
"Mas lupa," ucap Habibi yang berpindah berbaring di sebelah putrinya.
"Lupa apa?" tanya arum.
"Lupa cium si genit," ucapnya yang mengusap rambut putrinya dan di ciumnya kening putrinya. Di lihatnya putrinya yang sedang memeluk 2 buah boneka. "Tumben mainkan boneka Barbie yang jarang mandi dan sisir rambut," ucapnya. Memang seperti itu putrinya mengatakan Boneka tersebut.
Rambut panjang boneka itu di biarkan lepas begitu saya tanpa aturan. Biasanya Aisah yang selalu menyikat kan rambut boneka tersebut. Namun sekarang Aisah sudah tidak ada di Indonesia hingga rambut boneka yang panjang itu berserak tidak beraturan.
"Iya katanya rindu aunty," ucap Arum.
"Apa hubungannya dengan Boneka," ucap Habibi yang berbisik dengan istrnya.
"Yang Tedy bear namanya Ardi, yang Barbie itu namanya Aisah," ucap Arum
Habibi tidak tahan untuk tidak tertawa saat mendengar ucapan Istrinya. Ia berusaha menahan ketawanya agar tidak membangunkan putrinya. "Mas beneran sakit perut," ucapnya.
Arum juga tadi ketawa dengarnya. Boneka Barbie nya begitu sangat banyak, bahkan sangat cantik-cantik. Dianya malah ngasih yang jelek itu namanya Aisah," ucap Arum.
"Bisa nagis Aisah kalau tau," ucap habibi.
"Arum tanya alasannya," ucap Arum.
"Apa alasannya?" ucap Habibi yang berpindah posisi di belakang Istrinya.
"Katanya, Vira mau aunty Aisah jadi yang paling cantik," ucap Arum
Habibi membulatkan mulutnya. "Vira kenap nagis?" ucapnya.
"Katanya rindu aunty Aisah," jawab Arum.
"Tumben Jerry rindu Tom," ucap Habibi
mendengar ucapan suami namun ia kemudian diam.
"Ada apa," ucap Habibi yang melingkarkan tangannya di pinggang istrinya.
"Arum jadi kepikiran Aisah," ucapnya.
"Kenapa?" tanya Habibi.
"Gak biasanya Vira nagis bilang rindu sama Aisah," ucapnya.
"Kalau ada apa-apa Ardi telpon ke sini. Besok coba aja di telpon," ucapnya.
Arum menganggukkan kepalanya.
"Pindah kamar ya sayang," ucapnya.
Arum mengelengkan kepalanya. "Kenapa?" tanya Suaminya. "Arum belum dapat," ucapnya.
"Sudah di cek?" tanya Habibi. Terlihat pria itu begitu sangat berharap.
Arum mengelengkan kepalanya.
"Kenapa Belum di cek?" tanyanya.
"Gak berani," jawabannya.
"Mas temani," Ucapnya.
"Baru telat 2 hari," Ucapnya.
"Cek ya sayang, alat tes Kehamilannya di mana?" tanya Habibi.
"Di dalam laci," ucap Arum.
Habibi duduk dan langsung mengambil alat tes kehamilan tersebut.
"Mas," ucap Arum yang memegang tangan Suaminya.
"Apa sayang?" ucap Habibi.
__ADS_1
"Kalau gak positif gimana?" tanyanya.
"Usaha lagi," ucap Habibi.
"Tapi gak program ya, Arum capek program," ucapnya.
Habibi memeluk istrinya dan mencium bibir istrinya. "Iya usaha kita berdua sambil berdoa," ucapnya.
Arum sedikit senyum dan menganggukkan kepalanya
"Mas temani?" ucapnya menawarkan.
Arum menggelengkan kepalanya. "Arum sendiri aja," ucapnya.
Habibi menganggukkan kepalanya dan menunggu istrinya di atas tempat tidur.
Dengan kaki yang terasa berat Arum berjanan ke kamar mandi dan masuk ke dalam kamar mandi
Wanita itu duduk di atas closet duduk sambil memegang alat tes kehamilan dan wadah kecil yang berisi air seni di tangan nya, wajahnya tertunduk lemas.
Habibi memandang kearah kamar mandi namun istrinya tidak juga keluar. Cukup lama ia menunggu dan pada akhirnya pria itu memutuskan menyusul istrinya.
Habibi masuk ke dalam kamar mandi dan melihat istrinya yang duduk di closet dengan wajah yang tertunduk. Bahkan Istrinya tidak menyadari bahwa dia ada di sana. "Kenapa sayang?" tanyanya.
" Maafin Arum?" ucapnya dengan nada yang terdengar sangat lemah.
"Kenapa?" ucap Habibi.
"Arum cuma telat biasa," ucap nya.
"Sudah di coba?" tanya habibi.
Arum mengelengkan kepalanya.
Habibi mengambil alat tes kehamilan di tangan istrinya dan mencelupkan alat tes kehamilan kedalam air seni yang di pegangnya.
Habibi diam memandang alat tes tersebut. Di masukkan nya alat tes tersebut kedalam tong sampah. Di gendongnya Istrinya yang duduk lemas di atas closet.
Arum hanya diam saat suaminya mengendong nya tanpa mau bertanya apa hasilnya. Arum hanya memejamkan matanya dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya.
Habibi merebahkan tubuh istrinya di atas tempat tidur. Ia tau saat ini istrinya sedang menagis di saat usaha mereka kembali sia-sia. Habibi melihat istrinya yang berusaha menutupi tangisnya. Istrinya tidak mau memandang ke arahnya dia memandang ke arah yang berlawanan. Dipegangnya kedua belah pipi istrinya dan menatap mata istrinya yang sudah meneteskan air mata. Diusapnya air mata istrinya dan di ciumnya bibir istrinya dengan sangat lembut. "Sekuat apapun kita meminta, seperti apapun usaha yang kita lakukan, kalau memang belum rezeki kita, ya Kita tidak bisa berkata apa-apa. Allah lebih tahu kapan waktu yang tepat dan bila seandainya kita memang tidak dikasih bonus tambahan itu artinya kita hanya dipercaya untuk menjaga dan mendidik satu anak saja. Mas sudah sangat bahagia dengan kehadiran Vira dan Rangga," ucapnya.
Arum memandang suami dan menangis sambil memeluk suaminya. "Tapi Arum udah capek programnya," ucapnya.
Habibi diam dan mengusap kepala istrinya. Terakhir kali mereka program Inseminasi.
Namun masih tetap juga tidak membuahkan hasil.
"Mas kecewa ya?" tanya.
Habibi mencium bibir istrinya."Gak lah sayang ngapain kecewa ucapnya. Kita masih bersyukur udah punya satu bidadari kecil.
Arum memandang suaminya. "Beneran gak kecewakan?" ucapnya.
"Iya beneran," jawab Habibi yang mencium bibir istrinya dan menarik celana yang di pakai Istrinya.
Arum membesarkan matanya."Mas mau apa?
tanyanya.
"Nanti mas bakalan lama libur Jadi sekarang mau lembur,_ ucapnya.
Arum tersenyum memandang suaminya. "Mas Arum lagi sedih," ucapnya.
"Iya sayang, mas tau. Ini mas lagi berusaha untuk menghibur," ucapnya yang sudah melepaskan celana piama Istrinya.
***
Arum duduk di dalam ruangannya dan pikirannya tidak ada henti-hentinya memikirkan adik bungsunya. Diambilnya ponselnya dan menghubungi Aisah melalui panggilan video call.
"Halo assalamu'alaikum," ucap Aisah saat menjawab panggilan telepon yang masuk dari kakaknya.
__ADS_1
"Waalaikum salam, Adek apa kabar?" tanya Arum.
"Kabar Ica baik, kakak sehat?" tanya Aisah.
"Kaka sehat. adek beneran gak lagi sakit?" tanyanya yang melihat wajah adiknya terlihat pucat.
Aisah menganggukkan kepalanya. "Ica sehat kok," ucapnya.
"Kenapa pucat?" tanya Arum.
"Ica lagi haid jadi perut Icha sakit," ujarnya.
Arum menganggukan kepalanya. Ia tau bahwa adiknya akan mengalami nyeri haid di hari-hari pertama. Arum sangat lega saat mengetahui kondisi adiknya yang ternyata baik-baik saja.
"Kakak di mana?" tanya Aisah.
"Lagi di rumah sakit," jawab Arum
"Ica mau nelpon kan Vira," ucapnya.
"Iya adek telepon aja Vira, semalam dia nangis katanya rindu Adek," ucap Arum.
Aisah diam saat mendengar ucapan kakaknya. Aisah memajukan bibirnya ke depan. "Tumben," ucapnya.
"Iya semalam dia nangis mau tidur Katanya rindu Adek sambil bawa boneka nya yang malas mandi," ucap Arum.
Aisyah tertawa saat mendengar ucapan kakaknya. "Itu bonekanya yang malas mandi dikasih nama Aisah," ucapnya.
"Adek tahu ya?" tanya Arum.
"Iya Vira jahil dan tega," ucap Aisah.
"Tapi adek bener nggak sakit kan?" tanya Arum yang masih mencemaskan adiknya.
"Iya cuma sakit haid aja," jawab Aisah.
"Syukurlah kalau gitu, kakak cemas aja," ucapnya.
Aisah tersenyuman mendegar ucapan kakaknya. "Kak Ica rencana mau kuliah di sini," ucapnya.
"Apa Ardi yang minta?
Ardi mana?" tanya Arum.
"Iya bang Ardi yang minta. Bang Ardi lagi ke kampus ketemu sama profesornya" jawab Aisah.
"Ya nggak apa-apa kalau ada yang minta," ucap Arum.
"Kata Bang Ardi nanti dia susah konsentrasi kalau Ica nggak di sini" ucapnya.
"Masa iya dek?" Tanya Arum.
"Iya kak," ucap Aisah.
"Mestinya Ardi senang kalau adek nggak di sana, dia bisa lihat cewek bule yang seksi-seksi. Jangan-jangan ada yang minta ya, takut suaminya di ganggu sama cewek bule," ucap Arum
Aisah hanya memajukan bibirnya saat mendengar ucapan kakaknya.
Arum hanya senyum-senyum memandang adiknya. Ia sangat mengerti, mana mungkin pasangan pengantin baru yang dimabuk cinta itu mau berpisah. "Kampus nya apa sudah dapat?" tanya Arum.
"Sudah kak, Ica kampusnya sama dengan bang Ardi. Direktur paskah nya langsung menjamin Ica masuk," ucapnya.
Arum membulatkan bibirnya saat mendengar ucapan adiknya.
"Dek nanti kita sambung di rumah ya, kakak rapat dulu," ucapnya setelah cukup lama mereka berbicara.
"iya kakak, assalamu'alaikum.
"Waalaikum salam," ucap Arum memutuskan sambungan telepon saat perawat rumah sakitnya memanggil untuk rapat.
***
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan votenya ya reader. Terimakasih atas dukungan nya.
😊😊🙏🙏