Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 324


__ADS_3

"Assalamu'alaikum mi," ucap Arum yang berdiri di depan ruangan mertuanya.


Anita tersenyum melihat menantu kesayangannya datang. "Sayang mami," ucapnya yang berdiri dari duduknya dan mengembangkan tanyanya.


"Mami," ucap Arum yang memeluk dan mencium pipi kiri dan kanan mertuanya yang cantik dan terawat itu.


"Gimana kabar sayang mami," ucap Anita.


"Baik, mami sehatkan?" ucap Arum yang memegang tangannya.


"Sehat sayang, Apa sudah ada calon cucu baru mami," ucap Anita yang mengusap perut Arum.


Arum diam dan mengelengkan kepalanya.


Anita tersenyum memandangnya, Anita bisa menebak kedatangan Arum ke rumah sakitnya untuk mengadu. "Tidak apa," ucap Anita yang memeluknya. Anita mengandeng tangan Arum dan duduk di sofa.


"Gak jadi lagi mi," Ucapnya.


"Dulu untuk dapat Vira mami kasih Arum penyubur," ucap Anita.


Arum memandang mertuanya.


"Mami ngasih sejak awal Arum nikah sama pipi Vira," ucap Anita.


"Mami bilangan itu vitamin," ucap Arum masih sangat ingat saat mertuanya mengatakan itu vitamin.


"Iya, vitamin penyubur," ucapnya tersenyum jahil.


Arum tertawa saat mendengar ucapan mertuanya."Sepertinya jahil Vira itu nurun dari mami," ucap Arum.


Anita tertawa. "Vira hampir keseluruhan nya mirip mami. Centilnya aja yang mirip Aisah," ucap Anita.


Arum tertawa saat mendengar ucapan mertuanya yang begitu sangat pintar dan jahil tersebut. "Vira paket komplit nyami centil pintar jahil dan yang dijadikannya korban bully Aisah," ucap Arum.


"Lihat Aisah mami jadi ketawa sendiri," ucap Anita. "Itu boneka yang jarang mandi dikasih nama Aisah," ucapan Anita.


"Mami tau dari mana?" tanya Arum.


"9waktu Vira tidur di rumah yang dibawanya boneka Teddy bear sama Barbie malas mandi. Mami tanya Kenapa bawanya kok Barbie yang jelek nggak yang cantik. Di jawabnya, ini namanya Aisah oma, ucap Vira sambil tersenyum jahil," ucap Anita.


Arum tertawa ngakak hingga perutnya terasa sakit saat mendengar cerita mertuanya.


"Jadi programnya masih belum sukses," ucap Anita.


"Iya mi," jawab Arum.


"Awalnya mami Kasih Arum penyubur kehamilan yang terbaik yang ada rumah sakit. Setelah dua bulan tidak ada hasil. Mami ganti lagi, mami pesan dari Amerika serikat. Namun masih tidak dapat, kemudian Rusia dan yang terakhir Jerman. mami Sampai pusing saat itu penyubur yang dari AS yang sangat terbaik tapi mas tidak dapat. Mami tanya sama Habibi apa ada menunda kehamilan. Namun Habibi jawab tidak ada menunda kehamilan. pada saat itu mami semakin cemas. Alhamdulillah setelah memasuki bulan ke 7 baru dapat," ucap Anita yang tersenyum sambil mengusap tangannya.


"Dulu mami juga sama seperti Arum. Mami sudah berusaha berbagai cara tapi kalau takdir cuma dapat satu, ya tetap satu. Yang terpenting Arum tidak usah stres untuk masalah ini, santai saja. bila sudah saat nya nanti pasti dapat," ucap Anita.

__ADS_1


"Tapi kasihan mas bibi dan Vira mi. Di lihatnya kak Maya yang sudah mau melahirkan. Akila sebentar lagi punya adek, Vino juga, Daffa juga akan ada adeknya. Cuma Vira yang gak," ucap Arum.


Anita mengelengkan kepalanya. "Gak usah pikirkan itu. Aru masih sangat mudah lagi kesempatan untuk berusaha masih banyak," ucap Anita.


Arum tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Yang terpenting sering-sering aja ajak bibi," ucapnya yang tersenyum jahil.


Wajah Arum memerah saat mendengar candaan mertuanya.


"Mi, Arum balek ke rumah sakit dulu ya, mau visit pasien. Nanti jam 5 mas bibi jemput" ucapnya Setelah cukup lama bercerita dengan mertuanya.


"Iya hati-hati ya sayang," ucap Anita yang mencium pipinya.


"Iya mi," jawabnya.


***


"Assalamu'alaikum dokter Arumi," ucap Rangga yang membuka pintu ruangannya.


"Waalaikum salam," ucap Arum yang tersenyum memandang pria kecil yang berdiri di ambang pintu.


"Apakah saya boleh masuk dokter Arumi?" ucap Rangga.


Arum tersenyum memandangnya dan mengembangkan tangannya.


Arum membungkuk dan mengangkat tubuh anak itu dan mendudukkan di pangkuannya. Arum merasa perutnya yang terasa sedikit sakit saat mengangkat Rangga.


"Ada apa dokter Arumi?" tanya Rangga.


Arum menggelengkan kepalanya. "Bagaimana di sana?" tanya.


"Sangat menyenangkan," jawab Rangga.


"O pantas Rangga terlihat sangat senang," ucap Arum yang membesarkan matanya.


Iya dokter Arumi tapi saya sangat merindukan dokter Arumi, Vira dan pak Habibi," ucap Rangga.


Arum tersenyum saat mendengar ucapan anak tersebut. "Kalau begitu cium dulu ucap harum yang memberikan pipinya.


Rangga memeluknya dan mencium pipi kanan dan kirinya. Rangga mencium berulang-ulang kali.


Arum tersenyum dan mencium pipi bulat anak yang saat ini duduk di atas pangkuannya.


"Bagaimana kabarnya Savira dokter Arumi? "ucap Rangga.


"Vira baik, dia rindu Rangga," ucap Arum. Hari ini Arum ingin cepat pulang mengingat janjinya dengan putrinya untuk menghubungi Aisah. Saat ini Arum sudah merasa sangat lega saat melihat kondisi Adiknya.


"Apakah saya nanti boleh ikut pulang ke rumah dokter Arumi, "ucap tangga.

__ADS_1


Arum tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih Dokter ArumΓ­, saya sudah sangat merindukan SaVira," ucap Rangga yang tersenyum lebar memandangnya.


"Iya, Lain kali kalau tidak mau ikut, tolak," ucapnya mengajarkan Rangga. Selama 3 hari Rangga ke Bandung di bawah dokter Dila pulang ke kampungnya.


"Apakah saya boleh menolak bila ada yang mengajak saya?" tanya Rangga.


Arum tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Boleh," jawabnya. Arum tidak mungkin melarang yang lain bila ingin membawa Rangga. Selama ini anak itu selalu di bawa-bawa pegawai rumah sakitnya, baik dokter atau tenaga medis yang lainnya.


"Apakah mereka tidak kecewa?


saya takut mengecewakan mereka," ucap Rangga dengan tatapan polosnya.


Arum menggelengkan kepalanya.


"Rangga Jangan panggil dokter Alumni lagi. Rangga panggil Mimi aja," ucapnya Arum.


Mata Rangga terbuka dengan sempurna saat mendengar ucapan Arum. "Apakah boleh?" tanya.


"Tentu saja," Jawab Arum.


Rangga menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. Air matanya ingin menetes dengan derasnya namun ia berusaha menahan agar air mata itu tidak menetas. Selama ini Rangga berharap bisa memanggil Arum dengan panggilan Mimi seperti teman-temannya yang lain. Namun dia tidak mungkin berani dan lancang melakukan hal itu. Sudah di rampung dan di sayangi oleh keluarga pak Habibi saja sudah membuatnya senang. Dengan bibir yang bergetar kalimat itu lolos dari bibirnya yang kecil dan sedikit tebal. "Mimi," ucapnya yang menagis memeluk Arum.


"Iya sayang," ucap Arum yang memeluknya.


"Apa benar saya boleh memanggil Mimi?" ucapnya.


"Iya sayang, boleh. Bahkan sangat boleh," ucap Arum.


"Mimi terimakasi," Ucapnya.


Arum memegang pipi anak kecil yang berwajah tampan itu dan menciumnya.


"Mimi, tubuh saya ini sangat berat. Saya akan pindah duduk," ucap Rangga.


Arum tersenyum memandang nya. "Iya sayang," ucapnya yang menurunkan Rangga. Setiap kali Arum mendengar Rangga berbicara, Arum sangat senang dengan kalimat-kalimat yang dipakai oleh Rangga. Rangga berbicara dengan kosakata bahasa Indonesia yang baku. Kalimat yang tersusun rapi seperti di film.


Rangga manjat naik ke atas kursi yang ada di depan Arum.


"Rangga sebentar ya, Mimi mau visit pasien sebentar," ucapnya yang melakukan visit untuk pasien nya sebelum pulang.


"Iya Mimi," ucapnya yang tersenyum lebar.


***


Jangan lupa like komen dan votenya ya reader. Terimakasih atas dukungannya.


πŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2