Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 47


__ADS_3

Mereka bersiap-siap membersihkan diri di kamar mandi yang di sediakan. Setelah selesai dan bersih. Mereka meninggalkan pantai di saat hari mulai gelap. Dan mobil berhenti di mesjid yang tidak jauh dari pantai. Mereka sholat Maghrib, setelah selesai mereka melanjutkan perjalanan ke pasar Malioboro.


Pasar Malioboro tempat yang menjadi favorit setiap wanita. Pasar yang sangat ramai dan bersih. Begitu banyak pernak pernik yang di jual di sini. Mata Arum langsung tertuju pada pedagang yang menjual boneka.


“Ibuk, Arum mau lihat boneka.”


“Boleh. Ayuk kita lihat.”


Mereka berjalan dengan sangat semangat menuju si penjual boneka. Arum sangat suka melihat boneka teddy bear yang berwarna pink. Tampak sangat lucu dan besar sekali. Kalau di berdirikan mungkin hampir imbang dengan tingginya Aisah. Aisah pasti senang. Dan boneka gadis koboi yang yang berbaju merah dengan rambut panjang yang terkepang dua.

__ADS_1


“Sudah buk ini aja. Arum bayar dulu.”


“Gak usah ibu aja yang bayar.”


“Gak usah buk. Uang arum masih banyak. Selama di sana. Belum ada yang arum pakai. Arum di bayarin teman Arum terus kalau di sana.” Jelas Arumi.


“Udah gak apa. Uang kamu simpan aja untuk tabungan.” Jawab Anita.


“Udah ayo kita keliling,” kata Anita sambil menggandeng tangan Arum.

__ADS_1


Arum dan anita, memasuki toko baju Dagadu. Arum memilih baju dengan kata-kata yang aneh-aneh dan lucu-lucu. Ia membelikan untuk Habibi di ambilnya 3 pis untuk Habibi yang salah satu tulisannya “Kalau Aku Gak Ganteng. Kenapa Kamu Lihat.” Kemudian untuk Ardi, mbak Ina dan mas Heru. Kemudian teman-teman di pantry. Baju untuk Aisah dan Azzam.


“Ibuk ini Arum bayar sendiri ya. Arum merasa gak enak kalau ibuk membayarkan belanjanya terus menerus.” Pinta Arumi.


“Baiklah.” Jawab Anita.


Anita membeli beberapa baju dagadu yang sama. Untuk di pakainya bersama dengan Jhoni. Setelah puas dengan baju Dagadunya, mereka berjalan lagi menuju ke oleh-oleh baju batik. Arum dan Anita sangat bersemangat memilih baju batik, sedangkan Jhoni tampak lelah mengikuti para wanita berbelanja.


Arum membeli daster yang panjang tangan untuk ibunya di kampung diambil 3 potong baju dengan motif, model dan warna yang berbeda. Kemudian baju untuk anak gadis umur 11 tahun. Baju batik untuk laki-laki umur 15 tahun. Baju untuk Habibi dan Ardi tidak pernah di lupakannya. Anita tampak banyak memborong. Apa lagi ini batik kencana ungu. Anita sepertinya membeli untuk seragam dokter dan perawat di rumah sakitnya. Jhoni dan pak Diman hanya duduk di kursi santai yang disediakan toko.

__ADS_1


Setelah puas dengan belanjaannya, mereka kembali pulang ke Jakarta. Semua barang yang telah di beli, di bawa oleh pak Diman. Pak Diman mengantarkan bosnya ke bandara Adisutjipto. Tepatnya jam 11 kurang 15 menit. Di sana sudah di tunggu 2 pramugari dan pilot serta kopilotnya. Mereka memberikan hormat dan mempersilakan masuk. Setelah pramugari selesai dengan arahannya. Pesawat siap terbang.


Arum tampak terkagum-kagum melihat. Semua terasa mimpi bahwa dirinya sedang di atas pesawat. Yang lebih hebat nya lagi, ini pesawat pribadi. Entah seperti apa kekayaan yang dimiliki bos-nya yang tampak rendah hati tanpa ada kesombongan ini. Sesuatu inilah yang memberikan pelajaran berharga dalam hidup Arum. Ia teringat saat dia dan Anita, Jhoni makan di tempat kuliner biasa, karena keinginan Arum ingin menikmati kuliner yang ada di areal candi, makan rujak keliling, yang sudah pasti orang kaya akan menolaknya. Bos besarnya ini tidak bisa di katakan orang kaya. Tapi super kaya.


__ADS_2