
May Sarah berjalan mendekati pria yang sekarang sudah menjadi suaminya. May Sarah sedikit mengangkat kepalanya memandang pria yang duduk dengan melipatkan kakinya. Detak jantungnya berdegup dengan sangat hebatnya saat melihat tatapan mata pria yang sudah menjadi suaminya. 1 bulan tidak bertemu dengan pria yang sekarang menjadi suaminya membuat May sarah begitu sangat merindukan pria tersebut.
May Sarah duduk di depan Imam. Ia sedikit memandang wajah pria tampan di depannya.
Imam tersenyum memandang istrinya yang begitu sangat cantik bak seorang ratu. Imam mengangkat tangannya sebagai isyarat agar wanita yang sudah menjadi istrinya itu untuk mencium tangannya.
May Sarah tersenyum memegang tangan suaminya. Detak jantungnya sudah tidak karuan saat memegang tangan suaminya. Diciumnya punggung tangan milik pria yang sudah halal ucapnya.
Imam memandang wajah istrinya. Pria itu memejamkan matanya saat detak jantungnya sudah tidak mampu dikendalikannya. Rasa rindu, rasa cinta, rasa bahagia saat ini bercampur menjadi satu. Tangannya bergetar ketika memegang wajah istrinya. Imam mengumpulkan segala keberaniannya untuk mencium kening istrinya. Cukup lama pria itu mencium kening istrinya dan kemudian melepaskannya.
May Sarah tersenyum malu ketika memandang wajah suaminya.
Begitu juga dengan Imam yang terlihat begitu sangat malu-malu. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa malunya ketika mendengar suara-suara yang mengatakan pengantin wanita dan pengantin prianya sama-sama malu-malu kucing.
Tidak ada satu katapun yang keluar dari bibir pasangan pengantin baru itu. Mereka seakan sibuk mengatur detak jantungnya masing-masing.
Cukup lama mereka hanya diam saling curi-curi pandang.
“Terima kasih sayang,” kalimat pertama yang di ucapkan Imam di telinga istrinya.
Setelah selesai acara akad nikah mereka menuju hotel dimana acara resepsi di adakan.
***
"Ternyata duduk dipelaminan itu capek ya,” ucap Imam yang berusaha mencari topik pembicaraan dengan istrinya ketika mereka sudah berada di dalam kamar pengantin.
Wajah May Sarah merah menahan rasa malu ketika bersama dengan suaminya.
"May mau mandi mas," ucap May Sarah yang menundukkan kepalanya. Mereka duduk di tepi tempat tidur dengan kaki yang menjuntai ke lantai.
"Iya,” jawab Imam yang duduk berjarak 40 cm dengan istrinya.
"May buka hijabnya dulu," ucap May Sarah yang kemudian berdiri dan berjalan menuju meja rias yang ada di depan tempat tidurnya.
Imam hanya menganggukkan kepalanya dan memandang istrinya yang berjalan meninggalkannya duduk sendiri. Imam sedikit memandang ke arah istrinya yang sedang sibuk melepaskan hijabnya. "Mas mandi sebentar,” ucapnya.
“Iya Mas,” jawab May Sarah.
Imam masuk ke kamar mandi dengan membawa handuk tanpa membuka pakaiannya terlebih dahulu. Pria itu masuk ke kamar mandi dengan pakaian lengkap.
Imam berdiri dengan menyandarkan punggungnya di pintu kamar mandi yang sudah ditutupnya. Jantungnya serasa akan lepas dari tempatnya, "kenapa rasanya gugup seperti ini," ucapnya yang mengusap wajahnya.
Sikap pria itu yang selalu terlihat sangat tegang, kini sudah terlihat seperti orang yang sedang kebingungan.
Imam membuka bajunya. Ia berdiri di bawah cucuran air shower dan berharap setelah mandi nanti dirinya bisa lebih tenang dan terlihat santai saat berada didekat istrinya.
Cukup lama pria itu menghabiskan waktunya di dalam kamar mandi. Dirinya ingin benar-benar terlihat bersih dan juga wangi saat nanti sudah bersama dengan istrinya.
Imam melingkarkan handuk di pinggangnya dan keluar dari kamar mandi.
Pria itu memandang istrinya yang sudah tidak berhijab, Imam baru tahu ternyata rambut istrinya pendek. Istrinya tetap terlihat begitu sangat cantik dengan rambut pendeknya.
May Sarah hanya menundukkan kepalanya ketika melihat suaminya keluar dari kamar mandi. "Bajunya Mas,” ucapnya yang sedang memegang baju yang akan dipakai oleh suaminya.
Imam tersenyum dan mengambil baju yang ditangan istrinya. "Apa bisa buka bajunya,” ucapnya.
May Sarah mengangkat kepalanya dan memandang wajah suaminya. Dengan ragu May sarah menggelengkan kepalanya. "Resletingnya di belakang Mas, May enggak bisa buka sendiri,” ucapnya.
Imam merasa detak jantungnya seakan lepas dari tempatnya ketika mendengar jawaban istrinya. Imam menanyakan hal tersebut mengingat apa yang diceritakan oleh Androw kepadanya. "Mau Mas bantu buka?" Pria itu menawarkan jasa.
“Tapi May malu,” ucap May Sarah.
“Nggak usah malu, Mas sudah jadi suami sekarang udah halal,” ucapnya yang berusaha menenangkan hati istrinya. Namun Imam tidak bisa memungkiri bahwa perasaannya sekarang sudah bercampur aduk. Ia begitu sangat gugup saat ini. Keringat sudah mulai bercucuran di pelipis keningnya. Baru selesai mandi namun keringat sudah mulai membasahi tubuhnya.
Dengan ragu-ragu May menganggukkan kepalanya dan membelakangi suaminya, agar suaminya membukakan resleting bajunya.
Tangan Imam bergetar ketika memegang resleting gaun yang dipakai Istrinya. Imam begitu sangat gugup ketika menurunkan resleting baju istrinya. Keringatnya mulai bercucuran ketika resulting itu sudah semakin turun ke bawah.
“Sudah,” ucapnya yang tidak berani memandang tubuh istrinya.
May memandang wajah suaminya yang terlihat pucat. Selama ini May selalu mendengar bahwa akan ada yang namanya ciuman pertama dan suaminya ternyata belum melakukan itu. Bahkan mereka berdua terlihat begitu sangat malu-malu.
“Mas, May mandi sebentar," ucap May Sarah.
Imam menganggukkan kepalanya, “apa Adek pakai itu namanya stagen,” tanyanya.
May menganggukkan kepalanya, “kok Mas tahu,” tanyanya.
“Katanya pakai itu kan biar terlihat lebih langsing,” ucap Imam.
May menganggukkan kepalanya. “Kata yang tukang rancang baju gitu mas,” jelasnya.
“Apa itu susah dibuka?" Tanya Imam.
May menggelengkan kepalanya, “belum tahu Mas, soalnya yang masang stagen itu kancingnya di belakang."
Imam menganggukkan kepalanya, “Bila sulit membukanya Mas bantu ya."
“Iya Mas,” jawab May.
Sebenarnya Imam sudah mendengar pengalaman dari Androw, namun pria itu tidak mungkin mengatakan hal itu kepada calon istrinya. Imam takut istrinya akan berfikir negatif tentangnya.
“Mas, may buka baju sebentar,” ucap May Sarah.
Imam menganggukkan kepalanya pria itu membalikkan tubuhnya.
“Mas jangan intip.”
“Iya ini nggak ngintip, sudah cepat dibuka." Imam memandang ke dinding.
“Iya mas, Tunggu sebentar. Ingat jangan ngintip." May Sarah memberikan peringatan dan membuka bajunya. Matanya terbuka lebar ketika apa yang dikatakan suaminya benar, bahwa dirinya tidak bisa membuka sendiri stagen yang saat ini dipakainya. "Mas,” panggil May.
__ADS_1
“Apa sudah selesai?” tanya Imam.
“Belum Mas,” jawab May.
“Apa bisa?” tanya Imam yang tidak memandang ke arah istrinya.
“Enggak bisa Mas,” jawab May.
“Mas yang bantuin?” tanyanya.
“Kalau nggak Mas yang bantuin, May mau minta tolong sama siapa?” tanya May Sarah.
“Mas lihat ya,” ucapnya.
“Iya Mas,” jawab May.
Imam membalikan tubuhnya dan memandang kearah istrinya. Matanya tidak berkedip sedikitpun ketika melihat tubuh istrinya. Bibir pria itu mulai pucat Ketika istrinya berjalan mendekatinya. Kakinya terasa bergetar.
May duduk membelakangi suaminya.
Imam membuka pengait stagen yang dipakai oleh istrinya sambil memandang tubuh istrinya yang mulus dan juga putih. Saat ini detak jantungnya berdegup lebih hebat daripada yang sebelumnya.
Entah keberanian dari mana Imam mencium bahu istrinya.
May Sarah sangat terkejut, ia menoleh memandang suaminya hingga bibir mereka begitu sangat dekat. May Sarah memejamkan matanya ketika bibir suaminya semakin dekat dengannya, hembusan nafas suaminya terasa menyapu wajahnya.
Imam menempelkan bibirnya dengan bibir istrinya. Imam mencium bibir istrinya dengan sangat lembut, pria itu kemudian melepaskan bibir istrinya dan mengatur nafasnya. "Sayang mas benar-benar gugup,” ucapnya memandang istrinya.
May memandang suaminya dengan wajah yang sudah merona. Ia hanya mampu menganggukkan kepalanya. "Mas stagen may,” ucapnya.
Imam sedikit tersenyum memandang wajah istrinya. "Lupa," ucapnya
May memukul manja tangan suaminya. "Jangan lupa."
Imam tersenyum memandang wajah Istrinya. “Akhirnya selesai," ucapnya yang membuka stagen Istrinya.
“Mas," ucap May saat suaminya membuka pengait benda yang berbentuk kacamata.
“Nanggung sayang," ucap Imam setelah menjauhkan benda yang berbentuk kaca mata tersebut.
“Mas, may malu," keluh May Sarah.
Imam hanya diam. Ia sudah tidak mendengarkan ucapan Istrinya. Imam Hanya mengikuti naluri laki-lakinya. Tangannya mengusap kulit istrinya yang halus dan mulus.
“Mas, May belum mandi," ucap May Sarah saat suaminya mencium lehernya.
“Nanti aja mandinya. Mas juga mau mandi ulang" ucap Imam yang tidak ingin terhenti melakukan permainan barunya.
***
May melingkar tangannya di pinggang suaminya. Ia begitu sangat malu saat memandang wajah suaminya.
“Apa masih sakit?” tanyanya. Imam tahu bahwa istrinya pasti merasa sangat sakit karena tadi istrinya sempat menjerit dan mengeluh kesakitan.
Dengan wajah merona, May menganggukkan kepalanya.
Imam tersenyum dan mencium bibir istrinya. “Semoga langsung jadi,” ucapnya yang mengusap perut istrinya.
“Amin,” jawab May.
“Kenapa diam aja,” tanya Imam.
“May masih malu Mas,” ucapnya.
“Kenapa masih malu sayang? Adek nggak usah malu lagi sama mas," ucap Imam yang mengusap kepala istrinya.
***
“Terima kasih pak Habibi, ibu Arumi, pak Androw, pak Heri, dokter Ara, pak Rio dan buk Maya. Terima kasih sudah mau datang untuk makan siang di rumah kami," ucap pak Abdul yang menyambut kedatangan tamu pentingnya.
"Sekarang kita sudah menjadi keluarga Pak. Kami jauh-jauh dari Jakarta datang ke Solo tidak mungkin kami melewatkan rumah ini,” ucap Habibi yang tersenyum memandang Abdul.
“Kami sungguh sangat terharu, Pak Habibi serta rombongan mau datang ke sini, ke rumah kami yang cukup kecil,” ucap Abdul.
Arum tersenyum memandangnya. “Saya minta maaf ya Pak, sudah lama kak May Sarah kerja sama kami, hanya saja baru sekarang kami bisa datang ke sini,” ucap Arumi.
Abdul tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Jujur saja Ibu Arumi, May sarah diperlakukan dengan sangat baik disana saja sudah membuat Kami merasa sangat bersyukur dan berterima kasih. Seharusnya kami yang datang ke sana untuk berkunjung. Namun kami juga tidak sempat,” sesalnya.
"Pengantin barunya apa belum datang,” tanya Ara.
“Belum, katanya baru mau keluar dari hotel,” jelas buk Pipit.
“Itu pengantin barunya baru nyampai.” Maya memandang May Sarah dan juga Imam yang turun dari dalam mobil.
Arum tersenyum memandang May sarah yang baru masuk ke dalam rumah bersama dengan suaminya.
“Sepertinya tadi malam sukses ya." Arumi tersenyum saat May Sarah duduk di sebelahnya.
May tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Iya sukses,” jawabnya.
“Pantas jalannya beda,” ucap Maya yang tertawa sambil menutup mulutnya.
Wajah May Sarah merah saat mendengar ucapan Maya. May tidak tahu apa yang dikatakan sukses oleh mereka yang dia pikir adalah acara pernikahannya.
“Sanggup berapa kali,” tanya Arum.
May Sarah diam tanpa menjawab.
“Mas Imam pasti baik, dia nggak berani banyak-banyak paling banyak satu,” ucap Eka.
“Katanya sih satu tapi satu nyicil.” Ara ikut berkomentar.
__ADS_1
Arum tertawa saat mendengar ucapan Ara.
May sudah tidak mampu menahan rasa malunya saat mendengar ucapan ke 4 wanita yang sedang hamil tersebut.
"Kita makannya di luar aja ya, soalnya di dalam sempitm” ucap Pipit yang sudah menyiapkan menu makan siang di tenda di halaman rumahnya.
“Iya Bu, boleh,” jawab Arum.
“Kami di sini lagi hamil semua Bu, jadi memang pengen cari tempat yang lapang,” ucap Ara.
“Bisa ya hamil secara serentak,” ucap Pipit yang tersenyum memandang ke 4 wanita cantik yang duduk didepannya.
Arum tersenyum saat mendengar ucapan wanita tersebut. “Bisa Bu, hanya saja tanggal hamilnya kami nggak ada yang sama, yang paling hebat Kak Maya yang bakalan duluan,” ucapnya.
Rio yang duduk sedikit jauh dari istrinya hanya tersenyum ketika mendengar ucapan Arumi.
“Yang paling susah Pak Habibi,” ucap Heri. Mantan bodyguardnya itu sudah berani menjahili mantan bosnya.
Habibi sejak tadi diam memandang Heri. Mantan bodyguardnya itu hanya nyengir memandangnya.
Imam hanya tersenyum ketika mendengar obrolan mereka.
“Tapi aku yakin sebentar lagi Imam akan menyusul,” ucap Androw.
Abdul tertawa saat mendengar ucapan pasangan-pasangan muda tersebut.
“Saya tidak menyangka ternyata rombongan dari Jakarta kocak semua,” ucapnya.
“Diantara kami yang kalem cuma menantu Bapak,” ucap Heri.
Imam hanya sedikit tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
“Ayo kita sambung ngobrolnya di luar sambil makan," ajak Abdul.
Ahmad dan Wati sudah duduk di kursi yang ada di bawah tenda balon. Pasangan suami istri itu sibuk menata hidangan makan siang.
“Di sini Ibu sediakan masakan kuliner dari Solo, karena kalau yang di sediakan makanan restoran pasti keluarga Pak Habibi, keluarga Pak Rio, keluarga Pak Heri, dan keluarga Pak androw, sudah sangat sering menikmatinya,” ucap Pipit.
“Kami sangat suka menu kuliner seperti ini,” ucap Habibi memandang menu yang tertata di atas meja.
“Yang ini namanya Timlo Sastro. Ini merupakan sejenis sup berkuah kaldu bening yang disajikan dengan daging ayam, suwir, hati dan ampela, sosis solo, dan potongan telur pindang. Pokoknya rasanya sangat enak. Ditambah sambel dan perasaan jeruk nipis akan membuat rasanya semakin nikmat,” ucap pipit menjelaskan.
Arum begitu sangat penasaran dengan rasa Timlo Sastro tersebut.
“Yang ini Sate Kambing Hj. Bejo. Ibu sengaja pesan. Di sini ini sate kambing yang sangat terkenal. Namun ibu juga ada memesan sate ayam dan daging sapi. Takutnya ada yang tidak bisa makan daging kambing,” ucap Wati.
“Tengkleng Bu Edi ini terdiri dari nasi putih yang disajikan dengan olahan jeroan kambing dan tulang belulang, lalu disiram kuah kuning. Cita rasanya begitu segar, gurih, dan sedikit pedas. Ini menu yang begitu sangat laris di sini. Biasanya begitu di buka saja, dalam hitungan jam sudah habis. Ibuk sengaja pesan satu minggu yang lalu. Bila kita gak pesan jauh hari sebelumnya, bisa gak akan dapat lagi," ucap Pipit sambil tersenyum.
“Ini Pecel Solo, yang terdiri dari potongan daging sapi, masak semur, galantin, telur rebus, wortel, buncis, kentang goreng, daun selada, acar mentimun, dan irisan bawang merah. Tidak ketinggalan, kuah segar dan mustard yang terbuat dari cuka dan campuran kuning telur yang semakin melengkapi kenikmatannya," ucap Pipit.
“Ini Nasi Liwet Wongso Lemu. Nasi liwet itu terdiri dari nasi gurih yang memiliki rasa hampir sama dengan nasi uduk. Nasi ini diberi ayam suwir yang dilengkapi dengan sayur labu, telur rebus, dan sambal sedikit.
Dan ini Nasi Soto Ayam Gading. Kalau ini merupakan kuliner favorit bapak presiden kita,” ucap Pipit dan Wati yang begitu semangat menjelaskan menu yang mereka hidangkan.
Arum sudah tidak sabar ingin menikmati rasa menu yang sudah tertata di atas meja. Arum merasa air ludah nya sudah menetes melihat menu di atas meja tersebut.
"Sudah gak tahan pengen coba," ucap Ara yang berbisik di telinga Arum.
"Arum juga. Rasanya sudah ngences," ucapnya.
Arum memandang putrinya yang duduk di meja di sebelah mereka. Kelima anak itu sudah menikmati hidangannya.
“Orang itu star lebih awal," ucap Arum.
Maya tersenyum dan menganggukan kepalanya.
“Arum pengen cicipi ini,” ucap Arum yang mengambil Timlo Sastro.
“Ara juga, tapi Ara juga mau sate daging sapi aja," ucapnya.
"Kak Maya mau coba semua. Berhubung mau lahiran, jadi wajib banyak makan," ucapnya sambil tersenyum.
"Sekarang mereka lagi akur kak. Bentar lagi bakal dengar Akila yang nangis di jahilin Rangga,” ucapnya sambil memasukkan nasi kedalam mulutnya.
Arum tersenyum memandang memandang Aqila yang menangis mendekati meja mereka.
“Pasti digangguin Rangga,” ucapnya.
“Aqila kalau ketemu sama Rangga nangis karena dijahili Rangga. Tapi kalau di rumah dia selalu ceritain Rangga, sepertinya kangen selalu sama Rangga,” ucap Maya yang sedikit tersenyum.
“Sepertinya Arum mau ambil Akila jadi minantu Arum," ucapnya sambil tersenyum.
"Aqila kenapa nangis," ucap Arum.
“Bang Rangga bilang jelek, gendut, karena makannya banyak,” ucapnya.
Arum tersenyum ketika mendengar pengaduan anak perempuan yang berwajah cantik tersebut.
"Aqila jangan nangis, nanti mimi Arum bakalan marah Bang Rangga,” ucapnya yang membujuk gadis kecil tersebut.
“Tapi Mimi enggak mukul Bang Rangga?” ucap Akila dengan memajukan bibirnya.
“Rangganya terlalu nakal sama Qila jadi mau Mimi pukul,” ucap Arumi.
Akila menggelengkan kepalanya. “Jangan mi, bang Rangga cuman main-main aja,” belanya.
Arum tertawa saat mendengar ucapannya.
“Makanya, jadi cewek gak boleh cengeng. Biar gak dijahilin sama bang Rangga," ucap Maya yang mengusap air mata putrinya.
***
__ADS_1