
Roni tampak tidak tenang di ruangnya. Bagaimana mungkin korupsi yang di lakukan Roni sekian lama bisa di curigai Jhoni . Roni sudah menjabat sebagai kepala keuangan di perusahaan ini. Roni harus berfikir untuk menyelamatkan dirinya. Bagaimana Jhoni bisa mencurigai masalah keuangan. Jelas-jelas dia sudah bekerja serapi dan sehalus mungkin tanpa akan ketahuan dan menimbulkan kecurigaan. Sudah sekian lama dia mengelapkan uang perusahaan. Saat ini bagian cara agar dia bisa melepaskan diri dari kasus ini. Roni meninju meja kerjanya dengan sangat keras. Dia harus menemukan caranya sebelum besok.
******
Candra dan Arman juga benar-benar tidak tenang, mereka grusak grusuk tak jelas. Mondar mandir seperti setrika.
“Bagi mana sekarang,” Arman mulai mencari solusi. Berharap Candra memiliki jalan untuk menyelamatkan mereka
“Aku gak tau apa yang harus kita lakukan.” Kata Candra.
“Kalau sempat perusahaan minta uang ganti rugi, jujur aku gak sanggup untuk mengembalikan uang perusahaan yang sudah kita gelapkan selam ini. Perusahaan pasti akan memenjarakan kita.” Balas Arman.
“Aku gak mau hidup aku berakhir di penjara,” tampak ketakutan di mungka pucat Candra. .
“Miting kita besok. Agar tidak ada yang memperhatikan kita. Malam ini kita harus sudah melarikan diri. Uang-uang aku, sudah aku amankan. Aku membuka rekening atas nama saudara-saudara ku.” Kata Arman. “Rumah, aku sudah membuat akta jual beli.” Arman yang sudah memprediksi hal tersebut akan terjadi. Sudah jauh-jauh hari melakukan pengamanan terhadap harta serta uang-uang nya di bank. Dengan harapan, apa bila terjadi sesuatu dia bisa kabur dengan mudahnya dan memiliki uang untuk membuka usaha.
Candra terdiam. Karena dia tidak memikirkan hal tersebut. Namun dia akan ke bank untuk menarik uangnya semua di bank. Masalah rumah, dia lebih memilih meninggalkannya dari pada harus di penjara.
“Kita harus tinggalkan Jakarta secepatnya. Sebelum mereka mencurigai kita. Aku harap kamu tidak menyampaikan rencana kita kepada si Roni ya Can.” Kata Arman.
“Aku tidak akan memberi tahu kan Roni. Dia harus tinggal di sini untuk mempertanggung jawabkan ini semua. Kalau ada yang harus di korban kan, itu adalah Roni.” Balas Candra.
*******
Arum membawakan secangkir kopi hangat untuk Habibi yang ditaruhnya di atas meja. Arum masih sedikit canggung bila bersama dengan Habibi. Apa lagi berada dalam ruangan yang sama membuat Arum sedikit tidak nyaman. Habibi sedang memeriksa berkas-berkas yang tersusun di atas mejanya. Berkas keuangan perusahaan yang terjadi kebocoran. Selama ini Jhoni kurang teliti terhadap data-data keuangan tersebut. Habibi yang menyelesaikan master menejemen keuangan di salah satu universitas terbaik Kanada dengan predikat sangat memuaskan, sudah pasti lebih jeli dalam menganalisis keuangan perusahaan. Sebelum Habibi menjabat menjadi direktur utama, Habibi sudah menemukan kecurangan-kecurangan dalam anggaran pengeluaran yang sama sekali tidak pernah ada. Namun Habibi masih mengumpulkan bukti-bukti dan berkas-berkas terkait dengan kucuran angaran siluman yang di lakukan Roni dan kawan-kawannya selaku kepala keuangan. Data-data yang lain sepertinya sudah di lenyapkan oleh Roni. Data yang masih tersimpan hanya 5 tahun terakhir.
Arumi memperhatikan Habibi yang terlihat sangat tampan dengan tampilan yang terlihat begitu sempurna di tengah kesibukan yang sedang di kerjakannya. Arumi menyadari apa yang ada di kepalanya sehingga membuat dia malu dan menundukkan kepalanya. Bagaimana bisa dia memperhatikan seorang pria.
“Arum,” Arum langsung terkejut mendengar Habibi memangilnya.
“Iya mas,” Arum menjawab dengan cepat. Ya Allah semoga dia gak lihat Arum yang memperhatikan nya.
“Kamu bisa bantu mas?”
“Bantu apa?”
“Ini berkas-berkas yang ada, coba kamu cocokkan dengan data yang ada di komputer.”
“Baik mas.”
__ADS_1
“Tuk....tuk....” terdengar suara ketukan pintu.
“Masuk,” teriak Habibi.
Sasa membuka pintu ruangan Habibi. “Maaf pak sudah jam istirahat makan siang. Apa bapak mau keluar atau saya pesan kan makan siang?”
“Pesankan saja. Saya sedang banyak pekerjaan. Jadi saya makan di sini aja. Pesan untuk 2 porsi.”
“Baik pak.” Setelah memesankan makan siang Sasa pergi istirahat makan.
Mereka baru berhenti setelah makan siangnya sampai. Arumi menata makanan tersebut di meja kaca. Setelah selesai menatanya mereka mulai makan. Mereka makan berdua di ruangan tersebut. Setelah selesai makan, langsung melanjutkan pekerjaannya. Habibi sengaja tidak meminta pegawai akunting untuk membantunya agar Roni tidak mengetahuinya dan mencoba untuk kabur. Akhirnya pekerjaan mereka selesai juga. Habibi tersenyum dengan penuh kemenangan. Telah berhasil mengumpulkan data-data yang ada.
“Kita langsung pulang mas?”
“Iya rum kita langsung pulang aja. Ada hal penting yang ingin mas bahas dengan papi.”
“Baik mas,” seperti biasa Arumi mengambil tas Habibi.
“Gak usah. Mas aja yang bawak sendiri.”
“Arum aja mas,” dan pada akhirnya mereka saling tarik menarik tas yang di pegang Habibi. Habibi tidak mau melepaskan kan tas tersebut dari tangannya dan Arumi tetap memaksa mengambil tas tersebut.
Arumi sangat terkejut, dia langsung memegang tangan Habibi. “Maaf mas, maaf, Arum gak bermaksud.”
“Udah gak apa. Kuat sekali tenaga kamu. Kamu makan apa?” Habibi menatap wajah Arumi.
Arumi merasa sedikit malu dan benar-benar merasa menyesal. “Arum makan yang biasa-biasa aja mas.” Menjawab dengan polosnya.
“Ya udah ayo cepat. Mas udah di tunggu papi.”
“Iya mas.”
*******
“Selama di sini, apa kamu belum pulang kampung Rum?”
“Belum mas. Rencananya kalau ada libur. Arum akan pulang kampung.”
“Apa kamu gak ada rencana bawa ibuk serta adik-adik kamu ke sini.” Tanya Habibi.
__ADS_1
“Ada mas, tapi mungkin nanti.” Balas Arum.
Arum tampak masih sangat polos seperti gadis-gadis seusianya. Hanya saja dia di tuntut untuk dewasa dan mandiri.
“Apa kamu gak punya keluarga di sini?”
“Gak ada mas.”
Mobil sudah memasuki halaman rumah Habibi. Setelah memarkirkan mobil. Arum pamit pulang.
“Kamu mau di antar pak Diman, Rum?”
“Gak usah mas. Arum naik taksi aja. Itu taksi nya udah nunggu.” Arum melihat mobil yang terparkir di depan pagar rumah Habibi.
“Ya udah. Hati-hati ya.”
“Iya mas.”
******
Arum baru selesai mandi dengan mamakai daster selutut berwarna pink dengan motif bunga sambil melilitkan handuk di rambutnya yang basah.
“Tuk...tuk...” terdengar ketukan pintu di kamar kos Arumi.
Arum terdiam saat ada yang mengetuk pintu kamarnya, mungkin teman-teman baru yang di kamar sebelah. Karena merasa yang datang hanya perempuan Arum tidak mengambil jilbabnya dan langsung membuka pintu kamarnya. Arum langsung terdiam saat di lihatnya yang berdiri di depan pintu kamarnya Androw. Mata Androw tidak berkedip melihat Arumi yang memakai daster. Namun Arum cepat sadar akan penampilannya sehingga dia langsung menutup pintu kamarnya dengan keras dan langsung mengganti baju serta memakai jilbab sorongnya.
“Mengapa bule itu datang lagi, tanpa pemberitahuan lagi.” Kesal Arum
********
ini visual androw Smit.
Kivanc Tatlitug adalah salah satu bintang di Turki
__ADS_1