Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 284


__ADS_3

Rangga masuk ke dalam kamarnya saat jam makan siang. Ia duduk di tempat tidur sambil menatap nasinya yang ada di nakas. Ia belum berselera untuk makan. Ia mencari film kartun di TV yang ada di kamarnya. Jarinya berhenti menekan remote control di tangannya ketika ia menemukan film kartun Jack Neverland. Ia sangat suka film kartun pertualangan mencari harta Karun tersebut.


"Hip..hip... kapten," ucapnya yang mengikuti perkataan tuan Smith.


Ia memang begitu sangat menyukai film-film kartun. Namun film kartun Jack Neverland merupakan favoritnya.


Ia melihat pintu kamarnya terbuka.


" Rangga, dokter Arumi video call," ucap seorang perawat yang masuk kedalam kamarnya.


Wajahnya begitu sangat senang saat mendengar bahwa Arum menghubunginya. Ia lompat dari atas tempat tidurnya dan langsung mengambil ponsel yang ada di tangan perawat tersebut. " Terima kasih sus Ramah," ucapnya. Iya begitu sangat hafal nama-nama seluruh perawat yang ada di rumah sakit tersebut. Bukan hanya itu saja ia begitu hafal dengan nama-nama seluruh karyawan yang disana.


"Halo Dokter Arumi assalamu'alaikum," ucapnya yang memandang layar ponsel tersebut. Ia begitu sangat senang saat melihat wajah Arum ada di dalam layar ponselnya yang di pegang nya.


" Waalaikumsalam Rangga, Rangga apa kabar?" ucap Arum yang memandang layar ponselnya. Ia melihat wajah bulat anak laki-laki itu memenuhi layar ponsel nya. Ia begitu sangat senang saat melihat wajah pria kecil itu. Ia memandang wajah tampan anak kecil tersebut. Ia begitu sangat merindukan Rangga, namun ia begitu sibuk mengurusi acara pernikahan adiknya yang begitu sangat mendadak, sehingga ia tidak bisa menghubungi Rangga. Ia baru bisa santai saat malam dan pada saat itu ia tidak mungkin menghubungi anak tersebut mengingat anak itu pasti sudah tidur. Ia tahu bahwa Rangga tidur paling lambat jam 9 malam.


"Alhamdulillah kabar saya sangat baik dokter Arumi, namun rumah sakit ini terasa sunyi tanpa ada dokter Arumi," ucapnya yang tersenyum begitu sangat manisnya. Ia tetap mengarahkan ponsel itu ke wajahnya sambil manjat ke atas tempat tidurnya. Ia kemudian mencari posisi yang nyaman agar ia bisa memandang wajah Arum dari ponsel tersebut.


Arum tertawa saat mendengar ucapannya. "Bukankah disana begitu sangat ramai, perawat-perawatnya cantik-cantik, kemudian bidan-bidannya cantik-cantik dan manis-manis, belum lagi pasien yang datang membawa anak-anaknya yang manis-manis. ucap," Arum.


"Iya di sini sangat banyak sekali perawat-perawat cantiknya hanya saja Saya merindukan dokter Arumi," ucapnya wajahnya terlihat begitu sangat sedih.


Arum diam saat melihat wajah anak itu. Ia tahu bahwa anak itu sedang berusaha menahan air matanya.


" Maafin Dokter Arum ya, kemarin dokter Arum perginya buru-buru sehingga nggak bisa jemput Rangga di rumah sakit. Lagi pula niatnya cuman pergi sebentar saja. Cuman pulang kampung ziarah ke kuburan kakek," ucapnya yang menjelaskan kepada anak kecil tersebut.

__ADS_1


Rangga tampak menahan air matanya bibirnya sudah dower kedepan. Wajahnya seperti akan menangis. Ia mencoba untuk tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


" Tidak apa-apa dokter Arumi, Aku sangat mengerti tentang hal itu,"ucapnya.


" Apa Rangga sudah makan?" tanya Arum.


Ia tersenyum dan mengarahkan kamera ponsel itu nakas yang ada di samping tempat tidur nya. Ia melihatkan makan siangnya yang masuk utuh. " Belum dokter Arumi, tapi tadi aku sudah berencana untuk makan," ucapnya nya yang tersenyum.


" Beberapa hari lagi kami akan pulang ke Jakarta. Rangga wajib banyak makan seperti biasa nanti bila dokter Arum sudah kembali dokter Arum enggak mau lihat Rangga kurus dan juga jelek," ucapnya.


Rangga tersenyum begitu sangat lebar saat mendengar ucapan Arum." Tentu saja saya akan makan yang banyak dokter Arumi. Saya ini membutuhkan banyak tenaga dan juga saya harus banyak makan agar tubuh saya bisa tinggi. Pak Habibi dimana?" tanyanya kemudian.


Arum tertawa saat mendengar anak lelaki itu yang menanyakan suaminya. " Pak Habibi ada di sini," ucapnya yang memberikan ponsel itu kepada suaminya yang sejak tadi mendengarkannya berbicara kepada anak itu.


Habibi hanya senyum-senyum saat mendengar obrolan istrinya dengan Rangga. Ia mengambil ponsel tersebut dari tangan istrinya dan kemudian ia memandang ponsel tersebut. Ia melihat wajah bulat anak laki-laki itu memenuhi layar ponsel istrinya.


" Hai Pak Habibi, Pak Habibi apa kabar?


Apa kabar bapak sehat?" tanyanya beruntun.


Habibi tersenyum memandangnya."Kabar saya sangat baik. Bagaimana kondisi di sana?" tanya kepada anak kecil tersebut. Ia tahu biasanya anak kecil itu begitu sangat pintar dalam memberikan laporan.


Rangga tersenyum dan mengangkat jempolnya."Kondisi di sini sangat aman dan terkendali Pak Habibi. Pak Habibi tidak perlu mencemaskannya?" ucapnya.


Habibi tersenyum mendengar ucapan anak tersebut."Saya percayakan kepadamu," ucapnya

__ADS_1


Rangga begitu sangat bangga saat mendengar ucapan Habibi. Baik pak Habibi anda tidak perlu khawatir," ucapnya yang tersenyum lebar.


Arum yang duduk di sebelah suaminya tersenyum saat mendengar ucapan suaminya tersebut. Ia menempelkan wajahnya di pundak suaminya, sambil tersenyum memandang wajah suaminya.


"Jangan lupa makan yang banyak Ingat jangan keluar lagi bila sudah jam 6 sore," ucap Habibi.


Rangga tersenyum dan mengangkat jempolnya. "Baik Pak Habibie, Savira di mana? Bagaimana keadaannya? tanya.


Selama di sini, Safiva terlalu banyak main. Di sini banyak sekali yang menyayanginya apalagi sekarang sudah ada pria-pria bule yang baru datang dari Amerika temannya Om Ardi. Dia begitu sangat menempel dengan pria-pria bule itu ucapnya.


Rangga menggeleng-gelengkan kepalanya saat mendengar ucapan Habibie "Tolong sampaikan kepada Savira agar dia jangan terlalu genit menjadi anak gadis," ucapnya yang mencemaskan Savira.


Arum yang berada di sebelah suami hanya tersenyum saat mendengar ucapan anak kecil itu.


" Rangga mau dibawain oleh-oleh apa?" tanya Arum


"Apa saja tidak masalah, yang penting kalian pulang dengan keadaan sehat, itu sudah menjadi oleh-oleh terbaik untukku," ucapnya.


Arum begitu takjub melihat kedewasaan anak kecil tersebut.


Cukup lama ia berbicara dengan Rangga dan kemudiannya memutuskan sambungan telepon tersebut ketika ia harus pergi ke butik bersama dengan ibunya untuk mengambil baju yang telah mereka pesan. mereka juga akan melakukan fitting baju-baju tersebut di sana terlebih dahulu.


***


Jadi lupa like dan komen nya ya Reader.

__ADS_1


terimakasih atas dukungan nya. 😊😊🙏🙏


__ADS_2