Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 85


__ADS_3

Barang-barang Arum sudah dirapikan dan disusun oleh para asisten rumahnya. Arum sempat berpamitan dan memberikan alamat rumahnya yang baru kepada penghuni kosnya.


“Mas, Arum mandi bentar ya, gerah amat ini. Dah lengket semua.” Arum yang sudah merasa sangat capek dan kulit pun terasa lengket.


Habibi menganggukkan kepalanya. Ia duduk di ruang TV. Menyalakan TV lcd 43 inci yang langsung tersambung dengan jaringan internet.


Arum masuk ke kamar utama. Kamar yang sangat besar dengan tempat tidur king, lemari yang memenuhi seluruh bagian dinding, lemari pakaian, tas, sepatu, hijab, pakaian dalam.


Semuanya serba terpisah dan tersusun dengan rapi. Arumi yang berada di dalam kamar terpaku saat melihat kamar yang sangat besar tersebut. Kehidupan manusia terkadang seperti membalikkan telapak tangan. Baru kemarin rasanya dia berjalan kaki kesekolah dengan membawa kotak gorengan. Baru kemarin dia menjadi seorang cleaning servis dan bekerja di warung pecel lele. Tapi saat ini dia sudah ada di sebuah rumah mewah, yang untuk bermimpi mengontrak rumah seperti ini tidak pernah terlintas dalam benak kepalanya. Namun sekarang dia justru tinggal di rumah ini dan sebentar lagi, dia akan berkumpul dengan keluarganya.


Arum teringat bagaimana serba kekurangan, kelaparan, tinggal di rumah sewa yang pintunya sudah sangat lapuk, dan atap yang bocor bila hujan. Arum menarik nafas dan melepaskannya dengan sangat halus. Namun dia memang tidak tau apa yang akan terjadi kedepannya. Bila ia berhenti kerja, apakah rumah di ambil? Bagaimana kalau dirinya tidak berjodoh dengan Habibi. Arum lebih memilih rumah kecil dan sederhana yang penting hatinya tentang. Saat ini, apa secara tidak langsung, dirinya sudah diikat oleh sesuatu pilihan. Arum tidak keberatan dan tidak menolak bila Habibi menjadi suaminya. Namun apakah dia pantas untuk keluarga Habibi.


Arum berjalan menuju kamar mandi, kamar mandi yang besar dengan nuansa putih bersih di sekeliling dinding, bathtub, closed, wastafel, dan semuanya putih. Terlihat sangat indah, mewah dan elegan. Arum menyiram tubuhnya dengan air shower. Cukup lama ia berdiri di bawah shower. Setelah selesai mandi, Arum memakai piyama dan jilbab.


Arum turun kebawah, saat dilihatnya, Habibi menonton TV di sofa. Saat dia mendekat


pria itu ternyata sudah tertidur. Arum duduk di lantai, dan mengecilkan volume TV. Arum menonton film di canel HBO. Ia sedang menonton film laga. Setelah habis 1 film, Habibi masih tertidur dengan lelapnya. Dilihatnya mata yang sedang terpejam, hidung yang mancung, kulit yang putih dan bersih dan bibir yang terlihat sangat menggoda.

__ADS_1


Ya Allah seperti inikah cinta. Sekuat apa hamba ingin menjauh, sekuat itu pula raga ini untuk mendekat. Mengapa otak dan tubuh ini harus berlawanan.


Arum melihat jam di dinding, sudah jam 9 malam. Pria tersebut belum juga bangun dan belum makan.


“Mas... bagun, mas, mas, bangun.” Arum berusaha untuk membangunkan pria tersebut. Walaupun tidak menyentuhnya. Namun tak tampak ada ciri-ciri bahwa pria itu akan bangun.


Arum kembali mencoba membangunkan, namun tetap gak ada respon.


Gak mungkin Arum mengguncang tubuh pria tersebut. Arum tertidur didekat kaki Habibi. Posisi duduk dilantai dan kepala bersandar di tangan sofa.


“Kamu dah bagun sayang,”  kata Habibi.


Arum melihat jam di dinding kamarnya jam 2.


“Mas, dah jam 2. Gimana mas mau pulang?”


“Pulang pagi,” jawab Habibi dengan santainya.

__ADS_1


“Mami mas gimana?”


“Baterai hp mas habis. Jadi gak tau kalau mau telpon.”


“Jangan-jangan ibuk nelpon Arum.”


“Udah gak apa. Nanti mas telpon mami. Mas lapar dek.”


“Arum juga. Tadi Arum bangunkan mas ngajak makan. Tapi susah kali bangunkannya. Sampai Arum ketiduran.”


“Kamu gak goyang-goyang badan mas dek.”


Arum hanya diam.


“Mas mau tomyam buatan adek. Mas suka.”


“Ayo Arum buat kan.” Jawab Arumi.

__ADS_1


__ADS_2