Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 247


__ADS_3

" Bangun," Ucap Habibi yang mencium pipiku istrinya namun istrinya masih tidak bangun. Ia kemudian mencium bibir istrinya, Istrinya mulai bergerak dan membuka matanya.


" Arum masih ngantuk Mas," ucapnya yang kemudian menarik selimut dan menutupi kepalanya.


" Subuh sayang nanti tidurnya disambung," ucapnya kepada istrinya.


" Belum ini masih jam 2 malam," ucap Arum menjawabnya.


" Kita aja semalam baru selesainya jam 3 subuh, masa sekarang jam 2 malam," Ucapnya Sambil mencubit hidung istrinya ketika Ia sudah menurunkan selimut yang menutupi kepala istrinya.


Arum kemudian tertawa saat mendengar ucapan suaminya tersebut. " Masih ngantuk," ucapnya.


" Ia Sholat dulu habis sholt Nanti tidur lagi," ucap pria tersebut merayu istrinya.


Arum mengingat Bagaimana semalam Ia menghabiskan malam bersama suaminya. Suaminya sudah menyiapkan Lingerie seksi berwarna putih untuk nya, bahkan Suami nya juga menyiapkan pakaian dalam yang transparan. " Langsung aja kenapa sih Mas enggak usah pakai gini-ginian," ucap Arum saat melihat baju lingerie yang diberikan suaminya yang begitu transparan.Ia memprotes saat suaminya memintanya untuk memakai pakaian tersebut.


" Beda sensasinya," ucap Habibi dengan tersenyum mesum Memandang istrinya.


" Ini nanti pasti koyak-koyak," ucapnya yang mulai mengomel.


Habibi tersenyum saat mendengar omelan istrinya tersebut. " ya nanti nggak koyak kok bukanya pelan-pelan," ucapnya kemudian.


" Janji ya jangan di koyak," ucapnya yang tidak yakin dengan ucapan suaminya. suaminya selalu mengatakan tidak akan mengoyak lingerie yang dipakai nya. Namun pada kenyataannya saat mereka melakukan pemanasan suami nya akan mengoyak lingerie tersebut. Lingerie yang di milikinya hanya untuk satu kali pakai .


Ia masuk ke kamar mandi dan mengganti bajunya, Ia keluar dengan pakaian yang sudah teramat sangat seksi yang membuat suami nya begitu sangat tergoda saat melihat tubuh seksi istrinya.


"Adek sempurna banget," ucapnya saat memandang istrinya yang begitu sangat cantik dengan rambut yang panjang, hitam dan panjang sepinggang dibiarkan nya lepas.


Arum tersenyum malu saat Ia mengingat peristiwa semalam yang dihabiskannya bersama dengan suaminya. Mereka hanya beristirahat sebentar dan kemudian melanjutkannya kembali. Pagi ini terasa badannya begitu sangat sakit dan juga lemas.


" Iya Arum bangun," ucapnya ketika suami nya kembali ingin menarik hidungnya.


" Mas Arum lemas badan arum rasanya mau lepas," ucapnya yang duduk lemas.


Habibi hanya tersenyum memandang istrinya tersebut Ia tidak bisa menjawab apa-apa karena memang ulahnya yang mengajar istrinya tanpa ampun. " Ayo Mas gendong," Ucapnya yang membuat istrinya kembali tersenyum begitu senang nya.


Mereka mandi dan kemudian Sholat, setelah sholat Ia kembali naik ke atas tempat tidur.


" Mas , Arum mau tidur lagi," ucapnya yang naik ke atas tempat tidur. Ia kemudian berbaring di samping suami nya dan memeluk suaminya.


Habibi tersenyum memandangnya dan kemudian menganggukkan kepalanya.


Ia juga ikut tertidur bersama dengan istrinya.


***


"Bangun sayang," ucapnya Saat sudah jam 9 pagi. Ia sudah membawa sarapan untuk istrinya.


Arum membuka matanya dan mencium aroma masakan yang begitu enak. Ia kemudian duduk. Ia sangat senang melihat perhatian full dari suaminya.


" Sarapan," ucap Habibi


Arum menganggukkan kepalanya Ia makan bersama dengan suaminya tersebut.


" Mau pulang siang ini atau mau menginap satu malam lagi," Ucapnya saat Ia mengarahkan bubur ayam ke mulut istri nya.


" kangen Vira Mas kalau lama gak jumpa," Ucapnya.

__ADS_1


" Ya udah nanti siang kita pulang sekaligus jemput si cerewet ya," ucap Habibi.


Arum menganggukkan kepalanya malam ini Ia merasa semuanya seperti awal mula Ia menikah dengan suaminya.


Arum mengutip lingerie yang ada di lantai yang sudah habis dikoyak-koyak oleh suaminya tersebut. " Mas bohongkan katanya nggak bakalan koyok nih buktinya koyak-koyak semua," ucapnya mengangkat lingerie tersebut.


Habibi tersenyum memandangnya.


" Bahannya terlalu tipis," ucapnya menjawab.


" Mas bilang pelan-pelan, mana ada pelan-pelan ," ucapnya.


Habibi hanya tersenyum saat melihat istrinya mengomel.


" Arum jahit ajalah," ucapnya kemudian.


" Jahit," ucap Habibi yang mengerutkan keningnya.


"Minta jahit sama Kak Eka biar kakak langsung nikah," ucapnya Sambil tertawa.


" Nggak sopan," ucap Habibi saat mendengar perkataan istrinya.


" Kak Eka itu nggak mau nikah, kayaknya dia masih trauma," ucap Arum.


" Ya kalau masalah yang dihadapinya seperti itu siapa nggak trauma," jawab Habibi.


" Tapi sepertinya Mas Heri suka sama Kak Eka," ucap Arum kemudian.


" Adek tau dari mana?" tanya Habibi kepada istrinya.


Habibi hanya mengangguk kan kepalanya.


" Nanti kak Eka wisuda, Arum boleh lihat ya Mas," ucapnya sambil memandang suami nya.


Habibi menganggukkan kepalanya. " Boleh," jawabnya.


" Arum kasihan lihat kak Eka, satu-satunya orang yang Dia harap datang ke acara wisuda nya cuma Arum. Keluarganya Sampai sekarang gak mau tahu sama dia," ucapnya.


" Ntar keluarganya tahu dan mau dekat Kalau dianya sudah sukses," ucap Habibi.


Arum kemudian duduk di samping suaminya dan menyandarkan kepalanya di dada suaminya. Ia memegang-megang Dada suaminya.


" Mau lagi," tanya Habibi.


" Nggak," jawabnya yang langsung menjauhkan tangannya dari dada suaminya.


" Kenapa mancing?" tanya.


" Arum gak mancing kok," Ucapnya


Mereka keluar dari hotel Jam 11 Siang dan langsung ke rumah mertuanya.


*****


" Kak Eka," ucap Arum yang memanggil wanita yang sudah seperti kakak angkatnya tersebut.


" Arum," ucap Eka yang begitu senang saat melihat Arum datang bersama dengan Vira dan juga May sarah. Ia melambai-lambai kan tanganya kemudia Ia berlari mengejar adik angkatnya tersebut.

__ADS_1


Eka langsung memeluknya. " Kakak kira Arum gak datang," ucapnya yang mengusap air matanya.


" Arum udah janji Kak mau datang cuman Arum gak bisa pagi, soalnya kalau pagi Jam 9 sampai jam 11 Arum ada rapat di rumah sakit," ucapnya Ia kemudian memberikan satu buket bunga dan juga Boneka wisuda Teddy Bear yang di belinya.


" Arum makasih ya, jangan berfikir untuk kuliah, bermimpi pun kakak gak pernah. Tapi Arum orang yang sudah membuat kakak bisa sampai ke sini. Kehidupan yang sekarang kakak jalani seperti sebuah mimpi kakak di malam hari," Ucapnya yang kemudian mengusap air matanya.


" Arum Makasih," ucapnya sambil memeluk adik angkatnya. Ucapan terima yang di ucapnya hingga ribuan kali rasanya masih belum bisa untuk membuat Ia merasa puas.


" Iya Kak, Kakak hebat Arum salut lihat kakak," ucapnya memujinya.


Eka menggelengkan kepalanya. " Bila waktu itu kakak gak jumpa dengan Arum, Kakak gak bakalan kayak gini," ucapnya.


Ia begitu sangat menyayangi Adik angkat nya tersebut. Bahkan Ia lebih menyayangi Arumi dari pada Adik kandung nya. Ada rasa rindu di hati nya saat Ia mengingat keluarga nya. Ia pernah mencoba untuk datang ke rumah orang tuanya saat itu Daffa berusia 2 tahun namun kedua orang tuanya mengusirnya, Ia hanya menjadi sampah di mata Keluarga.


kedua orang tuanya dan juga adik-adiknya tidak ada yang mau memandang putra yang dibawahnya. Mereka bahkan langsung mengusirnya saat Ia baru sampai di depan pintu. Hinaan dan cacian begitu keras terdengar, hingga para tetangga keluar dari dalam rumah mereka untuk melihat keributan yang terjadi. Sedangkan Heri yang di minta Arum untuk menemani Eka menunggu nya sedikit jauh dari rumah orang tua Eka karena Eka yang memintanya. Pada saat itu Ia hanya menangis sambil menutup telinga putranya. Ia kemudian pergi meninggalkan rumah orang tua nya tersebut. Ia bahkan begitu kagum melihat keluar Habibi dan Arumi. Habibi yang berasal dari keluarga terpandang, dan berpendidikan tidak pernah menghina dirinya dan juga putranya. Bahkan Anita begitu sangat perhatian kepada putranya. Anita sering memberikan vitamin serta mainan untuk putranya. Setiap kali Anita memberikan untuk cucunya. maka Ia juga memberikan untuk anak nya. Begitu juga dengan keluarga Arumi yang tidak pernah menghina dan menghakimi nya. Eka sangat bersyukur Ia bisa di pertemuan dengan keluarga yang begitu baik.


" Ini semua perjuangan kakak ucap Arum sambil kemudian memeluknya kembali.


Ia datang wisuda bersama dengan Dafa putranya dan Heri yang menemaninya.


Ia tidak mungkin pergi hanya berdua dengan putranya dan meninggalkan putranya di bangku saat Ia akan diwisuda karena itu Heri menawarkan jasa padanya untuk menemaninya.


" Selamat ya Tante," ucap Vira yang berdiri di samping Arumi.


Mereka menundukkan badannya dan kemudian memeluk Vir iya tersenyum. "Makasih Vira," ucapnya .


Dava hanya tersenyum memandang Vira.


Ia terlihat begitu sangat tampan dengan memakai kemeja batik yang dijahit dan dirancang bunda nya sendiri. Ia anak yang sangat cerdas dan begitu sangat perhatian. Selama ini Ia lah yang menjadi penyemangat untuk bundanya.


" kita makan di luar ya kakak," Ucap Arum


" Boleh," jawab Eka.


"Om Eli gendong," ucap Vira kepada pria yang bertubuh tinggi dan kekar tersebut.


" Sudah dekat parkiran Vira, masak sih minta gendong," ucap Arum kepada putrinya.


" Disini aku Mi gadis satu-satunya, gadis yang kecil dan juga lemah," ucapnya.


" Lemah apanya sih Vira sehat gini," ucap Arum sambil mengusap kepala putrinya.


Heri tersenyum memandang gadis kecil itu, Ia kemudian menunduk dan menggendongnya.


" Kapan sih Vira mau jadi anak gadis," ucapnya kepada gadis kecil yang saat ini sudah di gendong nya.


" Ya sabar dong om, semua nya butuh proses," ucap gadis kecil tersebut.


Heri hanya tersenyum mendengar ucapan gadis kecil itu. Ia tau gadis kecil itu tidak akan pernah kehabisan jawaban untuk menjawab pertanyaan dari nya.


Daffa berjalan bersama bunda nya, Ia memegang tangan Bunda nya tersebut. seakan Ia ingin mengatakan kepada orang yang melihat nya. bahwa Ia begitu bangga dengan Bunda nya.


****


Minta like komen dan votenya ya reader.


makasih atas dukungan nya.

__ADS_1


__ADS_2