
" Mas Arum ke ruang pasien sebentar ya," Ucapnya kepada suaminya yang sedang asyik mengobrol.
" Mau mas temanin?" tanya nya
" Gak usah, Arum sama Dokter Dina aja," jawab nya.
" Hati-hati ya sayang."
" iya Mas, Vira Arum tinggal ya," Ucapnya yang melihat putrinya begitu sangat nyaman di pelukan suami sahatnya.
" dia akan aman bila bersama ku ucap Android sambil mencium pipi bayi tersebut.
tersenyum dan kemudian ia pergi meninggalkan kamar peralatan sahabatnya.
Ia kemudian berjalan bersama dengan Dokter Dina.
" Pasien itu masuk ke sini malam, buk dan waktu itu jadwal dokter Riski," ucap Dina saat Ia berjalan bersama dengan Arum di lorong rumah sakitnya menuju ke kamar pasien tersebut
" Kondisi nya gimana?" tanya Arum.
" Kondisi nya sudah baik, sewaktu pasien itu datang ke sini yang membawanya Bidan yang ada dekat rumahnya. Pasien bertahan di rumah Bidan selama 5 hari. Ia sudah bukaan 7 dan tidak ada penambahan bukaan. Bidan Tersebut sudah berusaha untuk memberikan induksi agar mempermudah pembukaan, namun tetap saja tidak ada hasil. Pasien juga sudah sempat di infus karena kondisinya yang sudah tidak sanggup makan karena kontraksi. namun pasien tetap mencoba untuk melahirkan secara normal
di rumah bidan. Melihat kondisinya semakin melemah, janinnya juga bergerak semakin lambat dan air ketuban sudah mulai mengering. Akhirnya Bidan tersebut memutuskan untuk merujuk pasien itu ke rumah sakit kita," ucap Dokter Dina.
" Bagaimana keluarga pasien," tanya Arum.
" Pasien itu datang ke sini hanya diantar oleh Bidan dan tidak ada keluarganya sampai sekarang yang datang berkunjung," ucap Dokter Dina yang sudah mulai mengetahui informasi dari para perawat.
" Sewaktu akan cesar ,siapa yang memberi persetujuan untuk tanda tangan?" tanya Arum.
" Pasien itu sendiri yang menandatangani surat pernyataan Cesarnya," ucap Dokter Dina.
" Kasihan sekali," ucap Arum.
" Dokter Rizki mengatakan kepada saya, Ia tidak masalah bila tidak dibayar untuk biaya Jasa operasi pasien tersebut.
Ia sampai di kamar perawatan pasien tersebut. pasien itu ada di ruangan kelas 3. yang mana satu ruang terdiri dari 6 bangsal.
" Pasiennya yang itu yang duduk sendiri di atas tempat tidur," ucap Dokter Dina yang menunjukkan wanita muda yang duduk sendirian di atas tempat tidurnya.
Mata Arum memandang ke arah yang ditunjukkan oleh Dokternya Dina. " Terima kasih Dokter Dina sudah mau ngantarin Arum, Arum akan berbicara langsung kepada pasien itu," ucapnya.
Dokter Dina menganggukkan kepalanya. " Baik bu Arum," ucap Dokter Dina yang kemudian permisi dan meninggalkan Arum di depan kamar kelas 3 tersebut.
Arum memandang sosok yang duduk di atas tempat tidur itu. Kamar yang terdiri dari 6 bangsa saat itu penuh oleh pasien. kamar Itu juga cukup ramai dikunjungi oleh keluarga pasien. wanita muda itu hanya sendiri duduk di atas tempat tidurnya.
Arum memperhatikan wanita itu dari luar rambut panjangnya menutupi wajahnya . Ia duduk bersandar di kepala tempat tidur.
Arum masuk ke dalam ruangan itu dia berjalan menuju ke tempat tidur wanita tersebut. Arum sangat terkejut saat melihat orang yang ada di atas tempat tidur itu matanya terbuka sempurna. saat Ia melihat orang yang sangat dikenalnya.
wanita muda itu memandang ke arah Arum dia juga begitu sangat terkejut melihat Arum
__ADS_1
sudah berdiri di samping tempat tidurnya.
Ia tidak tahu kapan Arum masuk ke dalam kamar tempat Ia dirawat.
" Arum ," ucap Eka yang terlihat begitu terkejut.
"Kak Eka," ucap Arum yang sama terkejutnya dengan dirinya. namun kemudian Arum mencoba untuk tersenyum kepada temannya yang dulu pernah tinggal di sebelah kamar kos-kosan nya dulu.
Dengan cepat Eka mengusap air matanya. Arum melihat matanya yang begitu sembab.
" Kakak apa kabar," tanya Arum seakan Ia tidak mengetahui apa yang sedang terjadi.
Eka Diam air matanya meluncur dari wajahnya yang cantik yang terlihat lebih berisi.
" Arum ke sini ngapain," tanya yang berusaha untuk menutupi rasa sedihnya.
" Arum sedang lihat teman Kak," ucapnya. Ia melihat wajah Eka yang masih pucat.
Eka berusaha untuk tersenyum.
" Kakak apa kabar?" tanya Arum yang sudah tidak tahan menahan air matanya. namun Ia berusaha agar air matanya tidak jatuh.
Eka hanya mengusap air matanya.
"Kakak sudah melahirkan," ucapnya tanpa menutupi sedikitpun dari Arum. saat ini Ia memang tidak bisa menutupi apa-apa karena Arum mengetahui dan melihat sendiri kondisinya di rumah sakit tersebut
" Selamat ya kakak, anak kakak apa?" tanya Arum.
" Selamat ya Kak," ucap Arum kembali.
" Terima kasih ya Arum," ucap Eka.
Arum menganggukkan kepalanya. " suami kakak mana?" tanyanya kemudian.
Eka menggelengkan kepalanya. "kakak gak punya suami," ucapnya dengan suara yang begitu lemah namun bisa didengar oleh Arum. Ia duduk di samping tempat tidur tersebut .
Eka menangis, Ia menangis dengan tangis yang yang begitu memilukan. tangisnya terdengar cukup keras. Ia seakan tidak menghiraukan lagi orang yang saat ini memandang ke arah nya.
"Kakak gak punya suami," tanya Arum untuk memastikan apa yang didengarnya.
Eka menganggukkan kepalanya, Ia menutup wajahnya dengan telapak tangannya.
Arum memandangnya air matanya ikut menetes. Ia tidak menduga wanita yang di sebut oleh dokter Dina ternyata teman nya sendiri. Ia kemudian memeluk Eka.
" Bagaimana ceritanya kak?" tanya nya.
" Kakak bekerja di toko baju yang biasa tempat yang Arum ketahui, dan kemudian kakak berkenalan dengan laki-laki yang tampak mapan. Ia juga sangat baik, Pria itu selalu menghubungi Kakak. Dia juga sering ngajak Kakak jalan. ita terlihat begitu baik dan juga jujur, tidak ada yang ditutupin nya dari kakak. Ia memberikan alamat rumah, alamat kantor. Ia memberi tahu tentang pekerjaannya dan jabatan nya di perusahaan tersebut.
Kakak sangat percaya dengan orang itu. kakak menjalin hubungan dengannya sekitar 6 bulan dan kemudian Ia merayu dan membujuk kakak untuk melakukan hubungan intim, awalnya kakak menolak. namun Ia selalu merayu kakak. Sampai pada akhirnya Kakak pun mulai berhubungan intim dengannya. Dia janji bakalan nikahi Kakak, Dia janji bakal bawa kakak ke rumah orang tuanya. Kakak percaya sehingga Kakak lakukan hal tersebut. Namun Ternyata semuanya bohong.
setiap kali Kakak menanyakan masalah pernikahan kapan dia akan melamar, kapan dia akan membawa Kakak ke rumah orang tuanya dia selalu mengelak dan memberikan berbagai macam alasan dan juga janji.
__ADS_1
ternyata setelah 2 bulan kakak rutin melakukan hubungan tersebut, di sebuah rumah yang katanya itu salah satu rumah miknya. Kakak Kemudian hamil, pada saat ku Kakak memberitahunya namun Ia langsung tidak percaya dan menuduh Kakak melakukan hubungan tersebut dengan pria lain dan dia mengatakan yang kakak kandung itu bukanlah anaknya.
Kakak berusaha untuk meyakinkannya, kakak mencoba menghubungi nomor teleponnya Namun ternyata nomor kakak diblokirnya.
kakak mencoba hubungi pakai nomor lain yang sengaja kakak beli. Ia mengangkat sambungan telepon yang kakak lakukan. begitu Ia tau yang menghubunginya adalah kakak, dia begitu marah dan memaki-maki kakak habis-habisan dan kemudian Ia langsung matikan telepon tersebut.
Kakak mencoba menghubunginya lagi ternyata teleponnya sudah tidak diaktifkan.
Alamat rumah yang diberikan nya Kakak coba untuk datangi, ternyata alamat itu palsu.
coba datang ke kantor tempat iya bekerja dan ternyata dia tidak ada terdata sebagai karyawan di sana.- Kakak juga sempat melihat kan fotonya kepada pegawai yang ada di kantor tersebut Namun mereka tidak mengenalinya dan mereka mengatakan tidak ada orang itu bekerja di perusahaan tersebut.
kakak akhirnya memutuskan untuk tetap mempertahankan kandungan kakak.
Kakak pulang ke kampung untuk rencana mungkin Kakak akan tinggal bersama orang tua kakak. Namun ternyata saat kakak mengatakan tentang kehamilan Kakak kepada orang tua Kakak, orang tua Kakak begitu marah mereka memukul Kakak dan mengusir Kakak dari rumah. Mereka begitu marah, benci dan juga kecewa sama kakak. Mereka juga mengatakan mereka tidak ingin mengakui Kakak sebagai anaknya," ucap Eka yang menangis hingga tersedu-sedu.
Arum hanya diam memandanginya. Ia tidak mampu berkata apa-apa saat mendengar ucapan dari temannya itu.
"sebenarnya kakak sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit ini, hanya saja Kakak nggak punya uang untuk bayar persalinan Kakak di sini. kakak kemarin operasi Cesar dan biayanya sangat mahal, jadi kakak nggak punya uang. kakak akan keluar lebih dulu dari rumah sakit ini. hanya saja anak Kakak terpaksa harus Kakak tinggalkan, kakak tidak bisa pulang membawanya," Eka berusaha menahan tangisnya. "Kakak akan cari uang di luar supaya Kakak bisa balik ke sini untuk mengambil anak kakak. sekarang hanya anak kakak yang kakak punya Kakak gak punya siapa-siapa lagi Rum," Ucapnya sambil terus menangis.
Arum mengusap air matanya, Ia juga tidak mampu mendengar cerita dari temannya itu.
kemudian eka tersenyum memandangnya.
" Tapi Kakak sekarang udah punya jalan untuk masalah ini rum," Ucapnya.
" Halan apa?" tanya Arum.
" Kakak dengar perawat di sini menceritakan salah seorang pasien yang ada di rumah sakit ini mencari ginjal untuk Putri mereka.
Mereka akan membayar 100 juta bila ada yang mau mendonorkan ginjal untuk putrinya. setelah Kak Keluar dari sini mungkin nanti kakak akan kembali lagi untuk melakukan pengecekan ginjal. kalau misalnya ginjal kakak cocok maka kakak akan menjual ginjal Kakak," ucapnya sambil tersenyum.
Arum merasa jantungnya serasa diremas Ia merasa begitu sakit mendengar ucapan dari teman nya itu.
" kakak gak perlu lakuin itu," ucap Arum.
Eva tersenyum memandangnya dengan mata yang sudah tidak terlihat lagi karena terlalu sembab. Kakak nggak bakalan mati rum, Kalau cuman jual satu ginjal. Kakak masih bisa hidup dengan satu ginjal lagi. Uangnya bakal Kakak bayar untuk biaya rumah sakit. kemudian Kakak akan berusaha mencari rumah yang murah dan membuat warung kecil-kecilan depan rumah," ucapnya dengan senyum." Dengan seperti itu kakak nggak perlu kehilangan anak kakak. kakak juga bakalan bisa menjalani hidup bersama dengan anak kakak, susah senang kami akan menjalaninya bersama. seberat apapun nanti ujiannya kami akan hadapi berdua," ucapnya sambil menangis.
"Arum menggelengkan kepalanya.
Kakak gak perlu lakuin itu kakak. apa lagi kakak baru selesai," Cesar.
" Gak apa rum. kakak sudah memikirkan hal ini. lagi pula nanti kakak bakalan sembuh nya sekaligus. sembuh dari operasi Caesar dan juga sembuh dari operasi ginjal. Arum doain kakak ya, agar ginjal kakak cocok untuk anak orang itu," Ucapnya yang berusaha untuk tersenyum.
" Kakak, Kakak bakal keluar dari rumah sakit ini membawa putra kakak," ucap Arum.
*****
jangan lupa like komen dan votenya ya reader.
terimakasih atas dukungan nya.
__ADS_1
😊😊🙏🙏