Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 51


__ADS_3

“Hai....” Suara Arum seketika menyadarkan ardi. Ardi yg berdiri di depan pintu langsung tersadar. Seakan tidak percaya dengan yang dilihatnya.


“I...i..ya.” jawab Ardi tergagap.


“Kamu kenapa?” tanya Arum.


“Apa aku gak salah lihat?” jawab Ardi.


“Emangnya kenapa?” tanya Arum lagi sambil tersenyum manis.


“Penampilan kamu beda sekali.” Jawab Ardi.


“Kamu gak suka?”


“Suka. Tapi sejak kapan kamu pandai beli baju seperti ini.” Jawab Ardi sambil bertanya.


“Udah nanti aku ceritakan. Ini, bukti aku gak pernah melupakan kamu.” Kata Arum sambil memberikan tas, oleh-oleh ke tangan Ardi sambil tersenyum begitu manis, sehingga melihatkan gigi putih yang tersusun dengan rapinya.


“Terimakasih cantik.”


Mata arum langsung melotot sempurna dan Arum tertawa mendengar saat ardi mengucapkan kalimat tersebut. Bukan baru pertama Arum kenal dengan Ardi. Ya wajar saja kalau dia langsung terkejut dengan kalimat tersebut.


“Cek....cek......” Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Sejak kapan pak dokter pandai gombal? Ah ini pasti strategi pak dokter untuk nanti bisa menarik pasien ya.” Arum berbicara dengan senyum.


Ardi hanya tersenyum. Jadi aku mau bilang. “Terimakasih ganteng.”


“Ih... Gak usah seperti itu juga. Kamu baru pulang dari kampus.”


“Iya.” Ardi yg memakai baju kemeja panjang lengan berwarna abu-abu dan celana jeans hitam, di tambah sepatu seniakre yg berwarna biru. “Udah ayok.” Ajak Ardi.


Arum mengunci kamar kostnya.


“Motor kamu mana?” tanya Arum.


“Gak di bawa.” Jawab Ardi.

__ADS_1


“Jadi kita naik apa.”


Ardi memencet remote mobilnya. “Mobil.”


“Ini mobil kamu?”


“Iya mobil aku. Lihat aja tu. Platnya B 412 DI” kata Ardi dengan bangga. “Ini kado ultah yang ke 19 dari papa.”


Mobil honda crv berwarna merah.


“Motor kamu?”


“Ada di kos. Kalau motor di bawa papa ke kampung, bisa stres aku.” Kehilangan komunitas motor kawasaki klx kesayangannya.


“Kamu keren.” Jawab Arum.


Ardi membukakan pintu di sebelah pengemudi. “Kamu suka naik motor atau mobil?”


“Ya jelas mobil. Aku gak perlu susah-susah nahan badan biar gak mepet. Terus juga duduk santai sambil sandaran, tidur dan bangun kalau sudah sampai, kaki gak pegel karena tergantung, makeup tetap cantik gak kena debu.” Jawab Arum.


“Itu bukan jarak namanya.” Protes Arum.


Mereka tertawa lepas. Saling melepaskan rindunya masih-masing. Seberapa besar kerinduan yang mereka miliki, hanya mereka berdua yang tahu.


“Maaf ya, aku sibuk dengan kuliah aku. Jadi sulit bisa ajak kamu jalan-jalan.”


“Iya gak apa. Aku juga sibuk dengan kerjaan aku.”


“Kamu janji mau cerita ke aku kenapa kamu bisa sampai masuk sekolah bodyguard tersebut. Di mana sekolah nya?” tanya Ardi.


“Di jogja.” Jawab Arum.


Arum mulai menceritakan awal mula dia menyelamatkan bosnya dari orang yang berencana membunuh bosnya. Kemudian dia langsung di kirim oleh ibuk Anita yang merupakan mami dari bos nya. Semua keperluannya disediakan anita.


“Ibuk anita itu sangat baik.” Arum cerita panjang lebar saat dia berada di sekolah bodyguard.

__ADS_1


Saat ini arum sudah mahir mengemudi dan membawa motor, belajar makeup, bekerja dengan profesional. Di sana, Arum punya teman-teman yang sangat baik. Untuk masuk ke sekolah itu ternyata tidak mudah. Arum menjelaskan dengan penuh semangat. Apa yang di jalaninya saat berada dalam masa pendidikan.


“Jadi karena itu sekarang penampilan kamu sangat berbeda. Karena kamu sudah belajar makeup.” Kata Ardi menyimpulkan cerita Arum.


“Iya, yang ngajarin makeup Arum makeup seorang pemakeup terkenal. Indra prayoga. Baju-baju ini yg belikan semuanya ibuk Anita, kalau Arum mana mungkin pandai beli baju seperti ini.


“Keren kamu.” Kata Ardi.


“Kita mau kemana?” tanya Arum.


“Kamu boleh pilih, ancol, monas, taman mini. Atau mall.” Kata Ardi.


“Ancol dan monas.” Jawab Arum dengan gembira.


“Oke.” Jawab Ardi.


Ardi membawa Arumi ke Ancol. Mereka menaiki berbagai macam wahana, yang bahkan membuat mereka harus teriak sekeras-kerasnya. Mereka berjalan-jalan sambil memakan eskrim. Membeli cilok yg ada di dalam Ancol. Makan ketoprak telor. Arum tidak pernah henti-hentinya tersenyum. Ardi mengambil foto kebersamaan mereka. Ardi banyak mengambil foto Arum, karena hp kamera Arum tidak sebanding dengan kamera Ardi. Ini pengalaman Arum pertama jalan-jalan di Jakarta.


Setelah puas dengan Ancol. Mereka melanjutkan ke Monas. Tapi di Monas mereka hanya duduk-duduk sambil minum jus dan makan nasi goreng, karena memang mereka sudah capek saat di Ancol.


“Udah jam 8. Kita cari makan ya. Kamu suka masakan padangkan?”


“Iya aku suka sekali makan masakan padang. Aku suka kalio dagingnya. Bayanginnya aja udah buat air ludah arum serasa menetes.” Kata Arum.


“Udah yuk.”


“Arum, bisa makin gendut kalau seperti ini.” Kata Arum.


“Tapi sepertinya kamu senang di sana. Pipi kamu makin gembul gitu.” Kata Ardi.


“Ini bukan gembul tapi cabi. Iya berat badan Arum naik 2 kg. Biasanya 49 sekarang 51.” Jawab Arum.


Kalau gak mikir dosa. Udah dari tadi pipinya di cubit. Guman Ardi dalam hati.


Arum sangat menikmati makannya. Setelah selesai makan, Ardi mengantar Arum pulang. Karena dia harus kembali mengerjakan tugasnya.

__ADS_1


__ADS_2