
Habibi memberikan Arum air putih dan obat.
“Badan kamu apa masih, panas?” tanya Habibi.
“Udah turun terakhir cek udah 37.”
“Udah, minum obat dulu.”
Arum membuka bungkus obat dan memasukkan kemulutnya serta minum air.
“Kamu istirahat ya.” Kata Habibi.
Arum menganggukkan kepalanya. “mas mau ke kantor?”
“Gak mas mau di sini aja.” Jawab Habibi.
“Assalamu’alaikum.” Terdengar suara seorang wanita memberi salam sambil berdiri di depan pintu kamar Arumi.
“Wa’alaikumsalam, masuk ka.” Jawab Arumi sambil mempersilakan Eka masuk ke kamarnya.
“Aku lihat pintu kamar kamu terbuka. Kamu sakit rum?” kata Eka sambil matanya melirik Habibi yang duduk di dekat Arumi.
“Cuman demam aja.”
“Mas, mau buka email dulu ya.” Kata Habibi sambil memegang kepala Arumi dan mengelusnya dengan sangat lembut.
Arum mengangguk kepalanya.
Eka melihat kearah Habibi yang duduk di lantai sambil mengeluarkan laptopnya.
“Gila si Arum. Hebat benar dia bisa gaet bosnya. Mana ganteng amat lagi. Tadi pagi cool habis dan sekarang kaya, ganteng, keren dan yang kemarin-kemarin bule. Buset nih anak, gayanya alim banget. Tapi matre habis. Bisa mudah amat dekatin cowok kaya,” gumam Eka dalam hati.
“Kamu gak kerja,” tanya Arumi.
“Iya ini mau berangkat, aku lihat kamu sakit. Makanya aku lihat kamu dulu.”
“Udah baikan kok.”
“Jadi semalam yang rawat kamu Ardi?”
Arumi menganggukkan kepalanya.
“Aku tadi nampak dia keluar dari kamar kamu mau ke kampus.” Kata Eka lagi.
“Iya.”
“Ardi itu sahabat yang baik sekali ya. Jarang ada teman yang sampai perhatian segitu hebatnya.”
“Dia emang gitu orangnya.” Jawab Arumi.
“Tapi dia cuek.”
“Cuek gimana?”
“Aku tegur dia , dia cuma jawab ya. Terus gak lihat aku sama sekali.” Protes Eka kepada Arumi.
“Makanya kamu pakai baju.”
“Pakai kok.”
“Kamu pasti pakai celana hotpants dan baju tanktopkan?”
__ADS_1
“Iya sih.”
“Ardi tu gak suka sama cewek yang suka buka-bukaan.” Kata Arumi sambil senyum.
“Katanya gak penasaran. Kalau beli roti, roti yang terletak tanpa bungkus, dengan roti yang memakai bungkus. Udah pasti dia bakalan pilih roti yang pakai bungkus.”
“Tapi orang-orang pada suka lihat aku seksi. Mereka selalu muji aku.”
“Kalau lihat semuanya untuk terbuka, gak ada penasarannya lagi. Ini lagi, kenapa kamu pakai baju seperti ini kulit kamu yang putih entar jadi belang loh.” Kata Arumi sambil memberikan senyum dengan tulus.
Eka yang terlihat sangat seksi dengan rok sepan pendek, dan baju casual yang memperlihatkan dadanya yang terbungkus setengah. Ia bekerja di salah satu toko baju.
“Kamu gak kerja?” tanya Eka.
“Gak.”
“Aku pinjam motor kamu ya.” Kata Eka.
Habibi langsung mengangkat kepalanya
“Iya pakai aja, kunci nya di situ.” Kata Arumi sambil menunjuk meja kecil di kamarnya.
“Aku nanti pulang jam 9 malam.”
“iya gak apa.” Arum jalan kearah lemari dan mengambil uang 100 ribu dari dompetnya dan membungkuskan kue serta minuman kaleng.”Ini,” kata Arumi sambil memberikan uang tersebut kepada Eka.
“Untuk apa, kamu mau titip apa?”
“Isi bensin dan sisanya untuk kamu.”
“Untuk gak usah, bensin aku yang isi. Kan aku yang pinjam.”
“Rum, lo jangan gini dong. Gua gak enak sama lu.”
“Udah gak usah segan. Arum ikhlas kok. Ni, untuk snack kamu di toko.”
“Makasih ya, cepat sembuh,” kata Eka sambil mencium pipi Arumi dan memeluknya
dan melangkah pergi.
Setelah Eka pergi, Arum menarik selimut tidurnya.
Habibi yang selalu memperhatikan Arum dan eka.
“Mas Arum tidur ya,” kata Arumi.
“Iya kamu istirahat aja. Mas di sini kok.”
“Arum, aku berangkat ya,” teriak Eka. Eka telah menganti bajunya dengan kemeja panjang tangan dan celana jeans.
“Hati-hati ya.”
Eka naik ke motor Arumi dengan memakai helm.
“Aku baru mengetahui, mengapa mereka menyukai mu. Kau sangat baik Arum.” Bisik Eka dalam hati.
Saat ini eka memang tidak ada uang. Bahkan untuk naik ojol pun dia tak mampu, seharusnya dia gajian sejak dari kemarin. Namun toko tempat dia bekerja belum membayar gajinya. Kemungkinan dia akan gajian hari ini. Saat Arum memberi dia uang, dia benar-benar sangat senang karena dia bisa makan siang.
Setelah Eka pergi, Habibi duduk di atas tempat tidur Arum, wajah yang tampak masih pucat dan kondisi yang terlihat masih lemas. “Kamu kasih pinjam teman kamu motor, juga memberikan dia uang?”
“Iya, Arum yakin dia belum gajian dan gak ada uang. Kalau dia ada uang, dia pasti naik ojol. Dia gak mungkin mau minjam motor Arum.”
__ADS_1
Habibi mengelus kembali kepala Arum. “Istirahat, mas di sini nungguin kamu.”
“Arum dah sehat kok. Kalau mas ke kantor gak apa.”
“Udah gak usah banyak yang di pikirkan, mas udah minta Sasa kirim ke email mas. Kamu lupa, kalau mas ini bos, mas mau masuk atau gak masuk. Siapa yang berani negur mas, siapa yang berani pecat mas.”
“iya Arum tau. Bos ma bebas.”
“Dah istirahat.”
Arum mulai memejamkan matanya yang sudah ngantuk dari tadi dan tertidur.
Habibi sibuk mengecek laporan, dan beberapa berkas di email-nya.
Gak tau berapa lama Arum tertidur dia baru bangun ketika pesan wa masuk ke ponselnya.
Ardi: Kamu mau aku belikan apa untuk makan siang?🤔
Arum: gak usah, Arum udah makan
Ardi: siapa yang belikan?
Arumi: ini ada mas ganteng😂
Ardi: siapa itu?😡
Arumi: ada deh.😂
Ardi: jangan lupa minum obat. Mas ganteng suruh pulang.
Arumi: gak mau enak lihat mukanya. Arum makin cepat sembuh 😛
Ardi: jangan macam-macam. gak usah banyak gaya😡
Arumi: Arum gak macam-macam cuman satu macam aja. Arum juga gak banyak gaya, cuman satu gaya aja kok.
Ardi: dosen aku dah masuk. Nanti aku chat lagi
Arum:👌😊 jangan lupa makan.
Ardi senyum. Pasti ojol.
“Kamu dah bagun,” sapa Habibi yang melihat Arumi telah bangun.
“Udah mas.”
“ayo makan. Mas udah beli.”
“Kita makan di situ aja,” kata Arumi sambil menunjuk ke lantai.
“Gak usah, biar mas suapin kamu.”
“Arum udah enakkan. Kita makan sama aja.”
“oke lah bosque.” Habibi akhirnya mengalah.
Arum senyum.
“Tadi chat sama siapa?” tanya Habibi.
“Ardi. Dia mau antarkan Arum makan siang. Arum bilang gak usah udah ada.”
__ADS_1