Kisah Dokter Arumi

Kisah Dokter Arumi
episode 341


__ADS_3

Habibi berlari masuk ke dalam rumah sakit milik istrinya. Ia sudah tidak sabar untuk secepatnya melihat kondisi Istrinya. Raut wajahnya terlihat sangat Panik dan takut setelah mendengar kabar bahwa istrinya saat ini sedang dirawat.


Habibi masuk ke dalam ruangan perawatan istrinya dan melihat istrinya yang berbaring di atas tempat tidur.


Keringat bercucuran di pelipis kening pria tersebut. Wajahnya terlihat begitu sangat pucat, duduk di samping tempat tidur istrinya dan mencium kening istrinya.


"Tadi waktu Mas tinggalin baik-baik aja kenapa jadi kayak gini?" Habibi bertanya saat melihat wajah istrinya yang pucat dan lemas.


Arum diam dan memejamkan matanya.


"Ada apa kenapa gak dijawab Mas tanya?"


Arum menggelengkan kepalanya. "Jangan tanya-tanya Arum dulu mas, Arum mual kalau mau cerita," jelasnya.


Walaupun tidak mengerti dan tidak sabar menunggu jawaban istrinya, pria itu tetap menganggukkan kepalanya.


"Pak Habibi sudah datang?" ucap dokter Dina yang baru saja masuk ke dalam ruang perawatan istrinya.


"Iya dok, saya baru datang," ucap Habibi.


"Sebaiknya kita berbicara di luar saja ya Pak Habibi," ucap dokter Dina memberikan penawaran.


"Baiklah," ucap Habibi yang berdiri dari duduknya. "Sayang, mas tinggal sebentar ya," ucapnya.


Arum menganggukan kepalanya.


"Mas cuma sebentar aja," ucapnya yang mencium kening istrinya.


"Ada apa sayang?" tanya Habibi saat memandang istrinya yang memegang tangannya.


"Mas Arum mual," keluhnya.


"Mau mas bawa ke kamar mandi?" tanyanya.


"Gak, Arum cuma mau mas peluk," pintanya.


Habibi membungkukkan tubuhnya dan memeluk istrinya.


Arum menempelkan hidungnya yang kecil di dada suaminya. Ia mencium aroma wangi tubuh suaminya. Rasa mualnya hilang seketika saat mencium aroma tubuh suaminya.


Habibi tersenyum memandang istrinya, saat istrinya melepaskannya. "Sudah hilang mualnya?"


Arum tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Di usapnya keringat yang menempel dikening suaminya. "Maaf mas jadi cemas," sesalnya.


"Gimana gak cemas sayang." Habibi menatap sendu istrinya.


"Arum gak apa-apa kok." Arumi tersenyum.


"Sudah dulu ya sayang, mas mau menemui dokter Dina. kasihan sudah lama nungguin di luar," Ucapnya.


"Iya," jawabnya.


Habibi mencium kening dan perut Istrinya. "Sayang pipi baik-baik ya nak. Jangan nakal-nakal ya nak. Kasihan Mimi," ucapnya mencium perut istrinya.


Arum tersenyum memandang suaminya.


Habibi sudah tidak sabar ingin mengetahui mengapa istrinya bisa pingsan. Selama ini kondisi istrinya sangat baik-baik saja, bahkan kandungan istrinya tidak ada masalah. Istrinya juga tidak ada mual di pagi hari seperti kehamilan pertamanya.


Habibi membuka pintu kamar rawat istrinya dan melihat dokter Dina yang berdiri di depan kamar rawat Arum.

__ADS_1


Dokter Dina tersenyum ketika melihat Habibi. "Maaf pak Habibi, saya mengajak untuk berbicara di sini," ucapnya.


"Iya dokter Dina tidak apa-apa, maaf dokter Dina lama menunggu" ucap Habibi.


"Tidak apa-apa, saya ngerti," ucap dokter Dina yang sangat tahu seperti apa bawaan kehamilan pasiennya.


"Saya tidak bisa berbicara tentang hal ini bila depan dokter Arumi. Jadi kita terpaksa harus berbicara di sini," ucap dokter Dina.


"Apa yang terjadi dengan Arum? Saat saya meninggalkan istri saya, dia sangat sehat. Bahkan kehamilan yang kedua ini tidak begitu rewel. Arum juga tidak pernah morning sickness," ucap Habibi.


"Iya pak, pagi tadi dokter Arumi menangani pasien korban KDRT. kepala wanita itu bercucuran darah, dokter Arumi mulai lemas dan mual," jelas dokter Dina.


"Jadi bagaimana kondisinya dan kandungannya?" Tanya Habibi.


"Tidak ada yang membahayakan. Untuk sementara Kondisinya masih lemah. Sebaiknya saya akan merawatnya terlebih dahulu di sini sampai kondisinya benar-benar sangat fit sehingga bisa pulang," ungkap dokter Dina.


"Iya tidak apa, saya mau dokter Dina memantau kondisi istri saya," kata Habibi.


Dokter Dina tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Untuk sementara Pak Habibi jangan bertanya tentang hal tersebut kepada dokter Arumi karena dia terlihat begitu sangat mual bila mengingat peristiwa itu," ujarnya.


"Iya saya tahu dok," jawab Habibi yang menganggukkan kepalanya.


Pria itu kembali masuk ke dalam ruangan perawatan istri setelah mendengar penyebab istrinya Morning sickness.


"Apa masih pusing?" tanyanya yang mengusap kepala istrinya.


"Sudah gak mas," ucap Arum yang duduk bersandar di kepala tempat tidur.


"Apa mual dan pusingnya hilang karena cium mas?" Habibi dengan sengaja menggoda istrinya.


Arum hanya memajukan bibirnya tanpa menjawab pertanyaan suaminya.


Habibi menatap mata istrinya. "Untuk sekarang, libur dulu ya nanganin pasiennya," pintanya.


"Ya namanya juga lagi hamil sayang," ucap Habibi.


"Mas Arum mau makan jeruk," Pintanya.


"Sebentar ya, mas ambilkan." Habibi beranjak dari duduknya dan berjalan ke kulkas kecil dan mengambil 2 buah jeruk. Pria itu duduk di depan istrinya dengan memegang 2 buah jeruk di tangannya. "Nih," ucapnya memberikan jeruk tersebut ke tangan istrinya.


"Arum mau mas yang bukakan," pinta Arumi yang mengembalikan jeruk tersebut Ketangan suaminya.


Habibi tersenyum memandang istrinya dan mengusap kepala istrinya. "Istri siapa yang manjanya seperti ini?" ucapnya yang menarik hidung kecil istrinya.


"Habibi Iskandar." Arumi tersenyum lebar menjawab pertanyaan suaminya.


Habibi tertawa saat mendengar jawaban istrinya. "Apa masih lemas?" tanya.


Arum menggelengkan kepalanya. "Sudah nggak lagi. Arum juga udah sudah tidak mual," ucapnya yang tersenyum lebar.


"Alhamdulillah, mas tadi cemas sekali." Habibi menghembuskannya napasnya sambil membuka kulit jeruk ditangannya.


"Ini sayang," ucap Habibi yang memberikan buah jeruk yang sudah tidak berkulit tersebut.


"Mas yang suapin," pintanya.


Habibi menganggukkan kepalanya dan memasukkan satu ulas jeruk ke dalam mulut istrinya.


"Mas bijinya dikeluarin dulu," komentar Arumi ketika memakan jeruk yang masih berbiji tersebut.

__ADS_1


Ya


Habibi menganggukkan kepalanya. Pria itu memisahkan biji jeruk, dan memasukkannya ke dalam mulut istrinya.


Arum memakan jeruk yang diberikan suaminya dengan sangat senang. Setelah habis yang di mulutnya, suaminya kembali memasukkan lagi satu ulas jeruk.


"Ini jeruk yang terakhir mau ditambah?" tanya Habibi ketika jeruk yang di tangannya sudah habis.


Arum menggelengkan kepalanya. "Arum mau anggur," pintanya.


"Anggur nggak boleh banyak," ucap Habibi.


"Empat buah saja,"ucap Arum meminta dan mengangkat 4 jarinya.


Habibi mengangukan kepalanya dan mengambilkan anggur 4 buah di dalam lemari pendingin.


"Ini sayang," ucap Habibi memberikan anggur Itu ketangan istrinya.


"Arum gak mau," ucap Arum yang menggelengkan kepalanya.


"Kenapa ini, sudah dicuci?" ucapnya.


"Arum gak mau makan anggur pakai kulit. Arum mau mas kupaskan," perintahnya.


Habibi hanya tersenyum dan menuruti perintah istrinya. Pria itu begitu sangat lambat mengupas kulit anggur. "mas lambat kupas kulit anggurnya sayang," ucap yang tidak sabar membuka kulit buah yang bulat kecil tersebut.


"Nggak apa-apa, Arum tungguin." Arumi tersenyum dan menunggu dengan sabar.


Habibi hanya diam dan melanjutkan mengupas buah anggur di tangannya. Setelah buah anggur itu bersih dari kulitnya, pria itu memasukkan anggur itu ke dalam mulut istrinya dan mengupaskan anggur yang baru untuk istrinya yang manja.


****


"Dokter Dira pasien yang bernama Yulia sudah sadar," ucap perawat yang masuk ke dalam ruangan prakteknya.


"Saya akan langsung ke kamar perawatan pasien. Sus Rindi temani saya ya ," ucap dokter Dira yang beranjak dari tempat duduknya.


"Baik dok," ucap perawat yang bernama Rindi tersebut.


Dira mempercepat langkahnya agar bisa secepatnya sampai di kamar rawat pasien.


Dira dan juga Rindi masuk ke dalam kamar rawat kelas 3. Dalam kamar tersebut ada 6 bangsal dan Yuli berada di bangsal ke 4. Dira berjalan mendekati pasien tersebut.


"Mbak Yuli Bagaimana kondisinya saat ini?" ucapnya yang bertanya ramah seperti biasanya.


Yuli berusaha membuka matanya yang yang bengkak dan juga memar. Dengan sangat kesulitan ia memandang dokter yang saat ini bertanya kepadanya. "Saya sudah baik dok. Apakah saya sudah boleh pulang?" Tanyanya.


"Luka yang anda alami cukup serius. Kondisi Anda juga sangat lemah. Anda tidak bisa pulang saat ini. Tangan anda masih dalam kondisi patah. Kondisi tangan anda sudah membiru, apabila tidak cepat dilakukan operasi akan terjadi pembusukan terhadap tangan anda dan itu artinya tangan Anda harus diamputasi," ucapnya memberitahu pasiennya tersebut.


Yuli hanya menangis saat mendengar ucapan dokter tersebut.


"Kami sudah melakukan rontgen terhadap tangan anda. Saat ini kondisi tangan Anda belum membusuk. Dalam artian, kita belum terlambat untuk melakukan operasi pemasangan pen. Pada kasus patah pergelangan tangan yang anda alami cukup parah. Dokter ortopedi menyarankan melakukan operasi pasang pen guna menstabilkan posisi tulang sehingga tetap pada posisi yang tepat. Bila anda setuju, kami akan langsung menghubungi dokter ortopedi," jelas Dira menawarkannya.


Yuli menangis saat mendengar ucapan yang disampaikan dokter tersebut.


"Bila anda menundanya lagi kami tidak menjamin untuk besok, Apakah kondisi tangan Anda masih bisa dilakukan operasi atau diamputasi?" ucapnya.


Yuli menggelengkan kepalanya. "Saya tidak ingin kehilangan tangan saya dokter,” ucapnya dengan suara yang begitu sangat lemah. Ia berusaha mengeluarkan kalimat yang menyangkut ditenggorokan.


"Bila anda bersedia untuk di lakukan operasi, maka nanti dokter otopedi akan mengatur jadwal operasi anda. Kami pihak rumah sakit membutuhkan keluarga anda untuk menandatangani surat operasi dan penanggung jawab," ucap Dira.

__ADS_1


Yuli menggelengkan kepalanya Saya tidak punya keluarga ucapnya.


****


__ADS_2