
Arumi, mulai memperhatikan di sekitarnya. Matanya baru bisa menangkap sekelompok orang yang sedang duduk di meja belakang. Meraka sangat mengamatinya dari kejauhan.
“Pak, maaf ya. Arum tinggal sebentar. Arum mau ke meja belakang.”
Habibi menolehkan kepalanya ke arah yang dituju Arumi. “Iya silahkan.”
“Permisi ya dok.”
“Iya.” Balas wahyudi dengan mengembangkan senyuman yang sangat mempesona.
Arumi berjalan ke meja yang berada di belakang. Di sana ia melihat pegawai di bagian kebersihan duduk berkumpul satu meja. Mereka juga berdiri saat melihat Arumi yang sedang jalan mendekati mereka. Terdengar suara keributan dari tempat duduk mereka di saat mereka berhamburan mengejar Arumi. Dengan mengembangkan tangannya Arumi langsung menyambut pelukan dari teman-temannya tersebut. Arum langsung diseret ke meja mereka.
“Rum, saat tadi lihat kamu. Aku sampai setengah tidak percaya.” Yuli mulai berkomentar. “Kamu hilang bagai di telan bumi dan muncul seperti hantu.”
Mendengar untaian kata yang di sampaikan Yuli membuat Arum tersenyum lebar. “Maaf Arum gak sempet ngasih kabar waktu Arum pergi.”
“Kamu gak tau bagaimana reaksi pak Habibi yang sangat menghawatirkan kamu.” Kata Riri.
“Riri, hus... Jangan bergosip. Nanti kita bisa di pecat.” Peringatan yang di keluarkan Sari langsung menyadarkan Riri. Pada akhirnya mereka lebih memilih untuk tertawa bersama dan bercanda melepaskan kerinduan.
Para pegawai yang lain, tampak menyambut kedatangan Arum dengan hormat. Walaupun ada yang sangat tidak menyukainya. Mereka beranggapan seorang cleaning servis bisa menjadi seorang asisten pribadi direktur utama karena sudah menjadi super women. Mereka merasa terabaikan. Mereka yang sudah bekerja sekian lama dan mengabdi di perusahaan tersebut, namun tidak mendapatkan jabatan yang membuat mereka puas.
Ketiga pria paruh baya tersebut yang memandang dari tempat duduk mereka berbicara dengan tenangnya. Kita harus melakukan pekerjaan kita lebih halus lagi. Jangan sampai ada timbul kecurangan. Roni berbicara dengan tatapan mata yang penuh kelicikan. Candra dan Arman tampak memberikan senyuman yang sangat memiliki makna dari sesuatu yang sedang terencana dalam pikiran mereka.
__ADS_1
******
setelah selesai acara peresmian Arum berjalan di selebah Habibi. Arumi mengikuti Habibi sampai ke parkiran.
“Kunci mobil pak.” Kata Arumi.
Habibi mengeluarkan kunci mobil dari dalam saku celana hitam yang dipakainya. Arumi mengambil kunci tersebut dari tangan Habibi. “Kamu mau apa?”
“Mau menyetir mobil.” Arumi membukakan pintu belakang penumpang dengan gaya seperti seorang supir. Habibi benar-benar tidak nyaman mendapatkan perlakukan Arumi. Ia ingin mengambil kunci yang di tangan Arumi.
“Arum, saya sendiri yang menyetir.” Protes Habibi.
“Maaf pak, menyetir mobil, mengantarkan bapak sampai tujuan dengan selamat. Itu tanggung jawab saya.”
“Maaf pak,. Saya masih dalam masa percobaan untuk menjadi asisten pribadi bapak. Apa bila saya gagal bekerja dengan baik dan semestinya. Maka saya akan diberhentikan.” Jawab Arumi beralasan.
Habibi menarik nafas dengan kasar dan menghempaskan. Apa lagi yang di lakukan mami geramnya dalam hati. Namun mendengarkan penjelasan Arumi barusan membuat Habibi harus menuruti semua yang akan di kerjakan Arumi. Dia tidak ingin kehilangan Arumi untuk yang kedua kalinya. “Tapi saya tidak mau duduk di belakang, Saya mau di bagian depan.”
Dengan cepatnya Arumi menutup pintu belakang dan langsung membuka pintu bagian depan di sebelah kemudi. Habibi hanya diam melihat Arumi.
Arumi menstater mobil.
“Apa kamu pandai mengemudi?” Habibi mencoba meyakinkan dirinya sebelum mobil melaju.
__ADS_1
Arum tersenyum, “bisa pak. Arum sudah punya SIM dan sertifikat mengemudi, Arum sudah bisa mengemudi dengan baik, di jalan sepi, padat, dan bahkan di saat berbahaya dan genting sekalipun.” Jelas Arumi.
Habibi mengerutkan keningnya mendengar kan penjelasan dari Arumi.
“Bapak gak perlu cemas.” Arumi mengendarai mobil dengan santainya. Tampak dari wajah nya, bahwa tidak ada kecemasan saat mengemudi.
Tak lama, mobil masuki halaman rumah Habibi. Arumi memarkirkan mobil tersebut kembali membukakan pintu untuk Habibi. Habibi benar-benar ingin protes. Namun dia berusaha untuk menuruti apa yang sedang di kerjakan Arumi. Habibi langsung di sambut oleh para pelayan dan scurity yang berjaga di rumah Habibi.
“Arum pamit dulu. Besok pagi-pagi arum akan kembali.” Kata Arumi permisi.
“Kamu pulang pakai apa?”
“Arum sudah pesan taksi pak. Sebentar lagi datang.” Tak lama taksi yang di tunggu pun datang.
“Arum pamit pak.”
Habibi menganggukkan kepalanya. “Arum, hati-hati ya. Terimakasih.”
“Sama-sama pak. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam”
*********
__ADS_1