Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 129


__ADS_3

Habibi memarkirkan mobilnya di halaman rumah Arumi. Ia mengendarai mobilnya sendiri sedangkan pengawalnya berada di mobil belakang.


Arum membuka pintu kamar sang ibu. Ternyata wanita Tersebut tidak ada di kamarnya. Arum turun ke bawah di lihatnya sang ibu sedang menonton film bersama dua adiknya. Wanita itu mengangkat kepalanya saat melihat putri nya sudah ada didekatnya.


“Bu, Arum Keluar ya.”


“Sama siapa?”


“Mas Bibi ngajak makan di luar.”


“Ya udah ganti baju.”


“Arum pakai baju ini aja Bu. Kata mas bibi gak apa.”


Terdengar suara bel Keke dengan cepat membuka pintu.


“Den Habibi. Ada apa den?”


“Tolong panggil Arum mbak.”


Belum Keke masuk ke dalam Arum sudah keluar. Melihat Arum yang sudah berdiri di depan pintu, Habibi mengembangkan senyumnya. Dadanya yang terasa berdetak sangat cepat. Ia udah sering jatuh cinta. Namun cinta yang ia rasakan saat ini terasa berbeda. Gadis yang ada didepannya saat ini benar-benar bisa membuat ia selalu merindukan gadis tersebut. Jantungnya yang berdetak hebat seperti waktu ia masih SMP saat waktu puber. Jantungnya berdetak hebat saat melihat gadis yang di taksirnya.


“Ayo mas,” Arum hanya membawa ponsel ditangannya, disambut anggukkan dari Habibi. “Mas pamit sama ibuk dulu.”


“Iya mas.”


Habibi masuk ke dalam dan menyalami calon mertuanya dan berpamitan. Habibi sudah duduk dikursi kemudi dan Arum duduk disebelahnya. Ia memegang tangan gadis tersebut dan mencium punggung tangan Arumi kemudian mengemudikan mobilnya.


“Kita makan di mana sayang?”


“Arum pengen bakso.”


Habi berhenti di warung bakso, salah satu warung bakso yang terkenal dengan kelezatannya. Bakso yang tidak keras namun kekenyalan yang pas. Rasa kua bakso tersebut begitu nikmat dilidah. Rasa kuanya memiliki cita rasa yang pas. Warung bakso ini menyediakan ruangan vip. Mereka duduk di salah satu meja. Ruang VIP ini begitu nyaman tidak ramai. Suasananya tenang. Pengawal pribadinya dudu di meja yang terpisah. Tidak jauh dari tempat duduk mereka.


Pelayan meletakkan pesan yang sudah dia pesan. Arum memesan 1 mangkok bakso tanpa mie sedangkan Habibi memesan bakso pakai mie. Arum memasukan saus sambal kedalam mangkok kemudian kecap manis dan di tambah asam cuka dan sambal rawit. Pria itu memerhatikan apa yang dimasukkan oleh gadisnya. Setelah Arum mengaduk baksonya ia melihat Habibi yang hanya memperhatikannya.


“Kok gak dikasi kecap dan teman- temannya mas?”


“Mas gak pandai.”


Arum memasukan saus sambal, kecap manis dan sedikit cuka. “Mau ditambah sambal rawitnya mas?”


“Gak usah. Mas gak tahan makan rawit.” Jawab pria tersebut.


Arum mengacau bakso tersebut agar teraduk rata dan meletakkan di hadapan pria tersebut. Habibi memperhatikan Arum makan. Bakso gadis tersebut sudah hampir habis setengah. Habibi hanya melihat Arum makan.


“Mas.”


“Hemmm....”


“Kenapa gak dimakan?”


“Dulu mas pernah makan bakso sama teman-teman.”


“Terus?”


“Waktu mas potong bakso, baksonya lompat.”


“Terus?”


“Lompat ke orang yang mejanya depan kami.”


“Terus?” tanya Arum penasaran.


“Orangnya marah. Kami gak jadi makan. Langsung bayar terus kabur. Semenjak itu mas gak pernah makan bakso.”

__ADS_1


Arum ketawa ngakak. “Arum kirain cerita bakso lompat gitu cuman ada di film Dono, Kasino Indro.” Arum memotong bakso tersebut dengan menggunakan sendok dan garpu setelah semuanya sudah terbagi 2 ia meletakkan bakso tersebut didepan empunya.


Habi mulai memakan baksonya. Arum menyedot jus sersaknya setelah kepedasan habis makan bakso. Ia memperhatikan Habibi makan.


“Kenapa tadi gak kasih tahu biar kita cari tempat makan yang lain.”


Habibi senyum. “Gak tega sama adek. Sepertinya adek pengen banget.”


Arum melihat ke meja pengawal Habibi. Tampak mereka sudah menghabiskan makanannya. Mereka memang sudah terbiasa makan cepat.


“Dek habis ini kita gak langsung pulang ya.”


“Kenapa?”


“Kita jalan dulu.”


“Ke mana?”


“Taman kota. Mau gak?”


Arum menganggukkan Kepalanya. Arum duduk di sebelah Habibi. Habibi sudah menyalakan mesin mobil. Ia memegang tangan Arumi kemudian menciumnya. Diletakkannya tangan tersebut di dadanya. Arum melihat wajah calon suaminya dari samping. Kemudian pria tersebut memandangnya.


“Hati mas, tentang kalau dekat adek.”


Arum senyum.


“Dek, sabtu besok gak usah lamaran ya.”


Tiba-tiba dada Arum sesak. Apa mas Bibi gak jadi melamar? Pertanyaan tersebut tidak mampu untuk dikeluarkannya. Arum diam kemudian ia menundukkan Kepalanya. Seharusnya ia senang apa bila Habibi tidak jadi melamarnya. Namun nyatanya iya kecewa.


“Dek.”


Arum masih tidak menjawab.


“Kenapa diam sayang?” Habibi menundukkan kepalanya untuk melihat wajah gadis tersebut.,


“Mas mau langsung panggil penghulu aja dek. Biar kita langsung halal.”


Arum langsung mengepalkan tangannya dan meninju dada pria tersebut.


“Aw...”


Walaupun tinjunya gak kuat tapi tetap aja sakit. Habibi ketawa ngakak. Saat dilihatnya ekspresi gadis tersebut.


“Takut mas gak jadi ngelamar ya.” Tanya pria tersebut.


“Mas,” Arum mencubit pinggang pria tersebut. Namun tanganya dipegang Habibi dan kemudian ia menarik tubuh Arumi sehingga mereka semakin mendekat. Dipandangnya wajah gadis tersebut yang polos tanpa makeup. Namun tetap terlihat sangat cantik.


“I love you sayang.”


Arum memejamkan mata. Ia merasakan benda lembut telah menyentuh bibirnya. Ia membuka matanya. Mata mereka sama-sama saling menatap dengan bibir yang masih menyatu. Habibi mulai ******* bibir tersebut. Arum selalu memejamkan matanya saat ia mencium bibir mungil tersebut. Namun kali ini, gadis tersebut membuka matanya. Gadis itu hanya menerima serangan dari Habibi tanpa pandai menyerang balik. Namun Habibi sangat menikmatinya. Kepolosan gadis tersebut membuat ia semakin gila. Cukup lama ia menguasai bibir tersebut dan kemudian melepaskannya dengan nafas yang tersengal-sengal. Mereka mulai menarik nafas dan mengatur nafasnya secara teratur.


“Mas, pengawal mas udah nungguin dari tadi.”


Habibi ketawa. “Ya udah resiko buntuti orang dengan calon istri.”


Arum memajukan bibirnya.


“Gimana dek. Mas langsung bawa penghulu ya.”


“Mas!!!” Arum membesar kan matanya.


“Biar enak dek, gak seperti ini. Nyiksa dek.”


“Nyiksa gimana sih mas? Kalau rindu itu biasa.”

__ADS_1


Habibi memejamkan matanya dan kemudian membuka mata tersebut. Ia menarik nafasnya dengan kasar dan kemudian menghempaskannya. “Anak kecil gak ngerti.”


“Udah tau Arum masih kecil masih juga mau di nikahin.”


Habibi senyum dan mencubit hidung gadis tersebut. Ia kemudian menjalankan mobilnya. Mereka berhenti di taman kota yang tidak terlalu banyak pengunjung karena memang gak malam Minggu.


Arum dan Habibi duduk di salah satu kursi taman memandang orang yang sibuk membawa putra dan putrinya bermain. Arum melihat seorang anak perempuan yang terjatuh dan menagis. Ia mengejar gadis kecil yang berusia tiga tahun tersebut dan membantunya untuk berdiri. Arum membersihkan telapak tangan anak tersebut yang kena pasir dan juga lutut gadis kecil tersebut yang ternyata berdarah. Ditiup nya luka tersebut.


“Udah gak boleh nagis. Udah gak sakitkan?”


Arum meminta Habibi mengambil kotak P3k di mobil. Habibi datang dengan kotak putih tersebut ditangannya. Arum mulai membersihkan luka tersebut mengunakan rivanol dan kemudian meneteskan betadin sambil meniup-niup luka tersebut dan memperbannya. Habibi memperhatikan gadis tersebut.


“Sudah siap sayang.” Sambil tersenyum lebar melihat ke wajah gadis kecil tersebut.


“Telima kaci tatak.”


Arum tertawa saat mendengar gadis kecil tersebut berbicara.


“Iya, sama-sama cantik.”


“Tatak doktel?”


“Do’ain kakak ya.”


“Apa atu secantik tatak.”


“Gak,. Lebih cantik kamu dari kakak. Nama kamu siapa?”


“Lili.”


“Kakak Arumi.”


Orang tua gadis tersebut datang mendekati putrinya. “Lili,” seorang wanita memeluk putri nya. “Kamu kenapa sayang?”


“Atu jatuh mami. Tak Alum udah tolong atu.”


Wanita tersebut memandang Arum. “Terimakasih ya.”


“Iya mbak.”


Seorang pria berlari mendekati istri dan anaknya. Wajah pria tersebut sangat panik namun melihat sang anak yang baik-baik saja wajah pria tersebut tampak lega.


“Terima kasih mas, mbak,” ucap pasangan suami istri tersebut .


“Papi, mami. Tatak Alum doktel.”


Arum dan Habibi tampak tersenyum.


Setelah pasangan itu menjelaskan. Mereka berpamitan dan pergi.


Arum dan Habibi kembali duduk di kursi taman tersebut. Arum ingat dengan Ardi. “Mas, sewaktu Arum masih kecil, Arum sangat sering terjatuh. Ardilah yang selalu membantu Arum untuk berdiri. Mengembus luka Arum memberikan betadin diluka tersebut dan memperbannya. Ardi selalu mengantongi betadin di sakunya dan juga perban. Dia bilang ke Arum. Dia mau jadi dokter. Biar bisa terus jaga Arum.” Arum tersenyum mengingat masa-masa kecil nya .


Habibi mendengar kan cerita Arum sambil mengusap kepala gadis tersebut.


*********


Pagi-pagi rumah Arum sudah di hias. Rumah tersebut sudah ditata dengan meletakkan bunga-bunga di setiap sudutnya. Menata ruang tamu menjadi tempat untuk acara pertunangan Arum dan Habibi besok. Siti berencana untuk masak namun di larang Anita karena Anita sudah memesan katering. Acara akan di laksanakan jam 8 malam.


*********


maaf lambat up ya reader.


maklum suasana lebaran.


😃😃😃😃

__ADS_1


terimakasih ya atas dukungan nya.


__ADS_2