
Setelah 3 minggu Arum sehat. Perhatian yang luar biasa selalu Arum dapatkan dari Habibi. Mulai dari mengatur jadwal sarapan, makan siang, makan malam, makanan sehat serta vitamin. Arum terkadang jadi binggung sendiri. Sebagai asisten pribadi, sudah pasti itu semua menjadi tanggung jawabnya. Untuk memperhatikan kesehatan dan keselamatan bos nya tapi kenapa dia yang di perhatikan? Sebenarnya dia di gaji dengan begitu besarnya untuk apa? Belum lagi Anita yang selalu mengontrol, Arum apa sudah makan.
Saat berada di ruangan Habibi, Habibi menyuruh Arumi untuk sarapan yang sudah di sediakannya. Karena Habibi sudah sarapan di rumah, dia menolak untuk ikut sarapan, Arum memang sangat jarang sarapan pagi.
“Arum,” Habibi memanggilnya
“Iya mas,” Arum yang sedang memakan soto tersebut langsung mengangkat kepalanya melihat ke arah Habibi.
“Nanti jam istirahat kita keluar.”
Arum diam, jadwal hari ini mereka gak ada ketemu dengan klien, atau pun miting di luar. “Mau ke mana mas?”
“Nanti juga kamu tau dek.”
Arum kembali melanjutkan memakan sotonya. Tampak Habibi mengangkat telpon entah dari siapa. Yang jelas, iya berbicara dengan sangat seriusnya di telpon. Hari ini tidak terlalu banyak kerjaan dan bisa di bilang sangat santai. Habibi tampak hanya sibuk dengan beberapa map yang ada dimejanya. Saat jam makan siang, mereka keluar dari kantor. Sebelum keluar Habibi memberi pesan kepada sekretarisnya. Arum berjalan menuju mobil di parkiran.
“Dek kunci mobil mana? Biar mas aja yang nyupir. Kamu belum tau lokasi yang kita datangi.”
“Gitu ya mas, Arum memberikan kunci ketangan Habibi.”
Habibi mengendarai mobil yang masih searah dengan dengan rumahnya dan kemudian memasuki kawasan perumahan baru. Komplek perumahan mewah yang di gerbang masuknya di jaga 2 orang security. Security tersebut dengan sangat cepatnya membuka portal saat mereka melihat Habibi yang datang. Mereka menegur dengan sangat ramah dan membungkukkan badannya. Mobil berhenti di depan rumah yang memiliki pagar yang tinggi. Security dengan cepat membukakan pagar rumah mewah tersebut. Rumah bertingkat, dengan model minimalis.
Arum memperhatikan rumah besar itu. Habibi menekan bel. Seorang wAnita setengah baya membukakan pintu dan mempersilahkan Habibi dan Arumi masuk. Wanita tersebut tampak begitu sangat sopan.
“Dek.”
“Iya mas.”
“Ini mbak keke.”
Arum menyalami tangan wanita tersebut, “Arumi mbak.” Arumi hendak mencium tangan wanita itu. Namun dengan cepat wanita itu menarik tangannya.
“Maaf non Arum. Saya di sini hanya pembantu.”
Arum terdiam melihat wanita itu, kalau dilihat dari penampilannya, baju yang di pakai oleh wanita itu tampak sangat sederhana. Namun Arum tidak melihat pemilik rumah ini. Rumah tersebut tampak sangat sepi.
“Bik, kita makan siang di sini.”
“Iya den, bibik sudah siapkan.”
Arum masih tampak heren. Mereka datang ke rumah orang. Tapi yang punya rumah gak tau siapa. Mereka seperti tidak sopan datang ke rumah orang.
“Dek, kalau mau keliling-keling melihat rumah ini boleh.”
Arum diam. “Ini rumah siap mas?”
“Menurut kamu ini rumah siap dek?”
Arum menggelengkan kepalanya. “Dari tadi yang punya rumah gak keliatan.” Balasnya.
__ADS_1
Habibi tersenyum. “Ini rumah kamu.”
“Apa,” Arum terkeju dan kalimat itu keluar begitu kerasnya.
“Iya ini rumah kamu dek. Mami yang kasi.”
“Mas, ini berlebihan. Kalau mau di kasi rumah, rumah yang biasa aja untuk Arum.”
“Apanya yang berlebihan dek?”
“Rumahnya. Pakai security dan art lagi mas.”
“Scurity dan art itu mas yang gaji. Ini mami yang sudah siapkan untuk kamu dek. Kalau kamu nolak, Mas bisa babak belur dihajar mami. Adek mau ganteng mas langsung hilang. Apanya yang berlebihan dek. Adek lupa, kalau adek itu calon istri mas.”
“Apa ibuk tau tentang rencana mas, yang mau nunggu Arum?”
“Ya taulah dek.”
“Gak apalah ganteng mas hilang. Arum gak enak nerimanya mas.”
“Tapi lebih gak enak lagi kalau nolak dek. Mami bisa marah dek. Kalau mami sudah mulai marah, jangan kan mas, papi aja gak berani masuk kamar.”
Arum langsung membesarkan matanya sehingga mata cantik tersebut tampak bulat sempurna. Dengan bola mata yang hitam dan besar.
Terdengar dering ponsel Habibi, dilihatnya ternyata telpon dari sang mami. “Mami dek. Kalau mami tanya kamu suka rumahnya, bilang suka ya dek.”
Arum mengangguk.
“Wa’alaikumsalam, gimana, apa sudah sampai di rumah Arum?”
“Sudah mi, ini lagi keliling-keliling rumah.”
“Apa Arumnya suka?”
“Suka sekali mi, ini Arumnya ada di samping Bibi mi.”
“Kasi hp ke Arumi. Mami mau ngomong.”
“Iya mi.”
Sambil memberikan ponsel ke tangan Arumi.
“Hallo Assalamu’alaikum buk.”
“Wa’alaikumsalam sayang. Maaf ya ibuk gak bisa ikut Arum untuk ngecek rumahnya. Tapi Arum sukakan, kalau ada yang Arum kurang suka modelnya atau furniture, serta yang lainnya. Arum bilangan aja sama ibuk. Nanti ibuk ganti.”
“Ya Allah buk Arum mau nagis,” Arum nampak sedang menahan air matanya.
“Kenapa sayang.”
__ADS_1
“Arum gak pernah mimpi mau tinggal di rumah sebesar ini buk. Rumah yang kecil sederhana aja Arum sudah senang buk.”
“Sayang, ibuk hanya ingin memberikan yang terbaik untuk kamu. Semua itu pantas untuk kamu.”
“Makasih ya buk.”
“Iya sayang.”
Habibi tampak senyum-senyum. Dia memang tidak sedang menakuti Arumi. Tapi itulah faktanya. Apa bila Anita sudah marah. Maka si papinya saja lebih memilih untuk tidur di luar 😂
Habibi dan Arumi makan siang di rumah baru Arum. Ruang makan yang besar, dengan berbagai menu yang tersaji lengkap dengan buah, dan makanan pembuka lainnya.
“Masakan mbak Keke ternyata enak ya mas.” Puji Arum yang sangat menikmati makan siang mereka.
Setelah selesai makan siang mereka melanjutkan keliling-keliling untuk melihat isi rumah, mereka menuju ke ruang belakang, taman belakang dan taman samping. Rumah mewah ini di dilengkapi dengan kolam renang. Kemudian mereka naik ke lantai 2. Di lantai dua ada lima buah kamar. Kamar utama dan kemudian 4 kamar dilengkapi dengan kamar mandi. Di bawah, ada beberapa kamar pembantu. Arum benar-benar tidak percaya kalau dia akan menempati rumah ini.
“Mas,” kata Arumi.
“Apa dek?
“Mbak keke apa tinggal di sini juga?”
“Iya dek. Kenapa?”
“Kalau tinggal di rumah sebesar ini berdua dengan mbak keke serem juga.”
“Kenapa?”
“Mbak keke di bawah sendiri. Arum di atas sendiri.”
Habibi tertawa.
“Hari sabtu kita kemampung adek.”
“Ngapain?”
“Tapi adek takut sendiri.” Jawab Habibi.
“Terus apa hubungannya dengan kampung Arum?”
“Kita jemput ibu dan adek-adek kamu.”
“Apa? Mas serius.”
Habibi menatapnya. “Iya dek, mas serius.”
“Mas, makasih ya.”
“Nanti kita langsung angkat barang-barang kamu.”
__ADS_1
“Iya mas.”