Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 43


__ADS_3

Hari yang sangat melelahkan. Jam 11 malam, Arum baru selesai dengan berbagai kegiatan kelasnya hari ini. Sertifikat komputer sudah dimilikinya, Sertifikat Toefl bahasa Inggris dengan skor nilai 550 nilai A, Sertifikat TPA skor 579 nilai A, Sertifikat makeup. Hari ini hampir semuanya selesai untuk kelasnya. Sim juga sudah keluar. Yuda duduk di pinggir taman sekolah mereka. Menunggu Arum keluar dari kelas. Arum melihat Yuda duduk sendiri.


“Hai,” Arum berdiri di belakang Yuda.


“Sudah selesai?”


“Sudah ak. Aak dah lama nunggu arum?”


“Belum.” Kata Yuda, padahal bohong.


“Jadi udah lama?”


“Lumayan.”


“Makasih ya ak.”


“Iya.”


“Aak kok kelihatan murung?” kata Arumi yang melihat wajah Yuda yang kelihatan murung.


“Bentar lagi kamu bakalan ninggalin sekolah ini ya?”


“Masih ada 3 hari lagi ak.”


“Aak harap. 3 hari itu waktu yang sangat lama berlalu.”


“Arum juga berharap gitu ak. Nanti arum pasti rindu kalian semua. Baru sekarang arum ngerasain punya sahabat seperti ini.”


“Aak gak tau, apa aak bisa tetap disini tanpa Arum.”


“Pasti bisa ak.”


“Arum,” Yuda merdengar suara yang memanggil mereka. Ternyata Tiar dan Rizaldi yg sudah menunggu.

__ADS_1


“Hai.... Kalian masih di sini.”


“Iya dong nungguin kamu beb.” Kata Tiar.


“Modus... Nungguin aku. Atau pacaran?” Sekalian Rizal menjawab dengan entengnya


“Makasih ya. Aku love you kalian. Apa pun alasannya, yang penting Arum senang.” Kata Arumi.


“Kamu lapar Rum?” tanya Yuda


“Iya. Lapar banget. Kita makan yuk.” Mereka jalan menuju kantin. Di sana sudah nampak ramai yg berkumpul. Mereka memesan makanan untuk mereka santap.


“Nasi goreng dan wedang jahe ada buk?” tanya Arum.


“Ada neng.”


“2 buk,” sela Yuda.


“Mie rebus dan teh hangat,” kata Tari.


“Baik mas Rizal.”


Si buk pergi dengan membawa catatan pesan. Kami boleh gabung. Rio , Harun, Heri, Yudi dan Dani sudah berdiri di samping meja mereka.


“Boleh. Silahkan.” Balas Arum sambil menggeser tempat duduknya lebih merapat ke Yuda.


“Kalian pesan aja semua yang kalian mau, Arum yang bayar.” Selama di sekolah ini Arum tidak pernah belanja dengan uangnya. Karena ini merupakan hari-hari terakhir Arum di sekolah ini, Arum ingin menteraktir teman-temannya yang sudah sangat baik kepadanya.


“Serius Rum,” tampak Rio bersemangat.


“Serius dong.” Jawab Arum sambil tersenyum.


“Buk, pesanan kami antar ke sini ya,” pinta harun.

__ADS_1


“Baik mas.”


Tak lama Prima masuk ke kantin.


“Prima, ayo gabung.” Heri melambaikan tangannya.


Prima datang dan bergabung di meja tersebut. Ibuk kantin menggabungkan 2 meja agar muat untuk mereka.


“Pesan apa mas prima?”


“Nasi goreng dan teh hangat.”


Mereka kembali dengan obrolannya.


“Gimana Rum, tes hari ini, apa lulus semua?” tanya Rio.


“Alhamdulillah mas, Arum sudah dapat izin dan sertifikat pemilikan senjata api dan SIM,” jawab Arumi sambil memperlihatkan tas di tangannya yang berisi sertifikat-sertifikat yang ia peroleh.


“Wah lulus semua Rum. Nilai-nilai kamu sungguh mantap.”


Arum tersenyum puas.


“Kapan kamu kembali ke Jakarta,” tanya Heri.


“3 hari lagi mas. Mungkin Arum di jemput.”


“Kita bakalan buat acara perpisahan gimana,” semangat Rio.


“Boleh-boleh,” mereka menjawab dengan semangat.


“Gak usah lah. Arum gak tahan kalau nanti pakai acara nangis-nangis.” Kata Arumi.


Yuda hanya diam seakan tidak ingin berpisah. Pesan datang. Mereka sibuk dengan santapannya masing-masing. Prima masih dengan karakternya, dingin tampa banyak bicara. Mereka makan dengan bercanda dan tertawa apa bila melihat pasangan yang bucin.

__ADS_1


“Honny,” Rizaldi menyodorkan sesendok mir rebus ke arah bibir Tiar. Tiar membuka mulutnya dan memasukkan mie tersebut ke dalam mulutnya. “Enak kan sayang?”


“Enak,” balas Tiar. Dan sekarang gantian Tiar yang nyuapin Rizal. Rizal memberikan kecupan di pipi Tiar.


__ADS_2