Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 124


__ADS_3

Hampir 1 jam setelah melewati macet Jakarta Arum sampai dirumahnya. Security membuka pagar tinggi tersebut dengan sangat cepat. Ia turun dari mobil masuk ke dalam rumah. Dilihatnya Habibi yang bermain dengan Aisah di ruang keluarga


“Mas, maaf ya tadi macet,” Arum duduk di lantai.


“Iya gak apa.” Dilihatnya gadis tersebut. Baru sebentar gak jumpa. Ia sudah sangat merindukan gadisnya. Menunggu satu jam terasa amat lama baginya.


“Kak Arum baru pulang?”


“Iya dek. Habis kerjain tugas.”


“Kak Arum sepertinya capek. Mau Ica buatin teh.”


Arum ketawa lihat adeknya. Sebenarnya ia udah minum teh dan kenyang. Tapi ia gak tega untuk menolak niat baik si adek. “Boleh dek. Buat 2 ya. Kak Arum tunggu di belakang.”


“Oke kak.”


“Ngobrol di belakang aja ya mas.”


Habibi mengangguk.


Arum mencium pipi Aisah yang cubby dengan sangat gemas.


“Mas mau cium Ica juga lah.”


“Jangan dong mas Bibi, nanti ciuman pertama Ica hilang.” Sambil jalan ke dapur.


Denger jawab Ica membuat Habibi harus menahan sakit perutnya. “Gak boleh cium Ica, cium kakaknya aja ya.” Dengan mengecilkan suaranya.


“Mas!!!” dan mendapat pelototan dari si gadis.


Arum duduk di pinggir kolam dan memasukkan kakinya hingga terendam di dalam air . Ia merasa sangat lelah dan tubuhnya terasa amat lengket dan tidak nyaman. Namun, ia takut kalau nyuruh pria di depannya untuk menunggu ia mandi. Dengan merendamkan kakinya, setidaknya lebih segar.


Habibi sudah mengulung kaki celana yang di pakainya dan melakukan hal yang sama.


Wajahnya Tampak begitu sangat segar, ia terlihat sangat tampan dengan memakai baju santai. Wanginya membuat Arum merasa sangat nyaman.


“Kok gak kasih tau mas kalau adek ke rumah Naura?”


“Iya Arum lupa. He...he.....” Sambil melihat kan gigi putihnya.


“Udah lama nunggu ya.”


“Iya.”


“Mas, udah makan belum?”


“Sudah 2 kali malah.”


“Kok bisa.”

__ADS_1


“Tadi sebelum ke sini, mami ngajak makan dulu. Dan setelah sampai sini. Ibu ngajak makan.”


“Pantas perut mas buncit.” Sambil memanjangkan bibirnya.


“Jangan pancing mas dek.”


Arum langsung diam, dan memasukkan bibirnya ke dalam. Namun ia seperti sedang mengigit bibir bawahnya.


Habibi memicingkan mata nya. Agar dia tidak lepas kontrol. Gadis itu terlihat imut dan sangat menggemaskan.


“Tadi katanya mau ngomong.”


“Iya ada yang mau Arum Omongin.”


“Apa? Apa adek mau jadi istri mas?”


“Ih mas, Arum baru kuliah. Gimana sistem kuliah aja Arum belum ngerti. Setidaknya 1 tahun Arum lihat kondisi. Kalau rasanya Arum mampu kuliah dan nikah. Arum bakal terima.”


“Terima apa?” Habibi yang melihat arum, tanpa malu-malu malah sengaja menggodanya.


Gadis itu hanya menundukkan kepalanya dengan menyembunyikan pipinya yang tampak memerah.


“Katanya mau, emangnya mau ngomong apa sayang?”


“Kami dapat tawaran main film.”


“Film apa,” sambil mengerutkan keningnya.


“Ya udah nggak usah diambil.”


“Produser filmnya minta yang main itu kami semua. Permintaan mereka Arum dan Ardi wajib main dan seandainya kalau kami tidak ikut maka kawan-kawan yang lain nggak akan dipakai untuk syuting.”


“Kok gitu?”


“Arum curiga dengan produsernya.”


“Kenapa?”


“Produser film tersebut, menghubungi Abang Doni dan kak Sarah. Padahal, kondisi yang sakit cuma Arum. Anehnya kenapa gak menghubungi Ardi. Jelas-jelas yang mau diambilnya untuk jadi pemeran utamanya Arum dan ardi. Dia minta bang Doni untuk atur jadwal jumpa dengan Arum dan Ardi. Sepertinya, Mereka sengaja ngasi penekanan sama teman-teman agar mereka mau bujuk Arum dan Ardi.”


“Ardi,” Tanggapannya gimana.


“Sepertinya dia gak minat. Yang nampak nya sangat berminat kak Sarah, bang Doni dan bang Ari.”


“Produser nya siapa?”


“Arum juga gak tau mas. Tadi Arum lupa nanya. Produsernya konfirmasi ke bang Doni dan kak Sarah”


“Coba telpon salah satu dari mereka.”

__ADS_1


“Iya bentar Arum telpon bang Doni.”


Tak lama saluran telepon tersambung dan telpon nya langsung diangkat dari seberang sana.


“Hallo Assalamu'alaikum”


“Wa’alaikumsalam. Ada apa dek?”


“Bang, Arum mau nanya. Siapa produser yang nawarin buat main film.”


“Rafi Chandra.”


“Rafi Candra???”


“Iya,”


“Bilang, mas mau ngomong.” Kata Habibi. Arum menganggukkan kepalanya.


“Bang, mas Habibi mau ngomong.”


“Iya boleh dek.”


Arum memberikan telpon tersebut ke Arum.


“Hallo Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumsalam.”


“Jadi nama produser Rafi chandra?”


“Iya mas.”


“Saran mas gak usah.”


“Kenapa mas?”


“Produser filmnya udah banyak kasus. Coba aja kamu cari berita Infotama. Itu akan banyak muncul berita tentang artis yang terlibat kasus dengan produser tersebut. Mas juga pernah rugi besar karena sudah mensponsori filmnya.” Jelas Habibi.


“Gitu ya mas?”


“Tapi nanti mas bakalan cari informasinya.”


“Iya mas.”


“Dah dulu ya. Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumsalam.”


*********

__ADS_1


maaf ya reader. author ngantuk banget. jadi up nya sedikit. nanti akan Arum tambah. maaf kalau ada tulisan


__ADS_2