
“Dia menolak saat aku menawarkan nya apartemen, dia lebih memilih untuk tinggal di kos-kosan yang kecil, sempit dan jauh dari kata layak. Aku membawakannya makanan dan sebagainya. Dia juga melarang ku. Aku ingin memberikannya kenyamanan. Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya. Dia sangat berbeda dari wanita-wanita yang selama ini aku temui. Setiap wanita yang mengenal ku, mereka sangat antusias ingin aku mengajaknya berkencan. Memberikan tubuhnya tanpa berpikir. Meminta berbagai macam barang-barang mahal, mengejar-ngejar ku hingga tak tau diri. Mereka sibuk ingin mencari kenikmatan dan kepuasan. Namun Arumi, gadis itu, dia selalu menolak pemberian ku, dia tidak memperlihatkan ketertarikannya untuk ku. Apa aku kurang menarik untuknya. Aku benar-benar tidak tau cara mengejarnya. Bila para wanita yang lain mereka lebih mengutamakan perasaannya dan kemudian baru logikanya. Sedangkan Arumi dia gadis yang cerdas yang lebih menggunakan logikanya dan baru perasaannya. Dia juga di bentengi ilmu agama yang sangat baik dan ilmu bela diri yang sangat sempurna. Terkadang aku merasa, aku begitu hina dan tak pantas untuk mengharapkannya.” Kata Androw curhat kepada Danil.
Danill diam dan mendengarkan kata demi kata yang keluar dari mulut bos nya. “Jadi karena itu tuan betah di Indonesia?” Danill mengambil keputusan.
“Iya.” balas Androw.
Danill hanya diam. Tidak tau harus berbicara apa lagi. Dia tidak pernah melihat bosnya merasa frustasi terhadap wanita.
********
Setiap sore jam 6 Androw selalu datang dengan membawa berbagai makanan, cemilan, buah, kebutuhan harian seperti perlengkapan mandi dan sebagainya. Jam 9 kurang 15 dia akan pulang. Selalu saja begitu. Androw sangat di siplin dengan waktu. Androw tetap masih menawarkan Arum apertemen. Terkadang Arum merasa heran saat melihat Androw yang datang setiap hari tanpa pernah alfa. Arum merasa tidak nyaman dengan kedatangan Androw setiap hari.
Arum sedang berada di ruang Habibi sambil mempersiapkan agenda Habibi hari ini. Ada beberapa pertemuan yang wajib di hadirinya. Terdengar suara ponsel Arumi yang berdering. Di lihat Arum, di layar monitor. Androw calling. Arum keluar dari ruangan untuk mengangkat telepon dari Androw.
“Arum permisi sebentar ya mas.” Pinta Arumi.
“Iya.” Balas nya.
Arum mengangkat telepon Androw
“Hallo”
“Hallo sweet girl. Apa kamu sedang di kantor?”
“Iya Arum sedang di kantor.”
“Nanti malam kita makan di luar ya.” Pinta Androw.
“Tapi.... ,” Arum belum menyelesaikan kalimatnya.
“Please jangan tolak aku. Aku akan kembali ke negara ku besok. Aku janji, hanya sekedar makan. Aku tidak akan nakal.”
Arum tersenyum.
__ADS_1
“Baik lah.” Balas Arum.
“Terimakasih sweet girl. Aku akan menjemputmu jam 7.”
“Oke by.” Balas Arum
“By.”
Arum kembali ke ruangan Habibi. Dilihatnya Habibi yang masih sibuk dengan layar monitor komputernya.
“Pak, 10 menit lagi rapat di mulai.”
“Iya,” Habibi menutup aplikasi di komputernya dan berjalan keluar ruangannya.
“Arum,” sapa Habibi.
“Iya pak.”
“Ring tinjunya udah selesai.”
“Tergantung kamu. Kapan bisanya.”
Sambil menuju ke ruang rapat. Sasa datang dengan membawa berbagai berkas untuk rapat.
*****
Jam 7 malam Arum mendengar suara mobil Androw yang parkir di depan kosnya. Arum keluar dari kamar kosnya dengan memakai baju yang terlihat sangat simpel. Baju kemeja putih di padu rok kembang dengan bahan yang licin dan jatuh. Rok bermotif bunga berwarna biru dan jilbab berwarna biru. Arum terlihat sangat cantik dengan penampilan yang terlihat simpel dan elegan. Makeup yang natural dan sangat ringan di wajah. Membuat wajah imut-imutnya semakin cantik. Arum memakai tas kecil yang bertali panjang. Penampilannya memang benar-benar seperti gadis SMA.
Arum berjalan menuju mobil. Androw keluar dari dalam mobil langsung membukakan pintu untuk Arumi. Arumi duduk di sebelahnya. Androw mengendarai mobilnya menuju ke sebuah restoran padang. Androw tahu, Arumi sangat suka masakan padang. Arum melihat ke arah Androw.
“Kamu sangat suka masakan padang bukan?” Tanya Androw.
Arum tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Setelah sampai di parkiran, Androw turun dari dalam mobil dengan cepat membukan pintu untuk Arumi. Saat mereka masuk ke dalam restoran tersebut, para pengunjung yang berada di dalam restoran tidak henti-hentinya memandang ke arah Arumi dan Androw. Namun Arumi tidak menghiraukannya begitu juga dengan Androw. Melihat orang melihat ke arah mereka seperti ini membuat Androw memutuskan untuk mengambil ruang vvip di restoran tersebut. Ruangan yang khusus untuk mereka berdua. Awalnya dia ingin duduk di meja yang biasa. Tapi karena mereka tidak nyaman dengan tatapan para pelanggan sehingga dia mengambil ruang khusus vvip.
“Mas,”
“Iya.”
“Kamu lihat gak waktu kita masuk ke dalam restoran tadi.” Tanya Arum.
“Iya lihat.” Balas Androw
“Kamu tau gak kenapa mereka lihat kita seperti itu?”
“Karena kamu cantik.” Balas Androw santai.
“Salah. Kalau mereka memandang kagum, itu sorot mata yang terpencar berbeda dengan sorot mata penuh tanya, dan menghakimi.”
“Maksud kamu.”
“Mereka pasti mengira, Arum adalah anak SMA yang sedang nemani om-om genit dinner.” Arum sambil tertawa ngakak menutup mulutnya.
Androw terdiam mendengar perkataan Arumi. “Jadi menurut mu aku om-om?”
“Iya,” balas Arum sambil tertawa.
“Tapi bagaimana kamu bisa membaca pemikiran seseorang,” tanya Androw.
“Iya, Arum bisa membaca pemikiran seseorang dari ekspresi wajah, gerakan tangan, senyum, dan gaya gerak mulut seseorang. Orang yang jujur atau orang yang pembohong.”
“Jadi apa benar seperti itu, pemikiran mereka yang melihat kita masuk tadi.” Tanya nya..
“Iya, bahkan lebih parah, mereka mengira Arum itu gadis nakal. Makanya bapak tua yang mata keranjang tadi melihat Arum seakan ingin medekati. Sedangkan si ibuk-ibuk itu, melihat Arum seperti jijik.”
Androw mengangguk-anggukkan kepalanya.
__ADS_1
Tak lama pesan mereka datang, berbagai hidangan dengan masakan padang. Di tambah dengan makanan pembuka puding, dan es teller serta dan potongan buah nanas, mangga, kedondong, jambu merah yang di siram kuah kacang rujak di atasnya. Pelayan wanita yang menghidangkan makanan tersebut selalu curi-curi pandang melihat Androw.
Mereka mulai makan. Di restoran ini yang terkenal adalah pangek ikan mas. Arum mulai mencoba satu persatu, kalio daging, pangek ikan mas, dan asam padeh gajebo.