Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 309


__ADS_3

"Kata Mama Papa belum makan ya,"ucap May Sarah.


"Iya papa lagi nungguin Imay," ucapnya.


"Ya udah kita makan sekarang," ucapnya yang menarik tangan pria tersebut.


Abdul tersenyum dan kemudian berdiri. Ia mengikuti langkah kaki putrinya untuk duduk di meja makan.


May sarah melihat hidangan yang sudah terhidang di meja makan . May Sarah tersenyum memandang mamanya.


"Imay di sana pasti sangat jarang bisa makan seperti ini ,"ucap Pipit yang duduk di sebelah putrinya.


"Iya ma, sangat gak pernah. ini menu favorit," Imay," ucapnya yang tersenyum memandang Tahu bacem, sayur asam, ikan goreng dan sambal goreng terong.


"Ayo makan," ucap Abdul.


Iya pa," ucap May yang mengambil nasi di mangkok dan memasukkan nya kedalam piringnya.


"Ma, Dimas mana?" ucap May yang tidak melihat adik laki-laki nya itu.


"Dimas lagi keluar cari untuk perlengkapan wisuda," ucap Pipit.


"Kapan wisuda Dimas," ucap May


"Dimas wisuda dua hari lagi," ucap Pipit.


May mengangukan kepalanya sambil menambahkan nasi kedalam piringnya. Masakan mamanya begitu sangat terasa nikmat di lidahnya. Sudah begitu lama Ia merindukan masakan mamanya yang baru bisa di nikmati nya saat ini.


"Masakan mama beneran enak, May selalu rindu dengan cita rasa masakan rumahan seperti ini" pujinya.


"Enak, rindu tapi gak mau pulang," ucap Pipit yang memandang putranya.


"May gak ada libur ma," Ucapnya memberikan alasan.


"Apa benar itu alasannya," ucap Pipit.


"Iya ma," jawabnya berbohong.


"Imay, calon laki-laki yang mau datang lamar Imay menunda kedatangan nya," ucap Abdul.


"Kenapa pa?" tanyanya.


"Besok dia ada pekerjaan penting keluarga kota untuk melaksanakan pemeriksaan mendadak di bank-bank cabang. Jadi dia baru datang ke sini lusa," ucap Abdul.


May sedikit lega saat mendengar ucapan papanya. Entah mengapa, dia masih berharap Imam akan datang melamarnya.

__ADS_1


"Calon suami kamu itu sudah sangat lama menunggu kamu," ucap Pipit.


May merasa hatinya perih saat mendengar kata calon suami. "Kenapa nungguin May sih dia. Bukankah dia memiliki pekerjaan yang bagus, wajah juga ganteng. Pasti banyak yang ngejar dan suka kan?" ucap May yang merasa aneh dengan pria tersebut. Sudah 3 tahun dia selalu menghindar dari perjodohan. Selama 3 tahun juga kandidat yang akan dijodohkan dengan nya orang yang sama.


"Ya karena dia sangat menyukai Imay, sehingga dia mau nungguin Imay," ucap Pipit.


May hanya diam saat mendengar ucapan mamanya. "Bagaimana mungkin pria itu menyukainya. sedangkan mereka belum pernah berjumpa," pikirnya.


"Kak May sudah datang," ucap Dimas yang langsung memeluknya.


"Kakak baru sampai," ucapnya yang membalas pelukan pria tinggi dan sedikit kurus.


"Kakak bawa mobil sendiri?" ucap Dimas yang melihat mobil yang terparkir di halaman rumahnya.


"Iya, selamat ya sudah. S.E," ucapnya.


"Kakak gak boleh langsung pulang ke Jakarta sebelum lihat aku wisuda," ucap Dimas. Pria itu duduk di kursi yang ada di depan kalanya.


"Iya kakak akan ke Jakarta setelah acara wisuda kamu," ucapnya yang mencubit hidung adik laki-laki nya.


"Sudah, May pasti capek baru datang. Besok di sambung lagi ngobrolnya. Biar May istirahat dan," ucap Abdul.


" Iya pa, May istirahat dulu," Ucapnya yang begitu sangat lelah.


May meningkatkan meja makan setelah berpamitan dengan kedua orang tuanya dan adik nya.


May masuk kedalam kamar dan duduk di atas tempat tidur dengan kaki yang menjuntai di lantai. May memandang kamarnya, yang tidak pernah berubah. Kamar ini akan selalu bersih dan rapi walaupun si pemilik sedang tidak ada di rumah dalam jangka waktu yang lama.


May teringat ponselnya yang sejak tadi belum di bukanya. May mengeluarkan ponsel dari dalam tas ransel kecil miliknya. Tangan nya masuk ke dalam tas ransel tersebut sambil mencari-cari ponsel nya. May tersenyum saat dia menemukan benda berbentuk segi empat yang pipih tersebut. Ditempelkan nya sidik jari di belakang layar ponselnya untuk membuka ponselnya. Berharap ada masuk pesan baru atau panggilan yang tidak terjawab. May meletakkan ponsel di atas tempat tidur setelah ia tidak mendapatkan no ponsel baru yang masuk.


May masih duduk di tempat yang sama. "May setiap bulan selalu kirimkan mama uang gaji. begitu juga ibu. Tapi kenapa mana tidak pernah beli apa-apa dari uang yang May kirim," ucapnya saat melihat kesederhanaan isi rumah mamanya. Bahkan di dalam rumah tidak ada penambahan barang-barang baru.


May menganti bajunya dengan baju tidurnya. May keluar dari dalam kamar nya dengan membawa sabun pembersih wajah dan sikat gigi. Ia berencana untuk ke kamar mandi yang berada di dapur. May masuk ke dalam kamar mandi dan memcucu wajah dan menyikat giginya.


May keluar dari dalam kamar mandi dan melihat Mamanya yang sedang menyimpan sambal didalam lemari yang biasa Dipakai untuk tempat menyimpan lauk.


"Ada yang mau May bantu ma?" tanya nya.


"Sudah selesai may istirahat aja," ucap Pipit yang tersenyum memandang putrinya.


May mengangukan kepalanya dan kembali ke kamarnya.


***


Arum tersenyum memandang suami nya yang memeluknya dari belakang.

__ADS_1


"Tutup matanya," ucap Habibi.


"Sudah mas," ucapnya yang sudah tidak sabar menunggu kejutan dari suaminya.


"Sudah sayang, boleh dibuka," ucap Habibi yang memasangkan kalung di leher istri.


Arum tersenyum memandang pantulan wajahnya didepan cermin. Matanya memandang liontin yang melingkar di lehernya. Arum tersenyuman memandang suaminya yang berdiri di belakang nya.


"Kerjaan mas apa sih?" ucapnya yang membalikkan tubuhnya hingga berhadapan dengan suaminya.


"Kenapa nanyain kerjaan mas sayang? bukanya adek tau apa kerjaan mas," ucapnya yang belum mengerti maksud istrinya.


"Iya Arum tahu kerjaan Mas cuman selain itu pasti masih buka Buka lapak online setiap sebentar?" ucapnya yang memandang sambil tersenyum.


Habibi tertawa saat mendengar ucapan istrinya. "kenapa bisa seperti itu?" tanyanya.


"Mas bisa beli ini dari mana Kalau bukan ngintip-ngintip lapak online," ucap Arum yang memegang liont yang begitu sangat cantik.


Habibi tertawa ngakak mendengar pertanyaan yang dilontarkan istrinya. "Emangnya mas kurang kerjaan apa?" ucapnya setelah tertawanya sudah mulai mereda.


"Ayo Mas ngaku," ucap arum yang mencubit pinggang suaminya.


Habibi tertawa dan memeluk istrinya."Nggak mau, nanti rahasia besar mas terbongkar," ucapnya.


"Ayo mas ngaku, jujur pasti kerjaan mas buka lapak online," ucapnya yang masih terus menjahili suaminya.


Habibi tertawa dan mencium bibir istrinya.


Mas suka Bukalapak online itu Kalau cari lingerie seksi," ucapnya yang tersenyum mesum memandang istrinya.


Arum menatap mata suaminya, dan kemudian mencium bibir suaminya. "Makasih ya Mas," ucapnya.


Habibi membalas ciuman istrinya. "Sayang ganti dulu," ucapnya yang sudah menyiapkan lingerie seksi untuk istrinya.


"Langsung aja mas," ucap Arum yang tersenyum genit memandang suaminya.


Habibi tertawa mendengar ucapan istrinya.


"Mas sudah siapkan Sayang, cepat ganti," ucapnya yang menepuk pantat istrinya.


"Arum ganti sebentar ya," ucapnya mencium bibir suaminya.


"Cepat,"ucapnya yang memandang tubuh tinggi langsing istrinya yang berjalan menuju kamar mandi.


****

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan votenya ya reader. Terimakasih atas dukungan nya.


😊😊🙏🙏


__ADS_2