
Eka keluar dari dalam ruangannya, Ia kemudian duduk di dekat Adam. " Mas di sini rame, mau gak kalau kita ngobrol di atas," ucapnya menawarkan.
" Di atas ada kamar?" tanya Adam.
" Di atas tempat meletak bahan-bahan tekstil dan bahan-bahan untuk butik. Namun di sana nyaman kok," ucapnya menjelaskan. Ia berharap pria itu mau mendengarkan ucapan nya.
Adam tersenyum memandang Eka. " Boleh," jawabnya yang ingin memegang tangan Eka.
Pikiran kotornya sudah mulai bekerja.
Eka menepis tangan pria itu. " Aku sudah bilang jangan pegang ucapnya.
" Dulu kita melakukan lebih dari ini sayang," ucap Adam yang tersenyum mesum.
Eka begitu sangat jijik saat melihat senyum pria itu. " Dulu yang aku lakukan itu karena kebodohan dan kesalahan. Aku sekarang tidak ingin mengulanginya lagi," ucap Eka.
" Apakah kamu baru mau aku sentuh, bila kamu sudah menjadi istriku?" tanyanya sambil tersenyum.
Eka diam tanpa menjawab ucapan pria itu. Ingin rasanya Ia mencakar-cakar muka pria itu habis-habisan.
Eka memanggil seorang security nya.
" Bentar ya mas," ucap nya. Ia kemudian berjalan sedikit jauh dari pria tersebut
" Mas tolong antarkna orang ini keatas, Jangan sampai orang ini kabur," ucapnya yang berbisik memberi perintah ke security nya.
" Baik buk," ucap security tersebut.
Eka berjalan mendekati Adam. " Mas, mas Toni akan mengantarkan mas ke atas," Ucapnya.
" Kenapa kamu gak ikut sekalian," ucap Adam.
" Maaf Mas ini ada sedikit orderan. Eka mau bahas sebentar sama manager," ucapnya.
Adam mengangukan kepalanya. " Jangan lama-lama ya," ucap yang tersenyum.
Eka menganggukkan kepalanya. " Iya Mas nanti Eka bakalan minta karyawan untuk nganterin makanan dan minuman ke atas," ucapannya.
__ADS_1
Adam menganggukkan kepalanya." Aku sangat merindukanmu," ucapnya berbisik ditelinga Eka.
Eka hanya tersenyum saat mendengar ucapan pria itu.
Ia memandang Adam yang naik ke atas.Ia kembali masuk ke dalam ruangannya dan melihat rekaman CCTV yang ada di monitornya.
Ia merasakan dadanya seperti terbakar , Ia betul-betul sangat marah dan juga sangat benci dengan pria itu. Kalau boleh disuruh memilih, Ia lebih memilih tidak melihat pria itu untuk selamanya. Namun Ia juga berharap pria itu membayar semua kesalahan yang sudah di perbuat nya.
Ia menangis di dalam ruangannya, mengapa dulu Ia mencintai pria yang seperti itu. Pria itu memang tampan namun bejat. Bahkan wajah putranya begitu mirip dengan wajah pria yang sangat dibencinya tersebut. Selama ini Ia melihat putranya seakan melihat wajah pria itu Namun Ia berusaha menepis rasa bencinya ketika melihat wajah putranya yang mirip dengan wajah pria yang telah menghamilinya. Saat Ia hamil, pria itu pergi begitu saja dan sekarang dengan mudahnya pria itu mengatakan bahwa Ia lebih memilih istrinya daripada dirinya. Ia ingin menjerit sekuat yang Ia bisa saat rasa pedih itu ia rasakan. Ia hanya menangis di dalam ruangannya sambil terus memandang monitor CCTV tersebut. Ia memastikan bahwa pria itu tidak akan kabur. Ia juga sudah meminta kepada karyawannya Untuk mengantarkan minuman dan juga makanan ke atas agar pria itu bisa tenang menunggunya.
***
Imam mengemudi mobilnya dengan kecepatan tinggi Ia memilih rute yang tidak macet di jam seperti saat ini.
Ia berusaha agar bisa lebih duluan sampai ke butik adiknya daripada Heri. Ia takut pria itu tidak bisa mengontrol emosinya.
Ia sudah tidak sabar untuk melihat wajah pria brengs*k yang sudah menghamili adiknya tersebut. Ia begitu sangat emosi saat mendengar adiknya mengatakan bahwa pria itu datang menemui adiknya. Setelah pria itu pergi begitu saja, sekarang Ia datang kembali setelah mengetahui bahwa adiknya saat ini sudah sukses.
Setelah Ia mengetahui tentang kabar adiknya menjadi desainer terkenal, Imam selalu mengikuti acara-acara fashion yang di lakukan oleh adiknya. Ia juga sering melihat adiknya muncul di stasiun televisi yang mana Eka diundang sebagai perancang baru namun sudah naik daun.
Imam sampai ke butik Eka, Ia melihat mobil Heri yang juga baru sampai di sana.
Ia kemudian turun dari mobilnya dan berlari menuju mobil Heri yang terparkir.
" Mas Imam ,"ucap Heri.
" Mas di hubungi Eka, Eka mengatakan orang itu masih di sini," ucap Imam.
Mereka langsung masuk kedalam butik tersebut. Ia masuk kedalam ruangan Eka Ia melihat Eka yang duduk sambil menangis di mejanya.
Imam langsung mendekati adiknya dan memeluk adiknya tersebut. " Di mana dia," ucapnya.
" Di lantai 3," Jawab Eka
" Kamu tunggu di sini," ucap Heri.
Eka menggelengkan kepalanya. " Aku mau ikut," jawab nya. Ia begitu cemas bila kedua pria yang sangat berarti dalam hidup nya itu, tidak mampu mengendalikan dirinya. sehingga membuat kesalahan.
__ADS_1
" Ini urusan laki-laki tunggu di sini," ucap Heri yang memandang wajah calon istrinya.
"Nanti kalian membunuhnya" ucap Eka.
" Lihat situasi," ucap Imam.
Eka menangis memeluk tubuh tinggi Abangnya. " Jangan bunuh dia, Eka gak mau kalian dipenjara. Eka benci dengannya tapi Eka juga nggak mau kalian harus menghabiskan sisa hidup kalian dipenjara," ucapnya yang menagis. .
Imam tersenyum saat mendengar ucapan. adiknya tersebut. " Kami tidak akan membunuhnya hanya cuman buat dia tidak bisa berdiri saja," ucapnya.
" Kami akan membuat Ia menyesal untuk hidup," ucap Heri yang tersenyum dengan mengangkat bibirnya sebelah.
Melihat ekspresi wajah calon suaminya itu, Ia seakan tau apa yang akan dilakukan nya.
Eka kemudian menganggukkan kepalanya ya duduk di kursinya tersebut.
Imam dan Heri melihat CCTV yang ada di layar monitor. Mereka kemudian menganggukkan kepalanya dan langsung keluar dari ruangan itu menuju ke lantai 3.
Imam langsung menendang Adam yang sedang duduk di kursi. Adam terjatuh kebelakang bersama dengan kursi nya.
Adam begitu sangat terkejut saat Ia tiba-tiba saja mendapatkan serangan, dadanya terasa begitu amat sakit. Ia kemudian berdiri sambil memegang dadanya
" Siapa kau?
Mengapa tiba-tiba saja kau menyerang ku," ucap Adam.
" Seharusnya aku yang bertanya Kamu siapa?" ucap Imam.
Heri hanya berdiri sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celananya. Gaya nya terlihat begitu amat santai.
" Aku calon suami Eka," jawabnya yang sengaja agar kedua pria itu berfikir untuk semakin emosi. Ia tidak tahu siapa kedua pria itu.
****
Jangan lupa like komen dan votenya ya Reader. terimakasih atas dukungan nya.
🙏🙏😊😊
__ADS_1