
“Ibu, dengarkan Arum. Arum gak hamil bu. Arum juga gak mau nikah. Arum datang ke sini untuk jemput ibu dan adek-adek ke jakarta. Kita bisa kumpul kembali bu. Maafin Arum bu. Gak kasih ibu kabar. Arum hanya ingin buat kejutan untuk ibu.” Sambil memeluk ibunya dan menghapus air mata ibunya dengan jarinya.
“Ya allah nak, ibu lega mendengarnya. Ibu takut kamu berbuat yang tidak-tidak nak. Di sana Arum hanya seorang diri. Tidak ada yang menjaga, tidak ada yang mengingatkan. Ibu benar-benar takut. Kamu seperti gadis-gadis remaja lainnya. Yang sibuk pacaran sampai pada akhirnya hamil.”
Arum terdiam saat mendengarkan apa yang di sampaikan ibunya. Lidah Arum kaku. Betapa kecewanya ibu seandainya tahu apa yang dilakukannya. Arum merasa malu dengan dirinya sendiri. Ia yang sudah beberapa kali melakukan ciuman dengan mas Bibi. Bukanya dia menjauh, bahkan Arum menerima ciuman itu. Serta menikmatinya. Arum yang sudah mulai merasakan cinta nya kepada Habibi, membuat ia tak mampu untuk menolaknya. Pikirnya berusaha menolak. Namun tubuhnya memaksa untuk menerima.
“Bu, kita ke Jakarta ya besok.”
“Ngapain ke Jakarta nak.”
“Kita pindah ke Jakarta bu.”
“Tapi adek-adek kamu sekolah nak.”
“Sekolahnya, pindah ke Jakarta bu.”
“Kenapa kamu gak kasih tau nak. Biar ibu bisa mengurus surat pindahnya.”
“Gak usah bu. Semuanya pak Habibi yang akan mengurusinya. Ibu siap-siapkan barang yang mau di bawa ya. Ibu bawa yang penting-penting aja bu. Seperti baju-baju dan surat-surat yang penting. Barang-barang yang masih bagus kita kasi ke tetangga dan yang tidak bagus kita bakar.” Kata Arumi menjelaskan.
“Kapan kita ke Jakarta nak?”
“Besok bu. Hari senin Arum dah kerja dan pak Habibi juga sibuk bu.”
“Kenapa bisa kamu sama bos kamu nak.”
“Nanti aja Arum cerita.”
“Ya sudah, kamu keluar. Cepat buatan minum.”
“Iya bu.”
“Ingat ya nak. Kamu gak muhrimnya pak Habibi. Jadi jangan duduk berdekatan, pegang tangan dan bahkan sampai cium-ciuman.”
“Iya bu.” Sambil menunduk.
Arum keluar dari kamar dan membuatkan teh hangat untuk Habibi.
“Ini mas. Mas, Arum mau cek ke dapur dulu ya. Ibu masak apa.”
“Iya.”
Habibi masih duduk ditempatnya. Ibu keluar dari kamar.
__ADS_1
“Pak Habibi. Maaf saya gak tau kalau pak Habibi akan ke sini. Jadi saya gak sempat buat apa-apa.”
“Iya buk. Gak apa. Gak usah panggil saya bapak buk. Panggil saja Habibi.”
“Baiklah nak Habibi.”
“Buk, apa saya boleh ke dapur sebentar, bicara dengan Arum.”
“Silahkan nak.”
Habibi yang menuju ke dapur di ikuti oleh ibu Siti dibelakangnya.
“Dek, yang kamu bawa tadi gak di turunkan?”
“Oh iya mas, Arum lupa. Kunci mobil nya mana?”
“Ini dek.”
Arum mengambil kunci mobil yang di pegang Habibi. Habibi duduk di meja yang ada di dapur. Tak lama Arum kembali masuk dengan membawa kue serta buah-buahan di tangannya dan beberapa oleh-oleh cirikhas jakarta.
“Bu, adek-adek pulang jam berapa?”
“Sebentar lagi nak. Hari ini sabtu. Jadi cepat pulang.”
Kemudian Arum membuat telor dadar. Arum takut Habibi tidak suka. Dikampungnya tidak ada restoran atau juga warteg. Terdengar suara Azzam dan aisah pulang sekolah.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Kedua anak itu masuk. Matanya langsung menuju ke kakaknya.
“Kak Arum.” Suara cempreng yang melengking tersebut, seketika langsung memenuhi setiap sudut rumah.
“Adek.” Arum mengembangkan tangannya.
Aisah langsung berhemburan untuk memeluk sang kakak yang sudah sangat di rindukannya.
“Kakak, Ica rindu.” sambil menangis memeluk kakaknya.
“Udah adek jangan sedih gini dong. Masak sih, katanya sudah punya pacar. Tapi kok masih cengeng.”
“Kakak jangan keras-keras ngomongnya. Ketahuan ibu bisa habis Ica di hajar. Sambil berbisik.
__ADS_1
“Anak kecil gak boleh pacaran.”
“Iya ica tau kak. Udah ica putusin kak.”
Suara bisikan dua gadis tersebut begitu jelas terdengar. Habibi senyum-senyum mendengarnya. Sambil geli sendiri, bayangin anak kecil pacaran.
“Udah kelamaan kamu dek.” Kata Azzam sambil menggeser badan adiknya.
“Bang, ica masih kangen dengan kak Arum.”
Azzam memeluk kakaknya. “Bagaimana kabar kakak.”
“Alhamdulillah baik adek kakak yang tamvan gimana kabarnya?”
“Alhamdulillah baik kak. Bagaimana pekerjaan kak di sana?”
“Alhamdulillah baik semua dek.”
“Apa kakak bisa menjaga diri di sana?”
“Bisa. Kamu masih meragukan kemampuan kakak?”
“Tidak sih kak.”
Azzam yang tampak dewasa dalam berfikir. Bahkan dia seperti seorang ayah yang berkewajiban melindungi 3 wanita kesayangannya. Pria yang berusia 13 tahun yang saat ini duduk di kelas 1 SMP. Kulit putih, tubuh cukup tinggi untuk usianya dan wajah yang ganteng.
Tiba-tiba saja lengan baju Arum di tarik-tarik.
“Ada apa sih dek?” Tanya Arum.
“Kak, kok di sini ada cowok ganteng kak? Itu siapa kak?”
Sambil melihat ke arah Habibi.
“Itu bos kakak.”
“Ganteng banget kak.”
“Jangan kamu dekatin. Itu calon suami kak Arum,” kata Azzam.
“Kalian ngomongin apa sih dek.”
Habibi hanya senyum-senyum melihat 3 orang kakak beradik tersebut.
__ADS_1
Ibu yang tidak ada hentinya, senyum menghiasai bibirnya yang tampak sudah mulai ada garis-garis halus di wajahnya yang masih terlihat cantik.