Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 135


__ADS_3

Sarah dan Naura duduk bergabung dengan Ardi, Doni dan Ari. Sarah masih menatap ke arah Ardi. Ia sangat berharap bisa memberikan ketenangan untuk Ardi. Namun sikap Ardi kepadanya tetap saja dingin. Sarah melihat sisi berbeda dari Ardi saat pria tersebut berbicara dengan Arum. Tatapan matanya, sikapnya dan bahkan ia bercanda dengan Arum. Naura hanya berani menatap Ardi sekilas kemudian ia menundukkan kepalanya. Ardi tampak diam dan hanya menundukkan Kepalanya.


Aisah kembali duduk di dekat Ardi. Kursi yang ada di meja mereka sudah penuh. Gadis kecil tersebut dengan santainya duduk dipangkuan Ardi dan melingkarkan tangan Ardi di pinggangnya yang ramping. Ardi memeluk gadis kecil tersebut dan mencium kepalanya.


“Abang Ardi mau apa, Ica ambilkan.” Aisah memutarkan kepalanya melihat ke Ardi.


“Udah Ayo kita ambil berdua.” Jawab Ardi.


Aisah memandang ke ardi. “Abang Ardi tunggu di sini aja, biar Ica yang ambilkan.”


“Gak usah kita ambil berdua. Ais mau Abang gendong atau jalan sendiri?”


“Jalan sendiri aja deh.”


“Tangan Abang Ardi kan masih sakit.”


Ardi senyum sambil mengusap kepala gadis kecil tersebut.


Naura memperhatikan Aisah dan Ardi setelah mereka menjauh. “Kak Sarah, saingan baru.” Ucap Naura.


Sarah hanya tersenyum.


“Besok kalau udah gedek jumpa dengan ardi, kira-kira tuh bocah malu gak ya?” Doni tampak mulai menerawang masa depan.


“Gua rasa gak bakalan mau ngaku tu bocah.” Balas Ari.


Kemudian mereka tertawa, namun Sarah tampak cemberut dengan memajukan bibirnya.


“Aku udah bilang ke kamu kenapa harus ngejar Ardi yang abu-abu coba. Mestinya langsung pilih yang jelas aja warnanya. Hitam ya hitam. Putih ya putih. Dari pada yang abu-abu. Di sini ada yang setia nungguin tapi malah di angurin.” Mendengar kata-kata yang di sampaikan Ari membuat wajah Doni memerah seketika. Naura melihat ekspresi wajah Doni. Doni menendang kaki Ari dari bawah meja.


********


“Saya mendapat beberapa informasi yang ternyata mbak Arumi ini pintar nyanyi dan selalu menang lomba nyanyi tingkat kecamatan dan kabupaten. Hanya saja tidak dilanjutkan ketingkat yang lebih tinggi. Bagaimana para hadirin apa bila kita meminta untuk mbak Aruminya menyanyikan satu lagu untuk menambah keindahan acara ini.” Suara MC tersebut membuat mata para undangan tertuju ke Arumi.


Arum memandang ke wajah Habibi. Pria tersebut menganggukkan kepalanya. Gadis tersebut berdiri dan berjalan menaiki panggung. Ia meminta disediakan kursi dan juga gitar. “Apa saya boleh mengajak sahabat saya untuk menemani saya nyanyi?”


Sorakan yang mengatakan boleh begitu nyaring terdengar.


“Ardi, temani aku nyanyi dong.” Kalimat yang keluar dari Arumi.


Ardi yang duduk di kursi bersama dengan Aisah tampak tersenyum dan melambaikan tangannya. Para tamu undangan yang datang, semula mengira sahabat yang di katakan Arum adalah wanita. Ternyata seorang pria. Ardi berjalan menuju panggung. Ia naik ke atas panggung dan kemudian mengambil ahli alat musik keyboard. Ardi memang mahir dalam memainkan alat musik yang sedang di otak-atiknya tersebut.


“Ardi sahabat saya sejak kecil dan sampai kapan pun dia tetap Sahabat saya. Dialah yang tidak pernah pergi dari Arum, walau bagaimanapun keadaan Arum. Arum sungguh merasa Allah sayang dengan Arum karena Arum dipertemukan dengan orang-orang yang tulus sayang sama arum.”


Arum melihat Ardi yang berdiri dialat musik keyboard tersebut. Ardi Tampak tersenyum dan mengangkat kedua jempolnya.

__ADS_1


“Aisyah Istri Rasulullah.”


Arum mulai metikkan gitarnya. Ardi mulai bermain dengan musik keyboard


“Mulia indah cantik berseri Kulit putih bersih merahnya pipimu Dia Aisyah putri Abu Bakar Istri Rasulullah Sungguh sweet Nabi mencintamu Hingga Nabi minum di bekas bibirmu Bila marah, Nabi kan bermanja Mencubit hidungnya Aisyah... Romantisnya cintamu dengan Nabi Dengan Baginda kau pernah main lari-lari Selalu bersama hingga ujung nyawa Kau di samping Rasulullah Aisyah... Sungguh manis oh sirah kasih cintamu Bukan persis novel mula benci jadi rindu Kau istri tercinta ya Aisyah Humairah Hooo Hooo Hoo Mulia indah cantik berseri Kulit putih bersih merah di pipimu Dia Aisyah putri Abu Bakar Istri Rasulullah Sungguh sweet Nabi mencintamu Bila lelah Nabi baring di jilbabmu Seketika kau pula bermanja Menyikat rambutnya... Aisyah... Romantisnya cintamu dengan Nabi Dengan Baginda kau…”


Para tamu undangan tampak terpukau saat melihat Arum memetikkan gitarnya dan suaranya terdengar begitu merdu. Arum kembali memetikan gitarnya setelah mendengar permintaan Ardi yang akan membawakan lagu kenangan yang terindah dari Samsons


Aku yang lemah tanpamu


Aku yang rentan karena


Cinta yang t'lah hilang Darimu yang mampu menyanjungku


Selama mata terbuka


Sampai jantung tak berdetak


Selama itu pun aku mampu


Untuk mengenangmu


Darimu kutemukan hidupku


Bagiku kaulah cinta sejati


Bila yang tertulis untukku


Adalah yang terbaik untukmu,


Kan kujadikan kau


Kenangan yang terindah dalam hidupku


Namun takkan mudah bagiku


Meninggalkan jejak hidupku


Yang t'lah terukir abadi


Sebagai kenangan yang terindah


Darimu kutemukan hidupku


Bagiku kaulah cinta sejati

__ADS_1


Lirik lagu inilah yang menggambar kan perasaannya.


Setelah menyanyikan beberapa lagu Ardi dan Arum turun dari panggung. Mereka mendapatkan tepuk tangan meriah dari para tamu yang hadir.


*********


Ucapan selamat dari para pengunjung tidak ada henti-hentinya disambut hangat serta senyum yang di berikan Arum dan Habibi begitu juga dengan Siti, Anita dan Jhoni


“Arum,” senyum merekah terlihat dari wajah Sasa. Ia memberikan ucapan selamat serta memeluk Arum. “Selamat ya dek.”


Arum senyum. “Iya mbak Sasa.”


“Selamat ya Bro.” Wahyudi memeluk tubuh Habibi serta menepuk pundak sahabatnya tersebut.


“Thank you friend.”


“Akhirnya lu sukses juga meluluhkan hati Arum.”


Habibi senyum dengan begitu bahagia. Tamu satu persatu mulai pergi. Ardi dan teman teman-temannya mulai berpamitan


“Selamat ya mas,” sambil memegang erat tangan Habibi. “Aku percaya, mas bisa menjaga, menyayangi dan mencintai Arum. Tolong bahagiakan Arum.” Terlihat mata Ardi yang tampak berkaca-kaca. “Tolong jaga Arum.”


Habibi menganggukkan Kepalanya. “Terimakasih udah jaga Arum selama ini.”


Ardi menganggukkan kepalanya.


Arum bersusah payah menahan air matanya. Ia tidak sanggup untuk melihat Ardi. Arum bukanlah gadis yang cengeng. Namun ia begitu takut setelah ini Ardi akan menjauh dan meninggalkannya.


“Arum,” sapa Ardi.


Arum mengangkat kepalanya. Ia melihat wajah Ardi.


“Selamat ya. Mas Habibi akan menjaga dan menyayangi kamu.” Ardi memberikan senyum yang sebenarnya tidak mampu ia tunjukkan.


Arum menganggukkan kepalanya. Arum yang memperhatikan Aisah yang dari tadi selalu berada di samping Ardi. Setelah Ardi pergi Arum memandang ke Aisah.


“Dek dari tadi kakak gak ada nampak Abang Azzam. Tanya nya sama Aisah


“Itu yang duduk di pojok Sama pacarnya.” Jawab gadis kecil tersebut.


Arum dan Habibi memperhatikan arah yang di tunjukkan oleh sang adik tersebut. Ternyata benar, Azzam yang sedang duduk dengan seorang gadis seusia dengannya.


.


***************

__ADS_1


__ADS_2