Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 350


__ADS_3

“Ini permintaan mimi atau si kembar,” tanya Habibi.


“Sepaket Mas,” jawab Arumi.


“Iya Mas suapin tapi mandi dulu biar segar."


“Iya Mas Arum mandi sebentar." Arum yang beranjak dari duduknya.


Habibi duduk di atas tempat tidur sambil memandangi istrinya yang membuka jilbab dan juga pakaiannya.


“Mas jangan lihat seperti itu,” ucap Arum.


“Kenapa? Apa ada larangan lihat istri?"


“Ya nggak ada larangan Mas hanya saja nanti mas bakalan minta itu. Arum lagi lapar nggak ada tenaga,” elak Arumi yang sudah sangat hafal tabiat suaminya.


Habibie tersenyum mendengar ucapan istrinya. “Ya udah cepat mandi, mas kasihan nih jadi mas lepaskan, tapi nanti setelah makan dan sudah kenyang jangan lupa,” ucapnya.


Arumi Menganggukkan kepalanya "Arum mandi bentar," ucapnya yang berjalan menuju ke kamar mandi.


Arum keluar dari kamar mandi dan memandang suaminya yang sedang membuka jasnya dan juga melepaskan dasi yang melingkar di lehernya.


“Ketoprak Arum belum datang ya Mas?” tanya Arumi yang memandang suaminya.


“Belum,” jawab Habibi.


Arum mengambil pakaiannya di dalam lemari dan memakai piama yang berwarna merah.


“Halo iya Aldo," ucap Habibi menjawab panggilan telpon dari Aldo.


“Pak saya sudah sampai di rumah dan ketopraknya akan saya berikan kepada bik Ani,” ucap Aldo.


"Iya, kamu berikan saja kepada Bik Ani dan minta bik Ani antarkan ke kamar saya,” ucap Habibi.


“Baik Pak,” jawab Aldo yang memutuskan sambungan telepon tersebut.


" ketoprak Arum udah datang ya Mas,” ucap Arum yang memandang suaminya.

__ADS_1


“Iya tunggu sebentar ya, bik Ani akan antar ke sini,” jawab Habibi.


“Iya Mas,” jawab Arum yang tersenyum.


Habibi membuka pintunya ketika mendengar suara bel di kamarnya.


“Ini pak, pesan ibu" ucap bik Ani yang berdiri di depan pintu.


"Terima kasih ya bik Ani," ucap Habibi ketika asisten rumah tangganya tersebut berdiri di depan pintunya dengan membawa piring, sendok dan juga air minum dan piring yang berisi ketoprak. Habibi mengambil nampan tersebut.


“Iya pak,” ucap bik Ani yang kemudian pergi meninggalkan kamar tersebut.


Habibi mendekati tempat tidur di mana istrinya sedang duduk. Pria itu memegang nampan. Meletakkan nampan tersebut di atas tempat tidur.


"Makannya harus banyak,” ucapnya yang mengarahkan sendok yang berisi ketoprak ke mulut istrinya.


Arum masukkan sendok itu kedalam mulutnya dan menganggukkan kepalanya. Rasa ketoprak itu sesuai dengan yang diinginkannya. Ketoprak yang saat ini di makannya terasa begitu sangat nikmat dan enak. Hanya sekejap ketoprak itu berada di dalam mulutnya, Arum sudah menelannya dan membuka mulutnya lagi agar suaminya kembali memasukkan ketoprak ke dalam mulutnya.


Habibie tersenyum saat melihat istrinya makan. Ia kemudian memasukkan sendok yang berisi ketoprak ke dalam mulut istrinya.


Arum mengambil kerupuk yang ada di atas ketoprak itu dan mengunyah kerupuk. “Ketopraknya enak banget Mas, Mas boleh coba tapi jangan banyak-banyak,” ucapnya yang begitu sangat takut bila nanti ketopraknya habis dan ia merasa tidak cukup.


“Udah Mas satu sendok aja,” ucap Arum yang kembali membuka mulutnya.


“Ibu hamil kok pelit sekali,” ucapnya yang memasukkan ketoprak ke dalam mulut istrinya.


“Bukannya pelit Mas, Arum makannya bertiga,” ucapnya yang mengusap perutnya.


Habibi diam saat mendengar ucapan istrinya. Dia lupa menyuruh Aldo untuk membeli 3 porsi ketoprak atau bahkan 10 hingga 50 porsi pun tidak akan menjadi masalah baginya.


"Mas Arum masih kurang ketopraknya,” ucapnya memandang wajah suaminya ketika piring itu sudah licin.


“Iya Mas bakalan nyuruh Aldo untuk beli lagi,” ucapnya yang kembali menghubungi Aldo. Habibi tersenyum ketika mendengar jawaban pengawal pribadinya. “Minta bik Ani antar,” perintahnya.


“Baik Pak,” ucap pria yang bertubuh kekar yang saat ini berada di posko penjagaan rumahnya.


"Aldo beli berapa bungkus Mas,” ucap Arum yang tersenyum memandang suaminya.

__ADS_1


“Kalau dengar jangan dihabisin semua ya,” jawab Habibi.


Arum menganggukkan kepalanya, “paling banyak Arum makan cuman 3 porsi Mas, soalnya tadi siang Arum nggak makan, jadi Arum harus ganti makan tadi siang dengan yang sekarang,” ucapnya.


“Iya Mas minta antarkan dua porsi lagi untuk Arum dan juga sih kembar, karena sekarang makannya sudah bertiga,” ucapnya.


“Iya Mas,” ucap Arumi yang begitu sangat senang.


***


Arum memegang tangan suaminya. Saat ini hatinya begitu sangat tidak tenang.


Habibi tersenyum memandang istrinya. Pria itu mengusap kepala istrinya. Diciumnya punggung tangan istrinya. Habibi mencium kening, bibir, pipi kanan dan kiri, seakan apa yang dilakukannya merupakan cara terampuh untuk dapat membuat hati istrinya menjadi lebih tenang. “Nanti saat Mas berbicara dengan Yuli, Adek tunggu Mas di sini bersama dengan anak-anak. Bila nanti pembicaraan kita Sudah selesai mas akan panggil Adek dan juga Rangga untuk bertemu dengan Yuli,” ucapnya saat berada diruangan Istrinya.


“Apa Mas akan memastikan masalahnya dahulu,” ucap Arum.


“Iya Mas akan memastikan itu semua. Mas membahas semua ini dengan pengacara keluarga kita. Mas sudah meminta agar. pengacara kita, menyelesaikan semuanya,” ucapnya yang tidak ingin mengambil keputusan secara sepihak. Apapun yang di lakukannya, Habibi harus memiliki dasar hukum yang kuat. Habibi juga menginginkan agar tidak ada masalah dikemudian hari. Yuli bisa saja datang dengan pihak keluarga dan merubah pendiriannya.


Arum tersenyum mendengar ucapan suaminya. "Arum lega mendengarnya. Arum bakalan bawa Rangga dan Vira kebawah bila mas memanggil,” ucapnya agar suaminya bisa lebih fokus menyelesaikan masalah tersebut.


Habibi menganggukkan kepalanya. Ia mencium bibir istrinya. “Jangan pikir yang nggak-nggak,” ucapnya.


“Arum cuma enggak mau kehilangan Rangga. Mas, Rangga itu sudah jadi bagian keluarga kita, dia sudah jadi anak kita,” ucapnya.


“Iya sayang, mas juga tidak ingin kehilangan rangga,” jawabnya.


Habibie memandang ponselnya yang berdering. di angkatnya sambungan panggilan telepon tersebut. "Ya halo,” ucapnya.


“Hallo Pak Habibi, Saya sudah berada di rumah sakit istri bapak,” ucap pria dari seberang sana.


“Baiklah, saya akan langsung turun ke bawah,” ucap Habibi.


"Mas turun ke bawah dulu,” ucapnya saat sudah mematikan sambungan telepon tersebut.


Arum menganggukkan kepalanya. Arum memandang Rangga dan juga Vira yang duduk di sofa yang berada di ruangannya sambil menonton film kartun. Kedua anaknya sudah sangat dekat bahkan terlihat saling menyayangi. Arum tidak ingin kedua anak itu berpisah.


Habibi mencium kening istrinya. Habibi tersenyum memandang istrinya dan mengusap kepala istrinya. Habibi Sangat senang saat kondisi istrinya sudah mulai stabil. Pria itu kemudian pergi meninggalkan ruangan tersebut.

__ADS_1


***


Jangan lupa like dan komen ya reader. Alhamdulillah sudah 350 episode Arumi nya. 😊 terimakasih ya atas dukungannya. 😘😘


__ADS_2