Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 75


__ADS_3

Saat azan subuh, Arumi bangun dan mau sholat. Pintu kamarnya di ketuk dari luar.


“Arum...Arum...” panggil Anita yang mengetuk pintu kamar nya dari luar.


“Iya buk,” jawab Arum yang berlari membuka pintu kamar nya.


“Kita salat di masjid kita ya,” ucap Anita yang sudah memakai mukena.


“Iya buk.” Jawab Arumi. Arum langsung memakai mukenanya.


Arum dan Anita berjalan berdua sambil gandengan tangan, ada yang berbeda yang dirasakan Anita ketika ia bersama dengan Arum. Anita merasa begitu sangat dekat dengan gadis cantik tersebut. Dekat dengan Arum seperti mengingatkan nya dengan seorang teman lamanya.


Di bawah Jhoni dan Habibi sudah menunggu. Habibi terlihat sangat ganteng memakai baju koko putih dan peci. Dia memakai sarung coklat kotak-kotak. Jhoni memakai baju koko yang sama dengan Habibi dan peci hitam kemudian sarung. Ayah dan anak itu tampak sangat kompak dan terlihat seperti abang dan adek. Mereka berjalan menuju mobil. Arum duduk di belakang bersama Anita. Habibi duduk di depan dengan Jhoni. Mesjid itu tidak jauh dari rumah Habibi, masih di komplek perumahan. Saat Anita masuk ke dalam mesjid warga ramai yang menyapa. Arum melihat, bagaimana warga sangat akrab dengan Anita.


“Buk dokter, ini siapa? Apa calon menantu ya.” Tanya Wanita separuh baya yang duduk di sebelah Anita .


“Iya jeng Risa.” Jawab Anita santai.


Mata gadis itu terbuka lebar saat mendengar pengakuan dari bos nya. Ia begitu sangat terkejut.


“Cantik sekali buk dokter.” ucap wanita tersebut memuji nya.


Arum sedikit tersenyum ia memulai salat sunahnya dan di lanjutkan salat subuh berjamaah. Mereka bersalaman dengan para jamaah yang berada di dekat mereka setelah selesai salat.


“Buk dokter, sebentar lagi sepertinya bermeinantu.” Wanita tersebut memegang tangan Arumi. “Calon menantu ibuk dokter sangat cantik mengalahkan buk dokter cantiknya.” Puji wanita paruh baya tersebut. Arum hanya tersenyum.


Anita tersenyum saat mendengar ucapan ibu-ibu tersebut. "Kalau gak cantik nanti habibi nya nggak mau," jawabnya sambil tersenyum.


ibu-ibu itu tertawa saat mendengar ucapan Anita.

__ADS_1


“Ibuk-ibuk, saya permisi dulu ya. Itu sudah nunggu.” ucap Anita yang melihat ke arah mobilnya yang sudah berdiri dua pria gagah di samping mobil.


“Iya buk dokter.”


Anita berjalan berdua dengan Arumi. Ia masih memegang tangan Arumi. Dengan senyum yang selalu mengembang di bibirnya.


“Pi, biasanya mami selalu aja gak suka dengan pacar-pacar bibi sebelumnya. Tapi kenapa sama Arumi, mami kelihatannya suka sekali. Lihatlah, mami nampak sangat bahagia.” ucap Habibi yang memandang maminya.


“Pacar-pacar kamu sebelumnya cuman memiliki nilai plus cantik saja. Arumi, siapa yang gak suka. Papi aja kalau masih muda. Pasti juga suka dengan Arumi.” ucap Jhoni yang sedang tersenyum.


Habibi meninju dada papinya.


Arumi itu masih sangat polos. Kamu jangan apa-apa kan dia. Arum itu tidak sama dengan pacar-pacaran kamu yang dulu," ucap Jhoni menasehati putranya.


“Iya pi” jawab Habibi


“ Lagi pula bila kamu benar-benar Suka dengan Arum, kamu harus benar-benar serius. Kamu jangan mainkan dia,” ucap Jhoni.


Mereka menghentikan pembicaraannya di saat melihat dua wanita itu sudah dekat dengannya. Jhoni dan Habibi masuk ke dalam mobil duduk di depan. Anita dan Arum masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang. Setelah sampai di rumah mereka turun dari mobil.


“Siap-siap ya kita mau car free day ke monas.” Anita memberikan komandonya. Seperti biasa setiap minggu pagi Monas pasti ramai pengunjung yang melakukan olahraga, berjalan-jalan santai dan naik sepeda.


"Iya Bu," Jawab Arum.


Arum masuk ke dalam kamarnya berencana untuk mandi namun pintu kamarnya di ketuk oleh Anita. Arum dengan sangat cepat membuka pintu kamarnya.


“Ini baju untuk kamu,” ucap Anita yang memberikan stelan baju olahraga berwarna abu-abu dan sepatu sport.


Arum sampai bingung, bosnya ini selalu saja tau apa yang dia butuhkan.

__ADS_1


“Terima kasih buk.” ucap Arum sambil mengambil baju di tangan Anita.


“Jangan lama-lama ya,” kata Anita


“Iya buk.” jawab Arum


Setelah selesai, Arum membuka pintu kamarnya, dan pintu di kamar sebelahnya juga terbuka.


Arum melihat ke samping Habibi keluar dari kamar.


“Udah siap.” Sapa Habibi.


“Udah mas,” ucap Arum yang tidak berani memandang Habibi. Arum selalu saja menundukkan kepalanya.


Habibi tampak tersenyum.


“Arum,” panggil Habibi.


“Iya mas.”


Pria itu tersenyum memandang nya. "Kamu sangat cantik," Ucapnya memuji.


Wajah Arum langsung memerah seketika. Dadanya berdetak sangat hebat ketika mendengar pujian dari bosnya itu.


“Makasih mas.” Jawab Arumi.


"Sudah siap?" tanya Anita.


"Sudah Bu," jawab Arum.

__ADS_1


"Kita berangkat," ucap Anita.



__ADS_2