Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 256


__ADS_3

Imam memarkirkan mobilnya di sebelah mobil Heri. Ia melihat sebuah butik yang begitu amat besar, Ia memandang dari dalam mobilnya, Ia melihat hingga ke atas bangunan tersebut.


Apa benar adiknya sekarang sudah jadi desainer terkenal? pikirnya.


Sepertinya pria itu tidak salah mengatakan Eka itu adiknya, namun apa benar Eka yang di katakan pria itu adiknya.


Apa benar Eka itu adik yang dicarinya?


Ia masih terus berpikir sambil duduk di dalam mobil tersebut. Ia bertanya-tanya sendiri dan begitu sangat ragu untuk bertemu dengan Eka designer busana yang terkenal itu. Bila ternyata salah, apa kah Ia harus kecewa atau justru senang. Ia masih merasa tidak percaya saat melihat butik besar yang saat ini berada di depannya. Ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga Ia tidak punya waktu untuk melihat berita infotaiment.


Ia memandang ke kaca mobilnya dan melihat Heri yang sudah berdiri sambil mengetuk kaca mobilnya.


Ia kemudian membuka pintu mobilnya dan keluar dari dalam mobil tersebut.


" Apa kamu yakin Eka yang kamu maksud adalah adikku?" tanya yang tampak begitu sangat ragu.


Ia melihat di depan parkiran butik tersebut begitu banyak mobil-mobil mewah yang berjajar.


Harry tersenyum dan kemudian menganggukkan kepalanya. " Seperti yang aku katakan tadi sama mas, mas akan bangga bila melihat Adik Mas," ucap Heri yang tersenyum tipis.


setelah Ia bertanya kepada manajer Eka, bahwa di dalam tidak ada tamu Heri membuka pintu ruangan calon istrinya tersebut.


Heri melihat wanita cantik yang duduk di meja kerjanya, wanita itu begitu sibuk dengan pensil di tangannya hingga tidak menyadari kedatangan nya.


" Assalamu'alaikum," ucap Heri.


Eka mengangkat kepalanya dan kemudian tersenyum. " Waalaikum salam , masuk Mas," jawabnya.


Heri masuk kedalam yang di ikuti imam dari belakang.


Eka memandang pria yang berjalan di belakang Heri. Ia langsung berdiri dari tempat duduknya saat Ia melihat dan meyakini bahwa orang itu adalah saudara kandungnya.


Imam melihat adiknya itu, Ia kemudian berlari memeluk adiknya Begitu juga dengan Eka ya langsung berhambur memeluk tubuh abangnya yang tinggi tersebut.


Eka menangis sambil memeluk saudara laki-laki nya.


Imam menangis saat memeluk adiknya tersebut. " Maafin Mas Dek, Mas gagal jagain kamu. Mas gagal jadi Abang yang baik untuk kamu, mas gagal melindungi kamu," ucapnya yang semakin mempererat pelukannya di tubuh adiknya.


Eka memeluk imam dan kemudian Ia menggelengkan kepalanya. " Eka yang salah mas," jawabnya.


" Andainya waktu itu mas langsung datang menemui kamu, mungkin semuanya tidak akan seperti ini," sesalnya.

__ADS_1


Eka menggelengkan kepalanya " Gak mas, gak apa-apa. Semuanya memang salah Eka, Eka yang terlalu bodoh dan terlalu percaya sama orang itu," Eka ucapnya kepada abangnya tersebut.


Imam semakin mempererat pelukannya Ia menangis sambil memeluk adiknya.


Setelah puas Ia melepaskan semua sesak yang ada di dadanya Ia kemudian duduk di depan kursi adiknya. Ia melihat adiknya yang sudah sangat jauh berbeda. Adiknya sudah tidak berpenampilan seksi seperti dulu lagi. Ia tersenyum memandang adiknya tersebut.


" Mas suka melihat penampilan kamu yang sekarang," ucap nya.


" Sudah 5 tahun Eka berbusana syar'i mas," jawab nya


" Kamu begitu sangat cantik," pujinya.


Heri sudah lebih dulu duduk di kursi yang ada di sebelah Imam. Walaupun sikapnya terlihat begitu sangat santai namun jauh di lubuk hatinya Ia begitu sangat sedih melihat pertemuan kakak beradik yang begitu sangat mengharukan. Ia sangat bersyukur karena masih ada keluarga dari calon istrinya yang memperdulikan calon istrinya . Ia berharap kehadiran Abang kandung Eka bisa membangkitkan kan kepercayaan diri Eka kembali.


" Mas Heri kemarin bilang mau cari Mas Imam, tapi dia gak cerita kalau dia sudah, jumpa sama mas," ucap Eka yang memandang calon suaminya tersebut.


Imam tersenyum ." Iya kami baru berjumpa siang ini. Heri baru menghubungi mas pagi tadi dan Heri langsung bawa Mas kesini," ucapnya


Eka Memandang Heri, Ia tersenyum memandang pria yang akan menjadi suami itu. " Makasih ya Mas," ucapnya.


Heri hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


" Jadi sekarang Daffa di mana?" tanya kepada adiknya.


" Daffa di rumah Mas tadi sepulang dari sekolah Mas Heri langsung antar dia pulang ke rumah," ucapnya yang mengusap air matanya.


" Mas ingin jumpa sama orang yang sudah bantuin kamu. Mas ingin langsung mengucapkan terima kasih kepada mereka," ucap Imam.


Eka tersenyum dan menganggukkan kepalanya. " Nanti kita akan ke rumahnya," ucapnya.


"Mas minta maaf gak bisa datang cepat waktu itu, ucap imam yang mengehentikan kalimat nya, Ia Diam cukup lama.


" Seandainya waktu itu Mas cepat datang menemui kamu mungkin semuanya tidak akan seperti ini. Kamu tidak akan melewatkan masa sulit itu sendirian," ucapnya sambil menangis. Disaat kondisi adiknya yang seperti itu, hanya dukungan dari keluarga yang sangat di butuhkan nya.


" Eka memang pantas mendapatkan nya mas, jadi gak apa-apa," ucapnya.


Imam mengusap kepala adik nya.


" Aku minta maaf ya, aku harus kembali ke kantor," ucap Heri yang memberi waktu agar mereka bisa saling melepaskan rindu satu sama lain. Agar mereka lebih bebas untuk bercerita.


Imam menganggukkan kepalanya. " Terimakasih Heri, terimakasih. Kalau bukan karena kamu. mungkin aku tidak akan pernah berjumpa dengan adik ku," ucapnya.

__ADS_1


Heri mengangukan kepalanya.


" Mas nanti ke sini lagi?" tanya Eka.


" Iya nanti mas ke sini," ucapnya yang kemudian berpamitan dan pergi meninggalkan ruangan tersebut.


" Gimana ceritanya mas bisa seperti sekarang," ucap Eka yang memandang Abang nya itu. sebagai seorang designer busana, Ia sudah bisa menebak harga stelan jas yang di pakai Abang nya itu.


" Waktu Mas diusir Bapak sama Ibu dari rumah, Mas masih bekerja di supermarket. Namun ada teman Mas yang ngajak Mas untuk merantau ke Jakarta. Mas ikut dengan teman Mas itu merantau ke Jakarta. Teman Mas itu sudah bekerja dan selama Mas mencari kerja, mas menumpang di kos-kosan nya. Mas dapat pekerjaan di perusahaan asing HFO yang mana Mas diterima bekerja sebagai OB (office boy). Setelah beberapa bulan mas bekerja dan menabung uang. Mas mendaftar untuk di universitas swasta yang terbaik. Mas mencari biaya SPP yang cukup ringan, namun karena yang mas ambil kelas Eksklusif, yang mana Mas kuliah malam. SPP nya hampir 3 kali lipat dari pada mahasiswi kelas reguler. Pagi hingga sore Mas kerja malam mas kuliah. Pada waktu itu mas gak sanggup membawa kamu tinggal bersama Mas, karena untuk diri mas sendiri aja gak cukup. Mas tau kamu ada di Jakarta. untuk menemui kamu aja gak punya uang.


Mas membayar uang SPP kuliah Mas Kemudian Mas juga harus nge-print tugas copy tugas, Membeli buku, dan copy buku. sehingga uang Mas memang sangat tidak cukup untuk yang lain.


Selama bekerja dan kuliah Mas nggak pernah naik gojek. Mas pergi kerja ataupun pergi kuliah selalu berjalan kaki, dari kos-kosan menuju kantor dari kantor menuju kampus dan dari kampus menuju kos-kosan mas tidak pernah naik gojek. Mas anggap saja mas olahraga, walaupun jarak nya cukup jauh. Mas berjalan kaki lebih dari satu jam 40 menit karena jarak nya yang cukup jauh.


Bukan nya mas tidak mau untuk membeli sepeda, namun bagi mas sepeda itu barang mewah. Bahkan untuk membeli sepatu saja, mas baru dapat membeli karena sudah menabungkan uangnya selama 3 bulan agar bisa membeli sepatu yang murah. Mas membeli sepatu karena sepatu mas sudah koyak-koyak, tapaknya sudah bolong. Kaos kaki yang mas pakai juga bolong. Saat mas berjalan kulit kaki sudah langsung menyentuh aspal, terkadang kulit kaki mas luka-luka dan kapalan. ucapnya yang membuka sepatu nya di depan adiknya. Ia kemudian membuka kaos kaki nya dan melihat kan telapak kakinya . kulit telapak kakinya yang keras karena kapalan. Eka memegang telapak kaki Abang nya.


Imam tersenyum. " Ini bukti perjuangan mas dek Yang akan mas tunjukkan kepada bapak dan juga ibu, bahwa mas berhasil karena perjuangan mas," ucap nya tersenyum tipis.


Eka diam saat mendengar cerita Abang nya itu. Air matanya masih terus menetes.


" Mas juga selalu membawa bekal Dan botol air mineral dari kos-kosan. Mas akan membawa bekal telur mata sapi , telur dadar atau mungkin sayur bening, kalau tidak tahu atau tempe. Terkadang mas juga makan hanya dengan kerupuk saja. Rasanya itu sudah sangat cukup, Yang terpenting ada nasi untuk di makan. Kalau tidak ada lauk dan sayur mas akan pakai garam. Selama 4,5 tahun mas tidak pernah makan ikan atau pun ayam. Mas selalu membawa bekal agar tidak pergi ke kantin untuk mencari makan siang.


untuk makan malam masakan makan di kos-kosan setelah Mas pulang kuliah," ucapnya. Ia kemudian diam.


" Selama 4,6 tahun Mas menjalani rutinitas seperti itu. Mas tidak pernah membeli apapun termasuk pakaian. untuk kuliah terkadang Mas memakai baju kerja mas yang dari perusahaan yang ada tulisan OB di belakangnya. Setelah Mas menyelesaikan kuliah, di perusahaan tempat Mas bekerja membuka lowongan pekerjaan untuk karyawan. Mas ikut melamar dan ternyata Mas lulus dengan nilai tertinggi. Mas langsung ditempatkan di posisi asisten direktur keuangan, yang mana mas yang membantu wakil direktur keuangan untuk membuat pembukuan keuangan dan sebagainya. Mas bisa menduduki posisi itu karena sesuai dengan jurusan akuntansi keuangan yang mas ambil. Sehingga saat mas melamar, mas lulus dengan nilai tertinggi, pihak perusahaan sudah mengetahui tentang kepribadian serta tanggung jawab mas dalam bekerja. Mas juga termasuk OB yang terrajin, sehingga perusahaan meletakkan mas di posisi yang sangat bagus. Begitu banyak karyawan di sana yang terkejut saat melihat Mas yang sudah langsung naik jabatan. Sebagai asisten wakil direktur keuangan Mas memang bekerja membantu wakil direktur dalam menyelesaikan keuangan perusahaan. Mas mulai mendapatkan gaji yang cukup tinggi dan kemudian mulai melanjutkan lagi ke S2. saat Mas sudah selesai S2 wakil direktur yang biasa menjadi bos mas itu dipindahkan ke perusahaan induk dan saat ini mas menjabat sebagai wakil direktur keuangan di perusahaan yang sekarang masih bekerja," ucapnya.


"Mas hebat, mas keren," ucap Eka yang begitu kagum dengan Abang nya itu.


" Setelah Mas menghubungi kamu, beberapa minggu Setelah itu, mas datang ke kos-kosan yang kamu berikan alamatnya. Namun ternyata kamu sudah tidak ada lagi di sana. teman-teman kamu mengatakan bahwa kamu pergi tanpa ada permisi kepada merekam. Waktu itu mas sangat panik. Mas mencoba bertanya dengan teman-teman yang ada di kampung. namun mereka tidak melihat kamu. Mas sampai berpikir bahwa kamu mungkin sudah meninggal atau pun mengalami kecelakaan dan sebagainya. Mas pergi ke rumah sakit untuk melihat dan mencari keberadaan kamu, apakah kamu ada di rumah sakit itu atau tidak. Setiap mayat Mas lihat satu persatu Namun ternyata kamu gak ada di antara mayat-mayat yang ada di kamar mayat itu. Mas melihat korban-korban kecelakaan yang tidak memiliki identitas dan tidak memiliki keluarga, namun tetap juga tidak ada di kamu diantara nya. Mas pergi ke kantor polisi untuk mencari tau apa kamu ada di kantor polis. Apa mungkin kamu sudah melakukan kriminal, di sana?


Namun juga mas tidak menemukan catatan kejahatan kamu. Pada akhirnya Mas pasrah setelah berbulan-bulan Mas mencari. Mas hanya berharap kamu baik-baik saja," ucap Imam yang mengusap kepala adiknya.


Eka memandangnya dia mengusap air matanya. " Eka di usir Bapak sama Ibu dari rumah mas saat Eka mengatakan Eka hamil. Waktu itu mereka ngusir Eka malam-malam. Eka pergi dari rumah tanpa membawa hp, hp Eka waktu itu Eka tinggal di kamar. Eka juga tidak bawa uang sepeserpun, Eka juga nggak pakai sendal. Waktu itu hujan sangat lebat petir menyambar-nyambar Eka berjalan sendirian di tengah jalan dengan kondisi yang sudah sangat malam. Eka sangat takut dan tidak tau entah ke mana. Malam itu tidak ada satu mobil pun yang melintas. Eka sudah berencana untuk menabrakkan diri di mobil yang lewat. Eka berhenti di depan masjid, Eka tidur di masjid tersebut ucapnya.


ucapnya menagis. Ia seperti anak kecil yang sedang mengadu kepada bapak nya.


Imam tersenyum memandangnya. " Keluarga kita tidak sama dengan keluarga orang lain, orang memiliki kedua orang tua begitu sangat sempurna. Mereka bersusah payah untuk berjuang mensukseskan anak-anak mereka tanpa menuntut apapun dari anak mereka. Namun orang tua kita memaksa anaknya untuk sukses dan dan memenuhi semua yang mereka minta. menuntut hal yang besar yang terkadang anaknya sendiri tidak mampu melakukannya," ucap imam yang sangat mengerti seperti apa sifat orang tuanya.


mereka tidak ada henti-hentinya bercerita menceritakan apa yang mereka alami selama 8 tahun tidak berjumpa.


****

__ADS_1


jangan lupa Like komen dan votenya ya reader. Terimakasih atas dukungan nya.


__ADS_2