
"Jam berapa nanti mau ke sekolah tanya Habibi ketika mengantarkan istrinya ke rumah sakit. Hari ini anak-anaknya ikut ke rumah sakit bersama dengan istrinya.
"Jam 9 atau jam 10 juga boleh," ucap Arum.
"Nanti mas kesini," ucapnya.
Arum tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Mas antarin arum sampai keruangan," ucap Arum yang tersenyum manja memandang suaminya. Ia tidak ingin tidak mau ditinggalkan suaminya hanya sampai parkiran saja.
Habibi mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan istrinya. "Biasanya gak mau mas antar sampai ke ruangan. Minta nya cuman sampai parkiran aja," ucapnya yang menarik hidung istrinya.
"Nggak mau nanti Arum digangguin sama cowok," ucapnya yang bergaya genit
"Ya udah Mas ngantarin daripada nanti istri mas yang cantik di gangguin orang," ucapnya.
Arum tersenyum lebar dan kemudian berjalan masuk kedalam rumah sakitnya bersama dengan kedua anaknya.
"Mami sekarang manja," ucap Vira yang digendong Habibi.
"Vira yang manja sama Pipi aja, Mami enggak protes," ucapnya yang sudah mulai tidak mau mengalah dengan putrinya.
"Vira manja sama Pipi karena Vira masih kecil," ucap Vira yang memajukan bibirnya.
"Kecil apanya, mana ada anak kecil yang mau mengajak calon suaminya ke Amerika," ucap Arum.
"Vino itu calon suami masa depan Mi. Itu juga masih lama," ucap Vira.
"Vira bukan anak kecil lagi, Vira itu udah gede udah mau masuk SD. Masih juga digendong pipi," ucapnya yang berdebar dengan putrinya.
Vira seperti ini karena Vira nggak punya adek kalau Vira punya Adek, Vira gak minta digendong lagi sama pipi," ucapnya yang memeluk pipinya dan mencium wajah pipinya banyak-banyak seakan ingin membuat miminya cemburu.
Habibi memandang istrinya dan mengusap kepala istrinya. "Kenapa pagi-pagi pengen ribut sama Vira," ucapnya.
Rangga yang berjalan di samping Habibi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat keributan antara ibu dan anak tersebut.
"Arum gak pengen ribut, tapi Vira bilangin Arum manja Mas," ucapnya.
"Tapi memang benar," ucap Habibi.
"Arum gak pernah manja," ucapnya berkilah.
"Apa benar enggak manja?" ucap Habibi.
Arum diam dengan bibir yang maju ke depan.
"Pi, Vira mau main di ruangan bermain anak ya," ucpa Vira yang kemudian turun dari atas gendong pipinya.
"Nanti Mimi minta perawat untuk jaga," ucap Arum.
"Saya akan menjaga Savira Mimi Arumi," ucap Rangga yang memegang tangan Vira.
__ADS_1
Arum tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Sinta," ucap Arum memangil perawat yang melintas di depannya.
"Iya dokter Arumi, ada apa?" ucapnya.
"Saya minta tolong jaga Vira dan Rangga di ruang bermain anak," ucapnya.
"Baik dokter Arumi," ucap perawat itu yang memegang tangan Vira dan Rangga.
Habibi mengantarkan istrinya hingga ke ruangan direktur utama yang berada di lantai 5 Rumah sakitnya.
"Mas berangkat dulu ya," ucapnya Ketika istrinya sudah berada di dalam ruangannya.
Arum tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ia mencium suaminya dan memeluk tubuh suaminya.
Habibi memandang istrinya dan memeluk tubuh istrinya yang langsing. "Kenapa nggak mau Mas tinggalin ya?" ucapnya.
"Mau kok," jawab Arum. Namun pelukannya semakin erat di tubuh suaminya. Arim menenggelamkan hidungnya di dada bidang suaminya dan mencium aroma wangi tubuh suaminya.
"Mas pegel sayang, Kita duduk ya,"ucapnya Ketika istrinya begitu sangat lama memeluk dan mencium dadanya.
Arum tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Habibi duduk di kursi sofa sambil memeluk istrinya yang menenggelamkan hidungnya di dadanya. "Sudah sayang?" ucapnya.
Arum menggelengkan kepalanya.
Arum mengangkat kepalanya. "Ngapain?" tanya.
"Mas mau kasih tau Rasid, kalau mas akan telat ke kantor. Sebentar lagi mas mau rapat," ucapnya yang tersenyum memandang istrinya.
"Iya," Ucapnya tanpa melarang suaminya.
Habibi mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menghubungi asisten pribadinya sedangkan istrinya masih terus memeluknya sambil mencium aroma wangi tubuhnya. Habibi memandang istrinya yang begitu sangat manja seperti saat hamil putrinya.
****
"Di sini butik yang bagus di mana?" tanya.
May menggelengkan kepalanya. "May enggak pernah beli baju di butik. Tapi kalau butik langganannya Ibu Arumi May tahu," ucapnya.
"Di mana?" tanya Imam.
"Eka Pratiwi boutique," ucapnya yang membuat calon suaminya tertawa.
Imam memberhentikan mobilnya di depan bukit yang begitu sangat besar. "Ayo," ucapnya yang mengajak calon istrinya untuk turun.
May mengikuti Iman dari belakang. Berjalan dengan calon suaminya membuat rasa percaya diri hilang.
__ADS_1
"Apa ada yang bisa saya bantu pak," ucap karyawan wanita yang begitu sangat ramah menyapanya .
"Apa saya bisa langsung berjumpa dengan designer busananya," ucap Imam kemudian.
"Apakah bapak sudah buat janji dengan Miss Jesika,"ucapnya.
"Belum," jawab Imam.
"Kalau begitu saya akan memberi tau Miss Jesika sebentar," ucap karyawan toko tersebut.
yang kemudian meninggalkan Imam.
"Silakan pak, langsung masuk saja," ucapnya.
setelah keluar dari ruangan yang pintunya sengaja tidak di tutup saat keluar dari ruangan tersebut.
"Baiklah terimakasi," ucap Imam dan May sarah yang kemudian masuk ke dalam ruangan tersebut.
May Sarah memperhatikan designer yang cantik dan juga seksi tersebut. Bibirnya yang merah merona, membuat bibirnya kecil dan tebal itu semakin seksi. Rambut panjang dan lurus. Mata besar dan bulu mata yang lentik dan Busan yang begitu sangat seksi. Membuat wanita itu begitu sangat menggoda.
Ingin rasanya May meninggal butik tersebut saat melihat designer tersebut.
"Selamat pagi babang ganteng. Apa ada yang bisa Jesika bantu?" ucapnya.
Mata May dan juga Imam melotot besar saat mendengar wanita itu bicara.
"Saya ingin memesan membuat pengantin," ucap Imam.
May menatap tidak suka saat melihat sikap agresif designer tersebut.
"Ini calon istri yey?" ucapnya.
"Iya," jawab Imam yang tersenyum memandang May sarah.
Jessie memperhatikan Maisarah ia melihat dari atas hingga ke bawah. "Calon istrinya yey sangat cantik hanya saja penampilannya tidak menarik," ucapnya dengan sangat lembut.
May mesara sangat kesal saat mendengar ucapan pria yang berkaki mulus tanpa bulu tersebut.
"Hai nona manis, Apakah kamu ingin aku mencarikan pakaian-pakaian yang membuat penampilanmu akan semakin manis ucapnya yang berbicara dengan nada yang halus dan tersenyum tipis memandang gadis tersebut.
May diam dan memandang suaminya.
Imam tersenyum dan menganggukkan. "Calon istri saya memakai hijab. Saya ingin koleksi terbaru dari butik ini. Dan wajib sopan untuk calon istri saya," ucapnya.
Jesika tersenyum. "Babang ganteng tidak usah khawatir disini kualitas terbaik begitu sangat berjejer. Tubuh calon istrimu yang begitu sangat bagus pasti akan cocok memakai pakaian apa saja," ucapnya yang mengedipkan sebelah matanya dan membulatkan jarinya.
***
Jangan lupa like komen dan votenya ya reader.
__ADS_1
Terimakasih atas dukungannya. 😊😊🙏🙏