Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
Episode 354


__ADS_3

"Sayang aku sudah tidak sabar menunggu pemeriksaan kamu besok,” ucapkan Androw yang mengusap perut istrinya.


"Ara juga Mas udah nggak sabaran,” ucap Ara yang tersenyum memandang wajah suaminya.


“Besok usia kehamilan kamu sudah 6 bulan, itu artinya saat USG nanti sudah terlihat jenis kelaminnya."Pria itu sudah tidak sabar ingin mengetahui jenis kelamin anaknya.


Ara tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Sebenarnya Ara bisa aja Mas USG sendiri di rumah sakit, Ara bebas mau USG kapan aja, tapi Ara pengen nunggu mas.” Naura tersenyum menatap wajah suaminya.


“Sayang aku pakai parfum aroma strawberry ini, apakah sampai dia lahir?” Androw mengusap perut istrinya.


Ara tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Ara senang mas wangi parfum strawbery, jadi jangan diganti,” pintanya.


Pria itu mencium bibir istrinya berulang-ulang kali. “Demi kamu dan bayi kita, aku akan memakainya sayang," ucap Androw yang mencium bibir istrinya.


“Sabar ya sayang, besok papi akan melihat kamu," ucapnya yang sudah tidak sabar menunggu pemeriksaan istrinya.


Ara mendengar suara ketukan pintu dari luar. Ara tersenyum saat mendengar suara putranya memanggil dari luar. “Mas, Vino, Mas yang bukain pintu ya, Ara males berdiri,” ucapnya yang tersenyum.


Androw menggaruk kepalanya. Pria itu beranjak dari duduknya dan pergi membukakan pintu kamarnya. "Ada apa,” ucapnya memandang putranya berdiri di depan pintu.


“Papi aku pengen tidur di sini,” pinta Vino yang memeluk bantal gulingnya.


"Kamu sudah besar tidak boleh lagi tidur dengan Papi dan juga Mami." Androw melarang putranya.


“Vira dan Rangga sering tidur bersama dengan Pipi dan Mimi Arum, kenapa aku tidak pernah boleh lagi tidur sama mami. Padahal aku ingin tidur dengan mami,” ucapnya.


“Kamu itu sudah besar. Laki-laki harus kuat dan memiliki tulang besi,” ucapan Androw.


“Papi jauh lebih besar daripada aku, tapi Papi dengan bebasnya tidur sama mami setiap hari. Sedangkan aku, usia ku masih 6 tahun, aku belum besar, lihatlah tinggi Ku,” protes Vino.


Ara tersenyum ketika melihat perdebatan antara suami dan juga putranya. Ara tahu bahwa putranya saat ini terlihat begitu sangat ingin dekat dengannya, mungkin karena faktor akan memiliki Adik sebentar lagi.


"Mas enggak apa-apa Vino tidur di sini,” ucapnya.


“Dia akan mengganggu ku bila tidur di sini,” tolak Androw.


Vino yang berdiri didepannya terlihat begitu sangat kesal saat mendengar ucapan Papinya. “Mengalahlah sedikit dengan anak Papi,” celetuk Vino.


Androw diam memandang putranya.


“Papi harus ingat, Mami itu bukan hanya milik papi, Mami juga milik ku." Vino menerobos masuk ke dalam kamar.


Ara tersenyum memandang putranya yang manjat naik atas tempat tidur. "Sayang Mami udah mau jadi Abang. Sekarang sudah kelas 1 SD, tapi kenapa masih mau tidur sama mami?” tanya Naura yang memeluk putranya.


“Aku ingin memeluk mami dan juga memeluk calon adik bayi Ku,” ucap Vino yang melingkarkan tangannya di pinggang Maminya.


Ara tersenyum dan mencium pipi putranya. Disaat nanti anak keduanya telah lahir, maka perhatian dan kasih sayangnya akan terbagi. "Nanti bila Adik sudah lahir, Vino harus sayang adek, nggak boleh nggak,” ucapnya yang mencubit kecil hidung putranya.


“Tentu saja aku akan sayang dengan adik ku, aku akan sayang Mami. Aku adalah anak yang tertua, aku bertanggung jawab menjaga Mami, menjaga Papi dan juga menjaga Adik bayi ku nanti,” ucapnya. "Aku juga pasti akan menjaga Vira, Mami,” ucapnya yang berbisik ditelinga Maminya.


Naura tertawa saat mendengar ucapan putranya. “Masih kecil tidak boleh berpikir seperti itu,” ucapnya.


“Segala sesuatu itu harus direncanakan saat aku masih kecil Mami,” ucap Vino.


Ara hanya tersenyum saat mendengar ucapan putranya. “Kenapa Vino sama seperti papi begitu sangat pintar menggoda wanita,” ucap Ara yang tersenyum memandang ke arah belakangnya.


“Aku hanya warisi sifat Papi yang romantis tapi bukan Playboy,” ejek Vino.


Naura tertawa mendengar ucapan putranya. "Ini karena Adik Mas yang ngasih tahu sama Vino kalau Mas itu dulu mantan Playboy,” jelas Naura.


Androw hanya tersenyum mendengar ucapan istrinya. “Tapi percayalah Sayang saat ini hanya kamu yang ada di hatiku,” ucapnya.


***



“Aku sudah tidak sabar melihat jenis kelamin anak kita," ucap Androw Ketika istrinya berbaring di atas tempat tidur pasien.


"Kita akan langsung lihat,” ucap Dina.


“Tentu saja,” jawab Andrew yang mencium kening istrinya.


Dokter dina menggerak-gerakan alat di tangannya di atas perut pasiennya, “sudah ketemu,” ucapnya.


Naura diam dengan membuka mulutnya ketika melihat foto bayinya yang ada di layar komputer.


"Perempuan sayang?” Androw begitu sangat senang.


"Seperti ini dia punya lonceng,” ucap dokter Dina yang sedikit tersenyum.


“Apa maksudnya,” tanya Androw.


Dokter Dina mengarahkan panah kecil yang ada di layar monitornya. “Ini laki-laki,” ucapnya menunjukkan panah kecil tersebut di depan foto jenis kelamin bayi pasiennya.


Androw menelan air ludahnya dan menatap istrinya. “Sayang, bila dia laki-laki mengapa aku harus memakai parfum strawberry,” ucapnya memandang wajah istrinya.


Ara menggelengkan kepalanya. “Ara nggak tahu Mas, yang pasti Ara suka wangi strawberry,” ucapnya.


“Sayang apa ini artinya kalian sudah mengerjai ku,” ucapan Androw.


Ara menggelengkan kepalanya, “nggak Mas, Ara juga nggak tahu kalau dianya laki-laki,” ucapnya.


Androw tersenyum dan mencium kening istrinya, “tidak masalah sayang perempuan atau laki-laki bagiku sama saja. Yang penting kamu dan anak kita sehat," ucapnya yang merasa sedikit kecewa ketika mengetahui bahwa bayinya tidak sesuai yang diharapkannya.

__ADS_1


Ara tersenyum dan menganggukkan kepalanya."terima kasih mas," ucapnya yang mencium punggung tangan suaminya.


“Anak itu rezeki sayang, mau perempuan atau laki-laki yang diberi Kita harus mensyukurinya dan menerimanya,” ucapnya.


Ara tersenyum memandang wajah suaminya. “Terima kasih Mas, Ara takut Mas bakalan kecewa kalau tahu laki-laki,” ucapnya.


“Tidak sayang, aku tidak pernah kecewa, bahkan bila kamu memberikan aku 10 orang anak laki-laki pun aku tidak akan pernah menolaknya,” ucapnya


***


Arum duduk dikursinya sambil menahan ketawanya. Sedangkan sahabatnya hanya diam aja sambil memajukan bibirnya kedepan.


“Jadi ceritanya Mas Androw sudah dijahili sama anaknya,” ucapnya.


Ara menganggukkan kepalanya. “Ara sudah yakin kalau dia perempuan, soalnya Ara sangat suka wangi strawberry dan juga aroma strawberry, belum lagi Ara suka boneka-boneka baju warna pink,” jelas Naura.


Arumi tersenyum saat memandang wajah sahabatnya tersebut. “Tambah lagi,” ucapnya.


“Ara mikir dulu kalau untuk tambah.”


“Yang ketiga program,” ucap Arum yang menahan ketawanya.


“Ara udah yakin kalau cewek, karena bawaan hamilnya cewek banget, tahu-tahunya cuman ngerjain Papinya,” ucap Ara.


“Arum bisa bayangin gimana terkejutnya Mas Androw. Mana wajib pakai parfum strawberry lagi,” ucap Arum.


Ara menganggukkan kepalanya.


“Tadi Ara kira Mas Andrew bakalan marah dan kecewa gitu tahu kalau anaknya laki-laki. Tapi ternyata dia gak marah," ucap Ara yang tersenyum.


“Arum kemaren USG masih belum ketahuan karena bayinya sama-sama nutupin. Arum juga masih deg-degan pengen tahu jenis kelaminnya. Tapi Arum nggak mau kalau lihat sendiri maunya lihatnya sama Mas Habibi, jadi kita bakalan terkejutnya sama-sama,” ucapnya.


Ara tersenyum memandang sahabatnya. “Gak kebayang kalau kembar cewek," ucapnya sambil tertawa.


“Mas Habibi bilang enggak apa-apa cewek atau cowok, yang penting sehat si kembarnya,” ucapnya sambil mengusap perutnya.


***


Arumi duduk di atas tempat tidur sambil menyandarkan punggungnya di kepala tempat tidur. Beberapa bantal ditumpuknya guna menyangga punggungnya. Posisi duduk seperti ini membuatnya merasa lebih nyaman.


Arum tersenyum memandang Rangga dan Vira yang sedang duduk dilantai sambil belajar.


"Aku suka baca buku," ucap Vira yang mengajarkan Rangga membaca.


"Aku suka baca buku," ucap Rangga yang mengikuti ucapan Vira. Anak laki-laki itu menunjuk huruf yang sedang dibacanya.


"Ini apa ?"ucap Vira yang menunjukkan huruf ba.


"Baju," jawab Rangga.


"Ini," ucap Vira.


"Aku suka main bola," ucap Rangga.


"Rangga pintar," ucap Vira.


Arum tersenyum melihat tingkah lucu kedua anaknya. “Nanti kalau adik kembar sudah lahir kalian nggak bisa lagi belajar di sini,” ucapnya yang memandang ke arah Vira dan juga Rangga.


“Kenapa gitu Mi,” tanya Vira.


“Kalau adik kembar belum bisa merangkak kalian masih bisa belajar dilantai, tapi kalau sudah merangkak udah nggak bisa lagi belajar duduk di lantai. Adek kembar pasti memegang semuanya. Diambil terus di koyak atau enggak diremas dan digigit,” ucap Arum yang tersenyum sambil membayangkan tingkah lucu bayi mungilnya nanti.


Vira tersenyum memandang miminya.


“Kalau nanti adik kembarnya sudah pintar gangguin kami belajar, kami akan pindah belajar di kamar Vira,” jawabnya.


Arum tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "PR Kak Vira mana,” tanyanya.


“Vira sudah selesaikan Mi,” ucap Vira.


“Boleh Mimi periksa,” tanya Arumi.


“Boleh mi. Tunggu Vira ambil," ucap Vira yang mencari buku PRnya di dalam tas. Vira mengeluarkan buku PR matematikanya. "Ini mi,” ucapnya yang berdiri di dekat Arum.


Arum tersenyum dan mengambil buku yang diberikan oleh putrinya.


“Pelajaran ini sudah Vira kuasai, jadi buat PRnya juga nggak susah,” ucapnya yang menunjukkan PR matematikanya.


Arum tersenyum mendegar ucapan putrinya. Putrinya selalu mengerjakan PRnya sendiri. Arum tidak pernah tahu kapan putrinya mengerjakan PR. Arum mengecek PR yang dikerjakan oleh putrinya. "Ini PRnya sudah benar semua tapi ingat kalau di sekolah nggak boleh merasa sok pintar,” ucap Arum.


“Vira nggak perlu merasa sok pintar mi, semua orang tahu Vira ini pintar,” ucapnya dengan melipatkan tangannya di dada dan tersenyum memandang miminya.


“Ya iyalah pintar overdosis vitamin otak dari oma,” ucapnya yang menarik hidung putrinya.


“Mi, Vira mau ngajarin Rangga baca lagi,” ucapnya yang begitu sangat rajin mengajarkan Rangga membaca setiap hari.


Arum duduk di atas tempat tidur sambil mengamati anak-anaknya yang sedang belajar.


“Belum siap belajarnya,” ucap Habibi yang masuk ke dalam kamar dengan membawa satu piring mangga yang sudah dipotong-potong.


“Belum Mas, itu Kak Vira masih ngajarin Rangga,” ucap Arum yang mengambil piring mangga yang dipegang suaminya.


Arum meletakkan piring itu di atas tempat tidur dan kemudian memasukkan potongan buah mangga itu ke dalam mulutnya.

__ADS_1


Habibi duduk di dekat putrinya yang saat ini sudah bergaya layaknya seorang guru. Habibi tersenyum ketika memandang Vira yang mengajari Rangga dengan sangat sabarnya. "Bila sudah selesai belajar masuk kamar masing-masing, tidur, karena Mimi mau istirahat,” ucapnya.


“Iya tapi dikit lagi Rangga sudah mulai pandai baca Pi. Ini mau dinaikin lagi di lima huruf,” ucap Vira yang mengangkat lima jarinya.


Habibi tersenyum dan mengusap kepala putrinya. “Jelas aja Rangganya pintar, punya kakak yang pintar, jadi kakaknya bisa ngajarin adiknya,” ucapnya.


Bila dalam kondisi seperti ini Rangga hanya bisa diam ketika ia dikatakan adik karena memang sekolahnya di bawah dari Vira.


"Sudah Pi, kami sudah selesai belajar," ucap Vira yang menyimpan buku-bukunya ke dalam tas. Begitu juga Rangga yang menyimpan alat-alat tulisnya ke dalam tas.


“Langsung masuk kamar dan tidur. Ini sudah jam 9," ucap Habibi yang mencium pipi Vira kanan dan kiri. Mencium pipi Rangga kanan dan kiri.


“Iya Pi, kami langsung tidur,” ucap Vira yang mencium pipi Habibi dan miminya.


“Selamat tidur Mimi, pipi" ucap Rangga yang mencium pipi Arum dan Habibi.


“Iya sayang," ucap Arum yang tersenyum saat kedua anaknya keluar dari dalam kamar.


"Sekarang Vira sudah gak pernah minta di tiduri seperti biasa. Vira makin kelihatan besarnya ya mas. Apa karena sudah mau jadi kakak ya," ucapnya.


Habibi tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Pria itu mengunci pintu kamarnya.


"Mas gak nyangka kalau Vira bisa besar juga," ucapnya yang naik ke atas tempat tidur dan duduk di sebelah Istrinya.


“Iya mas," jawab Arum yang memasukkan mangga kedalam mulutnya.


Habibi mengusap perut Istrinya yang sudah terlihat sangat besar.


“Padahal baru 5 bulan mas. Tapi udah seperti hamil 7 bulan,” ucap Arum.


“Iya, yang di dalam ada dua. Makanya besar," ucapnya.


"Mas, si kembar langsung gerak ini. Sepertinya dia tahu kalau lagi di omongin," ucap Arum yang tersenyum.


“Di mana,” ucapnya yang menanyakan posisi gerak bayinya.


“Kanan kiri Mas,” ucapnya yang memegang perutnya sebelah kanan dan juga sebelah kiri.


Habibi memegang perut istrinya. “Terasa geraknya," ucap Habibi.


Arumi tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


“Udah nggak gerak lagi ya,” ucap Habibi.


“Geraknya belum terlalu sering Mas, cuma udah terasa,” ucapnya.


“Ini mangganya mau dihabisin,” tanya Habibi memandang istrinya yang masih sangat menikmati rasa manis buah mangganya.


“Iya Mas karung, lagi kepengen banget makan manga,” ucapnya yang tiada hentinya memasukkan mangga ke dalam mulutnya.


“Mas tolong letakkan piringnya ke meja ya,” ucap Arumi setelah menghabiskan mangga yang 1 piring tersebut.


“Iya,” jawab Habibi yang mengambil piring yang ada di atas tempat tidur dan meletakkannya di atas meja kaca yang ada di kamarnya. Habibi kemudian berbaring di samping istrinya.


“Mas pegel banget Mas,” rengek Arum yang sedikit memijat-mijat bagian belakang pinggangnya.


“Mas pijitin,” ucapnya sambil memijat-mijat bagian pinggang istrinya.


“Mas hamil kali ini rasanya Arum lebih malas Mas daripada yang waktu Vira,” ucapnya.


“Apa karena keberatan,” tanya Habibi.


“Iya, udah terasa berat kalau lagi dibawa jalan,” ucap Arum.


Habibi tersenyum dan mencium kening istrinya. Ia mengusap perut istrinya dan menciumnya. “Si kembar sehat-sehat ya, kita masih nunggu 4 bulan lagi untuk ketemu,” ucapnya.


Arum tersenyum memandang suaminya, suaminya begitu sangat senang berbicara dengan bayi yang ada di dalam perutnya.


“Mas, pijitin lagi masih pegal,” pintanya.


“Iya,” jawab Habibi yang begitu sangat menuruti keinginan istrinya.


Arum membalikkan tubuhnya dan memandang suaminya. “Mas tadi Ara USG,” ucapnya.


“Cewek,” ucap Habibi.


Arum tertawa dan menutup mulutnya, “cowok mas,” ucapnya.


“Masa’,” ucap Habibi yang seakan tidak percaya.


“Iya Mas cowok, Arum benar-benar enggak tahan ngetawain Ara. Arum bisa bayangin gimana reaksinya Mas Androw gitu tahu anaknya cowok.”


“Jadi Mas Androw disuruh pakai parfum aroma strawberry sama anak cowok,” ucapnya.


“Iya Mas,” jawab Arum.


“Ini si kembar perempuan atau laki-laki ya,” ucapnya yang mengusap perut istrinya.


“Pengennya sepasang Mas, cowok dan cewek, jadi kita punya anak dua pasang, 2 cewek dan 2 cowok,” ucapnya.


“Iya pengennya gitu, tapi apa yang dikasi wajib diterima nggak boleh nolak, nggak boleh juga ngeluh,” ucapnya.


“Bisa dapat bonus aja udah seneng Mas, nggak perlu memilih,” ucap Arum.

__ADS_1


***


__ADS_2