya Allah,Selamat ya Arum?" ucap Ara yang kemudian memeluknya.


"Makasih Ara, Arum beneran gak nyangka kalau Arum akan hamil anak kembar," ucapnya yang begitu sangat senang.


"Ara beneran gak nyangka, kemarin Arum baru selesai nangis-nangis ngadu ke Ara bilang nggak jadi. Tapi sekarang lihatin hasil USG janin kembar," ucapnya.


"Kemarin itu kesalahan Mas Habibi," ucap Arum.


"Buang tespek nggak dilihat," ucap Ara yang membesarkan matanya.


"Ara kok tahu?" tanya Arum.


"Iya, apalagi alasannya kalau bukan karena buang tespek enggak dilihat dulu," ucap Ara.


Arum tertawa dan menceritakan bagaimana peristiwa buang tespek tanpa melihat terlebih dahulu itu terjadi.


Ara tertawa saat mendengar sahabatnya itu bercerita. "Mas Habibi pasti langsung buang itu alat tespek karena panik lihat harum udah nangis-nangis duluan," ucapnya.


Arum tertawa saat mengingat kebodohannya.


"Gimana Arum gak sedih coba kalau lihat hasilnya setiap hari dicoba selalu negatif ucapnya yang sudah memajukan bibirnya.


"Ara dari awal hamil sampai sekarang masih minta Mas Andro pakai parfum beraroma strawberry," ucapnya yang tertawa menutup mulutnya.


"Gimana ya Kalau seandainya Anam Ara cowok, tapi hamilnya strawberry," ucap Arum.


"Ara pengen cewek," ucapnya.


"Kalau cewek nanti Papi Androw nggak sayang Vira lagi," ucap Arum mengingat bagaimana Andro menyayangi putrinya bahkan begitu sangat selalu menuruti keinginan Vira.


"Ya beda sayang sama anak dan sayang sama calon menantu," ucap Ara yang membuat mereka tertawa saat mengingat bagaimana sikap anak-anaknya.


"Jadi gimana ceritanya Mas Habibi bisa maksa Arum untuk ngecek?" tanya Ara.

__ADS_1


"Arum baru mau ngecek Karena Mas Habibi janji mau beliin mobil, berlian, tas brand, terus makan di tempat yang Arum mau," ucapnya sambil tersenyum lebar.


Ara membuka matanya dengan sangat lebar dengan mulut yang terbuka. "Kemarin Ara Kenapa nggak pakai strategi seperti itu," ucapnya yang berharap suaminya juga akan memberikannya hadiah saat mengetahui kehamilannya.


Arum tertawa saat mendengar ucapan Ara.


"Jadi Arum batal ke Amerikanya?" tanya Ara.


"Padahal Arum sudah janji dengan Vira dan Rangga, mau bawa jalan-jalan ke Amerika. Ara tahu dari mana kalau arum mau ke Amerika?


Perasaan arum belum cerita,"


ucapnya.


"Tadi pagi Vino bilangin ke Ara kalau dia minta izin ke Amerika sama calon istri," ucap Ara.


Arum tertawa saat mendengar ucapan sahabatnya. "Vira juga minta izin mau ke Amerika bawa calon suami," ucapnya membesarkan matanya.


Ara menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat kelakuan anak-anak mereka. "Kebanyakan orang tua yang lain pada susah untuk menjodohkan anaknya dengan anak sahabatnya tapi sepertinya kita tidak perlu melakukan acara perjodohan seperti itu. Mereka sudah saling menyukai dengan sendirinya," ucap Ara.


Arum tersenyum saat mendengar ucapan sahabnya. "Ini semua karena Ara penyebabnya," ucapnya.


"Kenapa Ara?"


Waktu Arum hamil Vira, Ara selalu datang ke rumah dan bilang kalau anak Ara baru nendang -nendang gitu ketemu Arum," ucapnya.


Ara tertawa saat sahabnya mengingatkan nya.


"Iya, Vino bakal gerak kalau jumpa Arum. Waktu Vira sudah lahir, Ara sampai sering pinjam Vira bawa kerumah untuk mancing agar Vino mau gerak," ucapnya.


"Ke Amerika jalan-jalan bawa Vino?" ucap Arum.


"Gimana mau berangkat ke Amrik, ini baru jadi," ucapnya.


"Padahal Ara udah bayangin di Amerika kita bisa jalan-jalan sama-sama," ucap Ara.


"Arum beneran pengen ke so. Ara jadi ka Amrik nya?"


"Jadi udah hubungi mommy dan daddy di sana," ucapnya.


"Arum titip menantu ya," ucap Arum.


"Apa boleh?" tanya Ara.


"Iya, Arum titip Vira antarin ke apartemen Aisah," ucap Arum.


"Mas Habibi apa ngasih?" ucap Ara ragu.


"Mas Habibi pasti ngasih kalau perginya sama Ara mas Androw. Pulangnya Vira sama Aisah aja. Aisah juga udah mau pulang ke Indonesia. Ara tinggalkan aja Vira sama Aisah," ucap Arum.


"Oke deh, nanti ya Ara akan awasi calon menantu," ucapnya sambil tersenyum geli.


"Tapi kasihan Rangga," ucap Arum.


"Kalau Rangga mau ikut boleh biar Ara bawa sekalian. Nanti kalau Aisah enggak sanggup jagain 2 anak, Rangga biar sama Ara," ucapnya.


"Aisah pasti bisa jaga Rangga. Rangga anaknya mandiri," ucap Arum

__ADS_1


"Ya udah kalau gitu biar Ara bawa aja dua-duanya," ucap yang tersenyum lebar.


***


"Jadi May besok langsung pulang ke Jakarta?" ucap Abdul yang memandang putrinya saat mereka selesai makan malam bersama di restoran Mang Engking Solo.


"Iya pa," jawab May.


"Kami pulangnya rombongan," ucap Dino.


"Iya pak dino, saya lebih senang kalau May kembali ke Jakarta ikut rombongan pak Abdul.


Dari pada pulang sendiri ke Jakarta," ucapnya.


"Aunty, Daffa mau duduk-duduk di sana," ucap Daffa yang menunjuk tempat duduk santai di yang berada di taman belakang Restoran tersebut.


May sarah tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Ayo kita kesana," ucapnya yang memegang tangan Daffa.


"Ayo om ikut," ucap Dafa ketika melihat Imam yang tampak ragu untuk ikut dengan calon istrinya.


Imam tersenyum dan menggendong keponakannya tersebut. Mereka duduk di kursi santai yang ada di restoran. Iman mandang calon istrinya.


May sarah masih terlihat malu-malu saat melihat calon suaminya.


"Di sini enak ya," ucap Imam yang duduk di sebelah May. Mereka duduk di bawah pohon besar.


"Iya di sini restorannya dibuat dengan nuansa pedesaan. Jadi rasa seperti sedang di kampung-kampung," ucapnya yang memandang Dafa berlari kesana kemari sendiri.


"Mas besok pengen punya anak yang seperti Daffa," ucapnya.


May tersenyum saat mendengar ucapan calon suaminya.


"Kalau dapatnya seperti Vira gimana?" tanya May.


Imam tertawa saat mendengar ucapannya."Ya nggak apa-apa, seperti Vira cantik dan cerewet," jawabnya. Nanti kalau adek sudah di sini, mas pasti rindu," ucap Imam yang memandang wajah cantik calon istrinya.


"Apa nanti kita ketemunya saat akad nikah?" tanya May yang sudah tidak tahu bagaimana nantinya Ia bisa menahan rindu terhadap calon suaminya.


"Iya sayang," Jawab Imam.


May sarha diam saat mendengar jawaban Imam.


"Kalau sudah dekat dengan acara pernikahan gak boleh deket-deket," ucap Imam.


"Kenapa?" tanya May.


"Godaan setan semakin kuat," kucapnya.


"Kenapa bisa seperti itu?" tanya May.


"Kebanyakan Orang beranggapan bila sudah dekat waktu menikah mereka sudah semakin merasa saling memiliki dan sama-sama berhak satu sama lain," ucapnya.


May diam saat mendengar ucapan Imam. Apa yang dirasakannya calon suaminya itu memang benar. May merasa selalu ingin dekat dengan pria itu dan ingin merasakan sesuatu yang lebih daripada sekedar dekat. Terkadang ia malu dengan otak kotornya. Yang memiliki pikiran seperti itu.


****


Jangan like, komen dan votenya ya reader.

__ADS_1


Terimakasih atas dukungannya. 😊😊🙏🙏


__ADS_2