
“Apa rumah sakit ini miliknya dokter Arumi,” tanya Yuli saat perawat masuk ke kamar rawatnya dan memeriksa kondisinya. Yuli begitu sangat penasaran mengingat nama rumah sakit itu itu sama dengan nama Arumi.
"Iya, ini Rumah Sakit punya dokter Arumi," ucap perawat tersebut.
“Dokter Arumi itu sangat baik ya sus," puji Yuli.
“Iya, Dokter Arumi itu sangat baik, tidak sombong, walaupun sangat kaya." perawat itu berkata dengan mengecilkan suaranya.
Yuli tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Yuli sangat kagum melihat dokter cantik namun rendah hati tersebut. "Jadi anaknya dokter Arumi 2 ya?" Tanya Yuli kemudian.
“Anak dokter Arumi hanya satu Savira sedangkan yang satu lagi itu anak adopsinya,” ucapnya.
Yuli memandang perawat tersebut. "Anak adopsi?" ucapnya.
“Iya, Rangga itu anak adopsinya dokter Arumi,” jelas perawat tersebut.
“Tapi wajahnya mirip suami dokter Arumi." Yuli seakan tidak percaya saat mendengar jawaban perawat tersebut.
“Rangga anak salah seorang pasien di sini. Pasien itu pergi meninggalkan anaknya setelah melahirkannya. Selama ini tidak ada yang mau mengadopsinya. Dokter Arumi sangat baik dan sangat menyayangi Rangga, dan pada akhirnya dokter Arumi mengadopsi Rangga. Sekarang Rangga sudah tinggal di rumah dokter Arumi,” jelasnya.
“Sebelum tinggal sama dokter Arumi, Rangga tinggal di mana,” tanya Yulia.
“Rangga tinggal di rumah sakit ini, dia memiliki kamar di sini.”
Yuli menganggukkan kepalanya. “Umur Rangga berapa,” tanyanya.
“Umur Rangga 5 tahun. Kami sangat hafal tanggal lahir Rangga. 23 April kemarin, Rangga ulang tahun yang ke 5. Setiap tahun, dokter Arumi akan mengadakan ulang tahun Rangga di rumah sakit ini. Kami selalu sediakan kado untuk Rangga. Bagi kami yang bekerja di rumah sakit ini, Rangga itu anak kami bersama," ucapnya yang bercerita dengan penuh semangat.
Air mata yuli seakan menetes saat mendengar ucapan perawat tersebut.
Yuli sudah tidak mampu lagi untuk berkata-kata. Yuli berusaha menahan tangisnya.
"Sudah selesai. Saya permisi dulu," ucap perawat yang selesai memeriksanya.
“Terima kasih sus." Yuli memandang perawat yang pergi meninggalkannya. Yuli menutup mulutnya ketika suara tangisnya akan pecah keluar. Yuli tidak mampu berbicara lagi ketika mengetahui siapa Rangga sebenarnya.
Yuli tidak ada henti-hentinya menangis. Ia begitu sangat senang ketika bisa melihat putranya tumbuh menjadi anak yang pintar dan cerdas. Wajah putranya begitu sangat tampan.
__ADS_1
Yuli tidak menyangka bahwa Rangga bukanlah anak dokter Arumi. Mengingat wajah putranya lebih mirip dengan wajah suaminya Arumi. Tidak ada sedikitpun kemiripan dengannya ataupun dengan ayah anaknya.
***
"Ayo bangun.” Habibi yang membangunkan putrinya.
"Pipi, vira masih ngantuk," keluhnya.
"Pipi nggak mau tahu. Ngantuk atau enggak, pokoknya bangun kita sholat," perintah Habibi. Ia mencium pipi putrinya.
"Pipi, Vira sholatnya nanti saja," tolak Vira yang menarik selimutnya.
"Nggak boleh ditunda-tunda." Habibi yang menggendong putrinya dan membawanya ke kamar mandi.
"Wudhu," ucapnya yang menurunkan putrinya.
Vira turun dari gendongan pipinya dan mengambil air wudhu. "Sudah Pi." Vira yang mengembangkan tangannya.
"Kakak Vira kapan besarnya ini." Habibi berkata ketika mengendong putrinya.
"Pi, mukena Vira," ucapnya yang tidak mau turun dari gendongan pipinya.
Habibi mengambilkan mukenah putrinya yang digantungkan di hanggar. Habibi mengendong putrinya menuju ruang sholat mereka.
Arum yang sudah duduk di atas sajadahnya tersenyum saat melihat suaminya yang mengendong putrinya.
"Pakai mukenahnya," ucap Habibi yang menurunkan putrinya
"Mimi pasangin mukena Vira,"pinta Vira yang memeluk mukenanya dan memberikannya kepada miminya.
Arum tersenyum dan memasangkan mukena berwarna biru tersebut. "Sayang Mimi, kapan mau pandai pasang mukena sendiri?" Tanya Arumi yang mencium pipi putrinya yang cantik.
"Di sekolah mi," jawab Vira yang menguap.
Arum tertawa saat mendengar jawaban putrinya.
__ADS_1
Habibi tersenyum memandang Rangga yang berada dibelakangnya.
Mereka salat berjamaah bersama.
Habibi merubah posisi duduknya memandang ke arah istri dan juga anak-anaknya setelah mereka selesai melakukan sholat, zikir dan do’a.
Arum tersenyum memandang suaminya, di ciumnya punggung tangan suaminya.
Habibi mencium kening istrinya. Ia juga mencium pipi kiri dan juga pipi kanan istrinya berulang-ulang kali.
"Pipi kalau cium mimi suka lama-lama,". protes Vira dengan memajukan Bibir kecilnya ke depan.
Habibi tersenyum ketika putrinya memprotesnya.
"Iya dong, pipi sayang Mimi," ucap Arum yang tersenyum memandang putrinya.
Habibi mencium kening, pipi kiri dan pipi kanan putrinya yang begitu sangat cerewet.
"Pipi cium mimi banyak-banyak, tapi Vira kenapa cium satu kali," protes Vira yang memajukan bibirnya ketika pipinya hanya mencium 1 kali.
Habibi tertawa saat mendengar si ratu protes memprotes porsi cium paginya.
Arum hanya tertawa saat memandang Vira yang yang sedang menuntut keadilan.
Habibi memeluk putrinya pria itu kemudian mencium pipi milik Vira sebanyak-banyaknya sehingga ia benar-benar puas mencium pipi putrinya tersebut. Habibi mencium kening putrinya dan juga hidung.
"Tadi kesikitan sekarang kebanyakan,” protes Vira saat merasa lemas karena pipinya menciumnya dengan sangat geram.
Habibi tertawa ketika putrinya kembali memprotesnya. "Salah lagi, salah lagi," ucapnya.
"Pipi buat Vira lemas," jawab Savira yang menghembuskannya napasnya.
Arumi mencium pipi bulat nan padat itu secara bergantian.
"Terima kasih Mimi,” ucap Rangga yang begitu sangat senang ketika dia juga dicium.
Arum Tersenyum dan menganggukan kepalanya. "Mimi sayang Rangga," ucapnya.
__ADS_1
Rangga tersenyum, dengan mata yang berkaca-kaca saat mendengar ucapan Arum.
***