Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 105


__ADS_3

Habibi yang duduk di mejanya. Memeriksa laporan matanya selalu mengamati gadisnya yang tertidur di sofa. Para karyawan sudah pulang Arum masih nyenyak dengan tidurnya.


Mata Arum mulai terbuka saat ia melihat kesekeliling ruangan. Ia baru sadar kalau ternyata dia sedang di kantor. Matanya melihat sosok pria yang sedang duduk di mejanya dengan mata tertuju ke monitor komputer. Habibi melihat Arum yang baru bagun.


“Sudah bangun?”


“Sudah mss, Arum ketiduran.”


“Capek banget ya dek ujian nya?”


“Gak sih mas.”


Habibi mematikan komputernya. “Udah yuk pulang.”


“Kok pulang mas?”


“Mau ginap di sini kita dek?”


“Gak sih mas.”


“Udah yuk pulang. Apa mau mas gendong?”


“Gak usah mas. Arum bisa jalan sendiri. Emangnya ini udah jam berapa?”


“Lihat aja jam di tangan kamu dek.”


“He.....he.... Arum lupa. Hah... Sudah jam 6 lewat. Mas, kenapa gak bangunin Arum.”


“Malas.”


“Ih mas gitu.”


“Mas tadi banyak kerjaan. Makanya adek tidur mas biarin aja.” Sambil tersenyum.


Arum Tampak memanjangkan bibirnya. Mereka turun dari lift. Kondisi kantor yang sudah sangat sepi. Hanya tinggal security. Mereka jalan ke parkiran dan masuk ke dalam mobil.


“Gimana tadi ujian nya?”


“Arum lewat passing UI mas. Tapi gak tahu, pesaing Arum kalau nilainya di atas Arum.”


“Harus yakin kamu Lulus. Kapan keluar hasil tesnya?”


“3 Minggu lagi.”


“Amin.”

__ADS_1


“Makasih ya mas do’anya.”


*********


3 Minggu ternyata waktu yang lama untuk sebuah penantian. Arum yang sedang duduk di ruangannya Tampak sibuk memegang ponsel miliknya. Sudah berulang kali gadis itu membuka web SPMB untuk mengecek kelulusannya. Namun tetap saja tidak bisa ia mengecek. Mungkin karena terlalu banyak pengguna yang saat ini sedang membuka situs tersebut.


Ponsel yang di tangan Arum berdering. Ardi memenggil. Dengan cepat Arum langsung mengangkat panggilan tersebut.


“Hallo Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumsalam.”


“Arum selamat ya. Kamu lulus UI kedokteran.”


“Yang benar di?”


“Iya ini aku sedang cek nomor peserta kamu. Aku kirim wa ya screenshotnya.”


“I...i....iya Di.”


“Jangan lupa, traktirannya.”


“Makasih ya Di. Udah banyak bantuan aku.”


“Iya sama-sama. Dah ya aku kirim.”


Arum keluar dari ruangannya dengan berlari. Ia masuk ke dalam ruangan Habibi. Melihat gadis itu masuk, Habibi yang sedang berdiri di jendela kaca yang besar melihat pemandangan Jakarta yang padat dari lantai 27 kantor. Memandang gadis tersebut.


“Ada apa?”


“Mas.... Arum lulus.” dan Langsung memeluk pria tersebut. Iya begitu senang. Saat ini yang ia inginkan, berada di pelukan pria yang dicintainya. Cukup lama ia memeluk tubuh pria tersebut, mendengarkan dengan jelas detak jantung pria itu. Mencium aroma tubuhnya yang maskulin.


Habibi mencubit dagu Arumi dengan sangat lembut. Kemudian mengangkat wajah cantik gadis tersebut. Terlihat air mata gadis itu menetes. Ia menghapusnya.


“Selamat ya sayang.” Habibi mencium keningnya.


Arum kembali menenggelamkan wajahnya di dada bidang Habibi. “Mas, akhirnya Arum bisa wujudkan cita-cita ayah mas. Ayah ingin Arum jadi dokter dan kuliah di UI.”


Ini pertama kalinya Habibi melihat Arum menagis. Gadis itu tidak pernah sekalipun menagis. Bahkan saat lenganya di tertembak senjata api, saat ia di tindas karyawan CS ia bahkan tidak pernah menagis. Namun kini di saat ia lulus di universitas yang dulu ayahnya menimba ilmu, Arum menagis.


“Udah jangan sedih. Mestinya kamu senang dek.” Sambil mengusap air mata yang masih menetes di pipi putih tersebut.


“Arum sangat senang mas, dan terlalu senang.” Ia senyum. “Arum serasa sedang mimpi. Arum gak nyangka kalau do’a Arum di kabulkan. Arum ingin Ayah tenang di sana dan bangga.” Kembali tangisnya pecah.


Selama ini ia selalu berusaha menjadi sosok yang paling tegar. Ia hanya menagis saat hari ayahnya meninggal dan saat ayahnya di kubur. Ia menunjukkan bahwa dia kuat untuk menguatkan sang ibu. Begitu sesak didadanya saat harus menahan tangisnya. Bukanlah mudah untuk merubah air mata menjadi senyuman. Namun hari ini ia seakan melepaskan semuanya.

__ADS_1


Habibi memeluk tubuh gadis tersebut. “Kamu boleh nagis sepuasnya.” Sambil mengusap kepala Arumi.


Sudah puas iya menagis. Iya mengangkat wajahnya.


“Mas makasih udah hadir dalam hidup arum.”


Habibi mencubit dagunya melihat mata Arumi. Terlihat wajahnya yang tampak sudah plong tanpa beban. Arum melepaskan pelukannya.


“Selamat ya dek. Kuliah yang rajin, jangan malas dan cepat tamat, biar Abang bisa melamar adek.”


Arum senyum dengan melihatkan gigi putihnya, “oke. Arum Janji, bakalan rajin kuliah dan punya IPK tinggi, bisa tamat cepat dan kita nikah.”


“Ya Allah dek. Udah gak sabar mas nunggu waktu itu datang.”


“4 tahu gak lama mas. Mas sabar ya.”


“Ini bukan di novel dek. 4 tahun bisa di singkat 4 tahun kemudian. Disini, detik jam bergerak setiap waktu dek. Tanpa bisa di minta next.”


Arum senyum, “kata mas sayang Arum. Mau nungguin Arum.”


“Tapi kalau mas lepas kendali gimana dek?”


Arum diam. Ia tidak mengerti dengan kondisi seperti ini. Namun ia juga tahu bahwa laki-laki dewasa memiliki hasrat yang tinggi untuk memuaskannya.


“Apa mas udah gak bisa mengendalikan diri mas lagi?”


Habibi menarik nafas dengan sangat kasar kemudian menghempaskannya.


“Insyaallah dek. Mas gak mau ganggu kuliah kamu dan mas maunya kamu cepat tamat.”


Arum senyum. “Arum janji agar bisa tamat secepatnya.”


*********


setelah menyelesaikan semua administrasi, dan berbagai syarat Arum mendapatkan KTM nya. Awal September ia sudah mulai kuliah. Namun Habibi tidak memberhentikannya. Ia bekerja bila jam kosong dan pulang dari kampus akan datang ke kantor untuk menjemput bos nya.


Habibi mengangkat satu asisten pribadi lagi Rasid. Habibi mengangkatnya untuk menjadi asisten pribadi, karena Rasid sangat pintar, bertanggung jawab, disiplin dan memiliki bela diri yang tinggi. Walaupun tidak sehebat Arum yang memang sudah terlatih secara khusus. Arum yang memang memiliki pendidikan bodyguard yang memiliki izin resmi kepemilikan senjata api dan ahli dalam menembak.


*****


maap ya reader kalau author lagi lelet dan Lola. Maklum bulan puasa jadi lemas.


Makasih ya atas support.


😍😍😍

__ADS_1


moga puasa Kita lancar dan di beri kan kesehatan.


__ADS_2