
Arumi sibuk di dapur, sedangkan Habibi dengan patuhnya duduk di meja makan. Anita dan Jhoni belum tidur, mereka masih sibuk dengan olahraga malamnya setelah selesai dengan aktivitas yang melelahkan, karena mereka yang selalu melakukannya berulang-ulang kali.
Sekarang perut Anita dan Jhoni terasa sangat lapar, kemudian aroma harum masakan bisa menembus pintu kamar yang tertutup rapat tersebut. Anita memakai bajunya dan Jhoni mengambil piamanya dan memakainya. Setelah memakai bajunya Anita dan Jhoni turun ke bawah. Saat mereka turun, Anita melihat Habibi yang duduk di meja makan.
“Bi, kamu ngapain duduk di situ.” Tanya Anita saat dilihatnya putranya duduk di meja makan yang kosong. Sambil tangannya diletakkannya di atas meja dan wajah diletakkannya ke atas tangannya.
“Bibi lapar mi. Arum lagi masak,” jawab pria tersebut.
“Arum yang masak?” Tanya Jhoni kemudian, yang merasa sangat lapar.
“Iya pi.” Jawab Habibi sambil memandang papinya.
Anita dan Jhoni duduk di depan Habibi. “Kamu bangunkan Arum,” tanya Anita penuh selidik.
“Gak mi. Kebetulan Arum belum tidur.” Habibi menjelaskan kejadiannya pada maminya dengan panjang lebar.
Tidak lama kemudian Arum datang dengan membawa 2 mangkok ditangannya. Ia kaget melihat mami dan papi juga sudah bergabung di meja makan.
“Arum, kamu masak ada lebihnya gak?” Tanya Anita yang juga merasa lapar.
“Ibu lapar juga?” Tanya Arum
__ADS_1
“Iya,” jawab Anita.
“Ada buk. Mas Bibi minta banyak di masakin.” Jawab gadis tersebut sambil meletakkan mangkok di tangannya ke atas meja.
“Alhamdulillah.” Suara Anita yang penuh kelegaan.
Arum meletakkan sup daging dan tomyam. Arum kembali ke dapur untuk mengambil ayam goreng serta sambal kecap. Setelah meletakkan di meja Arum mengambil piring, nasi, sendok dan menghidangkan di atas meja. Arum duduk di samping Habibi. Menurut Arum ini posisi yang yang paling baik agar gak lihat Habibi. Namun posisi Arum berada di depan Anita. Arumi jadi salah tingkah diperhatikan Anita.
Anita memperhatikan Arumi. “Ibuk gak nyangka, kamu pintar masak.” Saat di rasanya, tomyam yang enak menyentuh mulutnya.
Habibi memasukkan nasi ke piring Arum.
“Arum gak makan mas.” Ucap gadis tersebut
“Nanti Arum gendut.” Jawab gadis tersebut
“Gak bakalan gendut, ayo makan. Kalau kamu gendut juga mas Bibi tetap suka.” Balas Anita sambil tersenyum.
Lagi-lagi wajah Arum memerah. Mana mungkin Arum bisa makan setelah apa yang terjadi. Belum lagi pernyataan bodoh Anita yang bla blakan seperti sedang bercanda dengan temannya.
“Masakan kamu enak sekali sayang.” Lagi-lagi Anita memuji masakan tersebut. Saat itu ia mulai menikmati sop daging yang dimasak oleh Arumi.
__ADS_1
“Arum baru belajar buk.” Jawab gadis tersebut sambil menundukkan kepala tidak merani memandang mata Anita.
“Baru belajar aja udah enak gini.” Ucap Jhoni yang menikmati sup tersebut.
Suasana makan mereka sangat tenang, dan mereka bercerita ringan sambil bercanda. Mereka makan dengan santai dan pastinya menikmati setiap rasa dari yang mereka makan. Setelah habis semua Arum kembali meletakkan piring kosong ke belakang.
“Sayang, tidur lagi udah malam.” Ucap Anita, “piring-piringnya tinggalkan aja, besok bik Sur akan selesaikan.”
“Iya buk.” Jawab Arumi.
Rasanya benar-benar lega di saat Arum bisa kabur dari sana. Arum menarik selimutnya, ia masih berperang dengan detak jantungnya yang berdak sangat kuat. Ia tidur dengan perasaan yang sudah di aduk-aduk.
*****
visual habibi autour ganti ya reader. seperti nya gak ada pengemar di sini. 😂
visual habibi Billy Davidson.
__ADS_1