Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
355. Selalu romantis


__ADS_3

"Gak Ikut jalan pagi?" Habibi duduk di tepi tempat tidur. Pria itu mengusap perut istrinya yang sudah sangat besar.


"Arum mau baring-baring aja mas, rasanya Arum gak kuat jalan,” keluhnya yang mengusap perutnya. Kehamilan bayi kembar seperti ini membuat perutnya jauh lebih besar dari pada kehamilan anak pertamanya sehingga membuatnya merasa begitu cepat lelah.


“Ya sudah mas lari pagi ya sama anak-anak." Habibi yang mencium kening istrinya.


“Iya mas," jawab Arumi.


“Sabar ya sayang, bentar lagi sikembarnya bakal keluar. Sayang mas harus sabar dan kuat ya," ucapnya.


“Iya mas, Arum sekarang cepat capek. Dibawa duduk Pinggang Arum sakit banget mas, baring gini sesak," ucapnya menyampaikan keluhan seperti biasa ibu hamil alami.


"Sayang pipi baik-baik di dalam. Jangan nakal, harus akur, jaga Mimi ya." Habibi yang mengusap perut istrinya.


Arum tersenyum saat mendengar ucapan suaminya. Kalimat sederhana yang selalu di ucapkan suaminya seakan memberikannya semangat dan tenaga yang berlipat ganda.


“Semalam Arum tidurnya sudah jam 2 mas," ucapnya.


“Bukannya jam 10 sudah tidur," ucap Habibi.


“Iya jam 10 tidur, jam 12 bangun. Si kembar olahraganya kepagian. Jam 12 malam dianya sudah senam," ucap Arum yang tersenyum sambil mengusap perutnya.


“Kenapa nggak bangunin mas kalau nggak bisa tidur,” ucap Habibi.


“Arum lihat Mas tidurnya enak jadinya enggak tega mau bangunin. Lagian semalam Arum main sama dia tangkap-tangkap benjol-benjol yang nongol." Arumi tersenyum memandang wajah suaminya.


Habibi tersenyum ketika mendengar ucapan istrinya. “Nanti apa ada agenda rapat atau kerjaan penting di rumah sakit?” tanya Habibi.


“Nggak ada Mas, Arum nggak ada jadwal di rumah sakit, Arum gak sanggup melakukan banyak kegiatan."


“Bagus kalau gitu, soalnya lagi hamil gini yang penting banyak istirahat.” Habibi tersenyum.


“Iya Mas, lagian juga rumah sakitkan Arum yang punya,” ucapnya yang tersenyum lebar.


Habibi tertawa mendengar ucapan istrinya. “Istri Mas sekarang sudah pinter sombong ya,” ucapnya menarik hidung istrinya.


Arumi tertawa saat mendengar ucapan suaminya tersebut.


“Istri mas kuat, hebat,” ucap Habibi yang menatap istrinya.


“Hamil itu memang rasanya nggak enak, berat, capek, belum lagi pinggang pegal, tapi kalau ngerasain dia ada di dalam rasanya senang banget,” ucapnya.


"Pipi, Vira udah siap, udah nunggu sejak tadi,” ucap Vira yang berdiri diambang pintu.


"Iya ini pipi mau turun," ucap Habibi yang memandang putri. "Mas turun dulu ya sayang," ucapnya.


“Iya mas," jawab Arumi.


Arum kembali tidur saat suami dan anak-anaknya melakukan lari pagi di halaman depan rumahnya.


***



Habibi memandang istrinya yang sedang tertidur dengan sangat nyenyak.


Pria itu tersenyum dan mencium kening istrinya. "Mas ke kantor dulu ya,” ucapnya yang mencium kening istrinya dengan sangat lembut agar istrinya tidak terbangun. Habibi mengusap perut istrinya. "Sayang pipi, pipi mau ke kantor dulu, ingat ya jangan nakal di dalam, harus akur,” ucapnya yang berbicara dengan bayi kembar di dalam perut istrinya. Habibi mencium perut istrinya. pria itu meletakkan surat kecil di atas nakas dan sekuntum mawar merah. Habibi membuka pintu degan sangat pelan dan keluar dari dalam kamar.


Habibi tersenyum ketika melihat anak-anaknya yang sudah duduk di meja makan. "Sudah pada nungguin pipi ya,” ucapnya yang mencium pipi Vira kanan dan kiri kemudian juga mencium pipi Rangga yang kanan dan juga kiri.


Vira menganggukkan kepalanya. “Sudah Pi,” ucap gadis yang saat itu memakai seragam merah putih.


“Saya juga sudah siap pipi,” ucap Rangga.


"Mimi mana pi,” tanya Vira.


“Mimi lagi tidur,” jawab Habibi.


“Apa mimi nggak ke Rumah Sakit,” tanya Vira.


“Apa Mimi sakit pi?" tanya Rangga. Anak laki-laki itu terlihat begitu sangat menghawatirkan miminya.


Habibi tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Mimi nggak sakit cuma semalam mimi nggak tidur, jadinya sekarang mimi mau tidur dulu, makanya kita berangkat duluan, Mimi juga mungkin nggak ke Rumah Sakit,” ucap Habibi yang menjawab 2 pertanyaan anak-anaknya sekaligus.


Vira menganggukkan kepalanya saat mendengar penjelasan dari pipinya.


Gadis kecil itu memakan roti selai coklat miliknya sedangkan Rangga memakan roti selai strawberry.


“Jadi kami ke sekolahnya pipi yang antarkan,” tanya Vira yang mengunyah roti di dalam mulutnya.


“Makan dulu nanti baru bicara,” ucap Habibi yang memandang putrinya dengan mulut yang penuh berisi.


Vira menganggukkan kepalanya dan meminum susu coklatnya.


“Iya pipi yang antar,” ucapnya.


“Adik Vino sudah ketahuan laki-laki, adik Vira kapan ketahuannya?” tanya Vira.


Habibi tersenyum memandang putrinya, “mana tahu nanti akan ketahuan,” ucapnya.


“Vira pengennya adik cewek biar bisa main boneka sama Vira,” ucapnya.


"Saya menginginkan adik laki-laki biar bisa main bola dengan saya,” ucap Rangga.


“Mudah-mudahan aja perempuan dan laki-laki, jadi satu main boneka dengan kak Vira yang satu lagi main bola dengan Abang Rangga,” ucapnya.


“Amin,” ucap Rangga dan juga Vira secara bersamaan.


“Kalau sudah siap kita berangkat,” ajak Habibi.


“Iya Vira sudah siap." Vira berkata setelah menghabiskan susu coklat di dalam gelasnya.


“Saya juga sudah siap Pi,” ucap Rangga.


“Ya sudah ayo berangkat,” ajak Habibi yang bangkit dari tempat duduknya.


Pria itu memegang kedua tangan Rangga dan juga Vira.


***


Arumi bangun setelah merasa tidurnya sangat puas. Arumi Memandang ke sekeliling kamarnya, aroma parfum suaminya masih tercium di Indra penciumannya. Arumi memandang ke kanan dan ke kiri kemudian memandang jam yang menempel di dinding yang ternyata sudah jam 9 pagi. “Arum ketiduran, Arum pasti nggak sadar waktu Mas Bibi bangunin,” ucapnya yang mengusap wajahnya.


Arum duduk dan menyandarkan punggungnya di kepala tempat tidur. Dengan mata yang masih terpejam Arum menjangkau ponselnya yang ada di atas nakas. Namun Ia memegang benda yang lain. Pada akhirnya ia membuka matanya dan memandang benda yang saat ini disentuhnya.

__ADS_1


Arum tersenyum ketika memegang sekuntum mawar merah dari suaminya. Diciumnya bunga yang begitu sangat wangi.


Arum mengambil kertas kecil yang ada di atas nakas dan membaca pesan yang ditulis suaminya.


“Sayang maaf ya, Mas berangkatnya nggak bangunin Adek soalnya tadi Mas lihat adek tidurnya enak sekali. Jangan lupa sarapan kemudian minum susu dan vitamin. Bila sudah bangun jangan lupa hubungi Mas. Masa yang Arum i love you Sayang.” Arumi tersenyum memandang surat singkat suaminya, ia mencium surat tersebut. “Kenapa rasanya beda baca surat sama baca pesan Whatsapp,” ucapnya.


“Mas Itu sangat romantis dan enggak pernah kehilangan ide untuk romantis seperti ini,” ucap Arumi yang begitu sangat senang mendapat perlakuan dari suaminya.


Arum mengambil ponselnya dan menghubungi nomor suaminya.


“Halo assalamu’alaikum,” ucap Habibi yang memandang wajah istrinya di layar ponselnya.


“Wa’alaikum salam,” ucap Arum yang menatap layar ponselnya.


“Udah bangun,” tanya Habibi.


Arumi menganggukkan kepalanya. “Baru aja,” jawabnya.


“Udah baca pesan Mas,” tanya Habibi yang tersenyum.


Arum mengangkat bunga mawar yang ada di tangannya, ia kemudian tersenyum memandang wajah suaminya yang ada di layar ponselnya. “Terima kasih mas,” ucapnya yang mencium bunga mawar tersebut.


“Kalau mau bunga deposito juga bisa dikasi,” ucap Habibi.


Arum tertawa mendengar ucapan suaminya. “Kenapa tadi nggak bangunin Arum?” tanyanya.


“Tidurnya nyenyak sekali. Sudah dicium-cium aja nggak sadar,” ucap Habibi yang sengaja menggoda istrinya.


“Namanya juga lagi tidur,” ucap Arumi.


“Iya, makanya nggak dibangunin karena lihat adek tidurnya enak, kasihan kalau dibangunin, katanya semalam nggak tidur,” ucap Habibi.


“Iya,” jawabnya.


“Langsung sarapan ya, terus minum susu dan vitamin jangan lupa,” ucapnya.


Arum Menganggukkan kepalanya.


“Nanti sore jadwal control,” ucap Arum mengingatkan suaminya.


“Iya, nanti Mas pulangnya cepat,” ucap Habibi.


“Mami juga mau ikut, kata mami mau lihat cucu kembarnya,” ucap Arumi.


Habibi menganggukkan kepalanya, “nanti kita ke rumah Mami jemput Mami, itupun kalau Mami sudah di rumah, kalau enggak mungkin ketemunya di rumah sakit aja,” ucapnya.


“Iya Mas, moga-moga aja kali ini kelihatan ya,” ucap Arum yang begitu sangat penasaran ingin mengetahui jenis kelamin bayinya.


“Iya kemarin enggak ada yang mau nunjukin ke kita, sama-sama nutupin jadinya nggak bisa dilihat,” ucap Habibi.


“Dianya mau kelihatan misterius mas,” ucap Arum.


“Iya si kembar buat kita penasaran,” ucap Habibi.


Arum tersenyum ketika mendengar jawaban suaminya.


“Mas mau meeting dulu,” ucapnya.


“Mana ciumnya,” tanya Habibi.


Arum memajukan bibirnya mendekati layar ponselnya. “Muuahhh,” ucapnya.


“Muuuaaah juga sayang,” ucap Habibi.


“Assalamu’alaikum,” ucap Arumi.


“Wa’alaikum salam,” jawab Habibi yang kemudian memutuskan sambungan teleponnya.


Arumi tidak ada henti-hentinya tersenyum ketika melihat sikap suaminya. Suaminya mampu membuatnya jatuh cinta dan jatuh cinta lagi, entah sudah berapa kali ia merasa jatuh cinta kepada suaminya.


***



"Udah siap-siap ya,” tanya Habibi ketika Ia masuk ke dalam kamar dan memandang istrinya sudah sangat cantik dengan memakai long dress berwarna biru tosca.


“Iya mas, Arum dandannya lama, kalau Arum belum siap-siap yang ada malah perginya makin lambat,” ucapnya.


“Udah nggak sabaran ya pengen lihat.” Habibi yang mengusap perut istrinya.


“Iya Mas, Mas cepetan mandi bentar lagi Mami mau datang,” ucap Arum.


“Ya udah mas mandi dulu sebentar,” ucapnya yang mencium bibir istrinya.


Arum memperhatikan wajahnya di cermin, pipinya sudah terlihat chubby, perutnya juga terlihat begitu sangat besar. “Hamil 7 bulan sudah seperti 9 bulan,” ucapnya yang mengusap perutnya.


“Nggak bisa membayangkan seperti apa nanti besar perutnya ketika ia hamil 8 bulan hingga 9 bulan nanti. Udah Mimi nggak perlu pikirin sebesar apa perut Mimi, yang penting kalian di dalam bisa tumbuh sehat,” ucapnya yang kemudian mengusap perutnya.


“Sudah cantik ya, miminya si kembar," ucap Habibi yang mencium bibir istrinya.


Arum tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


“Duh, pipi miminya si kembar sudah mulai gembul nih sekarang," ucapnya yang mencubit pipi Istrinya.


“Mas, ejekin Arum gendut?" ucap Arum yang semakin membulatkan pipinya dan memajukan bibirnya kedepan.


Habibi tertawa saat mendegar ucapan Istrinya. “Kenapa adek semakin imut-imut gini," ucapnya yang begitu sangat tidak tahan untuk mencium bibir ranum yang maju ke depan tersebut.


Habibi mencium bibir istrinya dengan durasi waktu yang cukup lama saat Istrinya membalas ciumannya.


Habibi melepaskan ciuman dari bibir istrinya. “Mas baru selesai mandi. Baju aja masih belum di pakai. Cium adek gini jadi pengen," ucapnya yang tersenyum memandang istrinya.


Arum memukul dada suaminya. “Arum mau kontrol, mami juga mau datang,” ucapnya yang memandang bagian bawah. "Tahan sampai pulang," ucapnya.


“Terus sekarang gimana? ucap Habibi.


“Paksa aja dia sembunyi,” jawab Arum yang tertawa sambil menutup mulutnya.


“Pulang nanti ya, gak boleh nolak,” ucap Habibi.


Dengan cepat Arum menganggukan kepalanya.


“Udah mas pakai baju dulu," ucapnya.

__ADS_1


“Iya mas,” ucap Arum yang duduk di bibir tempat tidur dengan memegang kaos kaki ditangannya.


Arum tersenyum memandang suaminya yang sudah mengenakan baju kaos putih berkerah dan celana jeans hitam. Suaminya begitu sangat tampan dan akan selalu menjadi pria yang tertampan di matanya.


Habibi berjalan mendekati istrinya yang duduk di atas tempat tidur.


Pria itu mengambil kaos kaki di tangan istrinya. "Leggingnya sudah di pasang?" ucapnya yang tahu bagaimana Istrinya kesulitan memakai legging.


Arum tersenyum dan mengambil legging hitam dan dalamnya yang sudah disiapkannya. "Tolong sekalian mas," ucapnya.


Pria itu memasangkan legging istrinya hingga naik ke atas.


Habibi juga membantu istrinya memasang kaus kaki. "Sepatunya apa mau sekalian nyonya," ucapnya yang duduk di depan Istrinya.


“Iya mas, sekalian," ucap Arum yang tersenyum lebar.


“Di mana sepatunya,” tanya Habibi.


“Itu mas yang warna brown,” ucap Arum menunjukkan sepatu yang berwarna coklat tersebut.


Habibi tersenyum dan mengambilkan sepatu untuk istrinya. Pria itu duduk di lantai dan memasangkan sepatu di kaki istrinya, senyum tidak pernah hilang dari wajah tampan pria tersebut.


"Mimi, pipi, opa sama oma sudah nungguin di bawah,” ucap Vira dan membuka pintu kamarnya.


Arum tersenyum memandang putrinya, “kalau masuk nggak mau ngetuk pintu ya,” ucapnya.


Vira tersenyum lebar saat mendengar jawabanmu miminya. "Lupa mi,” jawabnya.


“Jadi ingatnya cuma sama Vino,” ucap Arum.


Vira tersenyum malu saat mendengar ucapan maminya. "Mami Ara sekarang makin garang Mi." Vita mengadu.


“Kenapa,” tanya Arum.


“Kami udah nggak boleh lihat lama-lama lagi,” ucapnya.


Arum tertawa mendengar ucapan putrinya tersebut. “Tapi tetap ajakan vino curi-curi lihat channel YouTubenya Vira,” ucapnya.


“Iya mi, Vino subscribe Vira,” ucapnya.


Habibi tertawa saat mendengar ucapan Putri. “Ini anak kita sudah tahu subscriber,” ucapnya.


Arum tertawa mendengar ucapan suaminya.


“Pasti pengaruh auntynya ini,” ucap Habibi.


“Konten videonya itu cara belajar baca cepat, yang lucunya muridnya rangga Mas. Kemudian juga Vira buat video cara belajar perkalian dengan cepat. Selain itu juga video menghafal perkalian dengan mudah dan menyenangkan. Bagaimana belajar matematika yang mudah dipahami, dan itu semuanya materi di atas kelas 2,” ucap Arum yang mengecilkan suaranya kepada suaminya.


Habibi tertawa mendengar ucapan istrinya, “sepertinya Mas gak perlu lagi ngasi duit untuk Vira. Uangnya udah banyak dari YouTubenya,” ucapnya.


“Makanya sering-sering buka YouTube dia biar tahu apa isi kontennya, dan yang paling sering komen itu ya vino,” ucap Arum.


“Sudah ada beberapa stasiun TV yang menawarkan untuk melakukan wawancara eksklusif dengan Vira,” ucap Arum.


“Jangan diterima ya,” ucap Habibi.


“Iya semuanya Arum tolak,” ucapnya.


“Mi, udah cepetan Vira turun duluan,” ucap Vira.


“Iya ini mimi dan juga pipi mau langsung turun," ucap Arum.


“Sudah Mas, kita turun ya,” ucap Arum.


Habibi mengangukan kepalanya dan melingkarkan tangannya di pinggang istrinya. “Udah nggak ada lengkuknya,” ucapnya.


“Namanya juga orang hamil Mas, mana ada lagi lengkuk pinggangnya,” jawab Arum yang memajukan bibirnya.


“Nggak sabar nungguin dia lahir,” ucap Habibi yang mengusap perut besar Istrinya.


“Arum lebih nggak sabar lagi Mas, jalan terasa berat banget,” ucap Arum.


Habibi hanya tersenyum mendengar jawaban istrinya. “Jadi Mas Andro masih pakai parfum wangi strawberry,” tanya Habibi.


Arum tertawa dan menganggukkan kepalanya. “Kalau nggak pakai parfum itu, istrinya akan muntah kalau dekat mas Androw,” ucapnya.


“Benar-benar anaknya menindas papinya habis-habisan,” ucap Habibi.


“Iya Mas, anak masih dalam perut aja sudah jahil banget, gimana kalau sudah lahir ya,” ucap Arum.


“Mungkin seperti Mas Androw sifatnya.”


Mereka tidak ada henti-hentinya bercerita sambil menuruni anak tangga.


“Mami,” ucap Arum yang mempercepat langkahnya mendekati maminya yang sedang duduk di sofa ruang tamu.


“Iya sayang, gimana kabar sayang mami," ucap Anita yang berdiri dari duduknya dan mencium pipi menantunya kanan dan kiri.


"Arum baik mi, tapi ya gak sanggup mau ngapa-ngapain lagi. Arum gampang capek," ucapnya.


“Kalo udah hamil besar


gini memang semuanya serba malas. Rasanya ngangkat badan aja malas,” ucap Anita yang mengusap perut menantunya.


Arum menganggukkan kepalanya. “Yang bikin malas kemana-mana itu pengen pipis terus mi,” ucapnya.


“Iya sayang mami ngerti, yang terpenting Arum harus banyak istirahat. Nggak usah pikirin yang lainnya, nanti rumah sakit kita serahkan aja dulu sama wakil direktur dan untuk segala urusan sekarang sudah bisa memantau dari rumah aja. Yang penting calon cucu kembar Mami sehat dan Arum juga wajib sehat,” ucapnya yang mencubit pipi menantunya yang sudah tembam.


"Amin. Makasih mi," jawab Arum.


“Mami tadi udah buru-buru ke sini, sudah gak sabaran pengen lihat si kembar,” ucapnya.


“Bulan semalam dia nutupin dua-duanya Mi, bulan ini nggak tahu entah kelihatan dua-duanya atau gak,” ucap Arumi.


“Mau kelihatan atau nggak kelihatan pokoknya Mami mau lihat,” ucap Anita.


“Ya udah kalau gitu kita langsung ke rumah sakit ya Mi,” ucap Arum.


“Iya sayang," ucap Anita.


****


__ADS_1


__ADS_2