Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 41


__ADS_3

Ardi melihat layar hp nya, terus menerus. Berharap chat yang di kirim nya ke Arumi terkirim dan di balas. Sudah berapa hari ini ia mengirim chat namun tampak tidak ada yang terkirim. Di telpon, no hp nya tidak aktif.


Ardi 📲


Hai..


Weekend ini aku lagi gak ada tugas. Dan gak sibuk.


Apa kamu mau jalan-jalan?


Ardi 📲


Kamu di mana?


Ardi 📲


Kamu kenapa, apa ada masalah.


Ardi 📲


Jangan buat aku cemas


Ardi 📲


Please balas aktif kan hp kamu.


Ardi 📲


Arum


Begitu banyak pesan yang dikirim, tak ada satu pun yang di balas bahkan tanda terkirim pun tidak.


Tidak mungkin gak ada paket.


Apa hp nya rusak?


Apa hp nya hilang?


Arum, kamu kenapa?


Ardi merasa sangat menghawatirkan Arumi.


Sejak beberapa hari yang lalu ia mencoba untuk menghubungi Arumi. Namun hp nya selalu saja tidak aktif.


Chat nya tidak ada yang terkirim.


Arum.....


Arum ....


Arum.....


Arum.....


Kamu kenapa?


Sambil mengajak-ngacak rambutnya sendiri.


Udah aku langsung ke kosnya aja. Mungkin hp nya rusak. Apa langsung aku bawakan hp untuknya. Ah .. Sudah lah. Yang penting aku tau dulu kabar Arum


Ardi melajukan mobilnya ke kos Arumi. Sesampainya di kos Arumi. Dilihatnya, pintu tergembok dari luar. Itu tandanya,. Arumi tidak ada di kamarnya. Ardi tetap mengetok pintu walaupun dia tau bahwa si pemilik kamar tidak ada. Terdengar pintu terbuka dari kamar sebelah.


“Cari siapa?” Seorang gadis keluar dengan memakai baju tanpa lengan yang sangat ketat dan memperlihatkan payudaranya yang keluar hampir separuh dan celana pendek sangat pendek. Membuat Ardi merasa risih saat melihatnya.


“Saya mencari pemilik kamar kos ini.”


“Ooo udah lebih dari 2 minggu dia gak pulang.” Kata gadis tersebut.


“Apa???” Ardi terkejut.

__ADS_1


“Iya. Siapa kamu. Pacar kamu?” tanya gadis itu lagi.


“Sahabat saya,” jawab Ardi.


“Kenalin, aku Eka. Nanti kalau dia kembali, aku akan mengabari kamu.”


“Terimakasih.”


“Nomor hp kamu,” tanya Eka.


“Oh iya.” ardi memberikan nomor hp nya kepada Eka.


“Nama aku ardi. Aku pamit dulu.”


“Ooo iya.”


Ardi masuk ke dalam mobil. Iya mencoba menghubungi ibu Arum. Di cari nya kontak ibu Arum. Dan setelah menemukannya. Dia langsung menelponnya.


Halo. Assalamu’alaikum,” seseorang mengangkat telepon tersebut. Terdengar suara gadis kecil di seberang sana yg suaranya terdengar cempreng.


“Wa’alaikum salam.”


“Ini siapa??”


“Bang Ardi.”


“Bang Ardi mana ya?” tanya gadis kecil tersebut penuh selidik.


“Ica kenal bang Ardi yang mana aja?”


“Banyak. Soal namanya pasaran.”


Mendengar jawaban Aisah membuat Ardi langsung tertawa gadis kecil yang lucu dan, cerewet dan sangat ngemesin. “Temannya kak Arum.”


“Ooo. “


“Ica ingat.” Tanya Ardi.


“Tapi kok bilang ooo”


“Iya gak mungkin Ica bilang bbbb, atau ccc atau dddd”


Ardi semakin terkekeh saat dia sadar kalau dirinya sudah di kerjaain anak kecil. “Abang Ardi bisa berbicara sama ibu.”


“Bisa.”


“Bisa tolong panggilkan.”


“Penting kali ya?” tanya Ica lagi.


“Iya sayang. Penting.”


“Ih... Jangan panggil-pangil sayang, Ica belum mau pacaran.”


Ardi semakin tertawa di buat gadis kecil tersebut. “Umur Ica sekarang berapa ?”


“10 tahun.”


“10 tahun lagi, bang Ardi lamar.”


“Ih, apa an sih. Ica belum siap nikah muda.”


Ardi semakin tertawa di buatnya. Dia sampai lupa tujuan nya menelpon ibu Arum. Dia sangat asyik berbicara dengan gadis kecil tersebut.


“Siapa yang telpon Ca?”


“Bang Ardi bu.”


“Ini ibu nya.” Kata Ica sambil memberikan hp ke tangan ibu nya

__ADS_1


“Hallo Asalamu’alaikum.”


“Wa’alaikum salam ibu.”


“Nak ardi apa kabar?”


“Kabar baik buk. ibu sehat?”


“Sehat nak.”


“Bu, Arum apa pulang kampung?”


“Gak nak. Arum kerja di Jakarta.”


“Tapi hp nya gak aktif. Di kos juga gak ada.”


“Arum gak kabari kamu nak?” tanya ibu Arumi.


“Kabari apa bu?”


“Arum mengikuti pelatihan selama 1 bulan ini. Dan tidak membawa alat komunikasi. Arum naik jabatan nak. Namun karena Arum tamatan SMA. Makanya, bos Arum memberikan pelatihan 1 bulan.”


“Naik jabatan buk. Arum kerja baru 1 bulan bu,” tanya Ardi heran.


“Iya nak. Mungkin Arum rajin dan jujur nak. Makanya bos nya suka.”


“Bos nya perempuan atau laki-laki bu?”


“Perempuan nak. Bos nya langsung menelpon ibu minta izin.”


Fresh blek.


Setelah Arum menelpon ibunya. Arum memberikan hp ke pada Anita. Pak Diman sudah menunggu di parkiran. Setelah Arum berangkat, Anita menghubungi Siti.


“Halo ini ibu Siti Kalsum. Ibu nya Arumi,” tanya Anita.


“Iya saya sendiri.”


“Buk saya anita, bos nya Arumi. Saya minta izin, untuk satu bulan ini Arumi terputus kontak komunikasi dengan ibu. Karena dia saya kirim mengikuti pelatihan.” Kata Anita menjelaskan.


“Iya buk tadi Arum sudah menelepon saya.”


“Kalau ada yang mencari Arumi orang yang tidak ibu kenal. Bilang saja Arumi kerja di Jakarta. Saya gak mau ada yang menggangu pelatihan arum.” Kata buk Anita.


“Baik buk.”


“Untuk kiriman bulan ibu. Saya langsung yang mengirimkan nya dari gaji Arum.” Jelas Anita lagi.


“Terimakasih ya buk. Saya titip Arum.”


“Iya buk”


“Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikum salam.”


“Ooo begitu ya bu.” Ardi lega karena tau bos nya perempuan.


“Tapi sepertinya gaji Arum besar sekali nak. Ibu di kirim 2 x dalam sebulan ini. Dengan nominal yang sangat besar. Baru kali ini ibu menerima uang yang banyak seperti ini.” Kata ibu Arumi sedikit heran.


“Alhamdulillah buk. Rezki ibu dan adek-adek Arum. Rezki si cerewet.”


“Iya nak Ardi, Aisah emang sangat cerewet.”


“Saya lega setelah dengar kabar dari ibu, makasih ya buk.”


“Iya nak Ardi.”


“Assalamu’alaikum bu.”

__ADS_1


“Wa’alaikum salam nak.”


Akhirnya Ardi kembali ke kosnya. Sesampainya Ardi di kos, ia berbaring di atas tempat tidur. Sambil tersenyum-senyum kalau mengingat dirinya di kerjain gadis kecil.


__ADS_2