
Arumi tersenyum memandang putrinya yang sangat cantik dengan memakai memakai baju kebaya berwarna hijau pucuk pisang. Bagian bawahnya batik berwarna hitam. "Sayangnya cantik sekali," ucap Arum yang mencium pipi putrinya.
Vira tersenyum mendengar ucapan miminya. “Iya cantik seperti Mimi,” ucapnya yang mencium pipi Miminya.
"Mimi, baju Vira sama Vino juga sama mi. Nanti fotoin Vira ya Mi," ucap vira yang berbisik di telinga Arumi.
Arumi tertawa saat mendengar ucapan putrinya. “Apa fotonya pegangan tangan?" Arumi dengan sengaja mengoda putri kecilnya yang genit.
Vira mengelengkan kepalanya. "Nggak Mi. Vira fotonya nggak boleh terlalu rapat sama Vino, apa lagi gandengan tangan mi. Kalau kami fotonya seperti itu, kami pasti bakal di marahin mami Ara," ucap Vira yang kemudian diam. “Bila ketahuan," ucapnya yang sedikit tersenyum.
Arum tertawaan saat mendengar ucapan putrinya, ia kemudian menganggukkan kepalanya. “Tapi nanti gantian ya fotonya, setelah selesai Vira foto-foto sama Vino Vira fotoin Mimi sama pipi,” ucap Arum.
"Ini Mimi sama anak gadis pipi pada kompromi apa?” tanya Habibi yang berdiri di samping istrinya.
“Gak ada Pi,” ucap Vira yang tersenyum malu.
“Si kembar papi sudah ikut ke pesta ya," ucap Habibi yang mengusap perut istrinya.
Arum tersenyum dan menganggukan kepalanya. “Udah kelihatan ya mas, padahal baru dua setengah bulan,” ucap Arum yang mengusap perutnya.
“Iya, namanya juga di dalam ada dua. Maminya juga kuat makan. Makan ketoprak sampai 3 bungkus,” ucap Habibi yang mengusap kepala istrinya.
“Kami makannya bertiga mas. Si kembar satu-satu bungkus. Arum juga satu bungkus," ucapnya yang tersenyum.
Habibi tertawa mendengar ucapan Istrinya. Pria itu mencium pipi Istrinya yang sudah sedikit tembam.
Arum memandang Rangga yang sejak tadi berdiri di sebelah suaminya. Anak kecil itu terlihat begitu sangat gagah dengan memakai baju kemeja batik yang sama dengan warna baju suami yang di pakai suaminya. "Anak mimi ganteng sekali,"
"Terima kasih Mimi, Mimi juga sangat cantik sekali,” puji Rangga.
Arum tersenyum memandang Rangga. Arum mencium pipi bulat anak laki-laki itu kiri dan juga kanan.
“Apa yang lainnya sudah pada siap Mas,” tanya Arum yang memandang suaminya. Hari ini mereka akan menghadiri resepsi pernikahan Imam dan juga May Sarah.
“Kita ke acara akad nikahnya di rumah May sarah dan kemudian untuk resepsi baru di sini,” ucap Habibi.
“Rame gak ya acara akad nikah nya?" Tanya Arum.
“Sepertinya nggak, hanya tetangga, kerabat dekat dan saudara saja,” jawab Habibi.
Arum menganggukkan kepalanya saat mendengar penjelasan dari suaminya.
“Kita turun ke bawah biar bisa langsung berangkat sama rombongan,” ucap Habibi.
Hari ini mereka akan pergi ke Solo. Imam dan May Sarah akan melaksanakan resepsi pernikahannya.
Mereka turun ke bawah untuk bergabung dengan yang lainnya.
Mereka sudah berkumpul dengan memakai seragam yang sama yang dirancang oleh Eka untuk acara resepsi abang kandungnya.
“Calon pengantin gagah sekali,” ucap Habibi Ketika meliha Imam yang memakai stelan jas berwarna silver dan dasi.
Imam sedikit tersenyum saat mendengar ucapan Habibi. “Saya sangat gugup,” ucapnya yang memegang dadanya.
“Sewaktu Aku akan menikah dengan Eka juga seperti itu,” komentar Heri.
__ADS_1
“Pak Habibi sampai pucat,” ucap Rio yang tersenyum.
“Rio yang biasanya aja tenang seperti air, gitu mau akad nikah berubah kaku seperti robot,” ucap Heri menertawakan sahabatnya.
“Ternyata setiap laki-laki akan merasa seperti ini,” Imam mengambil kesimpulan.
“Di saat malam pertama nanti kamu akan merasakan suhu udara yang tidak menentu dan saran saya, agar kamu kamu melarang istrimu nanti memakai stagen." Androw memberi saran.
Imam memandangnya dan mengerutkan keningnya, “kenapa dilarang memakai stagen?”
“Bila istri mu memakai stagen, kamu akan bekerja dulu,” jelas Androw.
“Bekerja seperti apa?" Imam tidak mengerti maksud pria bule itu wajahnya terlihat sudah mulai panik.
“Kamu akan membuka stagen yang banyak pengaitnya sampai habis, dan itu memakan waktu cukup lama, sehingga kita laki-laki sudah tidak sabar untuk melepaskannya. Ingin digunting takut Istri kita terluka." Androw berbagai pengalamannya.
Habibi tertawa saat mendengar penjelasan pria bule tersebut. “Ternyata Mas Andre sebelum malam pertama buka stagen,” ucapnya yang mentertawakan.
Androw sedikit tersenyum. “Waktu itu aku meminta kepada desainer busana istri ku untuk membuat stagen, agar istri ku tidak bisa membukanya sendiri. Aku minta pengait di belakang. Ternyata pada malam itu Aku begitu sangat lama membukanya, ingin rasanya aku gunting Stagen itu, namun istriku menolaknya,” ucapnya.
Mereka tidak mampu untuk menahan tertawanya saat mendengar pengalaman yang dialami oleh Androw.
“Aku bisa membayangkan seperti apa wajah mas Androw saat itu,” balas Heri yang tertawa sambil memegang perutnya.
“Sudah ayo, kalian masih enak ngobrol di sini sebentar lagi acara akad nikah dimulai,” ajak Dino.
Kelima pria itu menghentikan bicaranya dan sedikit menganggukkan kepalanya.
***
Arum yang duduk disampingnya hanya tersenyum memandang wanita yang selama ini menjadi bodyguardnya.
Eka memegang tangan May Sarah. “Kakak ipar jangan gugup santai aja,” ucapnya sambil tersenyum.
May sarah memandangnya dan menganggukkan kepalanya. Bagaimana mungkin dia bisa santai dan juga tenang di saat situasi seperti ini.
“Bukan hanya May saja yang gugup. Kak Maya juga ikut berdebar-debar saat ini,” ucapnya Maya.
“Ara juga nggak sabaran nunggu Mas Imam selesai baca ijab Kabul,” ucap Ara.
May sarah sudah tidak mampu berbicara, Ia hanya diam dan sedikit tersenyum.
Kelima wanita yang duduk di atas tempat tidur itu mulai fokus saat mendengarkan Imam yang membacakan ijab Kabul.
“Kak May, Sah," ucap Arum dengan suara yang cukup keras. Arum memeluk May Sarah.
“Kak may sekarang resmi jadi kakak ipar Eka,” ucap Eka yang mencium pipinya.
“Kak May selamat,” ucap Ara.
“Selamat ya May,” ucap Maya.
May sarah tersenyum dan menganggukan kepalanya. May Sarah tidak bisa berkata apa-apa saat ini. May merasa sangat lega saat pria yang berstatus suaminya itu sudah mengucapkan ijab Kabul untuknya.
“Kak May, kami di sini semuanya lagi hamil loh," ucap Ara yang mengusap perutnya.
__ADS_1
“Iya Kak May tahu,” jawab May sarah.
“Mudah-mudahan kak May langsung nular,” ucap Ara.
“Apa mungkin ada yang langsung dapat,” tanya May.
“Bisa kak tergantung Mas Imam topcer atau enggaknya,” ucap Arum.
Wajah May memerah saat mendengar jawaban Arum. May begitu sangat malu.
“Waktu kakak nikah dengan mas Rio, Kakak lagi haid," ucap Maya.
Arum tertawa mendengar ucapan Maya “Mas Rio gagal malam pertama,” ucapnya.
Maya tertawa dan menganggukkan kepalanya. “Tapi habis itu, gitu bersih bulan depan udah nggak haid lagi. Langsung isi," ucapnya dengan begitu sangat bangga.
“Yang lambat itu Arum nungguin sampai 6 hingga 7 bulan,” ucap Ara.
“Arum mau menikmati masa-masa pacaran dulu, masa berduaan,” ucapnya berkilah.
“Apa benar itu alasannya?" Ucap Ara.
“Tapi Arum emang dapatnya susah, Mami sampai ngasih berbagai macam obat vitamin penyubur,” jelasnya.
Ara mengerutkan keningnya. “Ara nggak tahu, Arum kenapa gak pernah cerita?" tanya Ara.
“Kak Eka juga gak tahu," ucap Eka yang baru mendegar Arum menceritakan hal tersebut.
“Arum aja baru tahu kemarin waktu susah dapat yang ini," ucap Arum yang mengusap perutnya. "Mami baru cerita waktu Arum nangis-nangis karena program Arum, Arum kirain gagal," ucapnya.
“Ya Allah salut Ara lihat mertuanya Arum. Benar-benar begitu sangat baik,” ucap Ara yang begitu sangat kagum dengan mertua sahabatnya.
Mereka menghentikan pembicaraannya ketika mendengar suara pintu yang dibuka dari luar.
May Sarah tersenyum ketika melihat ibu dan juga mamanya yang masuk kedalam kamarnya.
"Akhirnya anak gadis mama nikah juga,” ucap Pipit yang memeluk putrinya.
May Sarah tersenyum memandang mamanya. “Terima kasih mama,” ucapnya yang mencium pipi wanita tersebut. Tanpa terasa air matanya menetes saat memeluk mamanya.
Pipit menangis memeluk putrinya. “Mama yakin, May bisa menjadi istri yang baik," ucapnya.
"Iya ma, May janji," ucap May.
May Sarah memeluk ibunya.
"Ibu sangat senang akhirnya si bungsu ibu nikah,” ucap Wati.
May Sarah memeluk wanita yang telah melahirkannya. “Makasih Bu,” ucapnya.
“Ingat setelah menikah May harus nurut dengan suami. Segala sesuatu yang May lakukan harus seizin suami. Walaupun itu hanya untuk keluar dari rumah. May tidak boleh, pergi kemana-mana tanpa pamit terlihat dahulu dengan suami,” ucap Wati yang memeluk Putri bungsunya.
"Iya Bu," ucap May Sarah.
***
__ADS_1