
Arum berbaring di atas tempat tidur ketika perawat sudah mengangkat bajunya ke atas dan mengoles gel di perutnya.
Arum tersenyum memegang tangan mertuanya. “Arum deg-degan nggak sabaran mi,” ucapnya.
“Iya Mami juga,” jawab Anita.
“Kalau gitu kita langsung aja ya,” ucap dokter Dina yang tersenyum memandang Arum dan juga Anita.
“Iya dok,” jawab Anita.
Dina memulai melakukan pemeriksa terhadap pasiennya. Dokter itu sedang mencari-cari jenis kelamin dua bayi kembar tersebut.
Diantara mereka hanya Habibi yang kurang mengerti melihat Vidio yang terekam di monitor tersebut.
“Dia lagi bangun,” ucap Anita yang memandang 1 bayi yang membuka mata dan menendang-nendang.
“Dalam perut dia sama seperti di luar ya,” ucap Habibi.
“Iya Pak, makanya miminya sering terasa bayinya nendang-nendang ya karena Itu, bayinya sedang bangun dan lagi aktif,” ucap dokter Dina.
“Yang satunya lagi tidur dok,” ucap Arum.
“Sepertinya sebentar lagi dia bangun, itu sikembarannya udah mulai nendang-nendang saudaranya,” ucap dokter Dina yang sedikit tertawa.
Arum tersenyum ketika melihat rekaman video calon bayinya yang terlihat begitu sangat lucu.
Arum tersenyum memandang Anita. "Perempuan mi," ucapnya.
Dokter Dina tertawa dan menganggukkan kepalanya. “Tapi masih ada harapan dapat cowok. Ini yang satu masih gak kelihatan,” ucapnya menunjukkan bayi yang tampak sedang tertidur tersebut.
“Pasti yang kuat makan yang lagi tidur,” ucap Arum.
“Sepertinya gitu, kalau dia kuat makan di akan tidur disaat perutnya sudah kenyang,” ucap dokter Dina.
Anita tidak ada henti-hentinya tersenyum memandang layar monitor tersebut. “Usia 7 bulan aja rasanya udah nggak sabaran nunggunya, gimana kalau nanti harinya udah makin dekat,” ucapnya.
“Iya Mi, Arum bener udah nggak sabar Mi, berat Mi, pinggang Arum juga sering sakit, Arum juga gampang capek,” ucapnya mengeluh.
“Sabar sayang dua bulan lagi, setelah 2 bulan lagi dianya keluar, Arumnya bisa diet lagi biar langsing lagi,” ucap Anita.
“Nggak perlu diet mi, gitu siap melahirkan aja beratnya langsung turun karena ***** makan menurun,” jelas Arumi.
“Kelebihan anak ASI memang gitu, bisa diet secara alami,” ucap dokter Dina.
***
Habibi membuka pintu kamarnya ketika pria itu baru pulang dari kantornya.
Habibi terkejut ketika melihat istrinya yang duduk di atas tempat tidur. Matanya terbuka lebar saat memandang tampilan Istrinya.
"Sudah pulang ya mas," tanya Arumi yang tersenyum sambil memasukkan potongan buah apel ke dalam mulutnya.
Habibi tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Pria itu menutup pintu kamarnya dan menguncinya.
“Kenapa dikunci,” tanya Arumi.
“Biar nggak ada yang masuk,” ucapnya memandang Istrinya yang sedang santai menonton televisi dan hanya memakai dalaman.
Arum menganggukkan kepalanya dan kemudian memasukkan potongan apel ke dalam mulutnya ketika apel yang tadi sudah habis ditelannya.
Habibi menurunkan piring yang diletakkan istrinya di atas perut buncitnya. "Enak ya makan apel dan si kembar yang disuruh memegang piring," ucapnya yang meletakkan piring itu ke samping istrinya.
Arum tersenyum mendengar ucapan suaminya. Matanya kembali tertuju dengan layar datar yang menempel di dinding kamarnya. Arum tidak menghiraukan suaminya, dia hanya fokus dengan film yang saat ini ditontonnya.
Habibi memandang layar TV yang saat ini sedang menyala. Dikehamilan istrinya yang kedua ini istrinya begitu sangat menyukai film drama Korea kemudian Jepang, Thailand dan juga Cina. "Sayang mas baru pulang,” ucapnya yang mengusap perut istrinya dan menciumnya.
“Iya Mas Arum tahu,” jawab Arumi yang mengambil apel yang ada di sebelah kanannya dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
“Kok nggak ditanyain sih sayang, mas capek, terus bukakan dasi,” ucap Habibi.
Arumi tersenyum memandang wajah suaminya. "Capek ya Mas?" ucapnya yang sekedar basa-basi saja karena baginya saat ini yang lebih penting menonton drama Korea yang ada di depannya.
“Iya Sayang,” jawab Habibi yang sengaja mengganggu istrinya yang sedang asyik menonton. Habibi mencium bibir istrinya agar istrinya tidak bisa memandang film yang ada di depannya.
“Mas Arum lagi nonton,” ucapnya protes.
“Iya Mas tahu,” ucap Habibi yang kembali mencium istrinya.
“Kalau tahu jangan digangguin,” pinta
Arum.
“Jadi ibu hamil ini lagi senangnya film Korea,” ucapnya.
“Iya Mas, lihat Mas itu cowoknya ganteng namanya Kim Soo-hyun. Sebenarnya Lee min-ho juga ganteng mas, tapi Arum lebih suka Kim so Hyun,” ucap Arum yang menjelaskan nama pemeran aktor laki-laki yang saat ini ditontonnya.
Habibi memandang layar TV di depannya pria itu menganggukkan kepalanya. "Tapi sepertinya lebih gantengan mas,” ucapnya yang membuat istrinya tertawa.
Habibi diam memandang wajah istrinya.
__ADS_1
“Iya mas ganteng kalau nggak ganteng Arum nggak bakalan mau,” ucap Arum yang membuat Habibi tersenyum.
“Jadi mau sama mas karena ganteng ya?” tanya Habibi.
“Iya Mas demi keturunan kita,” ucap Arumi yang berbicara seenaknya.
Habibi tersenyum memandang wajah istrinya. Ia mencium bibir istrinya dengan sangat lembut. “Mas pulang ke rumah dan masuk ke kamar. Lihat si buncit mancing gini jadi kepengen,” ucapnya yang mencium dagu istrinya.
“Arum bukannya sengaja Mas, Arum kepanasan,” ucapnya yang memilih tidak memakai pakaian terkecuali dalaman.
“Mas gak mau tahu sekarang harus tanggung jawab,” ucapnya.
“Mas Arum hamil anak kembar lihat Ini perutnya gede banget jadi gampang, capek,” ucapnya yang beralasan.
“Kata dokter Dina wajib sering-sering demi kesehatan ibu dan bayi,” ucap Habibi yang mencium leher istrinya.
“Tapi Mas mandi dulu,” ucap Arumi ketika suaminya tidak mau berhenti menciuminya.
“Mandinya setelah selesai ini aja,” ucap Habibi yang mematikan TV yang ada di dalam kamarnya.
Arum tersenyum memandang wajah suaminya, iya melonggarkan dasi yang dipakai oleh suaminya dan melepaskannya.
“Buka dulu bajunya Mas,” ucapnya.
“Tolongin dong mi,” ucap Habibi yang menenggelamkan wajahnya di leher Istrinya.
****
Saat ini adalah hari kemerdekaan bagi Vira dan juga Vino dimana mereka bebas bermain tanpa harus dimarahi Mami Ara.
"Aku tidak mengerti dengan pola pikir Mami kenapa hanya untuk bermain saja dipermasalahkan,” ucap Vino yang menjilat es krim rasa coklat ditangannya.
“Kata Mimi, kita nanti baru boleh deket-deket kalau sudah nikah,” ucap Vira tersenyum genit.
Vino tersenyum malu ketika mendengar jawaban gadis kecil tersebut. “Tapi itu masih sangat lama,” ucapnya.
“Waktu itu akan cepat berlalu tanpa terasa nanti kita akan tumbuh besar.”
Vira yang menirukan gaya bicara papi Androw.
Vino tertawa lepas saat mendengar ucapan Vira. “Papi sangat sering berbicara seperti itu bila Mami melarang aku dekat dengan mu." Vino yang memandang Vira sekilas dan kemudian kembali fokus dengan es krim ditangannya.
“Tidak masalah kita tidak boleh dekat yang penting kita selalu berjumpa,” jelas Vira.
Bagi kedua anak kecil itu menjaga jarak adalah hal sangat sulit dilakukannya mengingat mereka sudah bersama sejak bayi dan besar bersama.
“Ayo kalian ngambil kesempatan ya,” ucap Arum.
Vino tersenyum memandangnya. “Kesempatan seperti ini sangat sulit kami memiliki mimi,” ucapnya.
Arum tertawa saat mendengar ucapan anak kecil tersebut. “Jadi kalian memanfaatkan waktu selagi Mami Ara belum pulang,” ucap Arum.
“Ya Mimi, ini kesempatan emas bagi aku untuk bisa bermain dengan vira, dan nanti bila Mami sudah pulang dan membawa adik bayiku aku tidak bisa lagi bermain-main. Sudah pasti aku di minta untuk menjaga adik bayi ku,” ucapnya yang melipatkan tangan didadanya.
Arum tersenyum ketika mendengar jawaban Vino.
***
“Ganteng sekali,” ucap Arum yang memandang bayi berwajah bule di tangannya.
“Iya lebih ganteng dari Vino,” ucap Ara yang tersenyum memandang putranya.
Vino diam dan memajukan bibirnya.
“Aku sudah berharap adik ku perempuan, namun ternyata yang keluar laki-laki,” ucapnya memandang Adik bayinya.
“Tapi dia sangat ganteng pipinya tembem,” ucap Vira yang tersenyum memandang bayi laki-laki tersebut.
“Tentu saja dia ganteng. Dia mewarisi kegantengan papi sayang," ucap Androw yang tersenyum memandang Vira.
Ara berusaha menahan ketawanya saat mendengar ucapan suaminya. “Mas jangan buat Ara ketawa, perut terasa sakit,” ucapnya.
Rangga yang sejak tadi memperhatikan bayi laki-laki itu tersenyum. Ia memegang pipi bayi laki-laki tersebut. “Jika nanti Vino tidak sanggup menjaganya, Saya akan datang ke rumah dokter Ara untuk membantu Vino menjaga adik bayi,” ucapnya menawarkan jasa.
Mereka tertawa saat mendengar ucapan Rangga. Anak laki-laki itu selalu menunjukkan sikap dewasanya dimanapun berada.
“Bulan depan giliran si kembar,” ucap Ara.
Arum tersenyum dan menganggukkan kepalanya, “udah nggak sabar,” ucapnya yang mengusap perutnya.
“Jadi si kembar yang satunya masih jadi misteri,” ucap Ara.
“Iya," jawab Arum. Arum berjalan mendekati suaminya dan menunjukkan wajah bayi laki-laki.
“Ganteng seperti Vino waktu baru lahir dulu,” ucapnya.
Habibi tersenyum dan mengusap kepala bayi tersebut ia mencium pipi bayi yang saat ini tertidur lelap.
__ADS_1
"Masuk saja," ucap Androw saat mendengar suara ketukan pintu dari luar.
“Kak Eka dan kak Maya datang,” ucapnya.
Ara tersenyum dan menganggukkan kepalanya saat memandang dua wanita itu datang mengunjunginya.
“Ini 3 bayi udah ngumpul,” ucap Arum yang memandang bayi laki-laki yang dibawa oleh Maya dan bayi perempuan yang dibawa Eka.
“Alhamdulillah Kak Eka udah lepas hari jadi bisa lihat si ganteng,” ucapnya yang memandang bayi yang digendong Arum.
“Kak Eka mau gantian sini kita tukaran,” ucap Arum.
“Boleh,” jawab Eka yang memberikan putrinya ke tangan Arum dan mengambil bayi yang di tangan Arum.
Habibie memandang istrinya.
“Nggak nyangka sekarang udah terasa makin rame,” ucap Habibi.
Rio mengambil bayinya yang saat ini digendong istrinya. Bayinya sudah berusia 7 bulan.
Bayi yang berusia 7 bulan itu begitu sangat tampan dan juga aktif.
Habibi mengembangkan tangannya, “sini sama Pipi,” ucapnya. Bayi laki-laki itu memandangnya.
Habibi sudah sering menggendong bayi laki-laki tersebut sehingga bayi laki-laki itu sudah sangat mengenalinya.
Habibi sangat senang ketika melihat wajah bayi laki-laki dengan pipi yang tembem. "Aku lebih suka dengan yang ini. Gendongnya sudah gak takut," ucap Habibi yang memandang Androw, Heri dan Rio.
“Iya benar," ucap Heri yang masih belum terlalu berani saat memegang bayinya.
Keempat pria itu bercerita begitu sangat akrab, sedangkan istri-istri mereka sudah mengumpul di tempat tidur Ara.
“Itu kak Mai Sarah datang,” ucap Arum saat memandang Mai Sarah dan juga Imam yang baru saja membuka pintu kamar tersebut setelah mereka mengetuknya.
"Ternyata di sini rame lagi ngumpul,” ucap Mai Sarah yang duduk mendekati tempat tidur Ara.
“Iya kak Mai kami lagi ngumpul di sini,” ucap Arum yang mengusap perut Mai.
“Bentar lagi giliran Arum terus nyusul kakak,” ucapnya yang tersenyum.
“Kak may masih nungguin 3 bulan lagi, Arum bulan depan," ucapnya.
“Kalau mereka sudah jumpa, lupa suami," ucap Imam yang memandang istrinya.
Heri, Rio, Androw dan Habibi tertawa mendengar ucapan Imam. "Kami sudah terbiasa dengan sikap mereka yang seperti itu," ucap Androw.
“Jadi ini udah pinter makan ya sekarang,” ucap Habibi mencium pipi bayi itu.
“Makannya kuat,” ucap Rio.
“Makanya pipinya jadi tembem gitu,” ucap Heri yang sejak tadi memandang bayi laki-laki yang ada di tangan Habibi.
“Saka sudah makin pinter ya" ucap Habibi ketika bayi itu menggigit tangannya.
“Kita sibuk ngurusin bayi, lihat itu, mereka sibuk deketin cewek,” ucap Arum memandang Rangga, Daffa, Vino, Vira dan juga Aqila.
***
Arum mengusap perutnya yang terasa sakit saat saat mengalami kontraksi palsu. Jadwal persalinannya masih 1 minggu lagi. Menunggu waktu 1 minggu terasa begitu sangat lama baginya.
Habibi yang duduk di sebelah istrinya memandang wajah istrinya yang meringis menahan sakit. “Kenapa sayang,” tanyanya.
“Sakit Mas,” keluh Arumi.
Habibi mengusap perut istrinya, “sabar ya satu minggu lagi si kembar bakal lahir,” ucapnya.
Arum menganggukkan kepalanya, “kira-kira sepasang atau cewek dua-duanya ya Mas,” ucapnya.
“Pengennya sepasang tapi kalau cewek dua-duanya nggak apa-apa,” ucap Habibi.
“Sepertinya dia sengaja Mas mau ngerjain kita, masak sih setiap kali di USG kelihatan cuma satu-satu. Setiap kali kita intip, kenapa yang kelihatan perempuan terus, “ucap Arum yang sudah berulang kali melakukan USG karena begitu sangat ingin mengetahui jenis kelamin bayi kembarnya secara bersamaan.
"Yang kemarin itu perempuan, sekarang yang terakhir dilihat juga perempuan, apa orang yang sama atau beda orang,” ucapnya yang sudah tidak sabar ingin mengetahui jenis kelamin bayi kembarnya secara bersamaan.
“Kalau dapat cewek dua-duanya, si cerewet mas nambah," ucap Habibi tersenyum memandang istrinya.
Arum tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Arum kembali menahan rasa sakit ketika bayi kembarnya menendang perutnya. “Mas ini perut Arum terasa banget gerak-geraknya,” Ucapnya.
Habibi mengangkat baju istrinya ke atas dan memandang perut besar istrinya yang bergerak-gerak. “Ya Allah lihat dia seperti ini saja rasanya udah sayang sekali, apalagi kalau udah sampai di luar,” ucapnya mencium perut istrinya sedang bergerak tersebut.
“Mas menonjolnya kiri-kanan Mas," ucap Arum yang memandang perutnya yang bergerak-gerak.
“Udah gak sabar Mas Dek,” ucap Habibi yang mencium bibir istrinya.
“Arum lebih enggak sabar lagi Mas. Apa lagi sekarang jalan aja udah nggak sanggup, pinggang Arum sakit banget,” ucapnya mengingat perutnya yang begitu sangat besar. Hamil bayi kembar seperti ini ini membuat Ia selalu merasa kesulitan karena memang ukuran perut jauh lebih besar dari pada hamil anak satu.
“Mas lihat adek jalan saja rasanya kasihan, cuma mau digendong udah nggak sanggup,” ucap Habibi.
***
__ADS_1