
Habibi tampak semakin rajin beribadah. Dia tidak pernah melirik wanita-wanita lain . Tidak terasa persiapan pindah gedung sudah semakin dekat. Habibi mulai sibuk mengurus perusahaan dan gedung barunya. Perusahaan sudah mulai memindahkan-mindahkan barang. Walaupun Arum tidak bisa hilang dari benak pikirannya. Anita bisa merasakan perasaan putra semata wayangnya. Anita hanya tersenyum.
“Bi,” sapa Anita.
“Iya mi.”
“Besok mami dan papi ke jogja. Ada mau ketemu sama klien kita yang di Jogja.“ kata maminya.
“Bibi mau antar mi. Tapi bibi sibuk.” Jawab Habibi.
“Iya gak apa. Mami naik pesawat pribadi kita aja dan di bandara pak Diman nungguin.”
“Oh iya mi. Mami pergi sama papi, apa om herman ikut?”
“Gak bi, om Herman dan tante Lasmi di sini di banyak yang harus mereka selesaikan.”
“Hati-hati ya mi.” Kata Habibi.
Maaf ya leader. Author kurang pandai buat cerita galau.
*****
Di sekolah bodyguard. Arum mengikuti latihan demi latihan. Dan Arum tes, izin mengunakan senjata api. Dengan banyak sekali tes yang di lakukan, mulai dari tes iq, kepribadian, tingkat kewarasan, tingkat emosi, dan masih banyak lagi. Tes kali ini benar-benar membuat Arum sangat lelah. Arum lulus mendapatkana izin memiliki senjata api secara legal. Dengan izin awal di berikan untuk 6 bulan. Kini Arum memegang senjata api yang di letaknya di kaki bagian betis. Senjata api tersebut tidak boleh hilang atau sembarang diletakkan, menguntungkan nya sembarangan maupun di pakai untuk menakuti orang di depan umum. Nilai senjata itu lebih mahal dari pada nyawanya sendiri. Menjaga senjata api itu sama dengan menjaga nyawanya. Arum keluar dari kelas dengan membawa sertifikat dan senjata yang sudah menempel di kaki betisnya yang langsing. Arum, tampak Tiar, Rizal dan Yuda sudah menunggu.
“Hai.....” Arum berlari ke arah mereka dan memeluk Tiar.
“Sukses beb?” Tanya tiar.
“Alhamdulillah.” Arum memperlihatkan sertifikatnya.
Tiar memeluknya. “Selamat ya Rum kamu hebat.” Puji tia”r.
__ADS_1
“Makasih ya say.” Balas Arum
“Rum, gantian. Aak lagi yang di peluk. Aak juga mau ngucapin selamat sama Arum.” Kata Yuda dengan wajah polos tidak berdosa.
“Ih aak, gak ah.”
“Yuk kita makan. Ajak yuda.” Mereka jalan berempat. Walaupun Tiar dan Rizal sudah resmi pacaran, tapi mereka selalu berempat. Prima tidak pernah lepas mengawasi Yuda.
Mereka makan di meja paling pojok. Arum pesan mie goreng pakai ayam, bakso dan telor. Mienya pedas.
“Capucino 1. Saya sama dengan Arum buk,” pinta Yuda.
“Saya mie rebus pedas, pakai bakso dan telor. Minum nya jus sersak. 2 buk.” Pinta Rizal.
Mereka selalu memesan makanan yang seperti ini. Mereka bergurau- gurau sambil menunggu makanan datang. Dan pesanan pun datang seorang pelayan kantin tersebut meletakkannya dimeja. Tiar tampak sangat manja bersama Rizaldi. Rizal tampak sangat menyayangi Tiar.
“Sayang,” sambil mengarahkan sendok ke mulut Tiar. Tiar menerima suapan ri”zal, dan ti”ar melakukan hal yang sama. Rizal tak segan-segan menunjukkan kemesraan mereka di depan umum. Dan khususnya di depan Yuda dan arum. Rizal secara refleks mengecup pipi Tiar. Arum yang melihat langsung dengan matanya tampak terkejut.
“Ya gak apa Rum.” Cuman cipika cipiki apa salahnya.” Jelas rizal.
“Ak.”
“Apa rum. Udah biarin aja. Kalau kamu gak mau lihat, ya udah. Kita cipika cipiki juga.”
“Aak sama aja.” Arum memanjang kan bibir mungilnya. Kesal melihat kelakuan para sahabatnya. “Dasar pasangan barbar,” gerutunya hati.
“Rum, ganti dong sama istilah yang lebih bagus.” Rizal protes, sepertinya julukan yang diberikan arum gak enak di dengar.
“Pasangan romantis gitu,” Tiar melihat ke arah Arum sambil mengangkat-gangkat alisnya dan mengedip-ngedipkan matanya dengan gaya yang teramat imut.
“Romantis apanya, barbarb iya.” Balas arum masih dengan mulutnya yang manyun.
__ADS_1
“Ya udah, barbar gak apa. Yang penting kita bahagia ya sayang.” Tiar yang menatap Rizal.
Rizal tak berhenti-hentinya mendaratkan ciuman ke pipi Tiar yang putih dan mulus tersebut. Tiar yang menoleh kearahnya, membuat ciumannya meleset ke bibir tipis Tiar. Melihat hal tersebut, membuat Arum langsung melotot.
“Ah kalian. Sudah menodai mata Arum yang suci.” Dengan membalikkan badannya ke arah belakang dan tidak ingin melihat sahabatnya yang jadi bucin. “Dasar bucin.”
“Itu insiden Arum.” Rizal berusaha membela diri. “Sayang, kamu lasak sekali.”
Wajah Tiar tampak malu saat dia di bilang lasak oleh Rizal. “Siapa suruh cium -cium terus.”
“Ak, suruh mereka pindah. Mereka sudah merusak kesucian mata Arum.”
“Gak apa lah Rum, kita harus bahagia kalau mereka bahagia. Apa kita juga harus mengimbangi mereka.” Tampak wajah Yuda yang menggoda Arum habis-habisan.
“Aak, apaan sih. Sama aja sama Rizal.”
“Iya itu kalau kamu mau.” Tawar yuda.
“Gak mau ah ak.”
“Kamu habis ini masuk kelas apa rum?” Tanya yuda.
“Mengemudi dan mengendarai motor, dan kemudian kelas makeup.”
“Padat ya rum.”
“Iya ak.” Hari ini Arum jadwal keluar sim A dan C
“Semangat ya.”
Mereka kembali ke kelasnya.
__ADS_1
******